Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Acara Lamaran


__ADS_3

Saat malam tiba, dengan persiapan serba cepat dan mendadak, akhirnya keluarga Steven menuju ke kediaman keluarga Reynald untuk melaksanakan niat mereka untuk melamar Fiona. Setelah sebelumnya, Steven mengabari Fiona kalau dia dan keluarganya sedang menuju ke sana.


Karena semua serba mendadak sehingga acara lamaran akan berlangsung di kediaman keluarga Reynald. Pagi harinya, Leon sudah terlebih dahulu menemui keluarga Fiona untuk membatalkan pertungannya dengan Fiona.


Reynald dan Fiona juga sudah menjelaskan alasan dari pembatalan pertunangan tersebut. Meskipun terkejut, tapi orang tua Reynald hanya bisa menerima keputusan yang sudah dibuat oleh Leon.


Ketika sampai di kediaman Reynald, beberapa mobil nampak sudah memenuhi halaman dan sepanjang jalan di depan rumah Reynald. Dengan jantung berdebar-debar, Steven turun dari mobil setelah merapikan rambut dan setelan jasnya.


Steven terlihat beberapa kali berdeham dan merapikan pakaiannya ketika dia dilanda kegugupan. Entah mengapa, dia merasa sangat gugup dan tangannya beberapa kali berkeringat. Dalam benaknya, mungkin saja keluarga Fiona akan menolak lamarannya mengingat dulu dia pernah mencampakkan Fiona di hari lamaran mereka.


"Kak, kenapa kau gugup sekali? Tenanglah."


Bryan memegang bahu Steven untuk menenangkannya saat dia melihat Steven tidak hentinya menarik napas panjang. "Kita ini akan melamar kekasihmu, bukannya ingin bersaing untuk mendapatkan proyek besar."


Steven yang sedang berdiri menunggu iringan keluarganya turun semua dari mobil, seketika menoleh pada Bryan. "Kau akan merasakan saat kau melamar kekasihmu nanti."


Bryan mencibir Steven. "Aku bukan dirimu. Itu karena pengalamanmu terhadap wanita itu minim sehingga membuatmu seperti ini, berbeda denganku."


"Ayoo kita masuk." Yesinta berjalan mendahului Steven dan Bryan.


Bryan menepuk bahu Steven ketika melihatnya belum juga bergerak. "Ayoo Kak, cepatlah, sebelum kekasihmu berubah pikiran nanti," goda Bryan.


Bryan berjalan lebih dulu lalu disusul oleh Steven dan iringan keluarganya, tentu saja Erick tidak pernah ketinggalan. Dia mengekori Steven ketika berjalan masuk ke masuk ke area rumah Reynald. Suasana tampak sudah ramai. Keluarga Steven disambut baik oleh keluarga Reynald. Mereka langsung dipersilahkan masuk ke ruang utama tempat lamaran akan berlangsung.


Setelah mereka semua sudah duduk, Fiona belum menampakkan diri. Ketika pembicaraan akan dimulai, Fiona baru keluar didampingi oleh sepupu jauh Reynald. Ketika Fiona memasuki ruang utama, Steven tidak henti-hentinya menatap ke arah Fiona yang terlihat sangat cantik dalam balutan busana berwarna putihnya.


Steven terlihat terpesona dengan penampilan Fiona malam itu. Setelah semuanya sudah berkumpul, acara lamaran pun dimulai dengan pembukaan, setelah dilanjutkan lagi ke tahap penyampaian maksud dari kedatangan keluarga laki-laki.


"Maksud dan tujuan kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar Fiona untuk anakku, Steven. Sekiranya, kalian bisa menerima niat baik dari keluarga kami," ucap Yesinta.


Ayah Reynald mengangguk sambil tersenyum. "Saya selaku wali dari Fiona hanya bisa menyerahkan semua keputusan padanya. Kami akan menerima apapun keputusan darinya."

__ADS_1


Ayah Reynald kemudian menoleh pada Fiona yang ada di samping kirinya. "Bagaimana Fiona, apakah kau mau menerima lamaran dari Steven?" tanya Ayah Reynald lembut.


Fiona mengangkat kepalanya lalu mengangguk seraya berkata, "Iyaa. Saya terima lamaran dari Steven," jawab Fiona sambil tersenyum malu.


Wajah Steven yang semula tegang, kini berubah melunak dan senyum lebar langsung tersungging di wajah tampannya setelah mendengar jawaban dari Fiona. Dalam hatinya dia sedang bersorak gembira karena lamarannya diterima oleh wanita yang sangat dicintainya.


Selesai mendengarkan jawaban dari pihak perempuan, acara dilanjutkan dengan memberikan seserahan kepada pihak perempuan, begitupun sebaliknya. Selesai itu, dilanjutkan lagi dengan acara tukar cincin. Steven nampak tersenyum lebar ketika dia akan memasangkan cincin ke jari manis Fiona yang terlihat sedang menunduk menatap ke arah jemarinya yang dipegang oleh Steven.


Setelah Fiona selesai memasangkan cincin, acara dilanjutkan dengan perkenalan keluarga antar kedua mempelai, setelah itu acara diakhiri dengan penutupan acara lamaran. Mereka juga sudah menentukan tanggal pernikahan yang akan digelar 2 minggu lagi di negara Steven.


Setelah semua proses lamaran selesai, pihak keluarga perempuan mempersilahkan tamu beserta semua keluarga yang hadir untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia. Saat itulah Fiona beranjak dari duduknya ketika melihat semua orang sedang sibuk dan menyantap hidangan.


Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Saat Fiona akan berteriak, dia mengurungkan niatnya setelah melihat siapa yang menariknya. "Steve, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Fiona ketika Steven membawanya ke sudut ruangan dekat tangga lalu menyudutkannya di tembok.


Steven mengurung Fiona dengan kedua tangan yang bertumpu pada tembok. "Aku merindukanmu," tatap Steven dengan lekat.


Fiona terlihat menunduk seraya mengalihkan pandangannya ke samping menghindari tatapan Steven. Dia berusaha menetralkan debaran jantungnya ketika melihat jarak wajah Steven sangat dekat dengan wajahnya. Dia bahkan bisa merasakan hembusan napas Steven menerpa wajahnya disertai dengan aroma maskulin yang menyeruak masuk ke rongga hidungnya.


Steven menatap Fiona dengan lekat lalu berkata, "Tidak akan yang tahu. Lagi pula, kau sudah resmi menjadi calon istriku jadi untuk apa takut.


Melihat Fiona hanya diam, Steven berkata, "Kau mau ke mana?"


"Aku ingin ke atas untuk mengambil ponselku yang tertinggal di kamar," jawab Fiona pelan, "cepatlah kembali Steve, nanti mereka mencarimu," sambung Fiona lagi.


Fiona terlihat cemas karena Steven terlihat tidak mau melepaskannya begitu saja.


"Kenapa sedari tadi kau menghindari tatapanku saat acara lamaran tadi? Kau bahkan tidak mau melihat ke arahku dan justru melihat ke arah Leon. Padahal, seharian ini aku terus memikirkanmu, tapi kau malah menatap ke arah pria lain."


Seharian ini Steven memang tidak bisa tenang memikirkan acara lamaran yang akan dilaksanakan malam hari. Yang ada dipikirannya hanya Fiona dan apakah acara akan berjalan dengan lancar.


Setelah mendengar ucapan Steven, Fiona mengangkat kepalanya. "Aku tidak menatap ke arah kak Leon, Steve. Kau salah lihat," jelas Fiona.

__ADS_1


"Mulai sekarang jangan pernah melihat pria lain lagi. Aku tidak suka calon istriku menatap pria lain, selain aku." Steven mendekatkan mulutnya ke telinga Fiona lalu berbisik, "kika kau masih melakukannya, aku akan menghukummu."


Steven menjauhkan wajahnya dari Fiona lalu kembali menatapnya. "Apa kau mengerti?"


"Iyaa. Aku mengerti."


"Kalian sedang apa di sini? Jangan bilang kalian...." Steven dan Fiona seketika menoleh.


Steven seketika mendengus ketika melihat Reynald yang datang. "Pergilah, jangan mengganggu kami," usir Steven dengan wajah tidak suka.


"Tidak mau, ini adalah rumahku, seharusnya kau yang pergi." Reynald menghampiri Steven dan Fiona lalu menepis tangan Steven yang masih mengurung Fiona dengan kedua tangannya.


"Mau kau apakan adikku? Ingat, kalian itu belum menikah. Lebih baik kalian kembali, jika tidak aku akan berteriak agar semua orang datang ke sini dan memergoki kalian berdua," ancam Reynald.


"Silahkan saja, paling buruk kami akan segera dinikahkan. Aku justru akan berterima kasih padamu jika itu sampai terjadi," ujar Steven enteng.


Reynald mendengus. "Fio, jangan termakan rayuan lelaki buaya seperti dia." Selesai berucap, Reynald berjalan meninggalkan mereka berdua dengan wajah kesal.


"Steve, lebih baik kita kembali sekarang atau mereka akan mencari kita," ujar Fiona dengan wajah panik.


"Cium aku dulu," pinta Steven.


Fiona memukul dada Steven dengan pelan. "Steve, jangan macam-macam, bagaimana kalau kak Rey kembali lagi?"


"Kalau kau tidak mau, maka biar aku saja yang melakukannya." Steven menunduk dan meraih dagu Fiona lalu mengecup bibirnya dengan singkat.


"Untuk saat ini, cukup ini saja. Lainnya, kita lakukan setelah resmi menikah."


Steven mengerlingkan sebelah matanya dengan senyum menggoda lalu berlalu dari hadapan Fiona.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2