
1 tahun kemudian...
"Ternyata kau di sini." Erland menghampiri Steven yang terlihat sedang duduk sendiri di depan bar counter sambil menenggak minuman yang ada di tangan kanannya.
Steven menoleh dengan malas ke arah Erland yang sudah duduk di samping kirinya tanpa membalas ucapan sahabatnya, sementara Erland terlihat menekuk kedua sikunya lalu meletakkan tangannya di atas meja seraya menatap ke arah Steven.
"Ke mana Erick? Biasanya dia selalu menempel padamu?" ujar Erland ketika tidak melihat keberadaan Erick di sekitar Steven.
"Masih di kantor," jawab Steven sekenanya. Dia meletakkan gelasnya lalu menatap lurus ke depan.
Erland menyunggingkan sudut bibir sebelah kirinya. "Aku dengar kau mengambil alih perusahaan tuan Boby. Kali ini, kesalahan apa yang sudah dia lakukan sehingga kau mengambil alih perusahaannya?"
Setelah kepergian Fiona, Steven berubah menjadi orang yang menakutkan. Dia menjadi gila kerja, tidak ada kompromi sama sekali jika ada membuat kesalahan ataupun jika ada yang berani menyinggungnya. Siang hari dia akan bekerja dengan keras, malam harinya dia akan pulang dengan keadaan mabuk, terkadang bahkan hingga tidak sadarkan diri.
Dalam waktu setahun, Steven berhasil menjadikan perusahaannya menjadi perusahaan multinasional yang lebih besar dari sebelumnya. Bahkan perusahaannya berhasil masuk dalam daftar 20 perusahaan terbaik di dunia yang otomastis membuatnya masuk dalam daftar 100 orang yang paling berpengaruh di dunia versi majalah Fo*bes.
"Dia tidak menepati janji kerja sama yang sudah kami sepakati, selain itu, dia sudah membuat kerugian besar pada perusahaanku," ungkap Steven.
"Kau memang gila," ucap Erland ambil menggelengkan kepalanya, "perusahaamu tidak akan bangkrut hanya karena dia."
"Tapi, orang lain akan menirunya jika aku tidak memberikan pelajaran padanya." Steven menoleh ke belakang, "ke mana Wilson? Aku menghubungi tadi, tapi tidak diangkat," ujar Steven mengalihkan pembicaraan.
Erland meneguk minuman yang sudah dipesannya tadi sebelum menjawab pertanyaan Steven. "Dia baru saja pulang dari rumah sakit dan dalam perjalan menuju ke sini." Erland mendekatkan tubuhnya pada Steven lalu berkata dengan suara pelan, "aku dengar ibumu menjodohkanmu dengan putri tunggal dari keluarga Welington."
Steven melirik tanpa minat pada Erland. "Kau tau dari mana?" tanya Stven sebelum kembali meneguk minumannya.
"Berita ini menjadi berita paling panas di media. Bukan hanya aku yang tahu, tapi seluruh orang sudah tahu, bahkan beritamu sampai keluar negeri. Perjodohan antara penerus HK Group dan putri tunggal dari perusahaan Liang Group menjadi tranding topik saat ini. Menurutmu, siapa yang tidak penasaran dengan perjodohan antara 2 penerus dari perusahaan raksasa yang sudah mendunia. Semua orang bahkan sudah tidak sabar menanti pesta pernikahan kalian," ungkap Erland dengan antusias.
Steven menggoyangkan gelas bening yang ada ditangannya dengan tatapan rumit. "Itu adalah kemauan ibuku," aku Steven.
"Menurutku, Sonia adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingimu. Dia cantik, pintar, santun, lemah lembut, berkepribadian baik, hebat dalam mengelola perusahaan, memiliki wawasan luas, dermawan dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Kepribadian sempurna seperti Sonia tidak akan kau temukan pada wanita lain," terang Erland.
Steven termenung sesaat. Entah apa yang sedang dia pikirkan setelah mendengar perkataan Erland. "Dia memang sempurna, tapi tidak untukku."
"Kenapa? Aku rasa kalian sangat cocok apalagi dia sudah lama menyukaimu. Bahkan setelah dia kembali ke sini, dia belum juga memiliki kekasih, aku rasa dia memang menunggumu, Steve."
Melihat Steven hanya terdiam, Erland kembali berkata, "Apa kau masih mengharapkan Fiona?" tanya Erland dengan wajah serius.
Steven masih bungkam dengan wajah yang tertuduk. "Steve, lupakanlah Fiona, dia tidak akan pernah kembali ke sini. Jika dia memang mencintaimu, dia pasti sudah lama menemuimu. Berhenti mencarinya, mungkin saja dia sudah bahagia dengan orang lain," ucap Erland sambil memegang bahu Steven.
Steven mengeratkan tangan yang memegang gelasnya yang sudah kosong. "Dia mungkin masih marah padaku karena kesalahan bodoh yang sudah pernah aku lakukan."
Erland menhembuskan napas panjangnya. "Steve, aku rasa dia memang tidak ingin kembali padamu karena dia sudah memiliki kehidupan yang lebih baik di suatu tempat entah di mana. Lepaskanlah dia, dia sudah tidak menginginhkanmu lagi. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika terus menunggunya."
"Aku tahu. Mungkin dia sangat membenciku sehingga dia tidak mau aku menemukannya. Aku hanya ingin meminta maaf padanya karena sudah mengabaikan dan menuduhnya secara kejam."
Setelah tahu kebenaran mengenai kecelakaan yang melibatkan Fiona dan Gwen, Steven merasa sangat menyesal apalagi ketika dia mengingat sikap dinginnya terhadap Fiona, Dia selalu dihantui rasa bersalah.
__ADS_1
"Steve, kau sudah menyadari kesalahanmu itu sudah lebih dari cukup. Jangan menghancurkan hidupmu lagi. Aku memang tidak bisa membenarkan tentang pelakukannmu dulu pada Fiona, hanya saja kau juga tidak bisa merusak hidupmu. Kau merupakan satu-satunya harapan ibumu saat ini."
Steven meraih botol yang ada di depannya setelah lama terdiam. "Steve, bukankah Wilson sudah melarangmu untuk minum?" ujar Erland sambil menangkap pergelangan tangan Steven yang akan menuangkan minuman ke gelas yang sudah kosong, "apa kau ingin masuk rumah sakit lagi?" sambung Erland.
Steven melepaskan cengkraman tangan Erland dengan wajah acuh tak acuh. "Lebih baik kau pulang, jangan menggangguku." Steven menuangkan minuman ke gelas lalu meneguknya hingga habis, dia bahkan terlihat sudah mulai mabuk.
Erland hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Steven yang terus-terusan tidak mau berhenti minum. "Aku masih ada urusan, kau tunggu saja Wilson. Dia akan segera sampai."
Steven hanya mengangguk dengan kesadaran minim. Setelah kepergian Erland, satu wanita cantik mendekatinya, bahkan mulai merayunya.
"Pergi, jangan menggangguku!" usir Steven ketika wanita itu nampak mulai menyentuh tangannya.
"Biarkan aku menemanimu."
Steven melayangkan tatapan mengerikan pada wanita itu hingga dia bergidik ngeri. "Lebih baik kau pergi sebelum kesabaranku habis."
"Nona, lebih kau pergi jika kau tidak ingin mendapatkan masalah. Kau seharusnya tahu siapa dia." Erick baru saja datang ketika wanita itu mendekati Steven.
Wanita itu menoleh pada Erick, setelah itu pergi dengan cepat tanpa berkata apapun, dia tidak berani mendekati Steven lagi.
Tentu saja wanita itu tahu siapa Steven, itulah sebabnya dia ingin mendekatinya dalam keadaan mabuk, mungkin saja dia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menjadi nyonya Steven, tapi dia harus mengurungkan niatnya saat melihat wajah garang asisten Steven.
"Tuan, lebih baik kita pulang, nyonya akan marah besar jika tahu anda mabuk lagi."
Erick mendekati Steven yang terlihat kembali menegak minumannya.
"Tuan, Anda sudah mabuk, lebih baik kita pulang." Erick mendekati bosnya berniat untuk membantu Steven berdiri, tapi langsung di tepis oleh Steven.
"Erland bilang, Fiona sudah tidak mencintaiku lagi jadi aku harus melepaskannya. Katakan padaku, apakah aku harus melepaskannya seperti perkataan Erland?"
Erick berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan bosnya. "Saya setuju dengan perkataan tuan Erland, anda harus melupakan nona Fiona," jawab Erick cepat.
"Aku tidak bisa melupakannya, Rick, aku sangat mencintainya. Aku sudah berusaha melupakannya, tapi tidak bisa." Steven mengalihkan pandangannya sambil bangun dari duduknya ketika melihat kedatangan Wilson.
"Wil, kau adalah dokter, kau pasti bisa membantuku, 'kan? Berikan aku obat agar aku bisa melupakan Fiona," ucap Steven sambil berjalan ke arah Wilson dengan langkah yang tidak seimbang.
"Kau kenapa lagi?" Wilson menangkap tubuh Steven ketika dia akan ambruk.
"Fiona... Fiona membenciku, Wil, dia....." Ucapan Steven terhenti ketika Steven memuntahkan sesuatu pada kemeja Wilson sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri.
"Steve, bangun." Wilson menepuk pipi Steven berkali-kali saat melihat Steven sudah pingsan. "Sial, dia muntah darah lagi. Bangun brengsek, jangan membuatku takut," umpat Wilson dengan suara tinggi.
Dengan wajah panik, Wilson menoleh pada Erick. "Bantu aku mengangkatnya."
Mereka berdua membawa Steven ke rumah sakit Wilson. Sesampainya di sana, Steven langsung ditangani di IGD dan setelah selesai ditangani, dia dipindahkan ke ruang perawatan.
Ibu Steven saat ini sedang berdiri di depan ranjang anaknya. Dia menatap jengah pada Steven yang baru saja membuka matanya. "Kau mabuk lagi?"
__ADS_1
Steven melirik ibunya sekilas, bangun dari tidurnya lalu meninggikan punggung kepalanya agar dia bisa duduk setegan berbaring.
"Ma, aku ingin istirahat."
"Steven, apa kau sungguh ingin mati? Kau sudah tidak sayang nyawamu lagi? Bahkan jika kau mati, Fiona tidak akan pernah kembali lagi padamu, Steve. Dia sudah melupakanmu!" ucap Ibu Steven dengan suara tinggi.
Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menasehati anaknya yang sudah berkali-kali masuk rumah sakit setelah meminum alkohol dalam jumlah banyak.
"Mungkin saja dia akan datang ketika aku mati," ucap Steven spontan.
"STEVEN...! Jaga bicaramu! Jangan bicara yang tidak-tidak, apa kau sungguh ingin melihat mama menderita?"
Steven menghela napas. "Aku hanya bercanda Ma, aku tidak akan mati."
"Tidak bisakah kau melupakannya, Steve? Sadarlah, Fiona tidak akan pernah kembali lagi. Kau harus menjalani hidupmu seperti sebelum kau mengenalnya."
Steven menatap ibunya sejenak lalu berkata, "Aku ingin memperjuangkan Fiona sekali lagi, Ma. Tolong bantu aku menemukannya."
Ibu Steven menghela napas panjang, berusaha untuk tetap sabar menghadapi anaknya yang keras kepala. "Bagaimana jika dia tidak mau kembali lagi padamu setelah kau menemukannya? Mungkin saja, dia sudah bahagia, bahkan mungkin dia sudah menikah dengan orang lain."
Steven berpikir sejenak. "Aku akan melepaskannya jika dia memang tidak ingin kembali lagi padaku. Aku akan menerima perjodohan yang mama atur dengan Sonia."
Ibu Steven mengangguk setuju. "Baiklah. Mama akan membantumu, tapi ingat, jika dia tidak mau kembali padamu, maka kau harus melupakan Fiona dan segera menikah dengan Sonia."
"Baiklah. Aku setuju."
"Tok... Tok..."
Steven dan ibunya seketika menoleh. "Wilson, tolong kau nasehati Steven untuk berhenti minum, dia selalu saja mengabaikan peringatanku," ucap Ibu Steven ketika melihat Wilson berjalan masuk ke dalam ruangan Steven.
"Baik. Nanti akan saya nasehati."
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu."
Setelah melihat ibu Steven sudah keluar, Wilson langsung menoleh pada Steven. "Ini terakhir kalinya aku menolongmu. Jika kau masih tidak mau mendengarkan aku, aku tidak akan memberikanmu obat pereda rasa sakit, meskipun kau memintanya. Organ hatimu akan rusak parah jika kau terus-terusan minum alkohol dalam jumlah yang banyak. Kau tahu bukan, kalau kau sudah berkali-kali masuk rumah sakit karena hal ini," ucap Wilson dengan wajah serius.
"Bukankah aku bisa melakukan transplantasi jika hatiku rusak," jawab Steven seenaknya.
"Steve, bahkan kalau operasi transplantasi hati berhasil, kau harus meminum berbagai macam obat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi. Setidaknya, kau harus menjalankan 33 operasi jika ingin menambah masa hidupmu sampai 30 tahun ke depan. Itupun kalau donor yang kau terima cocok denganmu, jika tidak, maka akan berakhir dengan buruk, jadi jangan menganggap remeh penyakit ini."
"Iyaa... Iyaaa, aku tahu," potong Steven cepat, "lagi pula, hatiku belum rusak. Aku masih baik-baik saja."
"Kali ini hanya lambungmu yang terluka, tapi jika kau masih mengkonsumsi alkohol secara berlebihan, maka, akan meningkatkan resiko terkena sirosis hati, kanker hati hingga pankreatitis apalagi kau sudah beberapa kali muntah darah. Jadi, sebelum itu terjadi berhentilah minum alkohol. Jangan menyiksa dirimu sendiri demi wanita yang tidak mencintaimu."
Steven terdiam dengan wajah yang sulit di baca. "Pikirkan ibumu, kau adalah harapan terakhirnya. Ingat Steve, ini terakhir kalinya kau masuk rumah sakit. Aku sungguh tidak akan menolongmu jika ini terjadi lagi, maka dari itu, dengarkan aku."
Bersambung.....
__ADS_1