
Fiona seketika menoleh ketika melihat Steven membuka pintu kamarnya. "Kau sedang apa?" tanya Steven ketika melihat Fiona sedang berdiri di jendela kamarnya.
"Melihat laut, indah sekali," ucap Fiona seraya menunjuk pemadangan luar kamarnya.
Kamar Fiona memang memiliki view yang bagus karena letaknya yang strategis. Ditambah lagi kamarnya berada di lantai paling atas.
Steven berjalan masuk ke dalam sambil menyeret koper Fiona lalu meletakkannya di sisi ranjang. Baru saja kapal persiar yang mereka tumpangi berlayar. Kapal tersebut memang dijadwalkan berlayar pukul 3 sore.
"Apa kau ingin melihat-lihat ke bawah? Aku bisa menemanimu untuk berkeliling melihat kapal ini jika kau mau," tawar Steven sambil mendekati Fiona.
Mata Fiona langsung berbinar mendengar tawaran Steven. "Benarkah kau mau menemaniku jalan-jalan?"
"Hhhmmm," gumam Steven sambil mengangguk.
"Baiklah, aku bersiap-siap dulu." Fiona langsung berjalan mengambil kopernya, mengeluarkan perlengkapan makeupnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Melihat pintu kamar mandi sudah tertutup, Steven berjalan ke arah tempat tidur lalu merebahkan sebagain tubuhnya di tempat tidur dengan kaki yang masih menggantung di tepi tempat tidur.
Ketika mendengar pintu kamar mandi dibuka, Steven melirik Fiona sejenak yang sedang berjalan ke arah meja rias kecil.
"Tidak usah berdandan, kita hanya ke bawah sayang," ucap Steven sambil bangun dari tidurnya.
Fiona menoleh sejenak pada Steven. "Aku hanya memakai sunblok Steve. Aku tidak berdandan," sanggah Fiona sambil melanjutkan kegiatannya.
Steven berdiri lalu menghampiri Fiona. "Lalu kenapa kau mewarnai bibirmu. Bukankah aku sudah pernah bilang untuk tidak memakai warna yang cerah?"
Fiona mendongakkan kepalanya menatap pada Steven yang sedang berdiri di samping kirinya. "Aku hanya memakainya sedikit. Bibirku sangat pucat jika tidak memakai lipstik."
"Tapi, bibirmu terlihat menggoda kalau kau mewarnainya. Aku tidak mau orang lain melihatnya nanti."
Fiona menghela napas. "Baiklah, aku akan menghapusnya." Fiona memutar tubuhnya menghadap cermin lalu meraih tisu.
"Tunggu." Steven menahan tangan kiri Fiona yang akan menempel di bibirnya.
Fiona menoleh cepat pada Steven dengan wajah bingung. "Kenapa?"
"Biar aku yang menghapusnya." Steven langsung menunduk dan menempelkan bibir mereka berdua melu*mat dan menyesapnya dengan pelan.
Fiona langsung membelalakkan matanya karena mendapatkan serangan tiba-tiba dari Steven. Fiona terlihat diam sampai Steven menyudahi pagutannya.
"Begini baru pas," ucap Steven sambil mengusap lembut bibir Fiona dengan ibu jarinya. Steven tersenyum ketika melihat bibir Fiona yang sedikit memerah.
Fiona memalingkan wajahnya karena merasa malu. "Ayo kita pergi." Steven menarik tangan Fiona keluar dari kamar.
Sore itu Steven menemani Fiona untuk berkeliling untuk melihat berbagai macam toko, bar, restoran, arena bermain anak, spa, salon, arena olahraga, bioskop, klinik kecantikan, pusat kebugaran dan masih banyak lagi yang lainnya.
"Steve, aku mau berenang," ucap Fiona ketika baru sampai di tempat kolam renang besar yang berada di luar yang langsung bisa melihat pemandangan laut yang indah.
"Tidak usah sayang, kau bisa berenang di mansion kita setelah pulang," cegah Steven.
"Aku maunya di sini. Lihat pemandangannya sangat indah." Fiona mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya.
__ADS_1
"Di sini terlalu banyak orang Fio."
"Steve, aku mohon. Ini adalah pengalaman pertamaku menaiki kapal pesiar mewah seperti ini."
Seumur hidup Fiona, dia memang belum pernah berlayar menggunakan kapal pesiar mewah karena ibunya selalu melarangnya untuk bepergian jauh, padahal dia sendiri sering mengajak Cindy untuk pelesiran ke luar negeri.
Steven membalik tubuh Fiona agar berhadapan dengannya. "Kau bisa menaiki kapal ini kapan pun kau mau. Kapal ini adalah milikku. Aku akan mengajakmu berbulan madu berkeliling ke negara manapun setelah kita menikah nanti."
Mata Fiona membulat dan mulutnya terbuka lebar. "Kapal ini milikmu?" tanya Fiona dengan wajah tercengang.
Steven mengangguk. "Iyaaaa. Tidak ada yang tahu mengenai ini selain teman dekatku."
"Kenapa kau tidak bilang dari awal?"
"Itu tidak penting. Lebih baik kita kembali ke kamar," usul Steven.
"Tapi aku ingin berenang sekarang."
"Lain kali saja sayang."
Fiona langsung lesu. "Baiklah." Fiona lalu berjalan masuk kembali ke dalam kapal.
Melihat wajah kecewa Fiona membuat Steven tidak tega. "Besok saja kalau kau ingin berenang. Aku janji akan menemanimu besok. Nanti malam adalah acara pernikahan William. Aku tidak ingin kau kelelahan."
Seketika wajah Fiona langsung bercahaya. "Baiklah, tapi kau juga harus harus berenang bersamaku."
"Hhhmmm," gumam Steven.
*******
Steven dan Fiona nampak sudah berada di tengah-tengah tamu undangan yang lain. Setibanya di acara, Steven langsung di sambut oleh teman dan rekan bisnisnya. Steven terlihat mengenalkan Fiona sebagai calon istrinya kepada para kolega dan temannya.
Kabar kedatangan Steven menjadi magnet tersendiri di acara tersebut. Banyak yang antusias untuk menghadiri pesta William setelah tahu Steven akan menghadiri acara William.
Banyak dari mereka berusaha untuk mengambil hatinya agar bisa melakukan kerjasama dengan perusahaan Steven, selain itu mereka ingin membina hubungan baik dengan Steven agar kedepannya jika mengalami kesullitan bisa meminta bantuan kepada Steven.
Setelah cukup lama berbincang dengan koleganya, Steven memutuskan untuk memisahkan diri dari mereka.
"Kau cantik sekali malam ini Fio," bisik Steven sambil merangkul pinggang Fiona saat melihatnya sedang menatap serius pada pengantin yang sedang berdiri di pelaminan.
Fiona menoleh pada Steven dengan wajah memerah karena Steven terlihat sedang menatap dirinya dari jarak dekat. "Tentu saja, aku tidak ingin membuatmu malu. Aku sengaja berdandan untukmu."
"Jangan terlalu sering berdandan seperti ini di depan umum. Aku tidak suka jika banyak pria lain yang menatap ke arahmu."
Fiona mendongakkan kepala menatap Steven yang sedang menatap lurus ke arah William dan Angel. "Tapi, aku tidak mungkin berdandan sekedarnya jika menghadari pesta bersamamu. Aku takut membuatmu malu."
Steven memutar tubuh Fiona agar menghadapnya lalu dia sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya kemudian menatap lekat mata Fiona.
"Kau sudah cantik meskipun tanpa makeup, jadi jangan buat dirimu bertambah cantik jika hanya untuk menyenangkan mata orang lain. Kau hanya boleh terlihat cantik di depanku. Apa kau mengerti?"
Fiona mengalihkan pandangannya ke samping, berusaha menghindari tatapan Steven. "Iyaa, aku mengerti,"
__ADS_1
"Steve, ternyata kau di sini. Aku sudah mencarimu ke mana-mana." Suara seorang wanita terdengar familiar di telinga Steven dan Fiona.
Steven dan Fiona menoleh bersamaan. "Sera, aku pikir kau tidak datang." Steven menarik tubuhnya untuk berdiri tegap setelah melihat Sera berdiri di samping kanannya.
Dengan senyum manisnya, Sera menghampiri Steven. "Aku pasti datang karena ini adalah pernikahan William," jelas Sera dengan suara lembut.
"Fiona, ternyata kau datang juga?" Sebenarnya Sera sudah tahu kalau Steven akan datang bersama dengan Fiona.
"Iyaaa, aku harus menemani kekasihku ke sini agar tidak ada wanita yang berani mendekatinya," jawab Fiona sambil mengapit lengan Steven dengan mesra.
Senyum tipis tersungging di bibir Steven mendengar ucapan Fiona. Steven akui kalau dia suka melihat Fiona ketika sedang cemburu.
Kita lihat saja, setelah malam ini, apakah kau masih bisa menyebut Steven sebagai kekasihmu, batin Sera.
"Sepertinya kau harus lebih bekerja keras untuk menjaga Steven karena jika kau lengah sedikit saja, maka orang lain akan merebutnya darimu," balas Sera sambil menampilkan senyum palsunya.
"Nona Sera tenang saja, tidak akan aku biarkan wanita manapun mendekati kekasihku. Lagi pula, Steven hanya mencintaiku seorang. Benarkan sayang?" tanya Fiona sambil menoleh pada Steven.
Steven tersenyum sambil mengangguk. "Iyaaa, aku hanya mencintaimu."
Sudut bibir kiri Sera berkedut. "Bagaimana kalau kita duduk sambil mengobrol agar lebih enak," usul Sera.
Steven menoleh pada Fiona. "Apa kau mau duduk?" tanya Steven lembut.
"Iyaa, kakiku juga sudah pegal."
"Apa kau mau kita kembali ke kamar saja?" tawar Steven.
Fiona menggeleng. "Tidak perlu. Aku hanya perlu duduk."
"Baiklah, ayo kita duduk." Steven langsung membimbing Fiona ke salah satu kursi yang jauh dari keramaian.
Sera mengepalkan tangan ketika melihat Steven seolah tidak memperdulikannya. Dengan hati sudah memanas, dia mengikuti langkah Steven dan Fiona.
"Steve, tadi tuan Frengky mencarimu," ucap Sera ketika mereka bertiga sudah duduk.
"Aku akan menemuinya nanti," jawab Steven.
"Tuan Frengky bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan dengamu. Lebih baik kau temui sekarang. Aku akan menemani Fiona di sini."
Steven terlihat bimbang. Dia tidak berani meninggalkan Fiona sendiri di pesta tersebut. "Lebih baik kau temui saja Steve, aku akan menunggu di sini," ujar Fiona.
"Apa kau yakin tidak apa-apa kalau aku tinggal sebentar?" tanya Steven dengan ragu.
"Iyaaa, lagi pula di sini ramai. Tidak akan terjadi apa-apa denganku. Pergilah."
Steven menimang sesaat. "Baiklah, aku pergi sebentar. Jangan ke mana-mana. Aku tidak akan lama," pesan Steven sebelum dia beranjak dari duduknya.
Fiona tersenyum sambil mengangguk. "Iyaaa."
Setelah kepergian Steven, Fiona langsung menoleh pada Sera. "Aku permisi ke toilet dulu," ucap Fiona sambil berdiri.
__ADS_1
"Baiklah." Sera terus menatap kepergian Fiona hingga Fiona menghilang dari padangannya. Tidak lama kemudian dia berdiri dan berjalan ke arah yang sama dengan Fiona.
Bersambung....