
Fiona langsung menunduk dan terlihat salah tingkah setelah Steven melepas pagutannya. Steven mengusap lembut bibir Fiona dengan ibu jarinya. "Maaf," ucap Steven dengan suara pelan sambil menunduk menatap Fiona.
Untuk sesaat Steve hilang kontrol. Dulu dia tidak pernah meminta maaf pada Fiona, meskipun dia menciumnya tanpa ijin, itu karena dulu Fiona tidak memiliki kekasih, tapi kini, teringat Fiona sekarang sudah memiliki kekasih, Steven merasa bersalah.
"Kau tidak perlu minta maaf," ucap Fiona dengan suara tak kalah pelan. Fiona masih menunduk dan tidak berani menatap Steven.
Steven menyunggingkan senyumnya lalu mengusap bibir ranum Fiona. "Katakan padaku, selain aku, siapa lagi yang pernah menyentuh bibirmu?"
Mendengar hal itu, seketika membuat wajah Fiona memerah dan malu. Dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. "Tidak ada."
Steven memiringkan wajahnya sedikit menatap Fiona yang terlihat sengaja menghindari tatapannya. "Benarkah tidak ada selain aku? Apa kekasihmu itu pria bodoh?"
Fiona langsung mengangkat kepalanya lalu menatap Steven. "Sudah aku bilang kau salah paham, Steve. Aku tidak memiliki kekasih dan aku juga belum pernah berciuman dengan siapa pun selain kau," ungkap Fiona.
"Itu berarti kau masih milikku?" Steven terlihat percaya diri sekali ketika mengatakan hal itu.
"Ak-aku bukan milikmu," ucap Fiona dengan gugup.
Steven mendekatkan wajahnya kepada Fiona lalu berbisik, "Apa kau lupa kalau kita pernah melewati malam yang panas waktu itu?"
Fiona langsung mendorong tubuh Steven. "Ak-aku... Aku tidak percaya dengan ucapanmu." Fiona memberanikan diri menatap Steven.
Steven menyunggingkan sudut bibirnya sebelah. "Apa kau ingin kita mengulangnya lagi agar kau tahu kalau kau sungguh sudah menjadi milikku?" Steven tersenyum smirk pada Fiona.
"Ti-tidak perlu," ucap Fiona sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Steven mensejajarkan wajah dengan Fiona lalu berkata, "Kenapa? Apa kau ingin kita menikah dulu baru melakukannya lagi?"
"Steve, aku ke sini bukan untuk membahas itu, aku hanya ingin menjelaskan kesalahpahaman antara kita."
Steven melipat kedua tangannya di dada lalu menatap Fiona. "Kalau begitu jelaskan padaku sekarang."
Steven menatap Fiona dalam diam, menunggu Fiona membuka mulutnya. "Aku hanya berpura-pura berpacaran dengan kak Leon."
Dahi Steven langsung mengerut. "Berpura-pura?"
"Iyaaa, aku terpaksa melakukannya karena ibuku terus mendesakku untuk menikah dengan James."
"James? Siapa lagi itu?"
"Dia adalah anak dari teman ibuku. Karena hubungan perteman mereka sangat baik, ibuku menjodohkan aku dengan anaknya."
"Kau bukan anak kecil lagi, Fio. Kau bisa menolak ibumu tanpa harus berpura-pura berpacaran dengan pria itu."
"Meskipun aku menolak menikah dengan James, ibuku pasti menjodohkan aku dengan yang lain karena yang dia inginkan adalah pernikahan untuk menyelematkan harta keluarga kami," ungkap Fiona.
"Maksudmu?" Steven masih tidak mengerti.
"Ayahku mewariskan hampir seluruh kekayaannya untukku." Fiona kemudian menceritakan semuanya pada Steven tanpa ada yang dia tutupi.
"Jadi, sebentar lagi kau akan menikah dengan Leon?" tanya Steven ketika Fiona sudah selesai menceritakan semuanya padanya.
"Aku sedang mencari cara agar aku bisa menyelamatkan harta keluarga kami tanpa harus menikah dengan kak Leon atau pun James."
"Kalau begitu...." Menikahlah denganku. Kata-kata itu hanya tertahan ditenggorokannya. Steven tidak berani lagi mengatakan hal itu setelah Fiona menolaknya dulu. "Jangan menikah."
__ADS_1
"Ibuku tidak akan memaafkanku dan mengusirku jika harta itu disumbangkan karena aku tidak menikah sesuai wasiat ayahku."
"Tinggal lah bersamaku."
"Haaaa?" Fiona terlihat terkejut mendengar perkataan dari Steven.
"Kau bisa tinggal di sini untuk sementara waktu."
"Bukan itu permasalahannya, Steve. Aku tidak mau dibenci oleh ibuku. Bagaimana pun aku hanya memiliki seorang ibu sekarang. Aku sudah berjanji pada mendiang ayahku untuk berbaikan dengan ibuku dan mencoba menjadi anak yang baik."
"Jadi, kau memilih untuk menikah dengan Leon? Atau sebenarnya kau memang menginginkan pernikahan itu?"
Fiona menggeleng dengan kuat. "Tidak Steve, aku tidak mau menikah dengannya."
"Lalu kalau tidak dengan Leon, apa kau ingin menikah dengan James?"
"Tidak, aku tidak mencintainya," jawab Fiona dengan cepat.
"Kalau begitu jangan menikah, aku yang akan berbicara dengan ibumu."
Fiona menggeleng dengan cepat. Ibunya membenci Steven, dia tidak mungkin membiarkan Steven bertemu dengan ibunya.
"Jangan Steve. Ibuku sangat membencimu. Dia tidak akan mendengarkanmu. Ibuku bahkan melarangku untuk bertemu denganmu."
"Fiona, seandainya aku bisa memberikan apa yang ibumu inginkan, apa kau mau keluar dari rumah itu?"
Dahi Fiona berkerut. "Maksudmu?"
"Aku akan membantumu mengatasi masalah itu, tapi setelah itu kau harus pergi dari rumah itu," ucap Steven dengan wajah serius.
"Fiona, apa kau sungguh berpikir kalau dia adalah ibumu?"
Dahi Fiona mengerut. "Apa maksudmu, Steve?"
"Sekarang jawab pertanyaanku. Setelah kepergianku, apa kau pernah berhubungan serius dengan pria lain?"
Fiona masih merasa heran dengan perkataan Steven yang tidak dijawab olehnya. "Tidak pernah," jawab Fiona mantap. "Jadi, kau sungguh tidak memiliki perasaan apapun terhadap Leon?"
"Tentu saja saja." Fiona terlihat yakin dengan jawabannya.
"Baiklah, aku akan berbicara dengan ibumu. Kalau yang diinginkan hanya harta. Aku bisa memberikannya sebanyak yang dia mau agar dia tidak memaksamu menikah lagi."
"Steve, kau tidak perlu ikut campur urusanku. Aku akan mengatasinya sendiri." Fiona hanya tidak ingin memiliki hutang budi lagi pada Steven.
"Dengan apa kau mengatasinya? Dengan menikah dengan Leon?" tanya Steven dengan alis terangkat.
"Aku-aku...."
"Kalau kau tidak mau aku yang mengurusnya, kau harus menikah denganku. Dengan begitu kau bisa memberikan semua harta itu pada ibumu dan lepas darinya."
"Haaaaah?" Mata Fiona membesar dan alisnya terangkat. "Tapi, aku tidak mau melibatkanmu dengan urusan keluargaku."
"Jadi, kau lebih memilih menikah dengan Leon dari pada aku?" Steven menatap dingin pada Fiona.
"Bukan, bukan seperti itu."
__ADS_1
"Kalau begitu pilihannya cuma 1, kau menikah denganku atau biarkan aku yang mengurus masalah ini dengan ibumu. Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir," ucap Steven dengan tegas.
Fiona terlihat berpikir. "Bukankah kau membenciku, Steve? Kenapa kau ingin membantuku?"
Steven mengerutkan kening. "Fiona, apa kau sungguh tidak tahu apa alasanku membantumu?"
Fiona menundukkan kepalanya, mencoba memikirkan alasannya. "Mungkin karena kasihan," ucap Fiona dengan suara pelan.
Steven memejamkan matanya sambil menghela napas. "Apa kau sebelumnya tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria sebelum bertemu denganku?" tanya Steven dengan alis terangkat.
Fiona menggeleng pelan. "Tidak pernah."
Steve kemudian memegang kedua bahu Fiona sambil menunduk, menatapnya. "Dengarkan aku, mulai sekarang jangan pernah dekat lagi dengan pria manapun. Aku tidak mengijinkanmu untuk dekat dengan pria lain karena kau adalah milikku."
"Ap-apa maksudmu?" tanya Fiona degan gugup.
"Apa kau belum mengerti juga arti kata milikku? Apa harus aku tunjukkan padamu agar kau mengerti?"
Steven melangkah mendekati Fiona dan secara reflek Fiona pun berjalan mundur menghindari Steven. Fiona terus melangkah mundur hingga tubuhnya membentur tembok.
"Jangan mendekat." Fiona menahan tubuh Steven dengan kedua telapak tangannya untuk memberikan jarak untuk mereka.
Fiona menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. "Fiona, jangan memancingku. Aku mungkin bisa menahan wanita lain yang menggodaku, tapi tidak denganmu."
Fiona mengangkat kepalanya menatap Steven. "Aku tidak menggodamu," ucap Fiona dengan yakin.
"Lalu kenapa kau memegang tubuhku?" tanya Steven sambil menunduk melihat tangan Fiona yang berada di dadanya.
Fiona spontan menarik tangannya. "Maaf, aku tidak sengaja. Itu karena kau terus mendekat jadi aku refleks."
Steven menahan satu tangannya di tembok ketika dia merasa pusing. "Kau kenapa Steve?" tanya Fiona sambil menatap cemas pada Steven.
"Aku hanya merasa pusing, mungkin karena aku terlalu banyak minum. Aku akan istirahat," ucap Steven sambil berjalan menjauh dari Fiona. "Lebih baik kau beristirahat juga di kamar sebelah, kita bicara besok lagi."
Fiona menyusul Steven yang terlihat berjalan ke arah tempat tidur. "Biar aku bantu." Fiona melingkarkan tangannya di tubuh Steven yang terihat berjalan tidak seimbang.
Steven hanya diam tanpa membantah. "Hati-hati." Fiona membantu merebahkan tubuh Steven di tempat tidur.
"Bagaimana kalau aku panggilkan dokter," usul Fiona dengan wajah cemas.
"Tidak perlu," tolak Steven cepat. "Keluarlah," ucap Steven dengan suara pelan.
Fiona terlihat khawatir ketika melihat wajah pucat Steven. "Tapi, kau...."
"Atau kau ingin tidur bersamaku di sini?"
"Tidak, aku akan tidur di kamar tamu," jawab Fiona cepat.
"Kalau begitu keluarlah." Berlama-lama dengan Fiona di dalam kamar membuat Steven frustasi.
"Baiklah, aku keluar dulu." Fiona berjalan keluar dan menutup pintu dengan pelan.
"Cepat atau lambat kau juga akan menjadi istriku, Fio," gumam Steven di dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1