
Steven beranjak dari duduknya setelah waktu menunjukkan pukul 8 malam. "Fio, aku pulang dulu," pamit Steven seraya mencium pucuk kepala Fiona. Dia berencana untuk pulang ke mansion ibunya setelah pulang dari apartemen Fiona.
Sedari tadi, Bryan sudah menanyakannya beberapa kali kapan dia akan pulang. Bukan tanpa alasan Bryan bertanya hal itu, dia ingin mengajak Steven untuk pergi ke salah satu tempat hiburan malam yang paling terkenal di kota tersebut.
Fiona ikut berdiri. "Kenapa cepat sekali?"
Biasanya, Steven akan pulang pukul 10 ke atas, itu pun karena desakan Fiona agar dia segera pulang. Saat ini, baru pukul 8 malam, itulah yang membuat Fiona merasa heran.
Steven tersenyum sambil melangkah mendekati Fiona. "Apa kau masih merindukan aku?" goda Steven sambil menunduk menatap wajahnya dengan Fiona.
"Tidak, hanya saja biasanya kau belum pulang kalau aku belum menyuruhmu pergi," jelas Fiona.
"Bryan meminta aku menemaninya ke tempat hiburan malam untuk bertemu dengan temannya."
Wajah Fiona seketika berubah masam. "Aku tidak mengijinkanmu pergi ke tempat seperti itu," ucap Fiona dengan tegas.
Yang ada di pikiran Fiona adalah dia takut Steven akan tergoda dengan gadis-gadis cantik dan seksi yang ada di sana. Membayangkan ada banyak gadis yang akan menggoda Steven saja sudah membuatnya marah apalagi kalau sampai itu benaran terjadi.
Steven tersenyum melihat wajah cemberut Fiona. "Kenapa aku tidak boleh ke sana?" Padahal Steven sudah tahu jawabannya, hanya saja dia sengaja ingin menggoda Fiona.
"Pokoknya tidak boleh ya tidak boleh, jangan banyak tanya! Aku akan marah kalau sampai kau pergi ke sana. Biarkan Erick yang menemani Bryan."
Steven terkekeh melihat wajah galak Fiona, bukannya merasa takut, Steven justru merasa gemas melihat ekpresi Fiona yang sama sekali tidak menakutkan.
"Aku tidak akan pergi jika kau menginjinkan aku untuk tidur di sini."
"Tidak, kita tidak boleh tinggalbersama sebelum menikah," tolak Fiona, "Lebih baik kau pulang saja, jangan ke mana-mana."
"Baiklah istriku, aku akan menuruti perkataanmu," gurau Steven sambil tersenyum. "Kalau begitu, aku pulang sekarang."
"Tunggu dulu." Steven yang akan melangkah, seketika menoleh pada Fiona.
"Apa sayang? Apa kau berubah pikiran dan menginjinkan aku menginap?" goda Steven sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Bukan, besok setelah kau pulang bekerja, tolong antarkan aku ke rumah mama."
Steven mengerutkan kening sesaat. "Aku ingin memberitahukan kabar mengenai pernikahan kita, bagaimana pun mereka sudah aku anggap keluargaku," terang Fiona sebelum Steven bertanya alasannya.
"Baiklah, aku akan menjemputmu besok. Masuklah, aku pulang dulu." Ketika akan melangkah lagi, tangannya ditahan oleh Fiona.
"Tunggu."
Steven kembali menoleh. "Ada apa lagi sayaaaang? Aku akan sungguh menginap di sini jika kau masih menahanku sekali lagi. Aku tidak peduli meskipun kau melarangku," ancam Steven.
Fiona tersenyum lebar melihat ekspresi Steven. "Ingat, jangan pergi ke tempat itu! Aku akan marah kalau sampai aku tahu kau ke sana secara diam-diam."
Steven menghela napas. "Iyaa sayaang, aku tidak akan pergi ke sana. Aku janji."
Fiona tersenyum lalu tanpa diduga dia maju, berjinjit lalu mengecup singkat bibir Steven. "Bagus, anak baik."
"Bisakah kau ulangi lagi? Aku belum siap tadi?" pinta Steven setelah Fiona selesai mengecupnya.
__ADS_1
"Tidak mau, pulanglah."
Steven melingkarkan tangannya pinggang Fiona dengan cepat lalu menatap lekat mata Fiona. "Kau justru membuatku jadi tidak ingin pulang, Fio."
Fiona mendorong tubuh Steven. "Pulanglah, ini sudah malam, hati-hati di jalan calon suamiku." Fiona berbalik dengan cepat, bersembunyi dibalik pintu lalu menyisakan sedikit celah untuk melihat kepergian Steven.
"Iyaaa sayang, aku pulang dulu."
******
Pagi harinya, Steven menjemput Fiona ke apartemennya sesuai permintaan ibunya. Ibunya sudah berpesan pada Steven untuk mengantarkan Fiona pagi-pagi sekali agar ibunya dan Fiona memiliki waktu banyak untuk mengecek persiapan pernikahannya.
Hari ini, ibu Steven membawa Fiona ke butik untuk mencoba gaun pengantin yang dahulu sudah pernah di pesan oleh ibu Steven, tapi belum sempat di coba oleh Fiona karena batalnya rencana pernikahan mereka. Baju itu sudah dibayar lunas, tapi belum sempat diambil sampai sekarang.
Ibu Steven juga mengajak Fiona untuk makan siang berdua lalu berbelanja bersama untuk sekedar mengakrabkan diri. Selesai berbelanja, mereka pergi melihat gedung megah yang akan dipakai untuk resepsi nantinya.
Tamu yang akan diundang sengaja dibatas, atas permintaan Steven. Dia tidak mau Fiona sampai kelelahan. Media juga dilarang meliput acara pernikahan Steven dan Fiona. Hanya orang tertentu yang bisa hadir dalam resepsi pernikahan mereka.
Jika ingin mengundang semua kolega dan semua orang yang mereka kenal baik di luar negeri maupun di dalam, mungkin akan mencapai 10.000 orang lebih tamu yang akan diundang. Itu tidak akan ada hentinya. Sebab itulah Steven hanya meminta ibunya untuk mengundang 1.000 tamu saja.
Setelah jam kantor selesai, Steven langsung menjemput Fiona dan langsung menuju ke rumah Sarah yang baru.
"Steve, kenapa kita ke daerah sini? Bukankah aku sudah bilang untuk mengantarkan aku ke rumah mama?" tanya Fiona sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling saat mobil Steven berhenti di salah satu rumah yang sangat asing bagi Fiona.
Steven membuka pintu lalu tersenyum. "Kita turun dulu, nanti kau juga akan tahu." Steven turun dari mobil diikuti oleh Fiona. Steven sengaja tidak mengatakan mengenai kondisi Sarah dan Cindy agar mereka sendiri yang menjelaskannya nanti.
Sebenarnya rumah itu cukup besar untuk orang biasa, tapi untuk orang seperti Sarah yang pernah menjadi orang berkecukupan, rumah itu termasuk kecil dibandingkan dengan rumahnya yang dulu. Apalagi jika dibandingkan dengan mansion Steven, rumah itu tidak apa-apanya.
Steven menarik tangan Fiona menuju pintu rumah setelah membuka pintu pagar yang tidak terkunci. Steven mengetuk beberapa kali hingga pintu terbuka.
"Mama." Fiona tidak kalah terkejut ketika melihat siapa yang membukakan pintu rumah tersebut.
"Apakah kami boleh masuk?" sela Steven ketika melihat kedua orang tersebut sama terdiam dengan wajah terkejut.
"Maaf, silahkan masuk." Sarah membuka pintu dengan lebar seraya mengajak mereka untuk duduk di ruang tamu.
Fiona sedikit terkejut melihat sikap Sarah yang terlihat lebih ramah. Ketika mereka semua duduk, Sarah berpamitan untuk masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, dia kembali membawa minuman untuk Steven dan Fiona.
"Silahkan diminum," ucap Sarah ketika dia sudah meletakkan teh hangat di atas meja.
"Ma, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mama bisa ada di sini?" tanya Fiona dengan wajah heran.
Sarah mengusap-usap telapak tangannya dengan wajah malu. "Mama sekarang tinggal di sini, Fio. Semua harta mama habis karena ditipu oleh teman Mama," ungkap Sarah.
"Bagaimana dengan rumah?" Setahu Fiona, rumah itu atas nama Cindy, wanita yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu tidak mungkin mau menjual rumah tersebut karena rumah itu adalah satu-satunya aset berharganya.
"Rumah itu disita oleh bank karena mama tidak bisa membayar hutang mama di bank. Ini semua karena....." Sarah mulai menceritakan kronologi bagaimana bisa dia berakhir kehilangan semua harta yang dia miliki.
"Lalu, bagaimana selama ini kalian bertahan hidup?" tanya Fiona dengan mata berkaca-kaca setelah Sarah sudah selesai menceritakan semuanya.
Dia merasa sangat sedih setelah mendengar cerita Sarah. Itu adalah salah satu kelemahan Fiona yaitu mudah tersentuh hatinya dan mudah merasa iba meskipun orang tersebut sudah menyakitinya berkali-kali.
__ADS_1
Sarah menoleh sejenak ke arah Steven lalu menatap ke bawah. "Beruntung Steven masih mengijinkan Cindy untuk bekerja di perusahaannya sehingga kami bisa bertahan hidup," ungkap Sarah dengan wajah malu.
Tentu saja dia malu, bagaimana tidak, orang yang paling dia benci, kini justru berubah menjadi orang yang menolongnya dikala dia hidup susah.
Fiona seketika menoleh pada Steven dengan mata berkaca-kaca. "Steve, terima kasih karena sudah memperbolehkan kak Cindy untuk bekerja di perusahaanmu."
Steven menoleh lalu mengusap lembut pipi Fiona. "Iyaa sayang, jangan sedih. Aku tidak suka melihatmu menangis."
Fiona mengangguk lalu beralih menatap Sarah. "Lalu, di mana kak Cindy sekarang?"
"Cindy belum pulang bekerja, mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang. Biasanya dia akan sampai sebentar lagi," terang Sarah lagi.
Sarah berdiri lalu bersimpuh di kaki Fiona. "Fio, tolong maafkan mama, maafkan atas semua perbuatan mama yang sudah sering menyakiti dan memperlakukanmu dengan seenaknya. Mama sungguh menyesal karena sudah memperlalukanmu dengan buruk selama kau tinggal dengan mama."
"Ma, bangun Ma... Jangan seperti ini, cepat bangun! Mama tidak boleh seperti."
Fiona berdiri lalu membungkuk untuk membantu Sarah berdiri ketika melihat Sarah duduk dilantai seraya memegang tangannya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Sarah menolak untuk berdiri. "Tolong maafkan mama, Fio. Mama sungguh sudah menyesal."
Fiona masih membungkuk seraya memegang kedua lengan Sarah berusaha untuk membantunya bangun. "Iyaa Ma, Fiona sudah memaafkan Mama, cepat bangun!"
Sarah akhirnya bangun dengan bantuan Fiona lalu kembali duduk ke tempatnya semula. "Ma, aku sudah lama memaafkan Mama jadi kita lupakan saja masalah yang sudah beralu. Setidaknya dulu Fiona bisa memiliki keluarga lengkap berkat papa mau menerimaku."
"Terima kasih Fio karena sudah mau memaafkan mama."
"Fio, bagaimana kau bisa ada di sini?" Cindy yang baru saja masuk, sangat terkejut ketika melihat ada Steven dan Fiona di rumahnya. Sebenarnya dia sudah curiga saat melihat ada mobil Steven di depan rumahnya.
Fiona menoleh dan langsung berdiri menghampiri Cindy. "Kak, aku sangat merindukanmu," ucap Fiona sambil memeluk Cindy.
"Kau ke mana saja, kenapa tidak pernah menghubungi kakak?" ujar Cindy sambil membalas pelukan Fiona.
"Maaf Kak, aku pergi ke negara S dan menentap di sana. Panjang ceritanya, lain kali akan aku ceritakan semuanya pada Kakak." Fiona melepaskan pelukannya lalu mengajak Cindy untuk duduk.
"Lalu kenapa kau tiba-tiba kembali lagi?" tanya Cindy ketika dia sudah duduk di samping ibunya.
Fiona merasa sedikit malu. "Sebenarnya aku akan menikah dengan Steven 5 hari lagi," ungkap Fiona.
"Benarkah? Kakak turun senang mendengarnya," ujar Cindy antusias, "semoga kali ini acara kalian berjalan lancar dan kalian bisa hidup bahagia selamanya," ucap Cindy tulus.
"Terima kasih, Kak. Sebenarnya maksud Fiona ke sini ingin mengundang kalian untuk datang ke acara pernikahan kami. Fiona juga ingin meminta Mama dan Kak Cindy menjadi perwakilan dari keluargaku nanti saat acara pernikahan di gelar."
"Tapi, Fio, mama malu. Bagaimana kalau calon mertuamu tidak mau menerima kami nanti," ujar Sarah dengan wajah canggung.
"Ibuku tidak akan berbuat seperti itu apalagi kalau Fiona yang meminta kalian langsung untuk mendampinginya nanti," sela Steven.
Sedari tadi dia memang sengaja hanya diam tanpa ingin ikut terlibat dalam pembicaraan mereka.
"Apa kau yakin Steve, kalau ibumu akan menerima kedatangan kami?" tanya Cindy memastikan.
"Aku yang akan berbicara langsung dengan ibuku. Dia pasti tidak akan keberatan."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," ucap Cindy.
Bersambung.....