
"Tentu saja bukan. Fiona adalah anak dari nyonya Cecilia dan mendiang suaminya jadi Fiona tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga kalian."
Setelah Halim dan Sarah menikah, Cecilia pergi dan menghilang. Tidak ada yang tahu di mana keberadaannya. Setelah kepergian Cecilia, Halim terus mencari keberadannya tapi tidak berhasil.
Hingga suatu hari, Halim tidak sengaja bertemu Cecilia dengan perut yang membesar. Halim akhirnya tahu kalau Cecilia sudah menikah dan suaminya sudah meninggal akibat serangan jantung.
Dia juga mendapati kenyataan kalau Cecilia diusir oleh keluarga besarnya karena menikah dengan pria biasa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah sementara Cecilia adalah anak bungsu dari keluarga konglomerat.
Cecilia akhirnya hidup sendiri setelah suaminya meninggal, Halim yang merasa masih mencintai Cecilia berniat untuk menceraikan Sarah dan kembali dengan Cecilia tapi Cecilia langsung menolaknya. Dia tidak mau kembali lagi dengan Halim.
Hingga suatu hari setelah melahirkan Fiona, Cecilia mengalami pendarahan yang hebat dan sehari setelah melahirkan Cecilia meninggal. Sebelum meninggal, Cecilia meminta tolong pada Halim untuk merawatnya karena keluarga besarnya sudah menolaknya.
Sarah kembali tercengang. Dia tidak menyangka kalau suaminya menyembunyikan hal itu darinya selama bertahun-tahun. "Kalau dia bukan anak dari suamiku, kenapa dia memberikan hampir seluruh hartanya pada Fiona yang tidak memiliki hubungan darah apapun dengannya?"
"Bukankah Cindy juga tidak ada hubungan darah apapun dengan tuan Halim?" tanya Steven dengan senyum mengejek.
"Tapi, setidaknya dia membaginya dengan adil. Aku sudah bersusah payah membesarkan anak dari mantan kekasihnya. Bukankah seharusnya dia memberikan lebih banyak padaku?"
"Kau memang wanita gila harta. Asal kau tahu, harta yang diberikan oleh tuan Halim pada Fiona adalah harta peninggalan ibu kandungnya. Bukahkah kau tahu kalau ibu kandung Fiona berasal dari keluarga yang kaya. Bisa dibilang kalau kau dan Cindy bisa hidup mewah atas bantuan dari harta peninggalan ibu Fiona." ungkap Steven.
"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin," ucap Sarah sambil mengelengkan kepalanya berkali-kali. "Suamilku juga berasal dari keluarga kaya, dia memiliki banyak uang. Kau pasti berbohong," tuduh Sarah dengan wajah tidak percaya.
"Kau pasti tidak tahu kalau tuan Halim pernah nyaris bangrut dan saat itu, tuan Halim sempat menggunakan harta peninggalan ibu Fiona untuk mengatasi masalah keuangan perusahaannya. Meskipun tuan Halim sudah menggantinya, tapi tetap saja, tanpa uang dari peninggalan ibu Fiona. Mungkin saja kalian sudah menjadi miskin saat ini."
Sebagai balas jasa karena Halim bersedia untuk merawat anaknya. Cecilia memberikan semua harta yang dimilikinya pada Halim. Uang itulah yang Halim gunakan untuk membatu keuangan perusahaannya yang sedang kekurangan dana dan terancam bangkrut.
Halim berjanji akan mengembalikan semua peninggalan Cecilia kepada Fiona saat Fiona sudah dewasa. Itulah sebabnya kenapa Fiona mendapatkan harta warisan paling banyak karena itu memang peninggalan ibunya. Sementara yang didapat Cindy dan istrinya murni harta dari Halim.
"Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu?" Sarah terlihat tidak bisa menerima kenyataan bahwa harta itu adalah peninggalan ibu Fiona dan bukan dari suaminya.
"Kalau kau tidak percaya, silahkan tanyakan pada pengacara tuan Halim. Dia mengetahui semua ini dan sengaja merahasiakannya atas permintaan dari mendiang tuan Halim. Jadi, kau tidak berhak atas harta itu sama sekali karena itu milik Fiona."
Tubuh Sarah langsung lemah dan ambruk di lantai. "Tidak mungkin, tidak mungkin." Sara mengeleng-gelengkan kepala sambil terus meracau.
"Apa kau tidak pernah berpikir, kenapa tuan Halim memberikan syarat Fiona harus menikah dulu baru dia bisa mendapatkan semua harta warisannya? Melihat Sarah tidak menjawab, Steven berkata, "Biar aku beritahu."
Steven menunduk menatap Sarah yang masih terduduk di lantai. "Itu karena tuan Halim berharap ada yang bisa melindungi Fiona dari ketamakanmu dan agar kau tidak bisa menguasai harta tersebut. Tuan Halim sengaja membuat wasiat itu karena dia takut seadainya terjadi apa-apa dengannya, sementara Fiona belum bisa melindungi dirinya sendiri dan belum cukup dewasa untuk bisa berdiri di kakinya sendiri."
"Tidak. Aku tidak percaya denganmu," teriak Sarah. Dia bangun dari duduknya. "Lebih baik kau pergi dari sini dan jangan pernah datang ke sini lagi. Aku tidak menerima kedatanganmu," usir Sarah dengan suara tinggi.
"Aku akan pergi setelah membawa Fiona dari sini."
__ADS_1
Sarah membentang kedua tangannya menghalangi Steven yang akan masuk. "Kau tidak bisa membawanya dari sini. Kau jangan lupa, kalau secara hukum, Fiona adalah anak kandungku yang sah jadi aku masih berhak atas dirinya."
Steven menyeringai lalu menoleh pada Erick. "Rick, berikan padanya."
Erick menganguk lalu memberikan 2 kertas pada Sarah. "Dengan bukti itu, hubungamu dengan Fiona akan langsung berakhir di mata hukum."
Bukti itu adalah bukti yang menunjukkan kalau Fiona bukankah anak kandung Sarah melainkan anak dari Cecilia.
Sarah yang baru saja selesai membaca kertas itu, seketika lemas dan tangan yang memegang kertas itu jatuh terkulai.
"Jadi, untuk saat ini, aku lebih berhak atas Fiona karena aku adalah calon suaminya dan aku akan pastikan Fiona mendapatkan semua haknya."
"Tidak bisa. Kau tidak bisa membawanya pergi begitu saja. Aku yang sudah merawat dan membesarkannya. Kau hanyalah orang lain. Aku tidak akan membiarkanmu membawanya." Sarah berdiri tepat di depan pintu untuk menghalangi Steven.
"Aku tidak peduli kau setuju atau tidak. Aku akan membawanya paksa kalau kau masih menghalangiku."
Steven menoleh kepada para pengawalnya dan menggerakkan kepala ke arah pintu masuk, memberikan kode agar mereka semua masuk ke dalam dan mencari keberadaan Fiona. Melihat kode dari Steven, semua pengawal segera bergerak menuju pintu masuk termasuk Erick.
"Jangan ada yang berani masuk atau aku akan melaporkan kalian."
Seketika semua para pengawal berhenti. "Kau pikir dengan begitu aku akan takut? Apa kau kira ada yang berani menyentuhku?"
"Apa maksudmu?"
"Memangnya siapa kau?"
"Aku?" Steven menunjukkan wajahnya dengan jari telunjuknya sambil menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Aku adalah penerus dari Sinha Group sekaligus anan dari keluarga Pradigta. Kau pasti tahu, bukan mengenai keluarga Pradigta?"
"Apa??" ucap Sarah dengan mata terbelalak. Terlalu banyak hal yang mengejutkan yang dia dapat hari ini sehingga membuatnya hampir gila.
"Itulah sebabnya, jangan mencari gara-gara denganku kalau tidak mau hidupmu berakhir sengsara."
Sarah kembali terduduk di lantai mendapati kenyataan bahwa Steven bukankah orang sembarangan dan berasal dari keluagra yang berpengaruh.
"Geledah semua raungan di rumah ini. Cari calon istriku sampai dapat," perintah Steven sambil menoleh kepada semua pengawalnya dengan wajah tegasnya.
"Baik, Tuan," jawab mereka dengan serempak lalu bergerak masuk ke dalam bersama dengan Erick. Sarah terlihat hanya diam tidak bergerak. Dia tidak lagi berusaha untuk menghalangi orang-orang Steven.
Steven terlihat mengacuhkan keberadaan Sarah di situ. Dia berbalik sambil menerima telpon ketika ponselnya berdering. Dia berjalan sedikit menjauh. Tidak sampai 10 menit semua pengawalnya keluar bersama dengan Erick dan Fiona. Fiona terlihat terkejut saat melihat Sarah sudah terduduk dengan tatapan kosong.
Fiona tidak menghampiri Sarah, melainkan menatap ke arah Steven sedang berbicara di telpon sambil berdiri membelakanginya. "Steve," panggil Fiona dengan suara pelan.
__ADS_1
Steven langsung menoleh ke belakang dan segera mengakhiri panggilan telponnya ketika mendengar suara Fiona. Dengan langkah cepat dia berjalan ke arah Fiona dan memeluknya dengan erat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Steven dengan nada cemas.
"Iyaaa," jawab Fiona sambil mengangguk.
Fiona terlihat terkejut ketika Steven tiba-tiba memeluknya. Tangannya setengah menekuk seperti ingin memeluk Steven, tapi tidak jadi dan akhirnya dia menurunkan kembali tangannya.
"Mama," teriak Cindy ketika melihat ibunya terduduk di lantai. "Apa yang kau lakukan pada mamaku?" tanya Cindy pada Steven dengan wajah marah. Dia berjongkok membantu ibunya untuk berdiri. Dia tidak terima melihat ibunya diperlakukan seenaknya.
Steven melepaskan pelukannya lalu menoleh pada Cindy. "Kau bisa tanyakan pada ibumu sendiri."
"Steve, memangnya ada apa ini? Mama kenapa? dan, kenapa banyak sekali orang?" tanya Fiona dengan wajah heran.
"Nanti akan aku jelaskan. Sekarang kau ikut aku. Kita pergi dari sini." Steven langsung menarik tangan Fiona dengan cepat sehingga Fiona terpaksa mengikuti langkah Steven dari belakang. Semua pengawal dan Erick mengikuti Steven dari belakang.
Fiona menoleh pada Cindy sejenak yang sedang menatap kepergiannya lalu beralih pada Sarah yang terlihat Sarah masih diam.
"Tapi, Steve. Aku tidak bisa pergi dari sini. Aku sudah berjanji pada mama," jelas Fiona sambil terus mengikuti langkah Steven.
Steven menghentikan langkahnya dan menghadap Fiona. "Apa ibumu memaksamu dan mengancammu?" tanya Steven sambil menunduk menatap Fiona.
"Ak-aku sudah...."
Steve memegang kedua bahu Fiona. "Dengar Fiona. Kau tidak bisa lagi tinggal di sini. Kau harus ikut aku. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal di sini lagi."
"Tapi, bagaimana dengan mama?" tanya Fiona sambil menatap Sarah dari kejauhan.
"Dia bukan ibumu, kau tidak perlu lagi tinggal di sini."
Mata Fiona terbelalak. Dia tidak menyangka kalau Steven sudah mengetahui hal itu. "Jadi, kau sudah tahu mengenai latar balakangku?" Seketika Fiona merasa takut kalau Steven akan membencinya karena tahu mengenai asal-usulnya.
"Iyaaa," jawab Steven singkat.
"Kalau kau sudah tahu, apa kau tidak merasa jijik denganku? Aku hanyalah anak dari hasil perselingkuhan." Fiona terlihat menunduk tidak berani menatap Steven.
"Itukah yang dikatakan oleh nyonya Sarah padamu?"
"Iyaaa," jawab Fiona pelan.
Steve mengangkat dagu Fiona. "Semua tidak seperti yang dikatakan oleh nyonya Sarah. Ibumu bukan wanita seperti itu. Kau adalah anak yang lahir dari pernikahan yang sah, bukan dari hasil perselingkuhan. Aku akan menceritakan yang sebenarnya padamu, tapi kau harus ikut aku."
__ADS_1
Fiona terlihat mengangguk lalu berjalan bersama dengan Steven menuju mobilnya diikuti oleh Erick dan semua pengawal Steven.
Bersambung....