
Dokter Wilson mengarahkan Steven, Fiona dan Erick menuju ruangan Doni setelah Fiona selesai menemui dokter Irfan. "Ganti dokternya, carikan dokter wanita," ucap Steven sesaat setelah keluar dari ruangan dokter Irfan.
Wilson seketika menoleh pada Steven. "Kenapa?"
Steven tampak acuh. "Aku tidak suka dokter pria yang menangani Fiona."
Wilson mendesis. "Jangan terlalu posesif, nanti kakak ipar bisa ilfeel padamu."
Fiona tersenyum kaku. Dia merasa malu mendengar permintaan dari Steven. Bagaimana pun menurutnya Steven terlalu berlebihan. "Steve, biarkan dokter Irfan saja, aku merasa nyaman dengannya."
Steven menghentikan langkahnya dengan raut wajah kesal dia menatap Fiona. "Kau menyukainya?"
Erick dan Wilson saling melirik.
Fiona menarik lengan Steven untuk berjalan bersamanya mendahului Erick dan Wilson. Dia tidak ingin berdebat di depan Erick dan Wilson karena merasa malu.
"Tidak Steve, mana mungkin aku menyukai dokter Irfan. Aku hanya merasa nyaman ditangani olehnya, dia membuatku rileks."
Steven yang diseret oleh Fiona masih nampak tidak percaya dengan ucapan Fiona. "Fiona, kau tahu bukan kalau aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain."
Wilson hanya menggelengkan kepala, sementara Erick nampak sudah mulai terbiasa melihat tingkah bosnya.
"Iyaa, aku tahu. Dia itu dokterku Steve. Lagi pula, dia tidak mungkin tertarik padaku."
"Kenapa kau begitu yakin kalau tidak mungkin tertarik padamu?"
"Itu karena....."
Steven langsung memotong ucapan Fiona. "Semua mungkin saja terjadi apalagi kalau kalian sering bertemu nanti. Aku saja langsung tertarik padamu saat pertama kali melihatmu."
Kau saja yang buta karena menyukaiku. padahal, sudah jelas Sera lebih cantik dan lebih unggul dariku.
Fiona berhenti tepat di depan ruangan Doni. "Benarkah kau menyukaiku saat pertama kali bertemu?" tanya Fiona dengan wajah cerah dan mata berbinar.
"Hhhmmmm," gumam Steven sambil menganguk.
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti." Fiona sengaja berpura-pura tidak tahu padahal dia sudah tahu maksud dari Steven.
Steven menunduk lalu menangkup wajah Fiona. "Kalau aku tidak menyukaimu, mana mungkin aku begitu peduli padamu ketika di rumah sakit waktu itu."
Sebenarnya Steven juga baru menyadari kalau tindakannya yang dahulu adalah karena dia mencintai Fiona.
Fiona langsung tersenyum bahagia seraya mempererat pegangannya di lengan Steven. Hatinya sedang berbunga-bunga setelah mendengar pengakuan Steven.
Bagaimana tidak, dia baru tahu fakta bahwa Steven ternyata sudah menyukainya sejak lama. Bahkan sebelum dia menyadari perasaan sukanya pada Steven.
"Apa kalian sengaja memperlihatkan kemesraan kalian pada kaum jomblo seperti kami agar kami iri?" Wilson nampak tersenyum kecut sembari melewati Steven dan Fiona, masuk ke dalam ruangan Doni.
__ADS_1
Steven menoleh pada Wilson dengan enggan seraya menjauhkan tangannya dari wajah Fiona. "Itu salahmu sendiri, siapa suruh kau tidak memiliki kekasih," ucap Steven dengan wajah acuh sambil menyusul Wilson.
Sesampainya di dalam, mereka mengelilingi ranjang pasien Doni. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa ada yang tidak nyaman?" Steven terlebih dahulu membuka suaranya.
"Saya baik-baik saja Tuan, ini hanya luka kecil." Doni berusaha untuk duduk tegak.
"Berbaring saja, kau tidak perlu bangun," ucap Steven cepat.
Sebenarnya, penampilan Doni bisa dibilang tidak baik. Wajahnya lebam dan penuh luka, belum lagi tangan kanannya mengalami retak, kakinya juga sedikit pincang. Ternyata Dario dan teman-temannya kembali memukul Doni hingga dia pingsan sebelum Steven datang.
Fiona menatap ngeri pada Doni. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kejamnya Dario dan teman-temannya saat memukul Doni hingga kondisinya sangat memperihatinkan.
"Doni, maafkan aku karena sudah membuatmu seperti ini. Aku tidak menyangka mereka juga menangkapmu saat kau berusaha untuk menyelamatkan aku." Fiona mulai berkaca-kaca.
Jika saja malam itu Doni langsung pulang sesuai instruksi dari Steven, Doni tidak akan bisa bertemu dengan Fiona dan itu akan membuat Steven kesulitan menemukan lokasi Fiona.
Meskipun ada gps di kalung Fiona tetapi tidak ada yang tahu mengenai hal itu dan hanya Doni yang tahu cara menghidupkannya
"Ini bukan salahmu Nona, jangan merasa terbebani dan menyalahkan dirimu." Tentu saja Doni merasa tidak enak hati melihat kekasih bosnya nampak merasa tertekan ketika melihat keadaaanya yang memiliki banyak luka.
"Don, terima kasih karena sudah melindungi Fiona. Aku berhutang budi padamu, jika bukan karena kau, aku mungkin tidak bisa menemukan Fiona tepat waktu."
Doni sedikit tercengang mendengar penuturan Steven. Pasalnya, Steven jarang sekali memuji kinerja orang-orangnya dengan kata-kata. Dia terbiasa memberikan bonus besar pada bawahannya jika dinilai kinerjanya bagus dan akan memecatnya jika dianggap tidak berguna.
"Itu adalah kewajiban saya Tuan, sudah menjadi tugas saya untuk melindungi Nona Fiona."
"Untuk sementara waktu beristirahatlah dengan baik. Aku akan menyuruh Jorsh untuk mengurus hal yang kau butuhkan. Kau tenang saja, aku akan tetap menggajimu meskipun kau tidak bekerja. Aku juga akan memberikan kompensasi yang besar untukmu."
Setelah menjenguk Doni, Steven meminta Wilson mencarikan dokter wanita untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Fiona. Selesai dengan urusan rumah sakit, Steven mengantar Fiona kembali ke mansionnya karena dia tidak memperbolehkan Fiona untuk tinggal dulu apartemennya.
"Fio, aku akan keluar sebentar. Tetaplah di sini sampai aku kembali, jangan ke mana-mana." Steven duduk di samping Fiona setelah mereka memasuki ruangan keluarga.
"Kau mau ke mana?" Fiona terlihat tidak rela ditinggalkan oleh Steven.
Steven menyisir rambut Fiona dengan gerakan pelan dan lembut. "Aku ada urusan sebentar, aku akan segera kembali."
"Tidak bisakah aku ikut denganmu?" Alasan Fiona tidak mau ditinggalkan adalah karena dia masih trauma ditinggalkan sendirian.
"Kau di sini saja, kau belum sembuh. Aku tidak akan lama," bujuk Steven, "kau tenang saja. Mansion ini sudah dijaga ketat oleh pengawalku, tidak akan ada yang berani menyakitimu lagi."
Setelah menyelematkan Fiona, Steven langsung menyuruh anak buah Jorsh untuk mengirimkan 50 pengawal untuk berjaga di mansionnya.
"Tapi, aku ingin ikut denganmu," rengek Fiona. Dia terlihat seperti anak kecil yang takut dtinggalkan oleh ibunya.
"Aku janji tidak akan lama," bujuk Steven dengan suara lembut.
Setelah berhasil membujuk Fiona, Steven akhirnya pergi dengan Erick.
__ADS_1
"Bawa bajingan itu padaku," perintah Steven pada pengawal yang berada di dekatnya. Steven sedang duduk di sebuah ruangan kosong dengan penerangan minim dan sedikit gelap.
Beberapa saat kemudian, 2 pengawal menyeret seorang pria yang wajahnya yang ditutupi oleh kain hitam. Kedua pengawal itu lalu membuat pria itu berlutut dihadapan Steven sambil memegangi kedua tangannya dari samping kanan-kiri.
"Buka penutup kepalanya," perintah Steven.
Melihat wajah James yang tidak berdaya, Steven tertawa mengejek sambil berkata, "Apa kau menikmati tempat barumu?" tanya Steven setelah penutup kepala James di buka.
James menyeringai. "Apa kau akan membunuhku karena sudah menyentuh Fiona?" James sengaja memancing amarah Steven dengan mengatakan hal itu.
Seketika mata Steven memerah dan berkilat, dadanya serasa terbakar setelah mendengar ucapan James. "Nampaknya pukulan kemarin tidak membuatmu jera."
Steven menoleh pada kedua pengawal di yang memegani James. "Buka ikatan tangannya."
Setelah ikatan tangan James terbuka, Steven menghampiri James lalu memukulnya hingga tersungkur. Dengan gerakan cepat, pengawal Steven membangunkannya lalu memegangnya kembali.
"Sepertinya aku harus memberikanmu sedikit pelajaran agar kau tahu dengan siapa kau berhadapan."
"Steven, apalagi yang kau harapkan dari Fiona? Lebih baik kau berikan dia padaku, aku sudah menyentuhnya. Bukankah kau tidak suka dengan wanita yang sudah tersentuh."
Sekujur tubuh Steven memanas karena marah. "Ternyata yang keluar dari mulutmu hanya sampah." Steven mendekati James lagi lalu memukul rahangnya dengan kuat hingga mengeluarkan banyak dari mulutnya dan membuat giginya memerah karena darah.
"Apa kau sungguh sudah menyentuhnya?" tanya Steven dengan tatapan buas yang seolah ingin menguliti James hidup-hidup.
James nampaknya bukan orang yang mudah digertak dan memiliki keberanian yang tinggi, disaat terdesak dia sama sekali tidak takut dengan Steven.
"Apa Fiona tidak mengatakan padamu bagaimana aku menyentuhnya?" tanya James dengan tawa iblisnya.
Steven menoleh pada pengawalnya. "Taruh kedua tangannya di lantai."
Kedua pengawal tersebut langsung menuruti perintah Steven. "Aku harus membuat tangan ini tidak bisa digunakan lagi karena sudah berani menyentuh wanitaku."
Steven langsung menginjak jari-jari tangan dengan sepatunya tanpa belas kasih hingga terdengar suara tulang patah sekaligus rintihan dan raungan putus asa dari mulut James.
"Sekarang katakan padaku, bagian mana saja yang sudah kau sentuh?"
"Apa kau penasaran?" tanya James dengan senyum jahatnya.
Steven kembali menginjak jari-jari James hingga dia berteriak kesakitan. Setelah Steven menginjak tangan James berkali-kali, James sudah tidak bisa merasakan lagi jemari tangannya. Tangannya sudah mati rasa, mungkin karena jemarinya hancur sehingga dia tidak merasakan sakit lagi.
"Cepat katakan sebelum kesabaranku habis," ucap Steven dengan rahang mengeras.
Steven memang tidak berani bertanya pada Fiona mengenai hal itu karena takut membuat Fiona trauma dan berteriak histeris jika mengingat kejadian itu.
Steven sangat yakin kalau James belum menyentuhnya sama sekali karena dokter sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Fiona dan tidak menemukan kekerasan **** padanya. Hanya tangan Fiona yang terluka akibat pecahan kaca dan mentalnya yang terguncang.
James menyeringai. "Aku sudah menyentuh semuanya." James sengaja memprovokasi Steven agar bisa melihatnya menggila.
__ADS_1
Steven berbalik dan duduk dengan tenang di kursi yang dia duduki tadi. "Pukul dia sampai dia tidak bisa bicara." Tanpa menunggu lama, kedua pengawal Steven langsung memukuli James tanpa ampun.
Bersambung....