
Semua mata mereka membesar. "Maksudmu kau belum melakukannya dengan Fiona?" William nampak sangat terkejut.
"Hhhmmm." Steven mengangguk santai. Pandangannya sedari tadi tidak pernah lepas dari Fiona.
"Lalu tanda di lehermu itu?" Erland menunjuk bekas merah di leher Steven.
"Itu memang dibuat oleh Fiona, tapi hanya sebatas itu. Ada alasan kenapa Fiona membuat tanda itu padaku."
"Lalu tanda di leher Fiona, bagaimana kau menjelaskannya?"
Meskipun Fiona menutupnya dengan makeup, tapi William bisa melihat kalau di leher Fiona juga memiliki banyak tanda yang dibuat oleh Steven. William memang memiliki penglihatan yang jeli, hal seperti itu sudah biasa dia jumpai.
Steven menyesap tehnya dengan wajah tenang. "Aku hanya menyentuhnya sebatas itu. Aku tidak mau, dia melakukannya karena terpaksa. Aku juga tidak mau merusaknya."
Ketiga temannya mengenyit bersamaan. "Maksudmu?" tanya Erland dengan tatapan heran.
Saat Steven menjelajahi leher Fiona semalam, dia sudah mulai dikuasai oleh napsu dan hampir hilang kendali ketika Fiona ikut memberikan beberapa tanda di lehernya. Ketika Steven selesai dengan leher dan berniat untuk membuka baju Fiona, Steven tidak sengaja bertatapan dengan mata jernih Fiona, seketika akal sehatnya kembali bekerja. Dia langsung berhenti dan menarik diri dari atas tubuh Fiona.
Dia berkali-kali meminta maaf pada Fiona dengan wajah menyesal. Meskipun Fiona memintanya untuk melanjutkan karena tidak tega melihat Steven tersiksa, tapi Steven menolaknya dengan lembut. Dia lebih memilih masuk ke kamar mandi dan memutuskan untuk mengatasinya sendiri tanpa melibatkan Fiona.
Beberapa kali Fiona menggedor pintu, menanyakan keadaan Steven karena khawatir karena Steven sudah terlalu lama berada di kamar mandi, tapi Steven tetapi tidak membukanya. Dia tidak ingin membuat Fiona merasa bersalah.
Setelah efek obat berkurang, dia baru keluar dari kamar mandi. Fiona tetap setia menunggu Steven di atas tempat tidur dengan wajah khawatir. Mati-matian Steven menahan hasratnya agar tidak menyentuh Fiona. Dia tidak ingin merusak masa depannya, meskipun pada akhirnya dia akan menikahi Fiona.
Meskipun Steven sudah mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dia masih merasa panas karena efek obat masih ada. Steven memutuskan untuk tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana saja. Pada akhirnya, Steven dan Fiona baru bisa tertidur pada pukul 3 pagi.
"Semalam ada yang berniat menjebakku dengan memasukkan obat ke minumanku," ungkap Steven, "Fiona datang ke kamarku untuk menolongku."
Mereka terlihat sedikit terkejut, meskipun sebenarnya mereka memaklumi hal itu karena memang banyak wanita yang ingin menaiki ranjang Steven dengan cara instan.
"Ternyata itu alasannya. Aku kira pertahanmu sudah runtuh sehingga kau memutuskan untuk melakukannya dengan Fiona," celetuk William.
"Aku tidak sebrengek kau Will yang bisa memanfaatkan wanita dalam keadaan tertentu," ejek Steven sambil melirik malas pada William.
"Steve, kau memang hebat," puji Erland, "jika aku tidak mengenal sejak kecil, aku mungkin mempertanyakan mengenai kejantananmu."
"Benar, bagaimana bisa kau menahan hasratmu saat kau sedang dipengaruhi oleh obat dan dihadapkan dengan wanita cantik yang siap menolongmu. Kalau aku jadi kau, aku pasti tidak bisa menolak wanita yang ada di hadapanku saat itu, terlebih lagi wanita yang aku cintai," ungkap William.
__ADS_1
"Will, Steven itu tidak sepertimu. Dia memiliki pengendalian diri yang baik."
"Sebenarnya, kalau aku boleh jujur, aku juga menginginkan Fiona semalam. Hanya saja aku masih bisa berpikir jernih sebelum aku menyentuhnya. Aku tidak mau memanfaatkan Fiona disaat seperti itu jadi aku tidak meneruskannya. Aku tidak mau merusak masa depannya demi kepentinganku."
Wilson bertepuk tangan. "Kau memang hebat. Pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padamu. Kau memang pria luar biasa, bisa menguasai diri disaat akal hasratmu hampir mengalahkan akal sehatmu," puji Wilson.
"Dari awal aku memang tidak pernah berniat untuk menyentuh Fiona sebelum menikah, meskipun aku sangat menginginkannya."
"Apa kau tahu siapa yang sudah menjebakmu?" tanya Erland.
Pandangan Steven lurus ke depan. "Ada satu nama yang ada di kepalaku, tapi aku belum yakin apakah benar dia pelakunya. Aku sudah meminta Erick untuk menyelidikinya," ungkap Steven.
"Seharusnya kau ambil kesempatan itu untuk mengikatnya. Jangan sampai kau menyesal nantinya," ujar William.
"Will, jangan kau racuni Steven dengan pikiran bejatmu," cibir Erland.
"Aku hanya memperingatkannya, jangan sampai seperti Rizar. Dia menjaga kekasihnya dengan sangat baik, pada akhirnya kekasihnya justru tidur dengan pria lain kemudian meninggalkannya demi pria brengsek itu."
"Itu tergantung siapa wanitanya. Kakak ipar tidak mungkin meninggalkan Steven. Lagi pula, siapa yang bisa menandingi Steven di negara kita?" ujar Wilson dengan percaya diri.
"Siapa bisa menjamin kalau Fiona tidak akan berpaling suatu saat nanti. Wanita tidak melulu tentang uang, meskipun faktanya memang uang selalu menjadi nomor satu sebelum ketampanan. Ada banyak faktor yang bisa membuat hari seseorang bisa berubah. Di dunia ini hati seseoranglah paling sulit untuk ditebak. Seseorang itu bisa berubah karena berbagai macam faktor."
"Kau jangan menakuti, Steven. Aku lihat Fiona itu berbeda dari gadis kebanyakan," sela Erland.
"Iyaa, aku tahu. Hanya saja jangan sampai Steven memberikan kesempatan pada pria lain untuk mendekati Fiona."
William mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang. "Kau lihat, pria yang sedang mengobrol dengan Fiona, aku perhatikan dari tadi, sepertinya menyukai Fiona," tunjuk William dengan melemparkan pandangan ke arah pria yang tidak jauh dari Fiona. "jika kau tidak ingin mengikatnya, maka lebih baik kau cepat nikahi dia, sebelum dia direbut oleh orang lain."
Steven mengikuti arah pandangan William kemudian terdiam sesat, setelah itu dia membuka bajunya lalu masuk ke kolam renang mendekati Fiona.
"Kau jangan memanasi Steven seperti itu. Bisa gawat kalau Steven melemparkan pria itu ke laut," ujar Erland pada William sambil menatap ke arah Steven yang terlihat menarik Fiona menjauh dari pria yang dimaksud oleh William.
"Benar Will. Apa kau mau tanggung jawab kalau itu terjadi? Kau tahu sendiri kalau Steven tipe pecemburu berat. Dia sangat posesif dengan wanita yang dia cintai," sahut Wilson.
Sementara di dalam kolam renang, Steven sudah menyudutkan tubuh Fiona ke ujung kolam renang lalu mengurung Fiona dengan kedua tangannya yang memegang ke pinggir kolam.
"Steve, kenapa kau tiba-tiba menarikku?"
__ADS_1
Fiona bertanya dengan nada sangat pelan sambil menunduk karena tidak berani menatap Steven setelah tadi melihat tatapan kemarahan di matanya.
"Fiona, aku mengijinkanmu ke sini untuk berenang, bukan untuk bersenda guramu dengan pria lain. Bukankah kau tahu kalau aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan pria lain, apalagi yang tidak kau kenal? Apa kau sengaja ingin melihatku marah?" Suara Steven terdengar berat dan tegas.
Fiona memberanikan diri menatap Steven lalu menjelaskannya dengan lembut. "Kami hanya mengobrol Steve. dlDia itu adalah salah satu anak dari rekan bisnis papaku dulu. Aku tidak mungkin mengabaikannya. Hubungan ayahku dengan keluarganya juga baik," jelas Fiona.
Steven menatap dalam mata Fiona. "Jadi, kalau aku tidak menghampirimu saat ini, kau akan terus mengobrol dengannya tanpa memperdulikan perasaanku?"
"Bukan seperti itu maksudku, Steve. Kami hanya mengobrol biasa."
Fiona sebenarnya sudah berusaha untuk menjaga jarak dan menjawab sekenanya ketika pria itu mengajaknya bicara, tapi pria itu nampak tidak menyadari atau memang dia tidak ingin segera mengakhiri percakapan mereka.
Steven lalu menatap serius pada Fiona. "Seharusnya, aku menjadikanmu milikku semalam agar kau tidak berani lagi melirik pada pria lain."
Fiona seketika menatap ke bawah saat melihat wajah dingin Steven. "Maaf Steve, aku sungguh hanya mengobrol biasa dengannya," ungkap Fiona dengan suara pelan.
"Apa dia tahu kalau kau sudah memiliki kekasih?"
"Tidak. Lagi pula, itu tidak penting baginya. Kami hanya saling menyapa Steve, tidak ada hal lain lagi."
Steven mengangkat tangannya dan lalu mengusap leher Fiona. "Steve, apa yang kau lakukan?" tanya Fiona sambil menghindari sentuhan tangan Steven.
Steven terlihat menatap Fiona dengan tajam. "Jangan bergerak. Aku ingin menghapus makeup di lehermu."
Fiona langsung menangkap tangan Steven dengan wajah cemas. "Steve, apa kau ingin mempermalukan aku di depan orang banyak?"
"Aku hanya ingin orang lain tahu kalau kau sudah ada yang memiliki agar tidak ada yang berniat untuk mendekatimu lagi."
"Steve, kau sama saja ingin orang lain memandang rendah aku dengan menunjukkan tanda di leherku. Bagaimana orang lain akan berpikir tentangku jika melihat tanda ini, sementara aku masih belum menikah, apalagi mereka tahu kalau aku adalah kekasihmu."
"Jadi kau malu memiliki kekasih sepertiku?" tanya Steven dengan tatapan kecewa.
Fiona lalu memegang kedua lengan Steve yang berada di dalam air. "Steve, bukan itu maksudku."
"Baiklah, teruskan obrolanmu dengan pria sialan itu!"
Steven melepas pegangan tangan Fiona lalu berbalik menaiki tepi kolam renang meninggalkan Fiona yang terlihat mematung di dalam air.
__ADS_1
Bersambung..