Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Kesalahpahaman


__ADS_3

"Kenapa buru-buru sekali? Kau baru saja datang." Erland merasa aneh dengan sikap Steven.


"Erick menungguku diluar."


Eland memicingkan matanya. "Benarkah Erick yang menunggumu di luar?" tanya Erick dengan tatapan penuh selidik. "Atau jangan-jangan Sera yang sebenarnya sedang menunggumu?" tebak Erland.


Steven menatap jengah pada Erland. "Jangan bicara omong kosong, aku pergi dulu. Aku akan menghubungimu nanti." Steven langsung berjalan meninggalkan mereka bertiga tanpa menoleh sedikit pun pada Fiona.


Fiona terus menatap punggung Steven yang terlihat sudah menjauh. "Kau kenapa Fio? Apa kau sakit?" tanya Leon ketika melihat wajah Fiona yang terlihat pucat.


"Tidak." Fiona menggeleng lalu menatap ke Leon. "Kak, aku mau ke toliet sebentar," ijin Fiona.


"Toiletnya lurus saja, belok kiri setelah itu tinggal lurus sebelah kanan," jelas Erland pada Fiona.


"Terima kasih," ucap Fiona pada Erland.


Fiona berjalan dengan langkah cepat. Bukan ke arah yang diarahkan oleh Erland, tapi sebaliknya, dia berjalan ke arah pintu keluar.


Fiona menoleh kanan-kiri untuk mencari sosok Steven. Dia memperceppat langkahnya ketika melihat Steven terlihat sedang berjalan menuju parkiran. "Steve tunggu." Steven terlihat terus berjalan.


"Steve," teriak Fiona dengan suara keras. Steven menghentikan langkahnya tepat di samping mobilnya lalu menoleh ke belakang dan melihat Fiona sedang berlari kecil untuk menghampirinya.


"Steve, tunggu sebentar. Aku ingin bicara." Fiona berdiri tepat di depan Steven. Napasnya tersengal-sengal karena mengejar Steven, setelah mengatur napasnya, sebelum berbicara.


Steven mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum kembali menatap Fiona. "Apa kekasihmu tahu kalau kau menemuiku?"


Fiona terdiam sesaat. "Tidak," jawab Fiona dengan suara pelan, "ada yang ingin aku bicarakan padamu." Meskipun Steven bersikap dingin padanya, Fiona tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


Steven menyunggingkan sudut bibirnya. "Maaf Nona Fiona, aku masih ada urusan penting jadi tidak bisa bicara dengan anda."


Fiona terlihat kecewa mendengar jawaban dari Steven. "Steve, apa kau masih marah padaku dengan kejadian dulu?" tanya Fiona dengan wajah sedih.


"Marah?" tanya Steven dengan alis terangkat, "maksudmu aku marah ketika kau menolakku dan lebih memilih pria lain?"


"Steve, aku bisa...."


Sebelum Fiona menyelesaikan perkataannya, Steven langsung memotong. "Dengar Fiona, kita sudah tidak memiliki urursan lagi. Aku tidak peduli siapa kekasihmu dan dengan siapa kau berhubungan. Itu sama sekali tidak ada urusannya denganku."


Steven berjalan menuju pintu belakang mobilnya. "Masuklah ke dalam, mungkin saja kekasihmu sedang mencarimu."


Fiona meremas kedua tangannya ketika melihat Steven sudah masuk mobil. "Steve," panggil Fiona dengan suara bergetar ketika mobil Steven sudah melaju meninggalkannya sendirian di situ.


Air mata yang sedari tadi dia tahan lansung menetes. Fiona mengusap air matanya, menunduk lalu menghela napas berat. Setelah merasa tenang, Fiona kembali masuk ke dalam.


"Kau dari mana saja?" tanya Leon dengan wajah cemas ketika melihat Fiona yang berjalan ke arahnya.


"Maaf Kak, sepertinya aku tidak bisa menemani Kakak lebih lama lagi di sini," ucap Fiona dengan wajah menyesal.


Leon menunduk menatap Fiona. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengajakmu ke sini. Aku tahu kau tidak suka tempat seperti ini."

__ADS_1


Fiona menggeleng cepat. "Bukan seperti itu Kak, aku hanya merasa tidak enak badan."


Leon melepaskan jasnya lalu memakaikan pada Fiona. "Kita pulang saja, aku juga sudah mengobrol cukup lama dengan Erland."


Fiona mengangguk dan berjalan bersama dengan Leon ke arah pintu keluar.


Sesampainya di rumah, Leon langsung pulang setelah melihat Fiona masuk ke dalam rumah. "Kenapa kau cepat sekali pulang dan di mana Leon?" tanya ibu Fiona ketika melihat anaknya baru saja pulang padahal dia belum lama pergi.


Fiona menghentikan langkah kakinya, menatap ibunya sebentar. "Kak Leon sudah pulang, aku ke kamar dulu, Ma." Fiona langsung berjalan menuju kamarnya agar ibunya tidak banyak bertanya padanya.


Sarah menatap heran pada Fiona. "Ada apa lagi dengan anak itu? Apa dia bertengkar dengan Leon?" monolog ibu Fiona.


******


Fiona tidak bisa tidur nyenyak semalam. Bayangan Steven terus berputar di kepalanya. Sepulang bekerja, dia berniat untuk menemui Steven. Kemarin, dia belum sempat menjelaskan pada Steven tapi Steven sudah pergi meninggalkannya.


Setelah Fiona selesai bersiap, dia berjalan menuju ruang makan. Fiona terlihat lesu ketika dia duduk di meja makan. "Fio, kau kenapa?" tanya Cindy ketika melihat adiknya hanya diam sambil mengunyah roti di mulutnya. Ibunya juga terlihat tidak membuka obrolan apapun dengan Fiona meskipun mereka berada di ruangan yang sama.


Fiona meneguk segelas susu sebelum menjawab pertanyaan kakaknya. "Tidak apa-apa, Kak. Aku sudah selasi sarapan. Aku berangkat duluan."


Sarah terlihat hanya menatap kepergian Fiona dengan wajah acuh. "Mungkin dia habis bertengkar dengan Leon semalam," jawab Sarah asal.


"Bertengkar?"


Cindy terlihat meragukan ucapan ibunya. Pasalnya dia mengenal kepribadian Leon. Meskipun terkadang Fiona bisa terpancing emosinya dengan hal-hal tertentu, tetapi berbeda dengan Leon. Dia selalu bisa mengendalikan dirinya. Itulah sababnya Cindy tidak langsung percaya dengan ibunya.


Sarah mengangguk. "Lebih baik kau sarapan cepat lalu berangkat kerja. Untuk apa kau memusingkannya. Dia sudah besar, bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."


Sarah menyesap tehnya lalu menatap anaknya. "Bukankah dulu, kau juga sering bertengkar dengannya? Aku tahu kau juga tidak suka dengannya," ujar Sarah acuh.


"Ma, aku memang sering bertengkar denganya tapi bukan berarti aku membencinya. Aku memang sempat iri padaya karena dari dulu papa selalu lebih memperhatikannya dari pada aku, tapi setelah aku pikir-pikir, mungkin karena Mama tidak pernah bersikap baik padanya, sebab itulah papa lebih memperhatikannya dari pada aku."


Cindy akui dia sempat marah dengan ayahnya karena terlihat lebih menyayangi Fiona. Semua yang diinginkan Fiona selalu dipenuhi oleh ayahnya, meskipun tanpa Fiona minta ayahnya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Itulah yang membuat Cindy merasa marah dan iri pada Fiona dan sering kali mereka bertengkar karena hal itu.


"Ayahmu memang lebih menyayanginya dari pada kau. Itu karena Fiona ana...." Cindy mengerutkan kening ketika mendengar ibunya menghentikan ucapannya. "Karena dia memang anak yang manja," sambung Lydia setelah sempat terdiam sesaat.


"Ma, sudahlah. Jangan membahas yang lalu. Berhenti bersikap sinis dan acuh padanya, bagaimana pun Fiona juga anak Mama." Cindy terlihat mengucah rotinya setelah menyelesaikan ucapannya.


"Kau tidak akan bersikap seperti ini kalau kau tahu yang sebenarnya." Sarah terlihat tidak senang dengan perkataan anaknya.


"Maksud Mama?" tanya Cindy dengan wajah penasaran.


Sarah berdiri lalu menatap anaknya. "Selesaikan sarapanmu lalu berangkatlah. Jangan sampai kau menyesal karena tidak memiliki apapun nantinya."


Dahi Cindy mengerut mendengar perkataan ibunya. Sebenarnya dia masih ingin bertanya pada ibunya maksud dari perkataanya, hanya saja ketika melihat jam yang ada di tangannya. Sepertinya dia tidak memiliki waktu lagi.


******


Sore harinya Fiona berniat untuk menemui Steven di mansionnya, tetapi dia batalkan karena Leon mengajaknya bertemu tidak jauh dari kantornya. Fiona bergegas menuju lantai bawah ketika mengetahui Leon sudah menunggunya di bawah.

__ADS_1


"Apa aku membuat Kakak sudah menunggu lama?" tanya Fiona ketika melihat Leon sedang bersandar di mobilnya. "Tidak," jawab Leon sambil menggelengkan kepalanya.


Leon membuka pintu untuk Fiona. "Masuklah." Fiona tersenyum sambil mengangguk. Mobil melaju setelah Leon masuk ke dalam mobil.


Leon sengaja memilih restoran dekat dengan kantor Fiona agar tidak memakan waktu yang lama dalam perjalanan. Ketika mereka baru saja memasuki restoran, Fiona tidak sengaja melihat Steven sedang berbicara dengan Erick dan seorang wanita.


Wanita itu adalah wanita yang pernah dilihat Fiona 6 bulan lalu ketika dia tidak sengaja melihat Steven di salah satu restoran saat dia sedang bertemu dengan Reynald.


Fiona terus menatap ke arah Steven dan saat itu secara tidak sengaja Steven juga sedang menoleh ke arahnya. Mereka bertatapan sejenak lalu Steven mengarahkan pandangannya ke pada wanita di depannya.


Erick tentu saja menyadari kehadiran Fiona ketika melihat arah pandangan Steven tadi, tapi dia tidak ingin berkomentar apapun takut bosnya akan marah padanya apalagi setelah melihat Fiona datang bersama dengan seorang pria.


Leon menuntun Fiona untuk duduk di dekat jendela. "Kau mau pesan apa?" tanya Leon sambil melihat buku menu.


"Apa saja."


Leon mengangguk lalu memesan makanan untuk mereka.


Fiona kembali menatap Steven yang terlihat juga sedang menatapnya. Mereka bertatapan sejenak lalu Steven mengalihkan pandangannya. Leon yang mengikuti arah pandangan Fiona dan langsung mengerutkan kening.


"Bukankah itu Steven, orang yang dikenalkan Erland semalam?"


Fiona langsung mengalihkan pandangannya pada Leon. "Iya," jawab Fiona singkat


Leon meletakkan kedua tangannya dia atas meja lalu memajukan tubuhnya menatap serius ke arah Fiona. "Apa kau sudah mengenal Steven sebelumnya?"


Melihat tatapan Fiona yang tidak biasa dan sikap tidak wajar dari Steven semalam membuat Leon berpikir kalau mereka sebenarnya sudah saling mengenal.


"Iyaaa," jawab Fiona dengan jujur sambil menunduk, "sebenarnya mansion yang pernah aku bilang milik pamanku sebenarnya adalah milik Steven," aku Fiona. "Aku tinggal di sana beberapa hari setelah kematian ayahku."


Fiona lalu menceritakan semuanya pada Leon. Tidak ada gunanya dia menutupi hal itu pada Leon. Dia sudah tidak ingin lagi menutupi apapun dari Leon karena pada akhirnya Leon pasti akan mengetahui kebenarannya.


"Kenapa kau tidak menghubungi saat itu? Kau bisa tinggal di rumahku dan Jesy dari pada harus tinggal bersamanya. Apalagi kau baru mengenalnya dan tidak tahu apakah dia orang baik. Bagaimana bisa kau tinggal berdua saja bersamanya dalam satu atap?"


Baru kali ini, Leon menunjukkan gejolak emosi dari nada bicara. Dia terbiasa tenang tapi kali ini dia seolah tidak bisa mengtrol ucapannya. Meskipun Leon tidak berbicara dengan nada tinggi, tapi Fiona bisa tahu kalau Leon sedang marah padanya.


"Kak, saat itu aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih dan juga tidak mau merepotkanmu dan Jesy. Aku hanya ingin menenangkan diriku saja. Lagi pula, Steven menjagaku dengan baik dan sudah berkali-kali menolongku. Aku hanya menghargai ketulusannya," terang Fiona.


Leon menghela napas. "Kau lebih memilih tinggal bersama dengan orang asing dari pada aku dan Jesy? Apa kau tidak menganggap kami sebagai orang terdekatmu?"


"Maaf Kak, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya...." Fiona menghela napas. Dia memilih tidak melanjutkan ucapanya karena dia pikir dia salah dan tidak ada gunanya dia membela diri.


"Apa ibumu tahu mengenai hal ini?"


"Iyaaa," jawab Fiona sambil mengangguk.


Leon menatap serius pada Fiona. "Jadi, kau berniat untuk memperbaiki hubunganmu lagi dengan Steven?"


"Aku hanya ingin menjelaskan kesalahpahaman antara kami. Aku tidak mengharapakan yang lain. Lagi pula, sepertinya dia membenciku." Ada nada kekecewaan dalam ucapan Fiona.

__ADS_1


"Apakah ini alasannya kau memintaku berpura-pura untuk menjadi kekasihmu di depan ibumu karena kau menunggunya kembali dan berniat untuk menikah dengannya?"


Bersambung...


__ADS_2