Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Keanehan Fiona


__ADS_3

Ketika Steven keluar kamar mandi, Fiona sudah tertidur dengan posisi meringkuk. Ruangan memang terasa dingin karena di luar sedang hujan. Steven berjalan mendekati tempat tidur menaikkan suhu ruangan lalu membungkuk menyelimuti Fiona.


Sepertinya dia kelelahan.


Steven lalu berjalan menuju lemari, mengambil pakaian lalu berganti dalam kamar mandi. Selesai memakai baju, Steven berjalan ke sisi tempat tidur lalu berbaring menghadap Fiona.


Steven terus memandang wajah lelap Fiona sambil tersenyum. Tangannya terulur membelai rambutnya. Puas memandang wajah Fiona, Steven mengambil bantal, berjalan menuju sofa panjang lalu merebahkan tubuhnya.


Dia tidak berani tidur satu ranjang dengan Fiona karena takut tidak bisa mengendalikan diri. Perlahan matanya mulai terpejam.


Dini hari, Steven dikejutan suara teriakan dari Fiona. "JGEEERRR!" Suara petir saling bersautan di luar. Hujan semakin deras dan suara petir terdengar menggelegar.


Ketika Steven terbangun, lampu dalam keadaan padam. "Fio, kau di mana?" Tidak ada sahutan. "Fio, jawab aku."


Steven mulai panik ketika tidak mendengar sahutan dari Fiona. Steven lalu berjalan untuk mencari ponselnya. Setelah beberapa kali menabrak sesuatu, akhirnya Steven menemukan ponselnya. Steven menyalakan lampu di ponselnya dan mengarahkan ke tempat tidur tapi tidak ada Fiona di sana.


"Fio, jawab aku." Steven lalu berjalan mencari Fiona. Terdengar suara gemuruh dari luar. Langkah Steven terhenti ketika melihat sesuatu yang terbungkus selimut. di sudut kamar dekat tempat tidurnya.


Steven berjalan mendekat lalu menyingkap selimut tersebut. Ternyata Fiona sedang duduk meringkuk sambil menutup tubuhnya dengan selimut dan nampak gemetar.


Steven perlahan menyentuh bahu Fiona. "Fio, kau kenapa duduk di sini?"


"Maafkan aku... Maafkan aku.." Fiona meracau dan nampak membungkuk menyembunyikan wajahnya pada lutut yang dia tekut. Fiona terlihat sangat ketakutan.


"Fio, ini aku. Steven." Steven membalikkan tubuh Fiona agar berhadapan dengannya.


Perlahan Fiona mengangkat kepalanya. "Steve, aku takut." Fiona langsung memeluk tubuh Steven dengan erat.


Steven merasa ada yang aneh dengan Fiona. Cuaca saja ini sedang dingin, tapi kenapa Fiona berkeringat. "Tenanglah, aku di sini." Steven membelai rambut Fiona dengan lembut.


Tubuh Fiona masih gemetar dan Steven bisa merasakannya. "Kau kenapa?"


Fiona terlihat tidak ingin melepaskan pelukannya. "Kau ke mana? Kenapa meninggalkan aku sendiri?"


Ketika tadi dia mendengar suara petir yang kuat, Fiona langsung terbangun dan seketika itu juga lampu padam. Fiona meraba tempat tidur di sebelahnya tapi kosong. Dia lalu menarik selimut dan meringkuk di pojok ruangan.


"Aku tidak ke mana-mana. Aku tidur di sofa."


"Kau kenapa?"


"Aku takut." Fiona tidak menjawab pertanyaan Steven secara jelas.


Melihat Fiona masih ketakutan, Steven akhirnya berhenti untuk bertanya. "Lebih baik kau tidur lagi. Ayo kembali ke tempat tidur."


Fiona menggeleng. "Aku takut, aku mau di sini saja."


"Aku akan menemanimu. Di sini dingin, ayo kita naik ke tempat tidur." Steven melepaskan pelukannya lalu membantu Fiona untuk berdiri.


Steven mengarahkan cahaya lampu ponselnya ke arah tempat tidur. "Ayo cepat naik."


"Temani aku tidur di sini," pinta Fiona dengan wajah memohon.


Steven mengangguk. "Baiklah."


Fiona akhirnya naik lalu merebahkan dirinya. "Tunggu di sini." Steven melangkah untuk memungut selimut lalu ikut berbaring menhhadap Fiona setelah dia menyelimutinya.


"Steve, jangan ke mana-mana. Aku takut."


"Iyaa, aku akan tetap di sini."


Fiona kembali menutup dirinya dengan selimut ketika mendengar suara petir. "Fio, jangan menutup seluruh tubuhmu dengan selimut. Kau akan susah bernapas nanti." Steven lalu menurun selimutnya hingga batas bahu Fiona.


"Steve, kenapa lampunya belum menyala juga?"


"Apa kau takut gelap?"


Fiona tidak menjawab. "Steve, bolehkan aku memelukmu?"


Steven tidak langsung menjawab. Dia terlihat ragu. "Maaf Steve, aku hanya... Kalau kau tidak mau tidak apa-apa tapi biarkan aku menutup diriku dengan selimut," ucap Fiona dengan suara bergetar.


Fiona meraih selimut ketika tidak mendapati jawaban dari Steven.


Ada apa sebenarnya dengan Fiona? Kenapa dia terlihat sangat ketakutan. Apa ada yang terlewatkan saat Erick menyelidikinya?

__ADS_1


"Kemarilah."


"Tidak usah Steve, lebih baik aku menutup diriku dengan selimut..." Dia tidak ingin kalau Steven melakukannya karena terpaksa.


"Jangan membantah." Steven lalu merengkuh tubuh Fiona dalam pelukannya. "Tidurlah."


"Maaf Steve."


"Pejamkan matamu." Fiona mengangguk sambil memejamkan matanya. Ketika lampu menyala, Fiona dan Steven sudah tertidur.


*******


Pagi harinya, Fiona terbangun lebih awal. Ketika pertama kali membuka mata, dia bisa langsung melihat wajah tampan Steven yang masih terlelap. Ketika terbangun, Fiona masih berada di pelukan Steven.


Fiona tidak langsung bangun tapi justru memandang wajah Steven. Seketika wajahnya langsung memerah ketika mengingat kejadian semalam. Fiona langsung menutup matanya dengan telapak tangannya.


Steven pasti berpikir kalau aku sedang merayunya semalam. Bagaimana aku harus menghadapinya nanti. Aku malu sekali.


Fiona menghela napas. Ternyata, aku belum bisa juga menghilangkan traumaku. Padahal kejadian itu sudah lama berlalu.


Dengan gerakan pelan, dia mengangkat tangan Steven dari tubuhnya lalu menjauhkan diri, memberikan jarak untuk mereka berdua.


Fiona turun dari tempat tidur setelah menyelimuti Steven. "Steve, maafkan aku karena sudah sering merepotkanmu," gumam Fiona dalam hati sambil menatap Steven yang masih terlelap. Dia lalu berjalan keluar menuju kamarnya.


Setelah membersihkan diri, Fiona keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yanh dililit di tubuhnya. "Steve, kenapa kau di sini?" pekik Fiona dengan wajah sambil meyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Fiona terkejut ketika melihat Steven sedang duduk di tepi ranjangnya dengan pakaian yang sudah rapi.


"Maaf Fio," ucap Steven sambil membalik tubuhnya dengan wajah memerah. "Aku mengkhawatirkanmu karena semalam kau terlihat sangat ketakutan," terang Steven.


"Sekarang aku sudah baik-baik saja."


Steven lalu berdiri. "Kalau begitu, aku tunggu di bawah."


"Iyaaa," jawab Fiona.


Steven melangkah keluar lalu menutup pintunya. Setibanya di ruang tamu, sudah ada Erick dan Doni yang menunggunya. Melihat wajah Steven yang terlihat lebih sedikit memerah membuat Erick curiga dengan apa yang sudah terjadi dengan bosnya.


"Selamat pagi Tuan," sapa Erick dan Doni bersamaan.


Semalam Steven memang tidak mengangkat telpon dari ibunya karena dia sedang mandi jadi ibunya menghubungi Erick.


Dahi Steven mengerut halus. "Apa ada masalah?"


"Saya juga kurang tahu Tuan."


"Baiklah. Aku akan menghubungi ibuku nanti."


"Rick, saat kau menyelidiki kehidupan Fiona, apakah ada sesuatu yang terlewat olehmu?" tanya Steven dengan wajah serius.


Erick mengerutkan keningnya. "Sepertinya tidak ada Tuan."


"Selidiki ulang dari Fiona diangkat anak hingga di dewasa," perintah Steven. Dia menduga kalau Fiona menderita trauma di masalalunya tapi tidak ada yang tahu.


"Baik Tuan."


"Lalu, bagaimana perkembangan soal keluarga ibu Fiona?"


"Saya belum menemukannya Tuan."


"Cari tahu sampai dapat," perintah Steven.


Beberapa saat kemudian Fiona datang menghampiri mereka. "Steve, aku sudah siap."


Steven menoleh pada Erick dan Doni. "Kalian tunggu di mobil."


"Baik Tuan." Erick dan Doni berjalan keluar.


"Duduk dulu." Steven menarik tangan Fiona agar duduk di sampingnya.


"Apa kau sungguh tidak apa-apa?" Steven masih merasa cemas terhadap Fiona karena kejadian semalam.


Fiona menunduk. "Aku baik-baik saja, Steve." Fiona merasa malu karena Steven membahas lagi masalah semalam.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Steven merasa kalau Fiona tidak mau membahas masalah semalam. "Nanti sore aku akan menjemputmu," ucap Steven mengalihkan pembicaraan.


"Iyaaa," jawab Fiona singkat.


"Ingat Fio, mulai sekarang kau harus ijin padaku dulu jika ingin bertemu dengan Reynald. Kalau aku tahu, kau menemuinya diam-diam tanpa sepengetahuanku. Aku akan menghukummu," ancam Steven dengan wajah serius. "Tidak hanya Reynald, tapi pria lain juga."


"Bagaimana kalau aku tidak sengaja bertemu dengannya?"


"Kau juga harus tetap bilang padaku."


"Baiklah, ayo kita berangkat." Fiona langsung berdiri.


"Tunggu dulu." Steven menarik tangan Fiona agar terduduk kembali.


"Ada apa lagi?"


"Mendekatlah," perintah Steven.


"Kenapa?"


"Cepat Fio." Steven mulai tidak sabar.


Fiona menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Steven. Tangan Steven terulur lalu menangkup wajah Fiona. "Cuup!" Steven mengecup singkat bibir Fiona lalu berdiri. "Ayo berangkat."


Mata Fiona berkedip pelan dengan wakaj terkejut. "Steve, kenapa kau tiba-tiba menciumku?" tanya Fiona dengan wajah cemberut. Dia melihat Steven sudah berjalan ke arah pintu.


Steven menoleh pada Fiona. "Apa kau mau kalau aku mencium wanita lain?" Steven nampak tidak merasa bersalah sedikit pun. Belum sempat Fiona menjawab Steven lalu berkata. "Cepatlah Fio atau kau ingin melanjutkannya lagi?"


Fiona mendengus. "Kau selalu saja menciumku tiba-tiba." Fiona bersungut sambil berjalan menghampiri Steven.


Steven terkekeh melihat Fiona yang menampilkan wajah cemberutnya. "Maafkan aku. Lain kali, aku akan melakukannya lebih lama lagi," gurau Dave sambil merangkul pundak Fiona dan berjalan keluar.


Fiona menoleh dengan tatapan tajam. "Steveee!"


Steven terkekeh, sesampainya di depan, mereka berpisah mobil.


Sore harinya, Steven menjemput Fiona. Steven turun dari mobilnya ketika melihat Fiona baru saja keluar dari gedung kantornya. "Steve, kenapa kau turun? Bagaimana kalau ada yang mengenalimu?"


Fiona menoleh kanan-kiri untuk melihat keadaan sekitar lalu menarik tangan Steven dengan cepat.


"Apa kau malu memiliki pacar sepertiku?" tanya Steven ambil terus berjalan. "Apakaj aku tidak bisa dibaggakan sebagai pacarmu?"


"Bukan."


Steven menghentikan langkah tepat di samping mobilnya. "Lalu?" Steven terlihat tidak suka dengan sikap Fiona yang terkesan tidak mau orang tahu kalau dirinya sudah memiliki kekasih.


"Aku takut kau diambil wanita lain." Untuk saat ini, hanya itu yang bisa dia katakan agar Steven tidak banyak tanya. Fiona membuka pintu mobilndengan cepat lalu masuk terlebih dahulu. "Steve, cepat masuk."


Fiona terlihat mulai tidak sabar karena Steven hanya berdiam diri. "Kau sudah berani memerintahku?" Steven duduk di samping Fiona sambil menatap Fiona dengan wajah datar. Erick melirik ke belakang sejenak lalu melajukan mobilnya.


Fiona tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya putih dan lesung pipi kirinya. "Maafkan aku Steve, jangan marah. Aku hanya tidak mau wanita lain memandang wajah tampan kekasihku."


Lebih baik seperti itu dari pada dia marah padaku.


"Kau sudah pintar merayu rupanya." Steven memencet hidung Fiona.


Sebelum pulang mereka makan di restoran terlebih dahulu setelah itu baru menuju mansion Steven. Setibanya di sana, Steven mengantarkan Fiona sampai depan pintu.


"Fio, aku akan bertemu dengan ibuku. Mungkin malam ini aku tidak akan pulang, jadi, tidak usah menungguku," ujar Steven setelah berdiri di depan pintu utama.


"Apakah ada masalah?" tanya Fiona.


"Tidak ada, ibuku memintaku untuk menemuinya. Ada yang ingin aku bicarakan juga pada ibuku."


"Baiklah," ucap Fiona dengan suara pelan. Fiona merasa sedikit kecewa karena Steven tidak bisa pulang.


"Jangan takut, aku menempatkan pengawal di depan. Ada Doni juga yang akan menjagamu."


Fiona mengangguk. "Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Steven maju lalu mencium pucuk kepala Fiona.


Fiona mengangguk. "Aku pergi dulu."


"Iyaaa."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2