
Saat matahari mulai menampakkan sinar hangatnya di pagi hari, Fiona nampak baru saja terbangun dan membuka mata indahnya dengan penuh keceriaan dan tatapan penuh kasih sayang yang dilayangkan pada lelaki paling dia cintai yang sedang terlelap di sampingnya dengan posisi menghadapnya.
Guratan kelelahan terlihat jelas di raut wajah tampan Steven. Mereka baru tertidur pada pukul 3 pagi. Dengan adanya kejadian semalam, membuat Fiona semakin memantapkan hati untuk memilih Steven sebagai pendamping hidupnya. Dia yakin Steven akan menjadi pria yang bertanggung jawab akan hidupnya dan bisa melindunginya dalam keadaan apapun.
Fiona terus memandang Steven yang terlihat masih menutup matanya dan belum ada tanda-tanda kalau dia akan segera bangun. Dia lalu menatap bekas merah yang ada di leher Steven dan sekitar dadanya. Tanda itu memang dialah yang membuatnya.
Fiona sengaja meninggalkan banyak tanda untuk menunjukkan pada Sera kalau Steven adalah miliknya dan dia tidak akan membiarkan dirinya mendekati Steven lagi. Selesai menatap tanda kemerahan yang sengaja dia buat, Fiona lalu beralih menatap dada bidang dan otot perut Steven yang tidak ditutupi oleh selimut.
Fiona menelan salivanya ketika melihat tubuh bagian atas Steven. Ingin rasanya Fiona memeluk erat pemilik tubuh indah itu untuk merasakan kehangatan tubuhnya, tapi nyatanya dia hanya bisa memandangnya saja. Seketika wajah Fiona memerah ketika menyadari pikiran liarnya.
Steve, aku berharap setelah kejadian ini, kita bisa melewati berbagai rintangan yang datang menghampiri kita. Semoga rencana pernikahan kita akan segera terwujud agar kita bisa selalu bersama selamanya.
Tetaplah jaga hatimu Steve, jangan pernah mengecewakan aku. Aku tidak tahu lagi bagaimana kehidupanku kalau tidak bersamamu.
Puas memandang wajah Steven, Fiona mulai beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Dia berniat untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, Fiona keluar kamar mandi menggunakan bathrobe.
Baru saja Fiona ingin mengambil baju Steven untuk dia kenakan sementara, sudah terdengar suara bel berbunyi. Fiona berjalan ke arah pintu, mengintip dari lubang intip pintu. Setelah tahu siapa yang ada di depan pintu, senyum misterius terbit di wajah Fiona.Dia lalu membuka pintunya dan menyapa Sera dengan ramah.
"Selamat pagi, Nona Sera. Apa yang membuatmu ke sini sepagi ini?"
Sera menatap Fiona dengan tatapan nyalang ketika melihat Fiona yang baru saja mandi dan hanya mengenakan jubah mandi, apalagi setelah melihat bekas merah di leher Fiona. Dia langsung mengepalkan tangannya dengan kuat. Sesuatu yang dia takutkan sepertinya sudah terjadi setelah kepergiannya.
"Di mana Steven? Kenapa kau ada di sini?" tanya Sera penuh kebencian.
Fiona tersenyum manis. "Ini adalah kamar kekasiku, tentu saja aku harus di sini. Aku takut jika aku pergi, akan ada kucing liar yang siapa menerkamnya," sindir Fiona.
"Minggir! Aku mau masuk. Aku ingin bertemu dengan Steven."
Fiona menghadang Sera ketika ingin menerobos masuk. "Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu?
__ADS_1
Kau tidak bisa masuk sembarangan ke kamar seorang pria apalagi kau tidak memiliki hubungan apapun dengannya."
"Kau... berani sekali berkata seperti itu tentang orang tuaku." Sera mengangkat tangannya hendak menampar Fiona, tetapi langsung ditangkap olehnya.
"Jangan pernah menyentuhku sedikitpun. Aku bukanlah wanita yang mudah kau gertak." Fiona menghempaskan tangan Sera dengan kasar.
Sera sedikit terkejut melihat reaksi Fiona yang berani melawannya. Sera berusaha untuk menguasai diri setelah mendapatkan perlawanan dari Fiona. Bekas merah di leher Fiona membuatnya kehilangan kesabaran dan memancing emosinya.
"Aku ke sini bukan untuk berbicara denganmu. Jangan halangi aku. Aku ingin bertemu dengan Steven." Sera belum juga menyerah untuk masuk ke dalam kamar Steven.
"Steven sedang tidur karena kelelahan. Kami baru saja tidur pukul 3 pagi. Seharusnya kau tahu apa saja yang kami lakukan sehingga kami tidur dini hari."
Tatapan Sera berapi-api setelah mendengar penuturan Fiona. Seketika darahnya mendidih. "Berani sekali kau memanfaatkan kesempatan ini untuk tidur dengannya. Fiona, jangan pikir kau sudah menang karena sudah berhasil mendapatkan Steven."
Fiona menyeringai. "Sera, lebih baik kau menyerah. Sampai kapanpun kau tidak bisa merebutnya dariku."
Sera mengangkat dagunya lebih tinggi dan menatap Fiona dengan angkuh. "Fiona, karena kau tidak mengijinkan aku masuk, maka lebih baik kita bicara di luar. Banyak yang harus kita bahas mengenai Steven."
Sera langsung pergi tanpa membalas ucapan Fiona. Setelah kepergian Sera, Fiona meminjam pakaian Steven, selesai memakai baju, Fiona menghampiri Steven lalu mengecup pipinya.
"Steve, aku ke bawah sebentar. Aku harus memperingatkan Sera agar dia tidak mendekatimu lagi," ucap Fiona dengan suara pelan.
*******
Fiona sedang berjalan sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Sera di salah satu restoran yang ada di lantai 1. Setelah menemukan keberadaannya, Fiona langsung duduk tanpa berbasa-basi kepada Sera.
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Fiona setelah meletakkan tasnya di kursi di sampingnya.
Sera kembali menatap leher Fiona. Bekas merah yang dia lihat tadi sudah tersamarkan oleh makeup. Fiona sengaja menutup bekas di merah dilehernya karena tujuannya sudah tercapai. Sera sudah melihatnya dan itu sukses membuat Sera meradang.
__ADS_1
Fiona juga sudah berganti pakaian. Setelah meminjam baju Steven, Fiona kembali ke kamarnya dan berganti pakaian sebelum menemui Sera.
"Fiona, aku akan langsung saja. Aku akui kalau aku memang sangat mencintai Steven. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Aku tidak keberatan, meskipun dia sudah tidur denganmu. Jangan kau pikir karena sudah tidur dengannya bisa membuatku mundur."
Sera tersenyum sinis. "Aku justru semakin tertantang untuk merebutnya darimu. Aku ingin melihatmu menjadi gila karena dicampakkan oleh Steven setelah dia mengambil hal yang paling berharga darimu."
Fiona memicingkan matanya pada Sera. "Jangan-jangan kau yang memasukkan obat di minuman Steven?"
"Memangnya kenapa kalau aku pelakunya? Apa kau berniat akan melaporkanku pada Steven? Kau pikir dia akan percaya dengan kata-katamu? Perlu kau tahu, bahwa aku sudah melakukannya dengan sangat rapi dan Steven tidak akan menemukan bukti mengenai keterlibatanku dengan kejadian semalam."
Fiona menyungging sudut bibirnnya sebelah. "Akhirnya kau tunjukkan juga ekor rubahmu. Aku sudah menduga kalau kau adalah dalang dari kejadian semalam."
"Seharusnya kau bersyukur karena aku sudah mengatakan hal yang jujur padamu."
Fiona merasa geram melihat Sera yang nampak tidak merasa sedikitpun karena sudah menjebak Steven. "Aku akan mencari bukti agar Steven tahu kalau kau adalah pelakunya."
"Aku memang sudah salah karena menganggap remeh dirimu, tapi sebelum itu terjadi, aku akan menyingkirkanmu dari hidup Steven," ujar Sera penuh percaya diri.
"Kau memang sudah tidak waras. Akal sehatmu sudah dikalahkan oleh hatimu yang busuk," cibir Fiona.
"Sudah aku bilang, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Steven. Aku sudah lama menunggunya, tapi kau dengan seenaknya datang merebutnya dariku. Kau tunggu saja nanti, aku akan membuatmu menangis darah karena ditinggalkan oleh Steven."
Fiona ingin sekali menertawakan kegilaan wanita yang duduk di hadapannya. "Sera, kau memang gila. Karena kau sudah menunjukkan wajah aslimu, maka aku tidak akan berbaik hati lagi padamu. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berani memanfaatkan Steven lagi."
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku Fiona," ucap Sera dengan senyum jahatnya.
Fiona memandang Sera dengan tatapan menusuk. "Sera, mulai sekarang aku akan membuat perhitungan denganmu kalau kau berani mengusikku dan Steven lagi."
Sera memandang remeh Fiona. "Kita lihat saja, apa kau bisa menghentikanku nanti."
__ADS_1
"Sera, jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau adalah dalang dari penculikanku waktu itu."
Bersambung....