Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Kenyataan Yang Pahit


__ADS_3

Setelah pintu tertutup, Steven menghampiri Violita dan langsung memeluknya dengan erat. "Akhirnya aku menemukanmu, ternyata kau di sini, aku sudah mencarimu ke mana-mana. Aku sangat merindukanmu, Fio."


Tubuh Fiona seketika menegang ketika merasakan pelukan erat dari Steven, matanya berkaca-kaca disertai debaran jantung yang keras. Untuk sesaat Fiona tenggelam dalam hangatnya pelukan Steven.


"Tuan Steven, apa yang kau lakukan? Tolong lepaskan aku." Fiona berusaha untuk mendorong tubuh Steven, tapi tidak bisa karena dia memeluknya sangat erat.


"Fiona, maafkan aku, aku memang salah. Aku mohon jangan pergi lagi." Steven menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fiona.


"Aku Violita bukan Fiona, kau salah orang tuan Steven." Fiona mendorong kuat tubuh Steven dengan kuat.


Steven tersentak ketika tubuhnya menjauh dari Fiona. "Fiona, aku tahu kau masih marah, Aku minta maaf atas sikapku yan...."


"Apa kau tidak dengar perkataanku? Aku bilang aku bukan Fiona." Dia meraih tasnya dengan cepat lalu beralih menatap Steven.


"Maaf, saya tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini, saya harus pergi. Saya akan mengirimkan perwakilan lain untuk membicarakan kerja sama ini." Selesai berbicara Fiona langsung keluar dari ruang meeting sambil berlari.


Steven nampak terkejut dengan reaksi Fiona yang berpura-pura tidak mengenalnya. Hatinya pun terasa nyeri melihat Fiona yang nampak tidak suka berdekatan dengannya. Ketika dia sudah tersadar dari keterkejutannya, dia melangkah keluar untuk menyusul Fiona.


"Kau mau ke mana?" Bryan menghentikan langkah Steven ketika dia akan keluar dari loby kantornya. Tatapan Steven terus tertuju pada Fiona, dia melihat Fiona baru saja masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir di depan gedung kantor Bryan.


Steven menoleh pada Bryan. "Berikan kunci mobilmu cepat," pinta Steven tidak sabar sambil menengadahkan tangannya pada Bryan.


"Untuk apa?" Meskipun dia heran, tapi Bryan tetap mengeluarkan kunci mobilnya lalu menyerahkan pada Steven.


"Aku ada perlu." Steven meraih kunci lalu berjalan ke arah mobil Bryan. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menyusul mobil Fiona yang sudah melaju lebih dulu.


Steven terus mengikuti mobil Fiona dari belakang hingga mobil itu berhenti di sebuah gedung kantor yang menjulang tinggi yang bertuliskan GSK Group. Steven memarkirkan mobilnya di depan gedung di dekat pintu masuk saat melihat Fiona sudah masuk ke dalam kantornya.


Steven sengaja tidak menyusul Fiona ke dalam kantornya karena ingin memberikan waktu pada Fiona untuk menenangkan dirinya. Dia sadar kalau Fiona pasti belum bisa memaafkannya. Jika dia tetap memaksa untuk berbicara dengan Fiona, bukan tidak mungkin kalau Fiona akan semakin membencinya nanti.


Steven terus berada di dalam mobilnya selama hampir 3 jam sampai Fiona keluar bersama seorang pria yang Steven tahu kalau itu adalah Reynald. Steven sempat merasa heran, bagaimana bisa Reynlad bisa bersama dengan Fiona sementara dulu dia pergi dengan Leon.


Apakah selama ini Reynlad yang sudah menyembunyikan Fiona darinya? Tapi, jika dia bersama Reynald selama ini lalu ke mana Leon? Dia juga tidak bisa menemukan keberadaan Leon setelah Fiona menghilang.


Steven memutuskan untuk mengikuti kembali ke mana Fiona akan pergi bersama Reynald, dia sudah memutuskan untuk mengikuti Fiona hingga dia pulang ke rumahnya. Dia harus tahu di mana Fiona tinggal agar dia lebih mudah jika ingin menemuinya. Dia tidak mau kalau sampai kehilangan jejak Fiona lagi.


Setelah mengikuti Fiona selama hampir satu jam, mobil Fiona berhenti di salah satu rumah besar di salah satu kawasan elite di kota tersebut. Steven melihat Fiona turun bersama dengan Reynald dan masuk ke dalam.


Tidak bisa dipungkiri kalau Steven merasa cemburu dan dadanya terasa panas saat melihat kedekatan Fiona dengan Reynald. Reynald bahkan tidak sungkan merangkul bahu Fiona ketika berjalan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Setelah pintu tertutup, Steven menghembuskan napas panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya di kala dadanya terasa sesak ketika melihat Fiona nampak sangat dekat dengan Reynald. Sakit rasanya saat melihat Fiona bisa bahagia tanpa dirinya.


Fiona, inikah alasannya kenapa kau tidak pernah kembali, karena kau sudah bahagia dengan orang lain? Sepertinya sangat mudah bagimu untuk melupakan aku. Sementara aku, bahkan tidak ada satu hari pun aku lewatkan tanpa memikirkanmu. Inikah karma bagiku karena sudah menyakitimu dulu?


********


Esok harinya, Steven kembali mendatangi kantor Fiona setelah pulang keria. Steven tidak bisa bertemu dengan Fiona lagi untuk urusan kerja karena Fiona sudah mengirimkan perwakilannya ke kantor Bryan. Itulah sebabnya Steven memutuskan untuk mendatangi kantor Fiona untuk bertemu dengannya.


"Fiona, tunggu. Aku ingin berbicara denganmu!" Steven menghentikan Fiona ketika melihatnya baru saja keluar dari kantornya.


Fiona menatap dingin pada Steven. "Maaf Tuan Steven, saya rasa tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Maaf saya harus pergi." Fiona berjalan melewati Steven dengan langkah cepat.


Steven berbalik mengejar Fiona. "Tunggu, tolong berikan aku kesempatan untuk berbicara sebentar Fio." Steven menahan tangan Fiona agar dia berhenti melangkah.


"Tolong lepaskan aku, atau aku akan berteriak," ucap Fiona dengan tatapan marah.


"Berteriaklah, aku tidak peduli. Aku tidak aksn berhenti untuk mendatangimu sebelum kau mau memberikan aku kesempatan untuk berbicara." Steven terlihat tidak takut sedikitpun dengan gertakan Fiona. Dia masih memegang pergelangan tangan Fiona, sepertinya dia tidak berniat untuk melepaskannya.


"Tuan Steven, tolong lepaskan aku." Fiona menatap tajam pada Steven yang berdiri di depannya.


"Ada apa ini?" Suara seorang pria memecah ketegangan antara Steven dan Fiona. Seketika mereka berdua menoleh ke arah suara tadi.


"Tuan Steven, ternyata kau. Aku kira siapa." Leon melangkah mendekati Fiona dan Steven. "Apakah tunanganku membuat kesalahan padamu?" Leon menatap ke arah Steven lalu beralih menatap ke arah tangan Fiona yang masih dipegang oleh Steven.


"Kak, kau salah paham, aku bisa menjelaskannya." Fiona langsung menghempaskan tangan Steven lalu berdiri di samping Leon seraya mengapit lengannya.


Leon tersenyum seraya menoleh pada Fiona. "Aku percaya padamu." Leon mengelus tangan Fiona yang sedang memegang lengannya. Sementara Steven masih diam mematung, dia benar-benar terkejut setelah mendengar perkataan Leon.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, maka, kami pamit dulu."


Ketika Leon dan Fiona akan melangkah, Steven langsung berkata, "Tunggu!"


"Ada apa?" Leon bertanya seraya menatap ke arah Steven.


"Aku ingin berbicara dengan Fiona sebentar," ujar Steven.


Leon menoleh ke samping. "Vio, apa kau ingin berbicara dengannya?" tanya Leon dengan lembut.


Fiona menggeleng. "Tidak. Lebih baik kita pulang." Fiona langsung menarik tangan Leon untuk segera pergi.

__ADS_1


Steven terdiam dengan wajah terkejut dan tatapan kecewa. Dia terus menatap kepergian Leon dan Fiona dengan perasaan hancur. Dia tidak menyangka kalau Fiona tidak mau berbicara dengannya, meskipun hanya sebentar.


Malam harinya, pukul 10 malam Steven kembali mendatangi rumah Fiona. Kali ini, dia bertekad tidak akan pulang sebelum Fiona memberikan dia kesempatan untuk berbicara.


Jantung Steven berdebar kencang ketika dia memencet bel rumah Fiona. Entah mengapa dia sangat gugup saat ini. Beberapa kali Steven memencet bel, tapi pintu belum juga terbuka, setelah menunggu beberapa saat, pintu akhirnya terbuka.


"Dari mana kau tahu kalau aku tinggal di sini?" Fiona sangat terkejut ketika melihat Steven sudah berdiri di depannya.


"Fio, aku ingin berbicara denganmu." Steven mengabaikan pertanyaan Fiona.


"Maaf, saya tidak bisa, tolong jangan ganggu saya lagi. Pergilah dari sini." Ketika Fiona akan menutup pintunya, Steven menahan pintu dengan tangan dan kaki kirinya.


"Aku tidak akan pulang sebelum kau mengijikan aku masuk dan berbicara denganmu." Steven menatap Fiona dengan wajah serius.


"Kalau kau tidak mau pergi, aku akan...."


"Berteriak?" ulang Steven. "Silahkan kalau kau memang ingin berteriak," lanjut Steven lagi. "Fiona, aku bisa saja membawamu pergi dari sini tanpa diketahui siapapun jika aku mau. Tapi, aku tidak mau melakukannya karena aku menghargaimu. Aku hanya butuh waktu sebentar untuk berbicara denganmu."


Fiona mengalihkan pandangannya ke samping ketika melihat Steven menatap dalam matanya. Setelah berpikir sesaat Fiona akhirnya mengijinkan Steven masuk. Dia tahu kalau Steven tidak akan pernah berhenti menemuinya sebelum dia memberikan kesempatan untuk berbicara.


"Baiklah, silahkan masuk." Fiona berjalan lebih dahulu menuju ruang tamu.


Steven tertegun sesaat ketika melihat figura dengan ukuran besar tergantung di ruang tamu Fiona. Di dalam figura itu terdapat foto Fiona yang sedang dipeluk oleh Leon dari belakang dengan mesra. Keduanya nampak tersenyum bahagia.


"Silahkan duduk."


Fiona seketika gugup ketika menyadari kalau Steven sedang menatap ke arah foto dirinya dan Leon. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya ketika melihat wajah kecewa dari Steven.


"Jadi, kau sungguh sudah bertunangan dengannya?"


Lidah Fiona seketika terasa kelu, dia tidak mampu menjawab pertanyaan Steven. Pertanyaan Steven membuat dada Fiona terasa sesak. Entah mengapa, melihat wajah sedih Steven membuatnya merasa bersalah.


Melihat Fiona duduk terdiam, Steven lalu duduk di depan Fiona. "Fiona, apa sudah tidak ada tempat lagi bagiku di hatimu?"


Tatapan Steven menyiratkan kekecewaan yang mendalam.


Sementara Fiona menggenggam kuat kedua tangannya yang mulai bergetar, matanya mulai berkaca-kaca ketika mendengar pertanyaan Steven.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2