Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Syarat Dari Leon


__ADS_3

"Istirahatlah, aku akan menunggu di sini sampai kau tertidur." Steven sedang duduk di tepi tempat tidur Fiona setelah dia mengangkat tubuh Fiona dan meletakkannya di atas ranjang.


"Kau pulang saja, aku merasa tidak nyaman kalau kau ada di sini." Fiona tidak berani menatap wajah Steven yang sedari tadi terus menatapnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi saat Steven berhasil menemukan Fiona di depan rumahnya. "Aku akan tetap di sini, meskipun kau mengusirku terus," tolak Steven sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Fiona yang dingin akibat terlalu lama berada di luar.


"Steve, bukankah sudah aku bi....."


"Aku akan menciummu jika kau tidak memejamkan matamu sekarang juga."


Dulu, Steven juga sering mengancam akan mencium Fiona jika dia tidak menuruti perkataannya, dan terbukti setelah Steven mengatakan hal itu, Fiona langsung menutup matanya.


Senyum tipis tersungging di wajah Steven saat melihat tingkah gemas wanita yang sangat dia cintai itu. "Fiona, sekeras apapun kau menyuruhku untuk menjauhimu, aku tidak akan pernah pergi. Aku akan selalu berada di sisimu sampai kau mau menerimaku lagi."


Fiona hanya diam dengan mata tertutup. Steven sebenarnya tahu kalau Fiona mendengar ucapannya barusan. "Tidurlah, aku akan menginap di sini malam ini. Aku akan tidur di luar setelah kau tertidur." Steven membungkuk lalu mengecup kening Fiona.


Jantung Fiona pun berdegup kencang saat merasakan kecupan lembut di keningnya. Meskipun begitu, Fiona masih tetap memejamkan matanya, dia tidak berani membuka sedikit pun mata karena takut kalau Steven akan tahu kalau dia gugup akibat kecupan yang mendarat di keningnya tadi.


Setelah menunggu selama satu jam, Fiona akhirnya bisa tertidur. Sebelum keluar dari kamar Fiona, Steven memastikan kembali apakah Fiona sungguh sudah tertidur. Ketika dia mendengar napas teratur dari Fiona, Steven semakin yakin kalau Fiona sudah terlelap.


"Selamat tidur, Sayang, hilangkan mimpi burukmu yang selama ini mengganggumu karena aku akan selalu bersamamu mulai sekarang." Steven mengecup singkat bibir Fiona sebelum keluar dari kamarnya.


Dia memutuskan untuk berjalan ke ruang keluarga yang tidak jauh dari kamar Fiona. Setelah duduk, dia menghubungi Reynald untuk memberitahukan kalau di sudah menemukan Fiona. Steven juga berpesan padanya untuk tidak ke rumah Fiona dulu karena dia baru saja tertidur.


Dia juga mengatakan kalau dia sedang menginap di rumah Fiona untuk menjaganya agar mereka tidak khawatir dengan Fiona. Steven yakin Leon ataupun Reynald pasti akan menuju ke rumah Fiona setelah mengetahui Fiona sudah ditemukan jika dia tidak melarangnya.


Reynald akhirnya menyetujui permintaan Steven, bagaimana pun Fiona baru saja tertidur, dia tidak mau mengganggu Fiona. Dia juga merasa kalau Fiona mungkin butuh waktu berdua dengan Steven untuk menyelesaikan masalah mereka berdua.


Saat Steven sudah terlelap selama satu jam, tiba-tiba pintu kamar Fiona terbuka. Steven langsung membuka matanya dan duduk dengan tegak ketika dia melihat Fiona sedang berjalan dengan tatapan kosong.


"Steve, kau di mana? Steve, aku sangat merindukanmu."

__ADS_1


Steven terkejut saat mendengar ucapan Fiona apalagi saat melihat Fiona hanya berjalan melewatinya sambil memanggil kembali namanya.


Apakah saat ini, Fiona sedang tidur berjalan. Steven bergerak cepat, dia menyusul langkah Fiona yang menuju pintu keluar. "Steve, aku merindukanmu, kau di mana?" Beberapa kali Fiona berguman hal yang sama sambil terus berjalan.


Steven berlari ke arah pintu utama lalu mencabut kuncinya. "Steve... Steve... aku ingin bertemu denganmu."


Fiona terus memanggil nama Steven. Sebenarnya, Steven ingin membangunkan Fiona, tapi dia takut kalau Fiona akan terkejut saat menyadari kalau dirinya kembali tidur berjalan.


Reynald memang berpesan pada Steven untuk tidak membahas mengenai Fiona yang sering tidur berjalan. Reynald takut kalau Fiona akan tertekan saat mengetahui kalau dirinya mencari Steven dalam tidurnya.


Steven akhirnya hanya membiarkan Fiona terus berjalan. Steven terus mengikuti langkah Fiona dari samping hingga Fiona mencoba membuka pintu utama, tapi tidak bisa. Fiona berbalik dengan tatapan kosong dia kembali menuju kamarnya. Steven kembali mengikuti Fiona dari bekalang.


"Steve, aku sangat merindukanmu."


Fiona kembali bergumam saat dia memasuki kamarnya. Melihat Fiona yang kembali naik ke tempat tidur, Steven mengunci pintu, naik tempat tidur, berbaring di samping Fiona lalu menarik tubuh Fiona ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku Fio, maafkan aku karena sudah membuatmu begini."


"Aku janji tidak akan pernah melukaimu lagi."


Steven mengeratkan pelukannya saat Fiona mendekatkan wajahnya ke dada bidang Steven. Dalam tidurnya, Fiona merasa nyaman ketika berada di dalam pelukan seseorang. Fiona bahkan melingkarkan tangannya ke pinggang Steven tanpa sadar.


*******


Pagi harinya, Steven terbangun lebih dulu dari pada Fiona. Saat dia baru saja membuka mata, dia melihat wajah damai Fiona dalam pelukannya yang masih terlelap. Steven memutuskan untuk menyingkirkan tangan Fiona dari pinggangnya.


Dia berencana keluar dari kamar Fiona sebelum dia terbangun. Dia takut Fiona akan salah paham jika melihatnya berada di kamar miliknyq dengan posisi memeluknya. Meskipun Fiona juga memeluknya, tapi di sini tetap saja Steven yang akan disalahkan oleh Fiona nantinya.


Setelah berhasil turun dari tempat tidur, Steven memutuskan untuk mencuci mukanya di kamar mandi Fiona lalu berjalan keluar dari kamarnya. Baru saja dia akan duduk di ruang keluarga, bel rumah Fiona berbunyi, Steven akhirnya memutuskan untuk membuka pintunya.


"Di mana Fiona?" Reynald langsung masuk setelah Steven membuka pintu.

__ADS_1


"Di kamar, masih tidur." Steven melirik ke arah Leon sejenak ketika dia melewatinya.


Steven, Leon dan Reynald kemudian berkumpul di ruang tamu. "Kenapa kau tidur di kamar Fiona?" Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak perlu dijawab oleh Steven karena dia sudah tahu jawabannya setelah melihat rekaman CCTV dari ponselnya.


"Dia tidur berjalan, maka dari itu, aku menjaganya di kamar."


Leon memicingkan matanya setelah mendengar itu. "Apa saja yang kau lakukan padanya?" Tentu saja Steven paham dengan maksud pertanyaan dari Leon.


"Aku tidak melakukan apapun padanya. Aku bukan pria brengsek yang bisa memanfaatkan kesempatan yang ada. Kalau aku memang mau, sudah lama aku menyentuhnya. Aku memiliki banyak kesempatan untuk melakukan hal itu ketika tinggal bersamanya." Steven menatap sengit pada Leon yang sedang duduk di hadapannya dengan wajah datarnya.


"Steven, saat ini Leon adalah tunangan Fiona, jadi aku harap kau menjauhi Fiona," sela Reynald dengan wajah tenangnya.


"Reynald, meskipun kau kakak sepupu Fiona, kau tidak memiliki hak untuk menyuruhku menjauhi Fiona. Kau jangan lupa, keluargamu menelantarkannya selama 20 tahun lebih. Selama hidupnya, dia selalu menderita, meskipun pada akhirnya aku juga menyakitinya, tapi setidaknya aku sudah berusaha melindunginya saat dia benar-benar membutuhkan bantuan dari seseorang."


Sikap dominan Steven mulai muncul. Tentu saja tidak mau menuruti perintah dari siapapun. Selama ini, tidak ada yang berani memerintah dirinya, selain ibunya sendiri.


"Dan untukmu Leon, Kau memang tunangan Fiona, tapi aku tetap tidak mau menjauhi Fiona, meskipun kau menyuruhku untuk meninggalkannya. Aku juga memiliki hak untuk tetap di sampingnya karena aku adalah pria yang dicintai oleh Fiona. Aku akui kau memang sering membantu Fiona saat masa-masa sulitnya sebelum aku mengenalnya, tapi aku tetap tidak bisa mengalah padamu untuk urusan yang satu ini," ujar Steven dengan tegas.


"Biar aku beritahu pada kalian, kalau aku sudah bertekad untuk memperjuangkan Fiona kembali. Aku tidak peduli dia menolakku atau bilang tidak menginginkan aku lagi. Aku akan tetap berada di sisinya karena pada kenyataanya, akulah yang dia butuhkan dan dia cintai selama ini."


Reynald bersidekap sambil meleparkan senyum sinisnya. "Steve, bagaimana mungkin kau memiliki kepercayaan yang begitu tinggi? Fiona belum tentu mau kembali padamu."


"Aku rasa, aku tidak perlu menjawabnya karena kau sendiri sudah tahu jawabannya," jawab Steven dengan penuh percaya diri.


"Steven, aku tahu apa maksud dari perkataanmu. Aku akan melepaskan Fiona jika seandainya kau bisa membuktikan padaku kalau kau sungguh mencintainya dan tidak akan pernah menyaktinya lagi. Selain itu, kau juga harus bisa meyakinkan ibumu untuk bisa menerima Fiona. Jika semua syarat bisa kau penuhi, maka, aku sendiri yang akan membatalkan pertunangan kami dan menyerahkan dia padamu," ujar Leon dengan tegas.


Leon sadar kalau selama ini hanya Steven yang ada di dalam hati Fiona. Melihat Fiona sangat menderita saat berpisah dengan Steven membuat Leon tidak mau bersikap egois, meskipun sebenarnya dia juga sangat mencintai Fiona.


"Baiklah, aku akan membuktikan pada kalian berdua kalau aku memang layak untuk mendapatkan Fiona kembali."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2