Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Memberikan Kebahagiaan Untukmu (END)


__ADS_3

Selesai melihat hasil Foto, Steven mengajak Fiona untuk berjalan di pusat kota, mengelilingi kota di malam hari serta berbelanja. Puas berkeliling dan berbelanja, Steven kembali mengajak Fiona untuk ke restoran di dekat hotel mereka.


Sebenarnya, mereka sudah makan di hotel sebelum pergi, tapi mereka kembali lapar setelah berkeliling cukup lama. Selesai makan, Fiona meminta Steven untuk menemaninya berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke hotel.


"Tunggu sayaang." Steven berhenti di depan Fiona, menggosok-gosok kedua tangannya lalu menempel di wajah Fiona yang memerah. "Wajahmu dingin sekali, apa kau baik-baik saja sayang?" tanya Steven setelah menempelkan tangannya di pipi istrinya.


Fiona tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja, hanya dingin sedikit."


Steven meraih tangan Fiona lalu meniupkan napas hangatnya di telapak tangan Fiona yang berada di genggamaannya. Dia berkali-kali melakukannya untuk memberikan kehangatan di tangan istrinya. "Apakah sudah hangat?" tanya Steven sambil menatap istrinya.


Fiona mengangguk. "Iyaaa sudah."


Steven melepaskan tangan Fiona lalu memeluknya. "Bilang padaku kalau kau masih merasa dingin."


Fiona kembali mengangguk. Perhatian suaminya membuat hatinya menghangat. Fiona memang sangat menyukai pelukan hangat suaminya.


Setelah memeluknya beberapa saat, Steven melepaskan mantel miliknya lalu memakaikan pada istrinya. "Steve, kenapa kau memberikannya padaku, kau bisa sakit nanti, udara sangat dingin di sini."


Fiona hendak melepasnya, tapi dicegah oleh Steven. Wajah, hidung, dan telinga Fiona sangat merah karena di terpa angin dingin malam itu. Udara memang semakin dingin menjelang tengan malam. Bahkan ketika menghembuskan napas dan berbicara keluar asap putih di hidung dan mulut mereka.


"Tidak apa-apa, Sayang. Lebih baik kau yang memakainya. Aku tidak mau kau sakit." Steven merapikan syal di leher istrinya lalu menggenggam tangan Fiona, mengajaknya kembali berjalan.


Sebenarnya, Steven kuat udara dingin, dia sudah terbiasa tinggal di negara yang memiliki musim dingin sedari dia remaja. Hanya saja, udara malam sangat dingin sementara dirinya hanya berpakian tipis.


Dia mengabaikan dirinya dan memberikan mantel untuk istrinya karena takut tubuh istrinya tidak bisa menahan udara dingin dan akan membuatnya sakit nanti, apalagi di kota itu suhunya sangat dingin akhir-akhir ini menjelang datangnya musim dingin.


Mereka akhirnya kembali ke hotel setelah melihat Steven mulai bersin-bersin. "Sayang, mandilah lebih dulu, setelah itu baru aku," ucap Steven ketika mereka baru saja masuk ke dalam kamar hotel mereka.


Fiona menatap suaminya yang terlihat kedinginan. "Duduklah disini sebentar, aku buatkan teh hangat dulu." Selesai bicara Fiona berjalan ke arah meja dan langsung membuat teh untuk suaminya.


Selesai membuat teh, Fiona menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa. "Steve, ini tehnya." Fiona menyodorkan cangkir pada suaminya dan langsung diterima oleh Steven.


"Terima kasih, Sayang," ucap Steven yang dijawab anggukan oleh Fiona.


"Aku siapakan air hangat dulu." Fiona berjalan ke arah kamar mandi dan mengisi bathup dengan air hangat, setelah itu dia menyiapkan pakaian untuk dia dan suaminya.


Setelah bathupnya penuh, Fiona menghampiri suaminya. "Steve, airnya sudah siap."


Steven mengangkat kepala setelah menyesap tehnya. "Kau mandi duluan saja Sayang, kau bisa terkena flu nanti." Nyatanya, dia sendiri yang sudah mulai bersin-bersin.


Fiona meraih tangan suaminya agar dia mau berdiri. "Lebih baik kita mandi bersama," usul Fiona. Dia tidak mungkin membiarkan suaminya menahan dingin terlalu lama.


Senyum nakal terbit di wajah Steven. "Apa kau sedang menggodaku, Sayaang?"


"Iyaaaa, cepatlah, kau bisa sakit nanti."


Steven sedikit mengerutkan keningnya melihat sikap tidak biasa istrinya. "Fio, jika aku masuk bersamamu, ini tidak akan berakhir dengan hanya mandi saja."


Fiona yang sudah melangkah menuju kamar mando seketika berhenti dan menoleh. "Aku tahu, cepatlah."


Alasan Fiona ingin mandi bersama agar suaminya tidak sakit. Dia bisa melihat kalau Steven sedang menahan tubuhnya agar tidak menggigil. Dengan langkah cepat, Steven menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


Sebenarnya, Steven memang sudah menggigil kedinginan sedari tadi. Saat dia melepas mantelnya untuk Fiona, dia hanya mengenakan kaos lengan pendek saja, dan baju itu tidak bisa menahan udara dingin yang terasa menusuk tulangnya. Dia sengaja tidak menunjukkannya agar Fiona tidak khawatir padanya. Ternyata, Fiona menyadarinya.


Seperti kata Steven sebelumnya, mereka baru keluar dari kamar mandi setelah berada di dalam sana selama 2 jam. Fiona keluar menggunakan bathrobe sementara Steven hanya handuk yang melilit di pinggangnya.

__ADS_1


Fiona tidak langsung memakai baju melainkan mencari obat yang dia masukkan di dalam koper miliknya. "Steve, minum obat dulu." Fiona menghampiri Steven yang baru saja duduk di tepi tempat tidur setelah memakai celananya tanpa memakai baju.


"Tidak perlu, Sayang. Aku tidak akan sakit. Lagi pula, aku sudah mendapatkan obatku tadi," ujar Steven sambil tersenyum nakal pada istrinya.


"Steve, jangan bercanda terus, cepat minum obat ini." Fiona menyodorkan obat di depan wajah Steven.


Bukannya mengambil obat, Steven justru menarik tangan Fiona dan mendudukkan di pangkuannya. "Aku sungguh sudah tidak apa-apa, Sayaang. Kau sudah memberikan aku vitamin tadi," ucapnya sambil melingkarkan tangan di perut istrinya lalu menempelkan wajahnya di punggung Fiona.


"Aku sangat bahagia menikah denganmu sayang. Aku sangaat-sangat mencintaimu," lanjut Steven lagi sambil mempererat pelukannya.


Mendengar pengakuan suaminya membuat Fiona merasa tersentuh. Dia kemudian memutar posisi duduknya menghadap suaminya. "Aku juga sangat mencintaimu, Steve."


Fiona perlahan memajukan wajahnya lalu menempel bibir mereka berdua. Kali ini, Fiona berinisiatif mencium suaminya lebih dulu. Tentu saja Steven sangat senang karena istrinya memulai lebih dulu tanpa dia minta.


Kamar yang semula hening, mulai terdengar suara bibir yang saling mencecap dan deru napas yang cepat. Perlahan, Steven menurunkan bathrobe istrinya hingga memperlihatkan bahu putih istrinya.


Steven lalu melepaskan pagutan mereka dan membaringkan istrinya di tempat tidur dengan hati-hati. "Tidurlah sayaang, ini sudah malam."


Fiona nampak linglung sesaat. Dia pikir Steven akan kembali menyentuhnya, tapi nyatanya Steven justru menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan memeluknya dari dari depan.


"Steve," panggil Fiona dengan suara pelan. Fiona sedikit mendongak menatap suaminya yang sudah memejamkan matanya.


"Iyaaa, Sayang, ada apa?"


Sebelum sempat Fiona menjawab, ponsel Steven seketika berbunyi. Steven nampak mengabaikan panggilan di ponselnya. "Steve, kenapa tidak diangkat?"


"Biarkan saja, Sayang. Aku sedang tidak mau diganggu."


"Siapa tahu penting, angkat saja," desak Fiona.


*********


Pagi harinya, Fiona terbangun ketika mendengar ponselnya berbunyi. Dia buru-buru mengangkat telponnya sebelum mengganggu tidur suaminya.


Perlahan dia berjalan ke arah balkon dan menutup pintunya supaya suaranya tidak terdengar dari luar. Beberapa saat setelah Fiona keluar, Steven terbangun dan menyadari kalau Fiona tidak ada di sampingnya.


Dia mengedarkan padangannya ke sekeliling kamar, tapi tidak menemukan keberadaan istrinya, kemudian dia bangun dan berjalan ke arah kamar mandi dan dia tidak juga menemukan keberadaan istrinya. Dia kembali keluar kamar mandi, dan sayup-sayup mendengar suara dari arah balkon.


Dengan langkah pelan, Steven berjalan ke arah balkon dan melihat istrinya sedang berbicara di telpon dengan seseorang. Matanya menyipit ketika mendengar istrinya tertawa.


Steven mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang dan seketika membuat Fiona terlonjak kaget dan menoleh ke belakang. "Kau sedang berbicara dengan siapa, Sayang?" tanya Steven sambil mencium pipi istrinya.


"Sssttttt." Bukannya menjawab, Fiona justru meletakkan jari telunjuknya di bibirnya agar Steven tidak berbicara lagi. Fiona hendak melepaskan tangan Steven di perutnya, tapi tidak bisa.


"Sayang, aku tanya kau berbicara dengan siapa di telpon," ulang Steven lagi sambil memberikan kecupan di leher istrinya.


Fiona menjauhkan telpon dari telinganya kemudian menoleh pada Steven. "Kak Leon." Selesai menjawab pertanyaan suaminya, dia kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya dan membuat gerakan tidak ingin diganggu.


Steven yang melihat itu, seketika dadanya terasa panas. Rasa cemburu mulai menguasi hatinya melihat istrinya mengabaikannya karena pria lain. Steven mengeratkan pelukannya lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di leher dan pundak istrinya.


Awalanya, Fiona membiarkan Steven melakukannya, tetapi lama kelamaan, Fiona merasa risih karena Steven melakukannya sedikit kasar saat meninggalkan tanda di leher serta pundaknya.


Fiona membalikan badan, menatap Steven sambil menjauhkan telponnya. "Steve, jangan menggangguku." Steven tidak memperingatkan ucapan istrinya. Dia justru mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.


"Steve, turunkan aku."

__ADS_1


"Jangan membuatku marah, Sayang."


Steven tidak menghiraukan teriakan istrinya. Dia terus berjalan dan berhenti di dekat tempat tidur. Dia menurunkan tubuh Fiona dengan hati-hati, setelah itu Steven meraih telpon istrinya, mematikannya dan membuangnya ke sembarang arah.


"Steve, kenapa kau membuang ponselku?" Fiona melihat ke arah ponselnya yang sudah tergelak di lantai, "kau merusak ponselku, Steve."


"Nanti kita beli lagi." Steven maju selangkah ke depan istrinya dengan tatapan tajam. "Fio, kau tahu bukan kalau aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Leon?"


Fiona menelan salivanya dengan susah payah saar melihat tatapan marah suaminya. "Iyaaa, tapi tadi kak Leon, di-dia...."


Belum sempat Fiona menyelesaikan ucapannya, Steven sudah menyerang bibir ranum istrinya dengan sedikit kasar. Fiona tidak berani menolak atau bersuara. Dia tahu saat ini suaminya sedang marah. Dia membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia mau.


Lebih baik dia mendinginkan hati suaminya terlebih dahulu, baru nanti dia menjelaskannya. Steven tidak akan mau mendengarkan penjelasan apapun di saat seperti ini. Mereka terus memagut hingga keduanya sudah berakhir di tempat tidur dengan tubuh yang sudah polos.


Mungkin karena rasa cemburu yang begitu besar sehingga membuat Steven meluapkan kecemburuannya dengan mencumbu istrinya dengan sedikit kasar. Fiona beberapa kali merintih menahan sakit akibat guncangan kuat di tubuhnya yang disebabkan oleh hentakan Steven.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Steven akhirnya berhenti setelah melakukan pelepasan yang kesekian kalinya. Dengan napasnya terengah-engah, Steven menatap istrinya yang masih berada di bawahnya.


Fiona berusaha tersenyum, tangannya terulur pada wajah suaminya yang berkeringat. "Aku mencintaimu, Steve, sangat mencintaimu. Jangan marah lagi," ucap Fiona dengan suara sangat lembut sambil memegang wajah tampan suaminya.


Sorot mata Steven berubah melembut. "Maafkan aku sayang. Maafkan aku karena tidak bisa mengontrol rasa cemburuku." Steven mencium kening istrinya beberapa kali setelah itu dia menarik diri dari tubuh istrinya dan memeluk istrinya dari depan.


"Steve, bisakah kau mengurangi sedikit saja rasa cemburumu itu?" tanya Fiona sambil mendongakkan kepalanya menatap Steven, "sedikit saja," tambah Fiona hati-hati. Dia takut suaminya tersinggung dan menganggap dia tidak bisa menerima kekurangannya.


Steven mengurai pelukannya, menunduk dan menatap istrinya. "Aku akan mencobanya Sayang, maafkan aku."


Fiona tersenyum lalu membenamkan wajahnya di dada suaminya sambil memeluk suaminya. "Tadi itu, kak Leon menghubungiku untuk mengabarkan kabar gembira," ungkap Fiona dengan suara pelan.


"Kabar gembira apa?" Steven membelai rambut istrinya dengan lembut.


"Dia bilang akan bertunangan bulan depan dengan Sonia."


Steven seketika mengerutkan keningnya. "Sonia? Bagaimana bisa?" tanya Steven cepat. Setahunya, Sonia dan Leon tidak saling mengenal sebelumnya.


"Jadi, ceritanya waktu itu mereka tidak sengaja bertemu...." Fiona kemudian menceritakan semuanya pada Steven seperti yang diceritakan oleh Leon.


"Aku rasa mereka memang cocok, Sonia adalah wanita yang baik dan juga wanita sempurna."


Mendengar Steven memuji Sonia, ada rasa tidak suka di dalam hati Fiona. "Kalau dia memang sempurna, kenapa kau memilihku? Kenapa kau tidak menikah dengannya dan justru menikah denganku?"


Steven terkekeh melihat istrinya yang nampak sedang cemburu. "Karena aku mencintaimu. Dari awal kita bertemu, kau sudah mencuri seluruh hatiku dan membawanya pergi, jadi bagaimana bisa aku jatuh cinta lagi pada wanita lain?"


Tidak ada lagi hal yang paling indah selain mencintaimu dan dicintai olehmu. Selama kau mencintaiku dan selalu berada di sisiku, aku tidak akan peduli lagi dengan yang lainnya. Akan kuberikan kebahagiaan yang tidak pernah terbayangkan olehmu hingga kau tidak lagi berpikir untuk meninggalkanku.~ Steven.


...END...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Cerita "Selamanya, kau tetap milikku" sudah tamat yaaa. Terima kasih atas semua dukungannya selama ini, terima kasih juga yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir.


...Silahkan kunjungi Novel Author lainnya...



__ADS_1



__ADS_2