
Fiona langsung gugup dan salah tingkah. "Ak-aku harus mandi." Fiona menjauhkan wajah mereka berdua lalu berdiri dengan cepat tapi justru tangannya ditahan oleh Steven ketika dia akan melangkah.
"Kau mau ke mana? Kenapa terburu-buru sekali?" Steven mendongakkan kepalanya menatap Fiona.
"Ak-aku mau... Aku mau ke kamarku untuk mandi. Badanku lengket," ucap Fiona sambil menunduk menatap Steven.
Steven berdiri di samping Fiona dan menunduk menatapnya. "Kenapa kau gugup sekali?"
"Tidak, Aku tidak gugup. Aku hanya...."
"Benarkah??" tanya Steven dengan alis terangkat. "Tapi, kenapa wajah dan telingamu memerah?" Steven kembali mendekatkan wajahnya pada Fiona. "Atau jangan-jangan kau...."
"Steve, berhenti menggodaku," ucap Fiona sambil mendorong tubuh Steven agar menjauh darinya. "Badanku bau, jangan dekat-dekat denganku."
"Tapi, aku tidak mencium bau apa-apa, Fio." Steven tahu kalau Fiona hanya mencari alasan agar dirinya tidak mendekatinya lagi. "Aku justru mencium wangi dari tubuhmu."
Sebenarnya Steven ingin tertawa melihat Fiona yang tampak salah tingkah ketika dirinya menjahilinya. Melihat wajah malu-malu Fiona membuat Steven ingin terus menggodanya.
"Mungkin hidungmu bermasalah. Aku harus mandi sekarang."
"Bagaimana kalau kita mand...."
"Steve, Stop!" Fiona tampak panik. "Aku akan mandi sendiri di kamarku. Kau juga lebih baik mandi. Aku pergi dulu." Fiona langsung berlari kecil menuju pintu lalu menutupnya dengan cepat.
Steven terkekeh melihat tingkah lucu Fiona. "Dia manis sekali," ucap Steven sambil tersenyum ketika Fiona sudah menghilang dari balik pintu.
Di waktu bersamaan mereka membersihkan tubuh mereka di kamar mandi berbeda. Selesai memakai pakaian, Steven duduk di atas tempat tidur sambil fokus pada ponselnya. Berbeda dengan Steven, Fiona justru membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membersihkan tubuhnya.
Fiona yang baru saja selesai mandi, sedang duduk di depan meja rias sambil memandang wajahnya. Dia masih belum sepenuhnya percaya kalau ternyata Steven memiliki perasaan yang sama dengannya, bahkan saat ini sudah menjadi kekasihnya yang resmi.
Seketika Fiona teringat dengan ibu Steven. Akankah ibunya merestui hubungan mereka berdua? Fiona bisa melihat ada jejak tidak suka pada tatapan ibu Steven ketika pertama kali melihatnya.
Memikirkan hal itu membuat Fiona merasa sedih. Fiona Menghela napas lalu Fiona berdiri menuju kamar Steven.
"Masuk." Terdengar suara Steven dari dalam ketika Fiona mengetuk pintu. Dengan hati-hati Fiona membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam.
Steven mendongakkan kepala ketika tidak merasakan ada pergerakan dari Fiona. "Kenapa kau hanya berdiri saja di sana?" Steven menatap heran pada Fiona. "Kemarilah." Steven mengarahkan pandangannya ke sisi ranjang yang kosong.
Fiona terlihat ragu sesaat. Apakah dia ingin kami tidur di satu ranjang yang sama?
"Fio, kenapa kau malah melamun?" Suara Steven mengembalikan kesadaran Fiona.
"Maaf Steve." Fiona berjalan ke sisi ranjang yang lain lalu duduk di sisi yang kosong bersebelahan dengan Steven.
Steven meletakkan ponselnya di atas nakas lalu menoleh pada Fiona. "Fio, besok pagi, Doni akan mengantarmu, pulang kau bekerja aku akan menjemputmu."
Fiona mengeryit. "Kenapa kau yang menjemputku?"
Bukannya menjawab pertanyaan Fiona, Steven justru mengajukan pertanyaan dengan nada curiga. "Kenapa? Apa kau tidak suka kalau aku menjemputmu?"
"Tidak, tentu saja aku senang. Hanya saja kantorku letaknya sangat jauh dari kantormu."
__ADS_1
"Memangnya kau tahu letak kantorku?" Seingat Steven, dia belum pernah memberitahu Fiona di mana kantornya berada.
"Tentu saja tahu. Siapa yang tidak tahu kantor HK Group dengan gedung paling tinggi dan paling bagus yang berada di tengah kota."
Fiona memang sering kali melewati gedung HK Group sewaktu kuliah. Gedung kantor Steven memang lebih mencolok dibandingkan dengan gedung lainnya. Gedung dengan desain modern dan lantai paling tinggi, bertuliskan HK Group dengan tulisan yang besar dan berkilau.
Steven memencet hidung Fiona dengan gemas. "Kau meledek perusahaanku?"
"Tidak, aku justru memujinya. Dulu, aku bercita-cita untuk bekerja di perusahaanmu. Bahkan sempat melamar di perusahaanmu setelah lulus kuliah dan diterima," ungkap Fiona.
Dia sempat mengagumi perusahaan HK Group dan pernah bercita-cita untuk bekerja di perusahaan itu ketika dia masih muda.
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?"
"Aku tidak jadi bekerja karena ayahku memintaku untuk membantunya mengurus perusahaan. Padahal aku sangat ingin bekerja di perusahaanmu."
Dia sempat kecewa karena tidak bisa bekerja di perusahaan HK Group. Padahal saat itu, Fiona baru saja lulus seleksi masuk perusahaan Steven tapi tuan Halim tidak setuju.
Tuan Halim ingin Fiona belajar mengelola perusahaan mereka karena saat itu, Cindy tidak berminat sama sekali dengan urusan perusahaan. Meskipun berat, mau tidak mau Fiona harus melepas mimpinya untuk bekerja di perusahaan HK Group.
Dia tidak menyangka kalau saat ini, dia justru menjadi kekasih dari pemilik perusahaan tersebut.
Steven manggut-manggut. "Bagaimana kalau sekarang kau bekerja di perusahaanku saja? Jadilah sekertarisku agar aku bisa melihatmu kapan saja."
Fiona menghela napas. "Aku tidak bisa melepaskan perusahaan ayahku begitu saja, apalagi kak Cindy masih membutuhkan aku."
Meskipun Fiona hanya memiliki saham 15% saja, tapi dia masih ingin tetap bertahan di perusahaan yang dulu dibangun susah payah oleh ayahnya setelah hampir bangkrut
"Dari mana kau tahu?" tanya Fiona dengan wajah terkejut. Fiona bahkan sampai sekarang tidak tahu siapa pemegang saham mayoritas sekaligus pemilik dari perusahaannya.
"Tidak sulit bagiku untuk mengetahui hal tersebut."
"Kau memata-mataiku?" tuduh Fiona.
"Tidak," jawab Steven singkat.
"Lalu?" tanya Fiona dengan wajah penasaran.
"Apa kau tahu siapa pemilik saham terbesar di perusahaanmu?"
Fiona menggeleng. "Tidak," jawab Fiona.
Steven tersenyum tipis, mengangkat tangannya lalu merapikan anak rambut Fiona. "Aku," ucap Steven, "aku adalah pemilik saham terbesar di perusahaanmu."
Mata Fiona membesar. Dia tidak menyangka kalau Steven adalah pemegang saham mayoritas di perusahaannya. Selama ini, indentitas pemegang perusahaan tersebut sengaja disembuyikan sehingga Fiona tidak tahu akan hal itu.
"Jadi, selama ini kau...."
"Aku memang sengaja mengirim Julian untuk mewakiliku setiap ada rapat pemegang saham. Aku tidak mau kau tahu."
Tujuan Steven sebenarnya menjadi pemegang saham terbesar sekaligus menjadi pemiliknya adalah untuk mengamankan posisi Fiona.
__ADS_1
Semenjak Steven tahu, kalau Fiona bukan anak kandung Sarah. Dia takut kalau Sarah akan memanfaatkan Fiona lalu mendepaknya setelah mencapai tujuannya.
"Memangnya kenapa kalau aku tahu?"
"Aku takut kau akan jatuh cinta padaku nanti," gurau Steven.
"Aku serius Steve," ucap Fiona dengan wajah cemberut.
Steven terkekeh. "Aku ingin melindungimu diam-diam tanpa diketahui ibumu." Fiona terperanjat. Dia tidak menyangka kalau Steven melakukan itu untuknya.
"Apa sekarang kau semakin cinta padaku dan ingin cepat-cepat menikah denganku?" Steven kembali menggoda Fiona ketika melihat Fiona terus menatapnya tanpa berkedip.
Fiona lalu memukul lengan Steven. "Steve, jangan menggodaku terus."
"Kau sudah berani memukulku ya?" Steven lalu menggelitik Fiona.
"Cukup Steve, maafkan aku," teriak Fiona sambil tertawa geli.
"Aku harus memberimu pelajaran karena sudah berani memukulku." Steven terus mengelitik Fiona.
"Maaf Steve, tolong berhenti. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Tidak mau." Steven terus menggelitik Fiona dan mengabaikan permintaan Fiona untuk berhenti.
Fiona menggeliat tak tentu arah hingga terbaring sambil menghindari kelitikan Steven. "Maaf Steve." Fiona tetawa geli hingga perutnya sakit, tapi Steven belum ada niat untuk berhenti.
Tanpa mereka sadari Steven sudah berada di atas tubuh Fiona sambil terus menggelitiknya. Steven baru berhenti ketika melihat wajah Fiona sudah memerah. Mereka sama-sama mengatur napas yang tersengal-sengal lalu saling bertatapan.
Steven menatap bibir Fiona lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Fiona terlihat menegang. Dia meremas kuat lengan Steven yang dia pegang tadi untuk menghentikan Steven menggelitiknya lagi.
Seketika Steven berhenti. Sial, apa yang aku pikirkan. Sepertinya terlalu berbahaya meminta Fiona untuk tidur di sini.
Steven lalu menjauhkan tubuhnya dari Fiona dan duduk di samping Fiona yang masih terbaring. "Lebih baik kau tidur duluan. Kau bisa kesiangan besok." Steven kemudian turun dari tempat tidur.
Fiona langsung duduk tegak lalu menatap heran pada Steven yang mulai melangkah. "Kau mau ke mana?"
Steven menoleh pada Fiona. "Mandi," jawab Steven singkat.
"Mandi..? Bukankah kau baru saja mandi?" tanya Fiona dengan dahi berkerut dan alis menyatu.
"Ini semua karena gara-gara kau."
"Gara-gara aku?" Fiona terlihat masih bingung. "Aku tidak melakukan apapun padamu," ucap Fiona dengan wajah lugunya.
Steven menghela napas. "Aku berkeringat karena menggelitkmu. Lebih baik kau tidur, tidak usah menungguku." Steven lalu berjalan ke kamar mandi lalu menutup pintunya.
Steven memandang wajahnya sendiri di cermin.
Fio, sepertinya aku harus segera menikahimu. Aki tidak yakin bisa menahan diri lebih lama lagi kalau terus berdekatan denganmu.
Bersambung...
__ADS_1