
"Kami baru berencana untuk menikah tahun ini," sambung Steven lagi sambil merapatkan tubuh Fiona padanya. Ucapan Steven langsung membuat Fiona melongo. "Apa kau ingin membelinya sayang untuk pernikahan kita nanti?" Fiona menoleh secepat kilat pada Steven dengan wajah bingung.
Steven terlihat tersenyum sambil menoleh pada Fiona dengan wajah tidak bersalah dan tanpa beban sedikit pun.
Terkadang kau tegas dan tidak bisa dibantah, terkadang dingin dan acuh. Kadang bersikap konyol. Kalau sedang marah mengerikan sampai aku takut padam, tapi kadang kau juga bersikap lembut dan sangat perhatian sehingga membuatku berpikir kalau kau mungkin menyukaiku.
Kenapa sikapmu sering kali berubah-ubah? Terkadang aku tidak mengerti dengan perubahan suasana hatimu yang begitu cepat.
"Kenapa kau diam saja, apa kau ingin model lainnya?" Steven mencoba menyadarkan lamunan Fiona.
"Haaaah...?? Iyaaa," jawab Fiona tanpa sadar. "Maksudku tidak, bukan itu...." Fiona terlihat linglung dan salah bicara.
Steven tersenyum tipis ketika melihat Fiona tampak salah tingkah. "Maafkan calon istriku, dia memang pemalu," ucap Steven pada pegawai tersebut. "Bungkuskan saja itu," ucap Steven enteng.
"Baik, Tuan," ucap wanita itu sambil mengangguk.
Fiona langsung menghentikan pegawai itu yang terlihat sudah mulai berbalik. "Tunggu, kami tidak akan membeli itu," kata Fiona cepat.
Fiona kemudian menoleh pada Steven. "Steve, jangan main-main. Kita ke sini bukan untuk membeli itu," ucap Fiona dengan suara sangat pelan.
"Bagaimana Tuan, apakah jadi?" Pegawai tersebut merasa bingung melihat perdebatan mereka berdua.
"Bungkus saja, jangan dengarkan calon istriku. Dia memang selalu begitu, terlihat malu-malu, tapi sebenarnya mau."
Pegawai wanita itu mengangguk dengan senyuman tipis lalu pergi.
"Steveee!" Fiona reflek memukul lengan Steven karena merasa malu dengan perkataannya.
Steven menunduk menatap Fiona. "Kau berani memukulku?"
Melihat wajah serius Steven seketika membuat Fiona menciut. "Maaf Steve, aku refleks tadi," sesal Fiona, "lagi pula, itu salahmu karena terus menggodaku dari tadi," lanjut Fiona lagi dengan suara pelan sambil menunduk.
"Aku hanya bertanya Fiona, kenapa kau selalu saja merasa terintimidasi olehku? Apa aku semenakutkan itu bagimu?"
Itu karena wajahmu. Wajahmu mengerikan kalau sedang serius, apalagi matamu itu sangat tajam.
Fiona mengangkat wajahnya menatap Steven. "Tidak, aku hanya merasa bersalah karena sudah memukulmu."
"Cepatlah pilih yang mana yang ingin kau beli sebelum aku membeli semua yang sudah kau lirik dan pegang tadi," ucap Steven dengan wajah serius.
"Baiklah, tapi kau jangan mengikutiku," pinta Fiona.
"Hhmmm," guman Steven. "Aku akan menunggu di luar, panggil aku jika kau sudah selesai."
"Iyaaa."
Steven melangkah mendekati Erick. "Rick, kau tunggu Fiona di kasir, jangan biarkan dia membayar sendiri dengan uangnya."
"Baik, Tuan."
Sebenarnya Erick tidak pernah masuk ke outlet pakaian dalam wanita hanya saja demi pekerjaan, mau tidak mau dia harus menjalankan perintah Steven.
Dia terlihat sedikit canggung ketika berada di dalam sementara Fiona sedang sibuk memilih tanpa tahu kalau Erick sudah berada di dalam menunggunya.
Ketika Fiona menuju kasir, dia dikejutkan oleh keberadaan Erick di sana. Awalnya Fiona akan membayar sendiri tapi Erick lebih dulu memberikan kartu pada kasir sehingga kasir langsung memproses pembayarannya.
Selesai membayar Fiona menghampiri Steven dan Doni yang terlihat sedang berdiri di depan outlet tersebut. "Steve, sudah selesai," ucap Fiona setelah berada di depan Steven.
Diam-diam Erick merasa kagum pada Fiona. Setidaknya ada orang yang bisa merubah sifat bosnya yang selama ini kaku dan tidak banyak bicara.
Hanya kau Nona yang mampu membuat tuan Steven menunggu. Selama ini mana ada yang berani membuatnya menunggu apalagi untuk hal sekecil ini. Padahal, dia bisa menyuruh orang lain untuk membelikannya untukmu.
"Apa masih ada yang ingin kau beli?" tanya Steven sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Fiona terlihat ragu. "Aku ingin membeli makeup dan keperluan untuk pribadiku."
"Baiklah."
Mereka berempat berjalan menuju outlet yang menjual kosmetik dengan brand yang terkenal yang berada di lantai paling bawah. Fiona langsung mengambil tanpa banyak berpikir. Dia tidak mau membuat Steven menunggu lama.
"Untuk keperluan pribadimu, biarkan Erick yang membelikannya nanti. Kita tidak punya waktu lagi karena ini sudah malam. Kita harus segera ke mansion orang tuaku."
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku mau ke toilet dulu."
"Hmmm, aku tunggu di loby."
"Iyaaa."
Dengan langkah cepat Fiona berjalan ke arah toilet. Setelah selesai, Fiona memoles wajahnya sedikit dengan makeup yang dia beli tadi agar terkesan segar dan fresh. Dia harus menunjukkan kesan bagus pada orang tua Steven.
Selesai mematut dirinya, Fiona berjalan keluar dari toilet. Baru saja berjalan beberapa langkah, ada yang memegang bahunya dari belakang sambil memanggil namanya. Refleks Fiona menoleh ke belakang dan terkejut ketika melihat orang tersebut.
"Rey, sedang apa kau di sini?" tanya Fiona ketika melihat Reynald tampak tersenyum dengan senyum manisnya membuat yang melihatnya bisa terpesona.
"Aku habis bertemu dengan rekan bisnis tadi. Kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Reynald.
"Aku habis membeli ini." Fiona menunjukkan kantong belanjaannya pada Reynald.
Reynald mangut-mangut. "Tadi aku ke kantormu, Cindy bilang kau sudah tidak masuk beberapa hari."
"Iyaa, aku sedang cuti beberapa hari ini, besok aku akan kembali bekerja," terang Fiona.
"Apa semua baik-baik saja? Atau kau sedang ada masalah?" tanya Reynald sambil menatap dalam mata Fiona.
Tidak biasanya Fiona tidak bekerja selama beberapa hari. Reynald sangat tahu kalau Fiona adalah wanita pekerja keras dan tidak suka membuang waktu untuk hal yang tidak penting. Pasti ada hal yang sudah terjadi sehingga membuat Fiona tiba-tiba cuti.
"Iya, semuanya baik-baik saja. Aku hanya ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan, Rey."
Reynald menatap Fiona dengan tatapan menyelidik. "Benarkah??"
"Iyaa benar, semua baik-baik saja."
"Beritahu aku kalau kau sedang ada masalah, mungkin saja aku bisa membantumu."
Fiona tersenyum sambil mengangguk. "Iyaaa."
"Lusa ada peresmian peluncuran produk baru perusahaanku dan malamnya ada pesta yang diadakan oleh komunitas pengusaha negeri. Apa kau mau datang bersamaku?"
Reynald sangat berharap Fiona bisa datang bersamanya. Selama ini, dia selalu datang sendirian tanpa membawa pasangan.
"Baiklah." Setelah menimang perkataan Reynald Fiona akhirnya memutuskan untuk ikut bersama dengan Reynald. Kedepannya, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Jika, dia mengenal beberapa dari mereka itu akan sangat membantunya.
Reynald tersenyum senang. "Aku akan menjemputmu lusa."
"Tidak perlu, kita bertemu dikantormu saja setelah itu kita pergi bersama," usul Fiona.
"Baiklah."
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Reynald mengangguk sambil terus menatap kepergian Fiona.
Fiona mempercepat langkah kakinya menuju loby. Dia berpikir pasti sudah menunggunya dari tadi. Dia takut Steven akan marah karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama.
Benar saja, sesampainya di loby, Fiona melihat wajah Steven berubah menjadi dingin. Tidak ada senyum sedikit pun di wajahnya seperti yang sempat dia tunjukkan padanya tadi.
"Steve, maaf karena sudah membuatmu menunggu lama." Fiona berbicara dengan sangat pelan sambil mendekati Steven.
"Apa saja yang kau lakukan di dalam? Apa kau lupa kalau aku sedang menunggumu? Apa kau pikir waktuku tidak berharga sehingga kau dengan mudahnya membuang-buang waktuku di sini?"
Kata-kata Steven menusuk hatinya. Fiona merasa Steven tidak seharusnya berkata seperti itu padanya, meskipun dia memang salah karena sudah membuat Steven menunggu lama.
"Maaf Steve, tadi aku bertemu dengan...."
"Aku tidak peduli kau bertemu dengan siapa, tapi kau seharusnya tidak lupa kalau aku sudah menunggumu dari tadi." Ada sedikit emosi dalam nada bicara Steven.
"Maaf Steve."
"Masuklah ke mobil." Steven berjalan mendahului Fiona menuju mobilnya karena Doni dan Erick sudah berada di mobil mereka masing-masing sedari tadi.
Fiona berjalan mengikuti Steven menuju mobilnya. Selama dalam perjalanan, Steven hanya diam sambil duduk bersandar dan memejamkan matanya.
Fiona terlihat melirik pada Steven beberapa kali karena merasa suasana menjadi sunyi dan tegang. "Sudah sampai, Tuan."
__ADS_1
Steven lalu membuka matanya. "Ayoo turun," ucap Steven sambil membuka pintu mobilnya, menyadarkan Fiona yang terlihat sedang menatap mansion orang tua Steven yang sangat luas dan megah.
"Iyaaa." Seketika Fiona merasa tidak percaya diri. Ternyata Steven memang lah bukan berasal dari keluarga sembarangan.
Dari pintu masuk gerbang, Fiona bisa melihat banyak pengawal yang berjaga di mansion orang tuanya.
Steven menunggu Fiona yanh terlihat berjalan sambil menunduk. "Tegakkan kepalamu Fiona, kenapa kau suka sekali menunduk?"
Fiona lamgsung mengangkat kepalanya. "Steve, apa lebih baik aku tidak ikut masuk denganmu? Aku takut ibumu...." Seketika nyali Fiona menciut. Dia takut kalau ibu Steven tidak menyukai kedatangannya.
"Fiona, cepat atau lambat kau juga harus bertemu dengan ibuku. Lagi pula, apa yang kau takutkan? Ibuku juga manusia, Fio."
Aku juga tahu ibumu manusia. Mudah bagimu untuk mengatakan itu padaku karena itu adalah ibumu. Aku merasa lutut seketika lemas dan tidak bisa melangkah. Tiba-tiba aku juga merasa perutku jadi mulas.
"Aku hanya takut kalau ibumu tidak suka dengan kedatanganku."
"Jangan terlalu banyak berpikir." Steven langsung menarik tangan Fiona masuk. Sementara Erick dan Doni menunggu di ruang tamu, seperti biasanya.
Fiona hanya diam tanpa melakukan protes lagi pada Steven. Mereka tiba di ruang makan tapi tidak terlihat ada orang. "Duduklah." Steven menarik kursi untuk Fiona lalu duduk di sampingnya.
"Kenapa sepi sekali?" tanya Fiona sambil mengedarkan pandanganya ke sekeliling ruangan itu.
"Di rumah ini hanya ada mama dan aku, tidak ada siapa-siapa lagi di sini."
Steven lalu memanggil salah satu pelayan di rumahnya. "Bibi Nay, bilang pada ibuku kalau aku sudah datang," ucap Steven pada seorang wanita yang berusia sekitar 40-an.
"Baik, Tuan." Bibi Nay lalu berjalan meninggalkan ruang makan.
"Steve, apa kau tidak memiliki saudara lagi?" tanya Fiona setelah kepergian bibi Nay.
"Tidak ada, aku anak tunggal. Sebenarnya aku memiliki saudara angkat, tapi dia berada di luar negeri."
"Kau sudah datang?" Seorang wanita berumur sekitar 55 tahun berjalan masuk ke ruang makan. Cara berjalan dan duduknya terlihat sangat anggun dan berkelas.
"Iyaa, Ma," jawab Steven.
Ibu Steven dengan gerakan mata yang pelan menatap ke arah Fiona dan langsung terkejut saat melihat Fiona. Ibu Steven menatap Fiona cukup lama tanpa mengatakan apapun.
Sementara jantung Fiona berdegup kencang dan wajahnya memanas ketika menyadari tatapan ibu Steven yang terlihat menatapnya tanpa berkedip.
Steven sebenarnya menyadari tatapan tidak biasa ibunya pada Fiona, hanya saja dia diam dan menunggu ibunya membuka suara.
"Siapa gadis yang kau bawa ke sini?"
"Namanya Fiona, Ma."
"Jadi, ini yang namanya Fiona?"
"Saya Fiona, Nyonya," ucap Fiona memperkenalkan diri.
"Panggil saja dengan tante Yesinta."
"Baik," jawab Fiona sopan.
Yesinta masih terus menatapnya. "Fiona, apa kau memiliki saudara perempuan?"
Pertanyaan ibu Steven seketika membuat Fiona dan Steven bingung sekaligus penasaran. "Iyaa Tante, saya memiliki seorang kakak perempuan."
"Bukan itu maksudku, yang aku tanyakan adalah apa kau memiliki saudara kembar?"
"Tidak ada, Tante," jawab Fiona dengan sopan.
"Benarkah?" tanya Yesinta lagi.
"Iyaa, Tante."
"Memangnya ada apa, Ma? Kenapa Mama bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa." Wajah Ibu Steven berubah menjadi acuh.
Bersambung....
__ADS_1