
Ibu Steven menarik napas dalam setelah itu menghembuskannya lewat mulut. "Wanita itu adalah Fiona Adiguna Wangsa."
Ketika mendengar nama Fiona disebutkan oleh ibunya, Steven merasa seperti tersambar petir di siang bolong. Jantungnya berdebar sangat kencang, wajahnya seketika memucat seperti mayat, tubuhnya kaku seolah aliran darahnya berhenti mengalir di dalam tubuhnya.
Steven terdiam beberapa saat hingga kesadarannya kembali lagi. "Fiona?" ulang Steven dengan wajah tidak percaya.
Steven menarik napas dalam berusaha untuk mengontrol dirinya. "Aku tahu mama tidak pernah menyukai Fiona, tapi mama jangan pernah mencoba mengkambing hitamkan dia agar aku membencinya." Steven berusaha
"Steve, mama pernah bilang padamu, kalau mama tidak pernah membenci Fiona. Kenapa selama ini mama tidak pernah menyetujui hubunganmu dengan Fiona adalah karena mama tahu pada akhirnya, kau tidak akan pernah memaafkan orang yang memiliki hubungan dengan kematian Gwen meskipun sebenarnya Fiona tidak bersalah."
Steven terdiam sambil menatap ke bawah. Berbagai macam pikiran berkecamuk di benaknya. Batinnya sedang berperang, apakah dia akan tetap pada rencana awal untuk membalas kematian Gwen atau memaafkan Fiona dan membiarkan masalah Gwen berlalu begitu saja.
Melihat Steven masih berdiri mematung, ibunya kembali membuka suara, "Sekarang terserah padamu, percuma saja mama mencegahmu. Kau tidak akan mau mendengar perkataan mama jika sudah menyangkut masalah Gwen."
Bagi Steven, Gwen adalah hidupnya, maka dari itu, tidak akan yang bisa menghentikannya jika dia tetap ingin menghukum orang yang dianggapnya bersalah dalam kecelakaan Gwen.
Ibunya sudah tidak mau ikut campur lagi. sekarang dia serahkan semuanya pada Steven. Sebelumnya, dia sudah berusaha untuk menjauhkan Steven dari Fiona tapi Steven sendiri lah yang tidak mau melepaskannya.
"Seharusnya kau mendengarkan perkataan mama dari awal. Mama sudah memintamu mengakhiri hubungamu dengan Fiona, tapi kau tetap kekeh dengan pendirianmu untuk mempertahankannya. Bahkan saat mama menyuruhmu untuk mencari tahu msalalu Fiona, kau menolaknya dengan dalih kau sudah tahu apapun tentangnya."
Ingatan Steven kembali berputar saat ibunya beberapa kali memintanya untuk menjauhi Fiona dengan alasan untuk melindungi mereka berdua.
Ternyata itu alasan ibunya tidak menyetujui hubungannya dengan Fiona karena ibunya tahu kalau dirinya tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah mencelakai Gwen, meskipun pada kenyataanya, bukan Fiona lah yang menyebabkan Gwen meninggal.
Sebenarnya, Fiona hanya kebetulan berada di dalam mobil yang menabrak Gwen hingga tewas. Seandainya, dulu ibunya tidak menutupi mengenai kecelakaan Gwen, mungkin saja, Fiona sudah berada di dalam jeruji besi saat ini.
Steven duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya. Tubunya terasa lemas mendapati kenyataan yang sangat mengejutkan baginya. "Ma, bagaimana bisa ini semua terjadi? Kenapa mama menyembunyikan semua ini dariku?" Steven menatap ibunya dengan wajah kecewa dan marah.
"Karena mama dan papa tidak ingin kau melakukan kesalahan yang akan membuatmu menyesal nantinya. Jika, kau tahu dari awal mengenai kecelakaan Gwen, apa kau yakin tidak akan berbuat apapun pada Fiona?"
Steven terdiam mendengar penuturan ibunya. "Jadi, dari awal mama sudah tahu siapa Fiona?"
__ADS_1
"Yaaa. Dulu, papamu meminta Halim untuk membawa Fiona keluar negeri agar kau tidak bisa menemukan Fiona jika suatu saat kau mengetahui kebenaran mengenai Gwen, tapi nyatanya, entah dengan alasan apa, Halim membawanya kembali ke sini hingga akhirnya kau bertemu dengannya," ungkap Ibu Steven.
Ketika Steven pertama kali membawa Fiona ke mansion orang tuanya. Ibunya dibuat terkejut ketika melihat Steven membawa gadis yang sangat mirip dengan gadis yang memiliki hubungan dengan kematian Gwen. Karena penasaran, ibu Steven memutuskan untuk menyelidiki Fiona. Dari situlah, dia tahu kalau Fiona memang orang yang dia maksud.
"Jadi, papa juga ikut andil dalam masalah ini?"
Steven benar-benar dibuat seperti orang bodoh. Selama bertahun-tahun dia dibohongi oleh keluarganya sendiri, padahal mereka tahu bagaimana terpuruk saat dia kehilangan Gwen dulu.
"Yaa, alasan kenapa kau tidak bisa menemukan apapun mengenai Gwen adalah karena papamu yang menyuruh orang untuk menghapus semua jejak mengenai kecelakaan Gwen dan Fiona. Menurutmu, selain papamu, siapa lagi yang bisa melakukan hal itu tanpa terlacak oleh siapapun."
Pantas saja saat dia menyelidiki Gwen, dia tidak pernah mendapatkan infomasi apapun, meskipun dia sudah mengerahkan seluruh koneksinya. Seketika dia teringat saat dia menyuruh Erick menyelidiki Fiona, dia tidak menemukan data mengenai kecelakaan yang pernah dialami oleh Fiona. Ternyata ayahnya sudah menghapus semua yang berhubungan dengan kecelakaan Gwen termasuk data Fiona agar dia tidak bisa menemukan informasi sekecil apapun.
Steven termenung sesaat, sebelum kembali bertanya dengan ibunya. "Lalu, di mana letak makam Gwen?" Steven kembali membuka suaranya setelah terdiam beberapa saat.
"Di negara H, di bagian selatan kota S. Di sanalah Darius memakamkan jasad Gwen." Ibu Steven menatap Steven yang kembali terdiam, "apa kau berniat ke sana? Steve, ingat, dua hari lagi lamaran kalian akan dilaksanakan, jangan membuat masalah sebelum acara itu dilaksanakan."
Steven tidak menghiraukan peringatan ibunya. "Siapa nama orang yang sudah menabrak Gwen dan di mana dia mendekam saat ini?"
"Steve, apa kau sungguh ingin membalaskan kematian Gwen?"
"Steve, dengarkan cerita mama dulu. Apa kau tidak mau tahu bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi? Saat itu, Fiona sedang dalam keadaan kri...."
Steven berbalik, memunggungi ibunya. "Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun lagi. Seharusnya, Mama memberitahuku saat Gwen mengalami kecelakaan saat itu, bukan justru menutupinya," potong Steven dengan nada dingin sebelum ibunya menyelesaikan ucapannya.
"Steve, jangan melakukan hal yang akan kau sesali nantinya," ujar Ibu Steven sebelum anaknya meninggalkan ruangan kerjanya.
Steven tidak mengubris perkataan ibunya dan memilih berjalan ke arah pintu. Ketika dia baru saja melangkah keluar, dia melihat Fiona sudah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai di dekat pintu masuk ruangan kerjanya.
Dengan sigap, Steven berjongkok meraih tubuh Fiona lalu berusaha menyadarkannya. "Fio, bangun Fio...." Steven terlihat sangat panik melihat Fiona pingsan. "Fiona... bangun."
Mendengar suara anaknya yang memanggil nama Fiona. Ibu Steven langsung menyusul putranya. "Fiona, kenapa, Steve?" tanya ibu Steven dengan panik.
__ADS_1
Steven menoleh pada ibunya. "Pingsan, Ma." Steven mengangkat tubuh Fiona dan membawa menuju kamarnya diikuti oleh ibunya dari belakang.
"Dia pasti sudah mendengarkan semua yang kita bicarakan tadi."
Ibu Steven memandang anaknya yang sedang duduk di samping Fiona yang sudah terbaring di tempat tidur.
"Ma, jangan membahas itu lagi."
Ibu Steven menghela napas dengan wajah pasrah. "Baiklah, mama tinggal dulu. Bicarakan baik-baik dengannya saat dia sudah sadar nanti." Ibu Steven keluar dari kamar Steven lalu menutup pintunya.
Steven terlihat memandang wajah Fiona dengan tatapan rumit untuk waktu yang lama. Tangannya mukai terulur ingin membelai wajah Fiona, tetapi tertahan di udara. Dia akhirnya menarik tangannya, mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Setelah menunggu selama setengah jam, Fiona akhirnya membuka matanya. Steven masih belum beranjak dari tempat duduknya dan masih terus memandang wajah Fiona.
"Steve." Fiona memanggil Steven dengan suara sangat pelan.
Steven menatap Fiona dengan wajah datar. "Kenapa kau bisa di sini?"
Fiona bangun dari tidurnya lalu duduk dengan tegak. "Aku ingin bertemu dengan ibumu."
Steven hanya diam, sementara Fiona menatap Steven dengan wajah sendu. "Aku sudah mendengar semuanya. Steve, aku... saat itu...."
"Pulanglah, aku akan menyuruh Erick untuk mengantarmu," potong Steven sambil mengalihkan pandangannya ke samping. Dia sengaja menghindari tatapan dari Fiona.
"Steve, maafkan aku, aku sungguh minta maaf," ucap Fiona dengan suara bergetar, "aku tidak...."
"Fiona, lebih baik kau kembali ke apartemenmu. Ada Erick di depan, dia akan mengantarmu pulang."
Melihat sikap dingin Steven, dadanya berdenyut nyeri. Ini pertama kalinya, Steven bersikap dingin padanya. Fiona memaksa dirinya untuk tetap tersenyum lalu berkata, "Baiklah, lebih baik aku pulang sendiri." Fiona turun dari tempat tidur dengan hati yang sakit, "aku pulang dulu."
Steven tidak lagi membalas ucapan Fiona. Dia juga tidak berusaha untuk mencegah Fiona pulang sendiri. Biasanya, dia tidak akan mengijinkan Fiona untuk pulang sendiri, tapi tidak kali ini, dia hanya diam, membiarkan Fiona melangkah keluar.
__ADS_1
Sebelum melewati pintu, Fiona menghentikan langkahnya, setelah itu, dia menoleh pada Steven. "Steve, masih ada waktu jika kau ingin membatalkan pernikahan kita. Aku akan menunggu keputusanmu besok."
Bersambung....