Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Mengikuti kemauan Steven


__ADS_3

Steven menyunggingkan senyumnya. "Karena...." Steven meraih dagu Fiona, menatapnya lalu mendekatkan wajah mereka.


Fiona langsung gugup ketika melihat wajah mereka yang hampir tidak ada jarak lagi. Fiona menahan napasnya dan refleks memejamkan mata sambil meremas kuat pinggiran bajunya.


"Karena kau adalah milikku, Fio. Kau sudah menjadi milik Steven," bisik Steven dengan suara pelan.


Fiona langsung membuka matanya, Steven manjauhkan tubuhnya lalu berjalan menuju tempat tidur meninggalkan Fiona masih diam mematung.


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Steven ketika dia baru duduk bersandar di tempat tidur sambil menatap Fiona.


"Fio...?" panggil Steven lagi ketika melihat Fiona masih terdiam dan belum juga menjawab pertanyaannya. "Fiona Adiguna Wangsa, apa yang sedang kau pikirkan?"


"Haaah?" Fiona tersadar kembali. Dia menoleh pada Steven. "Tadi, kau bilang apa?" tanya Fiona dengan wajah bingung.


Steven menghlela napas, bangun dari duduknya lalu berjalan menghampiri Fiona. "Sebenarnya apa yang kau pikirkan dari tadi?" tanya Steven sambil menunduk menatap Fiona.


Aku memikirkan perkataanmu..!! Kau bilang aku ini milikmu, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku? Jangan membuatku berharap padamu, Steve. Aku tidak mau kecewa.


Fiona langsung menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya melamun," jawab Fiona cepat. "Maaf Steve, tadi kau bilang apa?"


Steven menatap lekat netra Fiona. "Aku tanya, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" ulang Steven lagi.


"Owwh itu, aku ingin mengatakan kalau aku besok akan mulai masuk kerja lagi," info Fiona.


Steven mengangguk lalu berjalan ke sofa panjang di kamarnya. "Aku akan menyuruh Doni untuk mengantarmu," ucap Steven ketika dia sudah duduk.


"Tidak perlu Steve. Aku akan naik taksi saja," tolak Fiona.


"Kemari." Steven menggerakkan jari telunjukkanya ke arahnya. "Duduk di sini," perintah Steven sambil mengarahkan kepalanya ke tempat duduk di sampingnya.


Fiona mengangguk lalu duduk di samping Steven. "Fiona, aku tidak menerima penolakan. Jika kau tidak mau diantar oleh Doni, maka aku yang akan langsung mengantar ke kantormu, apa kau mau seperti itu?" tanya Steven dengan alis terangkat.


Kalau Steven mengatarkannya ke kantor, dia pasti akan terlihat sangat mencolok. Dia tidak mau mengundang perhatian orang di kantornya. Apalagi setelah Steven muncul di publik. Akan ada banyak sorotan yang tertuju pada Steven setelah terungkap identitasnya yang asli.


Dia tidak mau kalau sampai ada gosip yang merugikan Steven jika orang lain melihat Steven mengantarnya ke kantor, apalagi ibu Steven terlihat tidak menyukainya.


Fiona memang baru tahu identitas Steven yang asli, setelah pulang dari mansion orang tua Steven tadi malam. Fiona membuka pesan dari Cindy yang mengirimkan tautan saat Steven melakukan konferensi pers. Dari situ, Fiona tahu.


Dia kemudian mencari di internet mengenai Steven dan keluarganya. Semenjak konferensi tersebut, berbagai artikel mengenai Steven bertebaran di internet sehingga membuat Fiona dengan mudah mencari hal yang berhubungan dengan Steven.


Dari awal, dia memang sudah menduga kalau Steven bukan berasal dari keluarga biasa, hanya saja dia tidak menyangka kalau Steven adalah pewaris dari HK Group. Perusahaan besar yang terkenal di beberapa negara dan memiliki beberapa anak perusahaan di luar negeri.


Selama ini hanya segelintir orang yang tahu mengenai Steven. Banyak sekali yang penasaran dengan pewaris dari HK Group setelah kematian pimpinan tertinggi sekaligus pemilik dari perusahaan besar tersebut.


Mereka tampak sangat penasaran dengan pewaris sekaligus penerus dari HK Group yang tidak pernah muncul di publik. Kecuali dari kalangan konglomerat, rekan bisnis ayahnya, pejabat dan para petinggi, tidak ada yang tahu mengenai Steven.


Setelah Steven tampil di publik kemarin, seketika beritanya menjadi heboh dan masuk trending topik di semua media.


"Tidak perlu, akan merepotkan kalau kau yang mengantarku ke kantor. Biarkan Doni saja yang mengantar."


"Baiklah."


Fiona menatap ragu pada Steven. "Steve, ada yang ingin aku tanyakan padamu?" Fiona menatap Steven dengan perasaan was-was.


"Apa?"


"Apakah kau habis berdebat dengan ibumu karena aku?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Fiona menunduk sejenak setelah itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum. "Sepertinya ibumu tidak suka denganku."


"Ibuku memang seperti itu. Dia terlihat tidak ramah tapi sebenarnya dia baik."

__ADS_1


"Meskipun begitu, lebih baik aku segera pindah dari sini. Aku akan mulai mencari tempat tinggal besok. Aku takut ibumu akan marah kalau dia tahu aku menumpang di sini."


"Sudah aku bilang kalau aku yang akan mencarikan tempat tinggal untukmu. Sementara ini, kau di sini dulu. Untuk urusan ibuku, aku yang akan menanganinya jika dia tahu."


"Baiklah," jawab Fiona sambil mengangguk.


"Steve, bolehkah aku minta tolong padamu?" tanya Fiona dengan hati-hati.


"Apa?"


"Bisakah kau mencari tahu di mana makam ibuku dan ayahku berada?"


Saat ini, hanya Steven yang bisa membantunya. Fiona sebenarnya tidak mau merepotkan Steven, hanya saja, cuma dia yang tahu mengenai masalalu keluarganya yang bahkan Sarah sendiri pun tidak tahu.


"Baiklah. Aku akan menyuruh Erick untuk mencari tahu," jawab Steven sambil mengangguk pelan.


"Steve, apa kau tahu di mana keberadaan keluarga dari mendiang ayah dan ibuku?"


"Ayahmu tidak mempunyai keluarga sama sekali karena ayahmu berasal dari panti asuhan. Sementara keluarga ibumu, aku belum menemukannya. Menurut informasi yang aku dapat mereka tinggal di luar negeri."


Fiona langsung terlihat kecewa. "Apa kau ingin aku mencari lagi di mana keberadaan keluarga ibumu?" Steven merasa iba melihat Wajah sedih Fiona.


"Apa tidak merepotkanmu?" tanya Fiona.


"Tidak, aku akan mencari tahu, tapi dengan syarat."


"Apa?"


"Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menikah dengan James ataupun Leon."


Fiona menatap heran pada Steven untuk sesaat. "Baiklah." Tanpa pikir panjang Fiona langsung menyetujui syarat dari Steven.


"Apa yang akan kau lakukan setelah aku menemukan keluarga ibumu?" tanya Steven lagi.


"Aku hanya ingin tahu saja."


Fiona menunduk dengan perasaan sedih. "Iyaa aku tahu. Aku hanya ingin mengetahui seperti apa keluarga ibuku. Aku tidak meminta pengakuan dari mereka atau apapun itu. Aku hanya ingin mereka tahu kalau aku ada di dunia ini. Tidak masalah jika mereka tidak menginginkanku. Aku bisa hidup sendiri."


Air mata Fiona mulai menetes saat membayangkan semua orang menolak kehadirannya. Sarah membencinya, keluarga ibumu juga tidak mau mengakuinya. Membayangkan hal itu membuatnya sedih.


Steven mengangkat wajah Fiona lalu mengusap air matanya. "Jangan sedih, masih ada aku Fio. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Steven sambil menatap Fiona dengan wajah serius.


Fiona berusaha untuk tersenyum. "Jangan menangis lagi," sambung Steven.


Fiona mengangguk pelan. "Aku punya sesuatu untukmu." Steven menarik laci nakas bawah sebelah kiri lalu mengambil amplop berwarna coklat.


"Ini untukmu." Steven memberikan amplop coklat tersebut pada Fiona


"Apa ini?" tanya Fiona sambil membolak-balikkan amplop tersebut.


"Bukalah."


Fiona terlihat sedikit ragu, meskipun begitu. Dia tetap membuka. "Ini...." Fiona tercengang ketika melihat foto wanita yang ada di tangannya.


"Ibumu, dia ibumu. Cantik, bukan? Mirip sekali denganmu."


Fiona mengangguk. Matanya langsung berkaca-kaca. "Dan, itu ayahmu," ucap Steven ketika melihat Fiona sedang memegang foto seorang pria tampan.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan foto ini?" Fiona menganggkat wajahnya dan menatap penasaran pada Steven.


"Itu bukankanlah hal yang sulit bagiku."


Hanya satu yang tidak bisa aku dapatkan sampai sekarang. Hatimu Fiona. Entah bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan hatimu.

__ADS_1


"Apa aku boleh menyimpannya?" tanya Fiona penuh harap.


Steven mengangguk. "Terima kasih, Steve." Tanpa sadar Fiona langsung memeluk Steven karena terlampau senang.


Steven tidak menyangka kalau Fiona akan tiba-tiba memeluknya. Dia hanya diam tanpa berkata apa-apa.


Ketika tersadar, Fiona langsung melepaskan pelukannya. "Maaf, Steve. Aku tidak sengaja. Aku terlalu senang tadi." Fiona menjauhkan tubuhnya sambil menunduk.


Steven berdeham. "Kalau begitu kembalilah ke kamarmu. Besok kau harus bangun pagi untuk bekerja."


Fiona mengangguk lalu berdiri. "Steve, aku akan memasak untukmu besok malam sebagai ucapan terima kasihku."


"Tidak perlu. Kau akan lelah nanti," tolak Steven cepat.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita makan malam di luar?" tawar Fiona.


"Baiklah."


"Kalau begitu, aku keluar dulu."


********


Pagi harinya, Fiona tampak sudah selesai mandi dan sedang duduk di depan meja rias untuk memoles wajahnya. Hanya riasan tipis dan sentuhan lipstik berwarna pink. Setelah merapikan rambutnya. Fiona mengambil tas lalu memakai heels setelah itu di keluar.


Hari ini, Fiona mengenakan kemeja lengan panjang yang dilipat hingga siku berwarna putih dengan kerah berbentuk V-neck dipadupadankan dengan rok hitam di atas lutut dengan akses kancing besar di tengahnya.


Fiona melangkah turun ke bawah setelah dia menutup pintu kamarnya. Sementara di bawah Steven sudah duduk di ruang tamu menunggu Fiona turun.


Fiona berjalan terus menuju ruang tamu dan berhenti di depan Steven yang terlihat sedang serius menatap pada layar ponselnya.


Steven mengangkat kepalanya ketika menyadari seseorang berdiri di depannya. Dia menatap Fiona dengan dahi berkerut dan sorot mata tajam. "Kau mau ke mana?" Tidak ada senyum sedikit pun di wajah Steven.


Fiona menyelipkan rambut di sebelah kiri ke telinganya karena salah tingkah di tatap oleh Steven. "Bukankah kau sudah tahu aku akan bekerja hari ini," jawab Fiona.


"Lalu, kenapa kau berdandan seperti itu? Kau ingin memikat siapa di kantor?"


Fiona berdeham, menatap ke bawah sebentar lalu beralih pada Steven. "Aku ingin bekerja Steve," jawab Fiona dengan suara pelan.


Steven memasukkan ponsel di saku jasnya lalu berdiri menghampiri Fiona. "Lalu, kenapa kau berpenampilan sangat cantik hari ini?"


"Tidak, aku rasa penampilanku biasa saja."


"Ganti rokmu dengan yang lain. Aku tidak mau melihatmu memakai rok sependek itu."


Fiona menunduk menatap roknya yang di atas lutut. Menurut dia roknya masih dikategorikan sopan dan roknya juga tidak ketat. "Ini tidak terlalu pendek, Steve," protes Fiona. "Aku rasa sekertarismu pasti memakai rok lebih pendek dari pada aku."


"Aku tidak peduli dengan orang lain, Fio. Ganti sekarang atau kau tidak boleh pergi," ucap Steven dengan tegas.


Fiona menghela napas. " Baiklah." Fiona kemudian berbalik.


"Tunggu."


Fiona menghentikannya lalu berbalik. "Kenapa?"


Steven berjalan kembali mendekati Fiona lagi. "Hapus warna lisptikmu. Warnanya terlalu terang."


Fiona menatap kesal pada Steven. "Tapi, wajahku akan terlihat pucat kalau aku tidak memakai lipstik ini," protes Fiona.


Kulit Fiona memang masuk kategori putih susu dan dia juga terbiasa memakai makeup tipis sehingga terkadang Fiona memakai lipstik agak terang wajahnya terlihat segar.


"Kalau kau tidak mau, maka aku yang akan menghapusnya dengan...." Steven maju selangkah.


Fiona kembali teringat dengan kejadian yang dulu. "Baiklah," ucap Fiona dengan wajah terpaksa sekaligus wajah kesal.

__ADS_1


Steven lalu tersenyum. "Gadis pintar. Kau memang tidak boleh membantah ucapan calon suamimu."


Bersambung ...


__ADS_2