Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Disukai Banyak Orang


__ADS_3

Steven menyungging sudut bibirnya sebelah. "Silahkan saja." Steven mendekatkan wajahnya pada Fiona. "Itu berarti kau sudah siap menjadi milikku dan hidup denganku selamanya."


Steven menjauhkan wajahnya lalu menatap Fiona sambil tersenyum penuh arti.


Bola mata Fiona membesar. "Aku tidak serius dengan perkataanku. Tolong jangan kau ambil hati." Seketika Fiona merasa takut. Niat ingin membuat Steven merasa ilfeel padanya, nyatanya Steven justru tidak keberatan sama sekali dengannya.


"Kenapa kau jadi takut? Bukankah kau bilang ingin menjual mansion ini dan membuatku bangkrut?" Steven menampilkan senyum anehnya pada Fiona.


"Aku hanya bercanda, Steve." Fiona jadi serba salah. Steven terlihat sangat tenang. Dia sedang duduk di kursi menghadap ke arah Fiona.


"Tapi aku serius dengan perkataanku, Fio. Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku."


Fiona tidak tahu harus berkata apa kali ini. Dia hanya diam. "Jangan terlalu banyak berpikir." Steven berjalan melewati Fiona dan berbaring di tempat tidur.


Fiona masih diam. Dia kemudian menoleh pada Steven yang berada di belakangnya.


"Steve, besok aku berencana untuk pulang. Aku sudah lama tinggal di sini. lagi pula Ibuku sudah memintaku untuk pulang,” ucap Fiona dengan suara pelan.


Steven menatap Fiona dengan tatapan dalam. “Apa kau yakin akan pulang besok?” Ada sedikit perasaan tidak rela saat mengetahui Fiona akan pulang. Dia mulai terbiasa dengan kehadiran Fiona di mansionnya.


Fiona menatap Steven yang tampak sedang menatapnya juga. “Iyaa Steve, aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mau menampungku di mansionmu. Kelak aku akan membalas semua kebaikanmu ini,” ucap Fiona sungguh-sungguh.


Steven bangun dari tidurnya, duduk dengan tegak lalu menoleh pada Fiona. “Aku akan mengantarmu besok.”


“Bukankah kau harus bekerja. Aku bisa pulang sendiri Steve. Aku tidak ingin terus merepotkanmu.”


Steven menatap tajam Fiona. “Jangan membantahku, Fio.”


Fiona langsung menunduk saat mendengar suara tegas Steven. “Baiklah,” ucap Fiona pelan.


Fiona langsung berjalan dan duduk di samping Steven saat melihat Steven sedang memijit pelipisnya sambil memejakan matanya. Fiona memegang bahu Steven dan menatap khawatir padanya. “Kau kenapa Steve? Apa kau pusing lagi?”


Steven membuka matanya. Dia langsung bertatapan dengan iris hitam Fiona. “Aku tidak apa-apa.” Steven terus menatap Fiona yang saat ini sudah mengalihkan wajahnya yang sudah memerah.


Fiona langsung berdiri. “Kau mau kemana?” Steven menarik tangan Fiona dengan kuat saat melihat Fiona akan melangkah pergi hingga tubuh Fiona terseret ke arah Steven.


Mata Fiona terbelalak saat menyadari kalau saat ini, dia sudah duduk dipangkuan Steven akibat dari kuatnya tarikan Steven tadi. “Steve lepaskan aku!” pekik Fiona saat Steven melingkarkan tangannya di pinggang Fiona.


“Jangan bergerak, atau aku tidak akan melepaskanmu,” ucap Steven dengan suara berat. Steven masih memeluk tubuh Fiona dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di punggung Fiona.


Fiona sedikit menoleh kebelakang, jantungnya berdetak cepat, wajah dan telinganya sudah memerah. Dia merasa canggung dan malu. “Steve...Stevee.,” panggil Fiona saat merasa laki-laki di belakangnya sudah tidak bergerak.


“Hhheemm,” gumam Steven.


“Aku kira kamu tertidur. Steve lepaskan aku. Aku mau turun.” Fiona berusaha melepaskan tangan Steven yang masih melingkar di pinggangnya.


Steven mengangkat wajahnya. “Cium aku dulu,” pinta Steven.


“Jangan bercanda Steve. Cepat lepaskan aku. Aku harus siap-siap.”

__ADS_1


“Kamu mau kemana?” tanya Steven heran.


Fiona sedikit menoleh. “Aku akan pergi ke kampusku ”


Steven mengeryit. “Kamu masih kuliah?”


Fiona mengangguk. “Iyaa, kuliah S2-ku belum selesai. Aku harus mengurus sesuatu di kampusku.”


Steven melepaskan pelukannya. “Aku akan mengantarmu.”


Fiona berdiri dan menatap Steven. “Tapi kau sedang tidak enak badan Steve. Kau bisa meminta Ryan saja untuk mengantaku.”


Steven berdiri tepat di depan Fiona. “Sepertinya kau lebih senang pergi dengan Ryan dari pada aku,” ucap Steven dengan nada tidak suka.


“Bukan begitu Steve, justru aku mengkhawatirkan dirimu. Panasmu baru saja turun. Kau harus lebih banyak istirahat.” Fiona merasa kalau Steven salah paham padanya.


“Bersiaplah, aku juga akan ganti baju.” Steven melewati Fiona dan berjalan meninggalkannya yang masih berdiri mematung.


Fiona akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Steven ketika melihat Steven sudah masuk ke walk in closet. Dia terpaksa menyetujui Steven untuk mengantarnya karena Steven terlihat memaksa. Setelah mengganti baju dan memakai makeup tipis, Fiona keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Steven. Fiona mencoba merias sedikit wajahnya. Fiona membeli perlengkapan makeup bersama Jesi saat berbelanja di mall Leon


Sebelum masuk ke kamar Steven, Fiona menyempatkan diri untuk mengetuk kamarnya terlebih dahulu. Fiona melangkah masuk ke kamar Steven setelah mendengar suaranya yang mempersilahkan dia masuk. 


Steven menatap tajam Fiona saat dia sudah berdiri dengan canggung di depan Steven. “Kau mau ke kampus atau pergi berkencan?” tanya Steven saat melihat penampilan Fiona yang sangat cantik.


Baru kali ini, dia melihat Fiona berdandan secantik itu. Dia sudah terbiasa melihat penampilan polosnya, walaupun penampilan polosnya juga tidak kalah cantik, tetapi dengan polesan sedikit saja, Fiona terlihat seperti sangat cantik dan anggun.


Fiona menggunakan blouse dan rok floral yang matching dengan bahan flowly. Dengan rambut yang curly. Makeup yang natural dengan lipstik yang berwarna coral membuatnya terlihat segar dan glowing. Penampilan Fiona kali terlihat anggun dan menawan. Siapa saja yang melihat akan langsung terpana oleh kecantikan alami Fiona.


Steven berjalan mendekati Fiona. Dia menatap lekat pada bibir Fiona yang berwarna orange kemerahan. Tanpa aba-aba Steven langsung mencium bibir Fiona dengan sedikit kasar. Fiona hanya terdiam dengan mata yang terbelalak. Dia tidak menyangka akan mendapatkan serangan tiba-tiba dari Steven.


"Sakit Steve!” teriak Fiona saat Steven menggigit bibir bawah Fiona. Steven melepaskan ciumannya pada bibir tipis Fiona. “Aku tidak mau melihatmu memakai lipstik warna ini lagi.” Steven mengusap lembut bibir Fiona dengan tangannya. Dia berusaha menghapus warna yang lipstik pada bibir Fiona dengan mencium bibirnya.


" Kau bisa mengatakannya, tidak perlu menciumku," ucap Fiona dengan suara rendah sambil menunduk.


Steven menunduk menatap Fiona. “Apa kau sengaja memakai warna lipstik ini untuk menggoda laki-laki lain yang ada di kampusmu?” tanya Steven saat melihat Fiona tampak hanya diam dan tidak berkata apa-apa.


“Aku hanya menyesuaikan dengan makeup dan baju yang aku kenakan, Steve,” jelas Fiona pelan.


Steven meraih dagu Fiona. “Lalu, untuk apa kau sampai berdandan seperti ini kalau hanya untuk pergi ke kampus?”


“Aku memang biasa berpenampilan seperti ini jika ke kantor dan ke kampus Steve. Aku merasa penampilanku biasa saja, tidak mencolok seperti orang lain. Kamu akan mengetahui saat melihat penampilan teman kampusku yang lainnya,” tutur Fiona.


Steven menatap Fiona dengan tajam. “Aku berbicara tentangmu. Aku tidak peduli dengan orang lain, Fio." Seketika dahi Steven mengerut.


"Kau dapat dari mana baju itu?" Seingat Steven dia tidak pernah menyuruh Erick untuk membeli dress yang dipakai Fiona.


Steven memang tidak menyadari saat Fiona pulang membawa beberapa paparbag yang berisi baju dan keperluan lainnya.


Fiona tampak salah tingkah. Dia mengusap lengan kirinya dengan menggunakan tangan telapak kanannya.

__ADS_1


"Kak Leon yang membelikanku," jawab Fiona dengan suara pelan.


Tatapan Steven semakin tajam. "Sepertinya kalian bersenang-senang kemarin."


"Dia yang memaksaku. Aku tidak enak menolak permintaannya," jelas Fiona.


"Bilang saja padaku kalau kau membutuhkan sesuatu. Jangan menerima barang darinya."


Melihat Fiona menerima barang dari orang lain, membuat Steven merasa tidak suka, apalagi setelah melihat penampilan Fiona yang terlihat sangat cantik menggunakan pakaian yang dibeli oleh pria lain.


"Tidak perlu Steve. Lagi pula kak Leon dan aku memang dekat. Dari dulu dia suka membelikan sesuatu untukku dan Jesi," ungkap Fiona.


Steven menghembuskan napas pelan. "Jadi karena hubungan kalian sangat dekat sehingga menolak saja membuatmu tidak enak padanya? Sementara denganku, kau selalu saja menolak apa yang akan aku berikan padamu karena kita baru saling kenal?" Terlihat sorotan mata Steven memancarkan kekecewaan dalam tatapannya.


Fiona merasa tersudut. "Bukan seperti itu maksudku, Steve." Fiona menatap Steven dengan tatapan takut. Takut Steven akan salah paham.


Fiona mencium gelagat tidak enak. Dengan segera dia mengalihkan pembicaraan. “Lebih baik kita pergi sekarang Steve, ini sudah siang,” pinta Fiona.


Steven berjalan mendahului tanpa membalas perkataan Fiona. Fiona menghela napas saat melihat Steven sudah keluar dari kamarnya. Fiona memegang bibirinya. Dia masih merasakan ******* bibir Steven ada bibirnya. Fiona merasa heran kenapa setiap Steven menciumnya, tubuhnya sama sekali tidak menolak.


Fiona berjalan cepat untuk menyusul Steven. Dia melihat Steven sudah berada di ruang tamu menunggu dirinya. “Kenapa lama sekali?” Steven terlihat tidak sabar saat melihat Fiona sedang berjalan ke arahnya.


“Maaf Steve.”


Steven berjalan keluar dari mansionnya dengan langkah pelan. Terlihat Erick sudah menunggunya di dekat mobil. Erick menyapa Steven dan Fiona saat mereka sudah berada di depannya. Mobil melaju setelah mereka semua masuk ke dalam mobil.


Fiona dan Steven duduk di belakang. Sesekali Erick melirik bosnya yang tampak diam sambil melihat keluar jendela mobil sama halnya dengan Fiona. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. “Kau tunggu di sini,” perintah Steven pada Erick saat mobilnya sudah berhenti parkiran kampus Fiona.


Steven turun dari mobil, berjalan mengikuti Fiona dan berjalan di sampingnya. Terlihat beberapa wanita terlihat histeris saat melihat Steven. Ada juga yang berbisik-bisik sambil terus menatap langkah laki-laki yang mengenakan kemeja hitam dan celana panjang berwarna abu-abu. Penampilannya Steven hari ini membuatnya terlihat tampan dan keren.


Fiona mengedarkan pandanganya saat merasa orang-orang sedang menatap ke arah Steven. Fiona tersenyum. “Sepertinya kamu mempunyai banyak penggemar di kampus ini Steve,” ucap Fiona sambil terus berjalan berdampingan dengan Steven. Mereka sedang menuju gedung fakultas Fiona.


“Apa maksudmu?”


Fiona menoleh lagi. “Kamu tidak lihat, mereka semua sedang menatap kagum padamu?”


Steven mengedarkan pandanganya sekilas. “Aku tidak peduli,” ucap Steven acuh.


"Apa kau tidak suka kalau banyak yang suka padamu?" tanya Fiona sambil menoleh pada Steven yang masih berjalan di sampingnya.


"Tidak." Steven terlihat berjalan dengan wajah acuh.


"Kenapa? Bukankah menyenangkan kalau disukai banyak orang?" tanya Fiona penasaran.


"Aku tidak butuh disukai banyak orang. Aku hanya ingin disukai oleh satu orang," jawab Steven acuh.


"Siapa?"


Steven menghentikan langkahnya sambil menatap Fiona. "Kau." Steven kembali melangkahkan kakinya setelah menjawab pertanyaan Fiona.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2