
Setelah di rawat selama 3 hari di rumah sakit, Steve langsung meminta Erick untuk mengurus kepulangannya. Ketika Steven sedang menunggu Erick mengurus prosedur keluar dari rumah sakit, seseorang wanita masuk ke dalam ruanganya.
"Steve, bagaimana keadaanmu?" Seoang wanita berambut panjang, hidung mancung dan bibir mungil berjalan ke arah Steven fengan senyuman manisnya.
Mendengar suara yang familiar, Steven seketika mendongakkan kepalanya. "Baik-baik saja." Steven meletakkan ponsel di ranjang lalu kembali menatap wanita yang da di depannya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya wanita itu lembut.
"Tidak, duduklah," jawab Steven sambil mengarahkan tangannya pada kursi yang berada di sisi ranjang sebelah kanan. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik." Wanita itu duduk di kursi dengan anggun, "ibumu bilang kau akan keluar dari rumah sakit hari ini."
"Iyaa."
Wanita itu kembali tersenyum. "Steve, mengenai perjodohan kita, bukan aku yang...."
Sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya, Steven sudah terlebih dahulu memotongngnya. "Aku tahu, itu rencana ibuku dan orang tuamu."
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. "Aku hanya tidak ingin kau salah paham padaku," ucap Wanita itu lembut.
"Sonia, aku hanya ingin meluruskan sesuatu." Steven berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "sebenarnya, aku sudah mencintai wanita lain, aku masih belum bisa melupakannya." Steven sengaja mengatakan hal itu agar Sonia tidak terlalu berharap padanya.
"Aku tahu, ibumu sudah menceritakannya padaku."
Steven menatap Sonia dengan ekspresi tidak terbaca. "Apa kau akan mundur dari perjodohan ini?"
Sonia menatap ke bawah sejenak sambil merapikan rambutnya lalu tersenyum pada Steven. "Jika kau tidak menginginkan perjodohan ini, maka kau bisa membatalkannya, tapi aku tidak bisa menolak kemauan orang tuaku. Aku akan menghormati apapun keputusanmu," jawab Sonia dengan tenang.
"Sonia, meskipun pada akhirnya kita bisa menikah, tidak akan ada cinta untukmu. Apa kau tidak keberatan dengan hal itu?" tanya Steven dengan wajah serius.
"Aku tidak keberatan dengan hal itu. Bukankah hal itu sudah biasa terjadi di kalangan kita? Kita tidak bisa menetukan pasangan hidup kita sendiri dikarenakan status yang kita sandang. Aku tahu dari awal pernikahan kita hanyalah pernikahan dengan latar belakang bisnis, seperti pernikahan orang tuaku dan orang tuamu dulu yang menikah tanpa cinta, tapi pada akhirnya mereka bisa hidup bahagia hingga kini. Aku hanya bisa menerima pengaturan orang tuaku."
Steven menghela napas halus mendengar jawaban dari Sonia. Wanita yang dikenalnya sejak kecil itu memang memiliki kepribadian yang baik dan tenang. Dia tidak seperti Sera yang menggebu-gebu jika menginginkan sesuatu.
"Aku hanya takut kau akan terluka nantinya."
"Steve, aku akui kalau aku memang menyukaimu, tapi aku juga tidak mau memaksamu jika kau tidak mau menikah denganku. Aku wanita, aku hanya bisa menunggu. Seandainya kita tidak ditakdirkan untuk menikah, itu berarti kita tidak berjodoh. Aku akan menerima dengan lapang dada. Lagi pula, hidupku tidak hanya berpusat seputar masalah percintaan saja. Banyak hal yang bisa membuatku bahagia selain itu. Aku memiliki anak-anak yang mencintaiku itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Itulah yang disukai oleh Steven ada Sonia. Dia memiliki pikiran yang terbuka dan tidak sempit. Dia selalu bisa menyikapinya dengan bijak meskipun tidak sesuai dengan keinginannya. Sonia sendiri selain menjadi pewaris tunggal dari perusahaan ayahnya, dia juga sebagi pemilik dari yayasan yang dia dirikan dari hasil jerih payahnya sendiri.
__ADS_1
Dia memang mencintai anak kecil dan jiwa sosial yang tinggi sehingga hatinya tergerak untuk mendirikan sebuah panti asuhan untuk anak-anak terlantar dan tidak mampu. Selain bekerja, waktunya dia habiskan dengan anak-anak panti asuhan. Tidak jarang dia turun langsung ke jalanan untuk mencari anak yang terlantar dan butuh tempat bernaung.
Dia juga menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan kecil yang membutuhkan sokongan dana. Dia juga mendirikan sekolah-sekolah yang berada di pelosok negeri secara gratis.
Sosok Sonia memang sangat sempurna dan menjadi idaman banyak pria dari berbagai kalangan. Sayangnya, belum ada pria yang mampu menaklukkan hatinya selain Steven. Selain itu, karena kekayaan dan status keluarganya yang tinggi sehingga membuat pria sulit untuk mendekatinya.
"Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu. Setidaknya kau sudah tahu tentang perasaanku. Aku akan memperjuangkan cintaku sekali lagi, jika seandainya dia tidak mau kembali padaku, aku akan menerima perjodohan ini. Aku akan langsung menemui orang tuamu asalkan kau tidak keberatan jika aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu."
Senyum manis tersungging di wajah cantik Sonia. "Aku tidak keberatan dengan hal itu. Aku akan menunggu jawaban darimu."
Steven mengangguk. "Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Sonia sambil berdiri.
"Hati-hati."
Suara pintu terbuka ketika Sonia akan pulang. "Sonia, apa maksud dari berita yang ada di media? Kau ingin menikah dengan Steven?" Sera datang dengan wajah yang memerah karena marah.
"Sera, itu bukan kemauanku," jawab Sonia lembut.
"Sera, jangan membuat keributan di sini," sela Steven ketika melihat tatapan berapi-api dari Sera.
"Steve, bukankah kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau malah memilih dia dari pada aku? Dulu, saat ada Fiona, aku masih bisa mengerti kenapa kau menolakku, tapi saat ini Fiona sudah tidak ada, tapi kenapa kau justru malah ingin menikah dengan Sonia? Aku lebih dulu berada di sisimu, tidak bisakah kau melihat pengorbananku yang sudah aku lakukn padamu? Dia baru saja datang setelah begitu lama pergi, tapi dengan mudahnya dia ingin mengambilmu dariku."
Sonia memang sudah lama berada di luar negeri, dia menempuh pendidikan di luar negeri semenjak SMA dan setelah lulus kuliah, dia mengambil alih perusahaan ayahnya yang ada di luar negeri sama seperti Steven. Dia baru saja pulang dua tahun lalu ke negaranya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau berjanji untuk membatalkan perjodohan kalian." Sera menoleh pada Sonia, "Sonia, jauhi Steven, dia adalah milikku, jangan berani merebutnya dariku. Aku tidak akan tinggal diam kalau sampai kau tidak mau melepaskan Steven," ancam Sera.
"Seraa...! Jangan memancing emosiku, pergilah. Jangan berani-berani kau menyentuh Sonia. Aku bukanlah Steven yang dulu yang bisa memaafkanmu jika kau melakukan kesalahan. Kali ini, aku akan menghukummu jika kau melakukan sesuatu pada Sonia."
Mendengar hal itu, Sera semakin geram dengan Sonia, sudah susah payah dia menyingkirkan Fiona, tapi sekarang justru orang lain datang dengan seenaknya dan ingin merebut Steven darinya.
"Steve, kau membela wanita ****** ini!"
"Seraa... jaga ucapanmu! Minta maaf pada Sonia," ucap Steven dengan suara tinggi.
"Aku tidak mau!"
Sonia menghembuskan napas halus dari hidungnya. "Steve, sudahlah. Aku tidak apa-apa." Sonia beralih menatap Sera, "sejujurnya aku tidak mau ikut campur masalahmu dengan Steven. Aku hanya ingin meluruskan sesuatu. Steven bukankanlah kekasihmu, jadi aku tidak merebut siapapun darimu. Lagi pula, aku tidak pernah memaksa Steven untuk menikahiku, jadi jangan menuduhku sembarangan."
"Sonia, lebih baik kau pulang. Jangan pedulikan Sera."
__ADS_1
Sonia mengngguk. "Aku pulang dulu." Setelah berpamitan Sonia langsung berjalan ke arah pintu meninggalkan Sera yang menatap penuh kebencian padanya.
"Sera, pulanglah. Aku sedang tidak ingin di ganggu." Steven kembali meriah ponselnya.
Sera berjalan mendekati Steven. "Steve, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa?"
"Apa benar kau yang membuat papaku bangrut?" tanya Sera.
"Yaaa."
"Steve, kenapa kau tega sekali melakukan pada keluargaku? Apa kau tidak tahu karena ulahmu itu, ayahku saat ini masuk rumah sakit karena serangan jantung. Apa kau memang berniat ingin membunuh ayahku!!" teriak Sera dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh amarah.
"Itu adalah salahnya sendiri karena sudah melindungi kesalahanmu," jawab Steven acuh.
"Apa maksudmu? Memang apa yang sudah aku lakukan sehingga kau berbuat seperti itu?"
Steven meletakkan ponselnya lalu menatap tajam pada Sera. "Aku sudah tahu kalau kau yang menculik Fiona dan menyiksanya sebelum kau menyerahkan pada James. Aku hanya meminta ayahmu untuk menyerahkanmu pada polisi, tapi dia malah melindungi kejahatanmu. Aku hanya memberikannuy peringatan kecil. Aku masih mengingat semua kebaikanmu selama ini, maka dari itu, aku masih meminta ayahmu baik-baik agar membujukmu untuk meyerahkan diri tapi dia tidak mau mendegarkan aku."
Mata Sera membelalak dan tubuhnya menegang diiringi debaran jantung yang berpacu dengan cepat. "Jadi, kau sudah tahu kalau aku yang menyuruh orang untuk menculik Fiona?"
"Yaaa, lebih baik kau serahkan segera dirimu, ini adalah kebaikan terakhir yang bisa kulakukan untukmu karena mengingat kebaikanmu selama ini. Jika dalam 2 hari kau tidak menyerahkan dirimu ke polisi, bukan hanya dirimu yang akan menanggungnya, tapi keluargamu juga. Akan kupastikan keluarga jatuh miskin dan tidak memiliki apapun lagi dan akan kubuat keluargamu tidak bisa lagi tinggal di negara ini," ancam Steven.
Sera berlari ke arah Steven lalu berlutut di bawah ranjangnya. "Aku mohon Steve, maafkan aku. Aku mengaku salah, tolong jangan mengganggu keluargaku. Aku menyesal Steve, tolong maafkan aku," mohon Sera sambil menyatukan dengan telapak tangannya di depan dada dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
"Serakan dirimu, hanya itu yang bisa menyelamatkan keluargamu," ucap Steven dingin.
"Tapi Steve, aku tidak mau di penjara."
"Kalau kau tidak mau, maka, aku yang terpaksa akan menyeretmu. Akan kupastikan kau tidak akan bisa keluar dari sana jika aku yang melakukannya," ucap Steven sambil menunduk ke bawah menatap Sera yang sedang memohon sambil berlutut.
"Aku akan melakukan apapun yang kau minta selain masuk penjara. Aku mohon Steve, maafkan aku sekali ini saja. Ingatlah bagaimana selama ini aku memperlalukan ibu. Tolong maafkan sekali ini saja. Aku janji tidak akan melalukannya lagi. Aku mohon Steve," ucap Sera sambil meraih tangan Steven tapi langsung ditepis olehnya.
Ketika mendengar suara pintu terbuka, Steven langsung menoleh. "Rick, seret Sera pergi. Sepertinya dia tidak bisa diajak bicara baik-baik. Langsung serahkan dia pada polisi beserta bukti-bukti yang ada," perintah Steven.
Erick memgangguk lalu berjalan ke arah Sera. "Steve, tolong ampuni aku sekali lagi Steve aku mohon jangan penjarakan aku. Aku minta maaf Steve... Steveee..!!!" teriak Sera ketika Erick menyeret paksa dirinya.
"Aku mohoooon maafkan aku, Steve... Steveee..!!!"
__ADS_1
Steven tidak memperdulikan teriakan Sera yang memohon ampun padanya dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
Bersambung....