Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Hadiah Pernikahan dari Ibu Steven


__ADS_3

Fiona berjalan ke arah pintu ketika mendengar suara bel berbunyi. Pagi-pagi sekali dia sudah nampak cantik dengan rambut yang di cepol ke atas dan memakai dress selutut berwarna merah yang membuat kulit Fiona terlihat lebih cerah.


"Kau mau ke mana?" Tatapan tajam dilayangkan oleh Steven ketika melihat penampilan Fiona yang terlihat lebih cantik dari biasanya.


Fiona tersenyum kaku. "Ayoo masuk dulu." Fiona menarik tangan Steven sebelum dia melontarkan pertanyaan lain lagi.


Fiona mengajaknya untuk duduk di ruang tamu. "Kenapa tiba-tiba ke sini? Bukankah kau harus bekerja?" Fiona merasa tidak nyaman ditatap terus oleh Steven tanpa berkata apapun.


Steven menaikkan sudut bibit kirinya. "Kenapa? Apa kau merasa terganggu dengan kedatanganku?"


Melihat mood Steven yang jelek, seketika Fiona pindah duduk ke sebelahnya. "Bukan seperti itu, sebentar lagi jam kerja akan dimulai, kau akan terlambat kalai mampir ke sini," terang Fiona.


"Kantorku hanya di sebrang apartemen ini, lagi pula, itu adalah perusahaanku, tidak akan ada yang berani marah kalau aku datang terlambat." Steven terlihat masih sedikit kesal dengan Fiona. Nada bicaranya datar, tidak seperti biasanya.


Fiona memegang lengan Steven sambil tersenyum. "Iyaa, aku tahu. Aku hanya takut kau terlambat saja. Maafkan aku, jangan marah lagi."


Fiona mencium singkat pipi Steven untuk membujuknya. Biasanya Steven akan melunak jika Fiona melakukan itu, dan terbukti setelah Fiona mencium pipinya, ekspresi Steven melunak.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, kau mau ke mana?"


"Aku ingin bertemu dengan Jesy sebelum ke rumah ibumu."


Steven seketika memicingkan matanya ke arah Fiona. "Bertemu dengan Jesy atau Leon?"


Steven tentu saja ingat, kalau Jesy adalah adik sepupu dari Leon. Leon adalah laki-laki yang paling Steven cemburui sedari dulu, bahkan mereka pernah bertengkar hebat hanya karena Leon.


"Dengan Jesy, tapi aku tidak tahu apakah nanti Kak Leon akan datang juga atau tidak."


Semalam, saat Fiona menghubungi Jesy mengajaknya bertemu, Jesy bilang dia sedang berada di rumah Leon. Fiona berpikir mungkin Jesy mengatakan pada Leon kalau mereka akan bertemu.


Steven menduga kalau Leon pasti akan datang, meskipun mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun, perasaan Leon pasti masih sama terhadap Fiona.


Melihat Steven tidak merespon ucapannya, Fiona mengapit lengan Steven. "Steve, aku tidak mungkin menghindari Kak Leon terus-menerus. Bagaimana pun sebelum kami bertunangan, kami memang sudah dekat. Aku hanya menganggapnya seperti kakakku, jadi jangan berpikir macam-macam."


"Baiklah, terserah kau saja, lakukan apapun yang kau mau." Steven berdiri lalu berjalan keluar.


Fiona menghela napas ketika melihat kepergian Steven dengan wajah yang nampak marah. Karena sudah berjanji dengan Jesy, mau tidak mau, dia harus menemuinya. Dia tidak mungkin membatalkannya secara tiba-tiba. Fiona akhirnya memutuskan untuk tetap pergi bertemu dengan Jesy.


"Fio, kau sungguh keterlaluan. Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku mengenai pernikahanmu," omel Jesy ketika dia baru saja membukakan pintu untuk Fiona. Fiona melenggang masuk sebelum mendengar omelan Jesy yang lebih panjang lagi.


Melihat Fiona yang sudah duduk di sofa, Jesy juga duduk di samping Fiona dengan melipat kedua tangannya di bawah dada. "Katakan padamu, alasan apa yang akan mau berikan padaku," ucap sambil menatap


"Maaf Jesy, aku bukannya tidak mau memberitahumu, tapi aku ingin mengatakannya langsung padamu. Maafkan aku, oke?" bujuk Fiona sambil mengguncang bahu Jesy.


"Padahal aku sangat senang waktu kau bertunangan dengan kak Leon. Aku kira kita akan menjadi keluarga," ucap Jesy dengan wajah kecewa.


Jesy mengetahui berita mengenai pernikahan Fiona dan Steven dari Leon ketika dia bertemu dengan sepupunya itu setelah pulang ke negara F.

__ADS_1


"Maafkan aku Jesy. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri kalau orang yang aku cintai adalah Steven. Aku tidak bisa menggantikannya dengan pria lain, Jes."


Jesy menunjukkan wajah cemberutnya sesat lalu menghembuskan napas halusnya. "Apa kau yakin ingin menjadikan Steven sebagai pelabuhan terakhirmu?"


"Iyaaa, aku sangat mencintainya, Jes."


Jesy memeluk Fiona dengan erat. "Aku harap kau bisa hidup bahagia bersamanya, Fio. Jangan ada lagi air mata selain air mata kebahagiaan."


Seperti dugaan Steven, Leon datang ketika siang harinya ke apartemen Jesy. Mereka bertiga akhirnya menghabiskan waktu seharian dengan saling bertukar cerita hingga sore hari.


Saat Fiona akan pulang, Leon menawarkan untuk mengantarnya. Karena takut Leon akan tersinggung kalau dia menolak tawarannya, Fiona akhirnya mengijinkan Leon untuk mengantarnya ke mansion orang tua Steven karena ibunya meminta Fiona datang.


*******


"Kalian baru pulang?" tanya Ibu Steven ketika melihat anak-anaknya baru datang ketika waktu sudah menujukkan pukul 8 malam.


"Apa Mama merindukan kami?" gurau Bryan seraya mendekati Yesinta dan duduk di sampingnya.


"Tidak. Mama hanya heran kenapa kalian baru pulang." Yesinta kemudian menoleh pada Steven yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memijat pelipisnya.


"Steve, Fiona sedari tadi menunggumu pulang. Dia sengaja memasak untukmu, bahkan dia tidak membiarkan koki kita untuk membantunya," terang Yesinta.


Bryan lebih dulu bereaksi daripada Steven. "Fiona memang calon istri idaman. Sepertinya aku harus mencari wanita seperti dia."


Steven melirik malas pada Bryan lalu duduk tegak setelah itu menatap ibunya. "Lalu, di mana dia?"


Steven berdiri. "Baiklah, aku ke kamar dulu."


"Kak, ingat jangan macam-macam! Kalian belum menikah," teriak Bryan sambil menahan senyumnya.


Steven tidak menggubris ucapan Bryan dan memilih untuk terus berjalan menuju kamarnya. Steven masuk ke dalam kamarnya dengan langkah pelan ketika melihat Fiona sedang tertidur di ranjangnya. Melihat Fiona nampak pulas, Steven memutuskan untuk tidak membangunkannya dan memilih untuk mandi.


"Kau sudah bangun?" Steven keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Iyaaaa."


Fiona menoleh sejenak ke arah Steven lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan setelah melihatnya bertelanjang dada. Dia memegang wajahnya yang memanas dan memerah dengan kedua tangannya.


"Aku akan menunggu di luar." Dengan cepat Fiona berdiri.


Steven menyungging sudut bibirnya ketika melihat Fiona yang sudah berbalik lagi ke depan dengan wajah malu. "Kenapa pergi, bukankah kau sengaja menungguku dari tadi?" Fiona terkejut saat tahu kalau Steven sudah berada di belakangnya.


"Iyaaaa, kau ganti baju saja dulu. Aku akan menunggu di bawah." Tanpa menunggu jawaban dari Steven, Fiona melangkah.


Dengan sigap Steven menyusulnya, mengunci pintu lalu berdiri di belakang pintu menghadap Fiona. "Steve, minggir. Aku mau ke bawah." Wajah Fiona nampak panik.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah masuk ke kamarku, Fio."

__ADS_1


Fiona menelan salivanya dengan dada yang berdebar tak menentu. "Tadi mama yang menyuruhku untuk menunggu di sini, Steve. Bukan aku yang sengaja ke sini," jawab Fiona dengan wajah gugup.


Steven berjalan maju dan seketika itu juga Fiona refleks memundurkan langkah kakinya ke belakang. "Tetap saja kau tidak bisa keluar dari sini tanpa seijinku," ujar Steven.


"Ka-kau... Kau ma-mau apa?" tanya Fiona dengan gugup seraya terus memundurkan langkah kakinya dengan cepat, setelah dia menoleh ke belakang sejenak agar dia tidak tersandung sesuatu.


Steven tersenyum smirk. "Ini adalah kamarku jadi terserah aku mau melakukan apa."


Wajah Fiona memucat ketika mendengar perkataan Steven. "Ja-jangan macam-macam Steve, nanti mama ke sini."


Langkah kaki Fiona terhenti ketika dia membentur sesuatu hingga dia hampir terjungkal ke belakang. Beruntung dia membentur ujung tempat tidur sehingga dia terduduk di tepi ranjang.


"Mama sendiri yang menyuruhmu ke sini, jadi dia pasti tidak keberatan jika kita....."


"Stevee," jerit Fiona, "kita sebentar lagi akan menikah, tunggulah sampai saat itu. Kau bisa melakukan apapun setelahnya. Aku tidak akan melarangmu."


Niat hati hanya ingin mengerjai Fiona, Steven justru terkejut mendengar ucapannya. Steven membungkuk menatap Fiona dari dekat. "Ingat Fiona, kau sendiri yang bilang seperti itu, jangan menyesalinya nanti. Aku tidak akan menahan diri lagi setelah kita menikah karena kau sendiri yang memintanya," ucap Steven seraya menyeringai.


*********


Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa 2 hari lagi hari pernikahan Steven dan Fiona akan digelar. Selama 3 hari ini, Steven dan Fiona tidak pernah bertemu lagi. Mereka hanya berkomunikasi lewat telpon, pesan, dan panggilan vidio.


Ibunya melarang mereka untuk bertemu sampai hari pernikahan mereka tiba. Steven juga akhir-akhir ini sibuk menyelesaikan urusan kantor untuk beberapa hari ke depam agar dia memiliki banyak waktu untuk berbulan madu setelah menikah.


Siang ini, Fiona sudah berjanji bertemu dengan ibu Steven. Mereka berencana untuk berbelanja ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota tersebut. Ibu Steven bilang ingin membelikan beberapa hadiah untuk pernikahannya.


Selesai keluar masuk banyak outlet dengan brand ternama dan membeli banyak barang. Ibu Steven mengajaknya ke salah satu toko khusus untuk pakaian dalam.


"Fiona, bagaimana menurutmu? Sepertinya ini cocok untukmu." Dengan tanpa malunya, ibu Steven menunjukkan sebuah lingerie berwarna merah dan hitam yang sangat tipis pada Fiona.


Seketika wajah Fiona memerah. "Apa itu tidak terlalu tipis, Ma."


Yesinta tersenyum sambil mendengar ucapan Fiona. "Kalau bahannya tebal, namanya baju tidur Fiona." Jawaban Ibu Steven membuat pegawai toko itu mengulum senyumnya.


"Tapi Ma, kalau aku memakai itu, sama saja aku tidak memakai apa-apa," ucap Fiona dengan wajah malu.


"Justru itu tujuannya. Kau harus membuat Steven terpesona denganmu saat malam pertama kalian nanti supaya kalian cepat memberikan mama cucu, agar mama tidak kesepian lagi di rumah." Ibu Steven terlihat sama sekali tidak malu membahas hal itu di depan orang lain.


Astagaaa mama, kenapa dia berterus terang sekali, aku kan jadi malu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Steven nanti saat melihatku mengenakan lingerie itu. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.....


Ibu Steven menoleh pada pegawai toko tersebut. "Tolong bungkuskan yang itu, yang ini dan yang itu juga," tunjuk Ibu Steven.


"Baik Nyonya."


Kalau aku memakai itu, Steven pasti mengira kalau aku sengaja ingin menggodanya. Bagaimana ini? Aku sangat malu kalau harus memakainya, tapi aku tidak mungkin menolak pemberian mama.


Fiona tidak bisa berkata-kata lagi saat melihat pegawai tersebut mengambil berbagai macam model lingerie yang sudah terbungkus rapi lalu memasukkan ke tas belanja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2