Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Aku Pergi


__ADS_3

"Kau mau aku antar ke mana?" Leon mengalihkan pandanganya dari jalanan yang ada di depannya ke arah Fiona yang sedang duduk di sampingnya.


"Kemana saja, asalkan bukan ke tempat Steven dan mama," jawab Fiona tanpa menoleh pada Leon yang sudah kembali menatap ke arah depan sambil mengemudi dengan kecepatan sedang.


"Baiklah." Leon melajukan mobilnya menuju salah satu rumah besar yang berada di tengah kota.


"Turunlah." Fiona memandang rumah yang didominasi dengan warna putih dan abu itu sejenak lalu keluar dari mobil. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung ke rumah Leon.


Kalau saja Jesy tidak sedang berada di luar negeri, Leon pasti sudah membawa Fiona ke apartemen adik sepupunya itu. Sebenarnya, Leon ingin membawa Fiona ke hotel, tapi dia tidak bisa mengawasi Fiona jika dia membawanya ke sana. Dia takut kalau Fiona akan berbuat nekat nantinya sehingga dia memutuskan untuk membawa ke rumahnya.


Leon mengantarkan Fiona menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah. "Ganti bajumu dengan ini, setelah itu kita makan malam. Aku akan membuatkan makan malam sederhana untuk kita berdua."


Leon meletakkan bajunya di atas tempat tidur saat melihat Fiona hanya duduk diam dengan tatapan kosong. Dia memberikan baju milik Jesy yang ada di rumahnya. Jesi terkadang memang suka menginap di rumah Leon jika dia sedang bosan di apartemennya sehingga Jesy sengaja meninggalkan beberapa pakaiannya di rumah Leon.


"Terima kasih, Kak."


Leon mengangguk, berjalan ke arah pintu lalu menutupnya. Satu jam kemudian Leon kembali untuk mengajak Fiona makan. Saat dia masuk ke kamarnya, dia tidak melihat keberaraan Fiona di dalam kamar tersebut.


Pikiran buruk langsung terlintas di benaknya. Bagaimana kalau Fiona tiba-tiba berbuat nekat karena lamarannya dibatalkan. "Fio, kau di mana?" Leon berjalan ke arah kamar mandi untuk mengecek keberadaan Fiona.


"Fiona, buka pintunya." Leon menggedor pintu kamar mandi berulang kali ketika mendengar ada suara gericik air dari dalam.


"Fio, buka pintunya." Wajah Leon terlihat sangat panik. Berulang kali dia mengetuk dan memanggilnya tapi tidak ada sahutan dari dalam.


"Fiona jika kau tidak membukanya, maka akan kudobrak pintunya," ucap Leon dengan suara tinggi.


Tidak ada jawabannya juga, Leon meraih handle pintu lalu menggerakkannya ke bawah. Pintu terbuka. Ternyata Fiona tidak mengunci pintu kamar mandinya. Leon langsung berjalan masuk ke dalam denhan langkah cepat. Matanya melebar ketika melihat pemandangan di depannya.


"Apa yang kau lakukan?" Leon menghampiri Fiona yang terduduk dengan tatapan kosong di bawah guyuran air shower dengan pakaian yang sudah basah.


Leon mematikan airnya lalu berjongkok di depan Fiona. "Fio, berdirilah. Kau bisa sakit jika kau seperti ini," bujuk Leon sambil membungkus tubuh Fiona dengan handuk yang dia ambil sebelum mematikan air showernya.


Fiona bergeming, dengan tatapan kosong dia berkata, "Kak, kenapa aku tidak bisa membencinya? Sudah jelas-jelas dia tidak menginginkanku. Aku sudah berusaha meyakinkan diriku bahwa dia mencintai wanita lain dan tidak peduli padaku, tapi kenapa aku justru semakin mencintainya?" ujar Fiona dengan mata berkaca-kaca.


"Aku sudah mengakhiri hubungan kami supaya kami tidak saling menyakiti, tapi kenapa hatiku justru semakin sakit. Aku bilang akan melepasnya, tapi aku semakin merindukannya, Kak. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menghilangkannya dari pikiranku. Aku ingin bertemu dengannya Kak, aku sangat merindukannya." Fiona menitikkan air matanya.


Leon memegang bahu Fiona dengan wajah iba. "Fio, kau harus bisa menerima kenyataan ini. Lepaskan dia, jangan sakiti dirimu lagi dengan mengharapkan orang yang sama sekali tidak menginginkanmu."


Dia merasa sedih saat melihat Fiona begitu terpuruk ketika hubungannya dengan Steven sudah berakhir.


"Aku tidak bisa, Kak. Aku sangat mencintainya," ucap Fiona sambil terisak. Dia sudah tidak bisa menahan air mata yang sedari tadi dia tahan.


Leon merengkuh tubuh Fiona dalam pelukannya. "Aku tahu ini sulit bagimu, tapi kau harus berusaha. Aku akan membantumu. Jika kau tidak bisa tinggal di sini lagi, aku akan membawamu ke tempat yang jauh. Tunggulah beberapa hari, aku akan mengurus semuanya."


*******


Tiga hari sudah berlalu sejak lamaran Fiona dan Steven dibatalkan. Fiona tidak pernah lagi berhubungan dengan Steven. Steven juga tidak pernah pergi menemui Fiona. Selama seminggu itu juga Fiona selalu mengurung diri di dalam kamarnya tanpa melakukan apapun. Dia juga sudah mengundurkan diri dari kantornya.


Selama Fiona mengurung diri, Sarah tidak pernah sekalipun melihat keadaan Fiona di kamarnya. Dia nampak tidak peduli sama sekali dengan Fiona. Dia juga tidak pernah membujuk Fiona ataupun menghiburnya. Sarah masih merasa kesal karena ulah Steven. Keluarganya menjadi bahan gunjingan oleh teman-temannya.

__ADS_1


Setiap pulang bekerja, Cindy akan melihat keadaan Fiona dan mengajaknya untuk berbicara sebentar agar Fiona tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Begitu pun Leon. Setiap hari dia mengunjungi Fiona dengan membawakan makanan untuknya sembari menghiburnya.


Ketika Fiona sedang melamun, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. "Masuk," jawab Fiona ketika mendengar namanya dipanggil.


"Apa kau sudah makan?" tanya Leon seraya menghampiri Fiona yang sedang duduk di depan jendela sambil menatap ke arah luar.


"Belum," jawab Fiona pelan.


"Semuanya sudah siap, kita akan berangkat besok. Persiapkan dirimu," ucap Leon sambil berdiri di samping Fiona.


"Iyaaa." Fiona menoleh pada Leon, "aku ingin melihatnya untuk terakhir kali, Kak. Bisakah kau mengantarku ke tempatnya?" pinta Fiona dengan wajah sembab. Fiona memang bru saja selesai menangis saat mengingat dia akan pergi jauh.


Leon menatap Fiona dengan wajah tegas. "Tidak. Kau pasti akan berubah pikiran jika bertemu dengannya. Ingat Fiona, dia sudah mencampakkanmu. Kalau dia memang mencintaimu, seharusnya dia menemuimu setelah lamaran kalian dibatalkan. Lihatlah, sampai sekarang dia tidak pernah datang mencarimu, bahkan menghubungimu saja tidak," ujar Leon.


"Aku hanya ingin melihatnya dari jauh sebelum kita pergi. Aku sangat merindukannya, Kak." Fiona kembali menangis.


Leon melangkah mendekati Fiona lalu memeluknya. "Lupakan dia, Fio. Dia tidak mencintaimu." Fiona tidak berbicara lagi, dia hanya menangis dalam dekapan Leon.


Keesokan harinya, setibanya di bandara, Leon mengajak Fiona untuk menunggu di ruang tunggu VIP. Penerbangan mereka masih 2 jam lagi. Leon sengaja mengajak Fiona berangkat lebih awal agar mereka tidak terburu-buru dan bisa makan siang lebih dulu sebelum pesawat mereka lepas landas.


"Aku akan membeli sesuatu dulu, kau tunggu di sini," ucap Leon sambil berdiri.


"Iyaaa Kak, tolong belikan aku minuman dingin," pinta Fiona dengan suara pelan.


Leon menatap wajah Fiona yang terlihat sembab dan pucat sejenak, setelah itu mengangguk. Setelah kepergian Leon, Fiona mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi seseorang.


"Halo." Terdengar jawaban dari sebrang telpon. Fiona hanya diam.


Orang yang Fiona hubungi Fiona adalah Steven. Sebelum dia pergi, dia ingin sekali mendengar suaranya untuk terakhir kali.


"Fiona, ada apa? Bicaralah." Steven kembali bertanya pada Fiona dengan suara pelan.


"Steve, sebenarnya aku ingin menemuimu, tapi aku tidak bisa." Fiona akhirnya membuka suaranya


"Ada apa dengan suaramu? Apa kau sedang sakit?" tanya Steven.


"Tidak. Aku baik-baik saja."


"Kau di mana? Erick bilang kau tidak ada di apartemen."


Fiona menunduk dengan air mata yang kembali menetes. "Aku di rumah mama," jawab Fiona dengan suara serak sambil menanhan tangisnya yang akan kembali pecah saat mendengar nada khawatir dari Steven.


"Jadi, selama beberapa hari ini kau tinggal di sana?" tanya Steven lagi.


"Iyaa." Fiona menyeka air matanya yang terus menetes.


"Kenapa tinggal di sana? Apartemen itu sudah atas namamu, kembalilah ke apartemen itu. Aku masih ada urusan, aku akan menemuimu 2 hari lagi."


Fiona menjauhkan telpon dari telinganya dan menangis kuat saat mengingat kalau dia akan meninggalkan Steven dan tidak akan pernah bisa bertemu lagi.

__ADS_1


"Aku tidak pantas tinggal di sana lagi, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Lebih baik aku tinggal di rumah mama," jawab Fiona seraya menahan suara tangisnya.


"Apa hanya di sana satu-satunya tempat yang bisa kau tinggali?" Suara Steven terdengar kecewa dan khawatir.


"Iyaa."


Seketika hening. Steven tidak berbicara dalam beberapa menit. "Apa ibumu memperlakukanmu dengan baik?" tanya Steven.


"Iya."


"Apa dia pernah menyiksa atau menyakitimu?"


"Tidak."


"Apa kau baik-baik saja?"


"Iyaa."


"Apa kau makan dengan benar?"


"Iyaa."


Fiona menarik napas pelan sebelum kembali membuka bersuara. "Steve, aku ingin mengembalikan kartu dan cincin yang pernah kau berikan padaku."


Hening sesaat. "Simpan saja, aku akan menemui nanti."


"Aku takut menghilangkannya. Aku akan menitipkan pada kak Cindy, kau bisa mengambilnya nanti," ucap Fiona seraya menahan sesak di dadanya.


"Jangan, aku tidak mau kau menyerahkan pada Cindy. Sudah aku bilang, aku akan menemuimu 2 hari lagi."


"Maafkan aku Steve, aku sungguh minta maaf karena sudah menghancurkan mimpimu untuk menikahi gadis yang kau cintai. Aku sungguh tidak bermaksud untuk mencelakainya." Tangis Fiona kembali pecah, kali ini, Fiona tidak bisa lagi menyembunyikan suara tangisannya.


Tidak ada balasan apapun dari Steven. Hanya terdengar suara hembusan napas pelan.


"Asal kau tahu, aku selalu dihantui rasa bersalah selama ini. Aku juga tidak bisa hidup tenang Steve semenjak kejadian itu."


"Fiona, jangan membahas itu lagi."


Fiona akhirnya menyeka air matanya lalu menghembuskan napas panjang karena dia merasa kalau Steven belum bisa memaafkannya. "Baiklah."


"Steve, ini makanan dan bajumu." Terdengar suara wanita dari sebrang telpon. Fiona sangat yakin kalau itu adalah suara Sera.


"Letakkan saja di tempat tidur," jawab Steven dengan suara sangat pelan, tapi masih terdengar oleh Fiona.


"Fio, aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku tutup dulu." Sambungan telpon terputus.


Ternyata kau sudah mendapatkan penggantiku. Munkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Kalau begitu, tidak ada alasan lagi untuk aku tinggal di sini. Aku harap kau bisa hidup bahagia dengan Sera. Jaga dirimu baik-baik. Aku pergi... Selamat tinggal Steve....


Fiona termenung sesaat, menatap layar ponselnya, mematikannya lalu membuang kartunya ke tempat sampah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2