Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Kepergian Steven


__ADS_3

Fiona tampak sedang berdiri menatap lemarinya dengan tangan yang terus bergerak untuk memilih pakaian yang ingin dia gunakan hari ini. Setelah mendapatkan pakaian yang dirasa pas untuk dipakai olehnya, dia langsung menggantinya.


Hari ini, dia memutuskan untuk menemui Steven di mansionnya untuk menyelesaikan permasalah mereka sambil mengucapkan terima kasih padanya.


“Kau mau ke mana?” Cindy langsung bertanya pada Fiona ketika melihatnya turun dari tangga. “Aku ada urusan sebentar, Kak.”


Fiona kembali melangkah, tetapi dihentikan oleh ibunya. “Duduk dulu.. Mama mau bicara.”


Fiona langsung menoleh pada ibunya yang baru saja datang dari arah dapur. Mereka semua sedang berkumpul di ruang tamu saat ini.


“Kau pasti sudah tahu kalau rumah ini adalah milik Cindy saat ini. Dia tidak perlu menunggu lama untuk peralihan warisan sepertimu.”


“Iyaa Ma, Fiona tahu.”


“Kalau begitu angkat kakimu dari rumah ini sekarang. Ini bukan tempat yang bisa kau tinggali seperti saat suamiku masih hidup.”


Mata Fiona langsung terbelalak. Tangannya bergetar ketika mendengar ibunya dengan tega mengusirnya dari rumah tersebut. Dia tidak mengerti kenapa ibunya begitu membencinya. Perlakuan ibunya selama ini selalu berbandingan dengan pelakuan ibunya kepada kakaknya.


"Ma, jangan seperti itu," sela Cindy.


“Ma, bukankah aku anakmu juga? Kenapa Mama selalu memperlakukan aku seperti orang lain. Apa salahku Ma? Kenapa Mama dengan tega mengusirku dari sini?” tanya Fiona dengan suara bergetar. Dia berusaha untuk menahan tangisnya.


“Apa salahmu??” Suara ibu Fiona seketika meninggi. “Kau membunuh suamiku. Kau mengambil alih semua kekayaannya. Aku tahu, kau pasti merencanakan semuanya, kan?”


“Ma, sudahlah. Kita seharusnya tidak membahas masalah ini,” ucap Cindy dengan suara rendah.


“Baiklah. Aku akan menginjinkanmu untuk tinggal di sini, dengan beberapa syarat.”


“Apa syaratnya?” Tanya Fiona dengan tidak sabar.


“Kau harus menyerahkan jabatanmu dalam perusahan kepada Cindy.”


“Tapi Ma.. Kak Cindy tidak mengerti apapun tentang perusahaan, Ma. Selama ini kak Cindy tidak pernah mau berurusan dengan urusan perusahaan.”


“Kau jangan keterlaluan. Kakakmu bukannya tidak mau. Dia hanya ingin menikmati masa mudanya saja. Jika dia mau, dia bisa dengan mudah mengurus perusahaan tanpa bantuanmu.” Sarah tampak meradang mendengar Fiona meremehkan anak kesayangannya.


“Tapi Ma.. Kakak tidak bisa memulai belajar dari jabatan tinggi. Kakak harus memulainya dari bawah sama seperti aku dulu. Perusahaan bukan tempat bermain, Ma. Kak Cindy harus banyak belajar.”


“Plaaaaakk.” Sarah langsung menampar Fiona dengan keras.


Mata Cindy langsung membulat dengan mulut yang terbuka. “Beraninya kau berkata seperti itu tentang Kakakmu.” Sarah menatap Fiona dengan tatapan menyala.


Fiona memegang pipinya yang memanas karena tamparan keras dari ibunya. Dia menatap ibunya dengan tatapan kecewa.


Sebenarnya dia sudah terbiasa dengan pelakuan ibunya yang terkesan membencinya. Ibunya hanya akan bersikap baik padanya jika di depan ayahnya, selebihnya ibunya akan bersikap acuh dan keras padanya.

__ADS_1


“Ma.. Meskipun aku setuju, belum tentu Kak Cindy mampu." Fiona tidak akan membiarkan kakaknya menghacurkan peruasahaan yang dibangun susah payah oleh kakeknya.


“Plaaak.” Ibu Fiona kembali menampar Fiona. “Itu hukuman yang pantas karena kau sudah merendahkan Kakakmu. Kau pikir Kakakmu tidak bisa memimpin perusahaan hanya karena selama ini dia tidak pernah bekerja.”


"Maaaa." Cindy tidak kalah terkejut melihat ibunya kembali menampar Fiona.


"Kau diam Cindy. Jangan ikut campur," hardik Mery.


Fiona menatap nanar ibunya yang berdiri di samping kanannya. Selama ini ibu tidak pernah bersikap baik padanya dan Cindy terlihat diam dan tidak berani lagi membuka mulutnya. Entah apa alasannya, Fiona tidak bisa mengerti kenapa mereka ibunya sangat membencinya.


Pernah sekali dia berpikir, mungkin dia bukan anak kandung dari orang tuanya. Tetapi setelah bertanya langsung pada ayahnya. Kecurigaannya ternyata salah.


Fiona menatap ibunya dengan tatapn kecewa. “Ma... Sebenarnya apa salahku selama ini? Kenapa Mama sangat membenciku? Apa yang kuperbuat selalu salah di mata Mama. Apa aku ini anak pungut? Sehingga Mama memperlakukan aku seperti orang lain?” Fiona sudah tidak bisa menahan air matanya. Dia sangat kecewa dengan ibunya.


Selama ini dia selalu mengalah pada kakaknya atas permintaan ibunya. Fiona tidak pernah sekalipun menolak permintaan kakaknya jika Cindy meminta sesuatu darinya.


Uang bulanan Fiona sering kali dia berikan pada kakaknya karena tidak tega melihat kakaknya mengeluh karena kehabisan uang. Meskipun Cindy tidak memintanya tapi Fiona dengan suka rela memberikannya.


sering kali meminta pada ibunya karena kehabisan uang. Bahkan gaji Fiona juga jarang sekali dia pake. Fiona tidak pernah sekalipun mengungkitnya karena dia tidak pikir uangnya milik kakaknya juga.


Dia berpikir mungkin dengan menuruti semua permintaan ibunya, dia akan disayang oleh ibunya sedari kecil dia kekurangan kasih sayang.


Ayahnya sibuk bekerja, jadi dia tidak pernah tahu pelakuan buruk ibu dari kecil hingga dia dewasa. Fiona juga tidak pernah mengatakan pada ayahnya mengenai kelakukan ibunya


“Maa.. Jangan Ma.. Aku tidak punya tempat tinggal lagi, Ma.” Fiona berusaha untuk menghentikan ibunya yang terus menyeretnya keluar. Fiona berusaha untuk memberontak.


“Mama tidak peduli.” Ibu Fiona terus menyeret Fiona keluar.


Cindy menyusul langkah adik dan ibunya. "Ma, lepaskan Ma. Kasihan Fiona," bujuk Cindy.


“Ma.. Baiklah. Aku akan menyerahkan jabatanku pada kak Cindy.” Langkah ibu Fiona langsung terhenti.


Dia menoleh pada Fiona. “Benarkah?”


Fiona mengangguk. “Iya Ma. Aku akan meminta Kenzo untuk mengurusnya.”


“Baiklah. Seharusnya dari awal kau langsung menyetujuinya.” Sarah langsung melepaskan tangan Fiona.


“Maaf Ma,” ucap Fiona dengan nada pelan.


Cindy menoleh pada Fiona. "Fio, kau tidak perlu menyerahkan jabatanmu padaku kalau kau terpaksa," sela Cindy.


Fiona menatap Cindy dengan wajah pasrah. "Tidak apa-apa, Kak. Aku akan membantumu mengurus perusahaan."


“Segera hubungi Kenzo,” perintah Mery dengan nada angkuh.

__ADS_1


“Aku akan langsung menemuinya Ma hari ini. Aku tidak leluasa jika berbicara di telpon.”


Sebenarnya itu hanya lasan Fiona untuk keluar dari rumah. Ibunya pasti akan melarangnya jika dia tahu kalau dirinya keluar untuk bertemu dengan Steven.


“Pergilah.” Sarah berjalan dengan wajah acuh  meninggalkan Fiona yang masih berdiri di dekat pintu.


****


Fiona melajukan mobilnya menuju mansion Steven. Dia melajukan mobilnya dengan cepat. Setelah melewati pos pemeriksaan, sampailah Fiona di depan mansion Steven. Dia langsung berjalan menuju pintu lalu mengetuk pintu depan berkali-kali.


Beberapa menit kemudian keluarlah wanita paruh baya yang Fiona kenal. “Nona Fiona.” Wanita paruh baya itu langsung mengenali Fiona ketika pintu baru saja dibuka. Dia adalah Bi Asih.


“Maaf menggangu Bi Asih, apakah Steven ada, Bi?”


Fiona sebenarnya tidak yakin kalau Steven ada di mansionnya saat ini karena dia datang sudah siang. Dia berpikir kalau Steven pasti sudah pergi bekerja. Dia tertahan karena harus berbicara dengan Ibu dan kakaknya.


“Maaf Nona, tuan Steven tidak ada. Semenjak kepergian Nonaa Fiona, tuan Steven tidak pernah kembali lagi ke sini.” Steven memang jarang pulang ke mansionnya karena dia selalu tinggal di mansion orang tuanya.


“Bi, bisakah Bibi menghubungi Steven dan menyampaikan pesanku pada Steven,” ucap Fiona penuh harap. Dia tidak punya cara lagi untuk bisa menghubungi Steven, selain meminta bantuan pada pelayan rumah Steve karena dia tidak memiliki nomor ponsel Steven.


“Pesan apa Nona?” tanya Bi Asih sopan.


“Tolong sampaikan padanya kalau aku akan ke sini lagi nanti malam,” pinta Fiona.


“Baik Nona. Saya akan menghubungi asisten tuan Steven dulu. Tunggu sebentar, Nona.”


“Iyaa, Bi.” Bi Asih langsung masuk ke dalam.


Beberapa menit kemudian bi Asih kembali. “Maaf Nonaa Fiona, Tuan Steven saat ini berada di luar negeri.”


Fiona sedikit terkejut mendengar hal itu. Pasalnya Steven tidak berbicara apapun padanya mengenai kepergiannya keluar negeri. “Kira-kira kapan Steven kembali, Bi?”


“Kemungkinan tuan Steven akan tinggal di sana selama setahun,” jawab Bi Asih.


“Kenapa lama sekali, Bi?” tanya Fiona dengan wajah terkejut.


“Saya juga kurang tahu, Nonaa.”


Steve, kenapa kau pergi tanpa memberitahuku dulu? Apa kau sangat marah padaku karena masalah waktu itu?


Fiona menghembuskan napas panjang. Dia menyesali karena tidak bertemu dengan Steven sebelum dia pergi. Dia bahkan belum meminta maaf pada Steven dan belum menyelesaikan kesalahpahaman mereka berdua.


Bersambung...


  

__ADS_1


__ADS_2