
"Fio, sampai kapan kau akan terus menolak James? 2 tahun lagi umurmu mencapai 30. Apa kau tidak ingat wasiat dari ayahmu?"
Fiona yang baru saja pulang dari bekerja seketika langsung dihadapkan pertanyaan yang selama ini terus dia hindari. Fiona menghentikan langkahnya yang hendak ke kamarnya dan langsung menoleh pada ibunya.
"Aku tidak menyukai James, Ma."
Sarah menatap Fiona dengan tatapan jengah sekaligus marah. Sudah berkali-kali dia mencoba untuk mendekatkan Fiona dan James tapi selalu saja gagal, Fiona terlihat terus saja menghindari ajakan James untuk bertemu.
Sarah menatap acuh tak acuh. "Mama tidak peduli kau suka ada tidak, yang pasti kau harus menikah sebelum batas waktu yang ditentukan oleh surat wasiat mendiang ayahmu. Mama tidak rela semua harta keluarga kita jatuh ke tangan orang lain."
Fiona mengambil tempat duduk di sofa single samping ibunya. "Ma, berikan aku waktu setahun lagi. Ijinkan aku menikah dengan pilihanku," mohon Fiona.
Sarah yang sedang duduk sambil menikmati tehnya, seketika memicingkan matanya ke arah Fiona. "Jangan bilang kau ingin menikah dengan pria brengksek itu?"
Fiona tentu langsung tahu siapa yang ibunya maksud. "Namanya Steven, Ma," ucap Fiona nada sedikit tinggi. Sudah berkali-kali ibunya selalu memanggil Steven dengan sebutan itu sehingga membuat Fiona marah. "Dia punya nama, Ma, tidak bisakah Mama memanggil namanya?"
Ibu Fiona melengos. "Namanya tidak penting untuk mama, untuk apa juga mama mengingat namanya."
Fiona menghembuskan napas halus. Dia tidak mengerti lagi bagaimana menjelaskan pada ibunya mengenai Steven. Kalau saja ibunya tahu mengenai identitas Steven yang tidak biasa. Dia pasti akan langsung merubah pandangannya yang selalu merendahkan Steven yang dia anggap tidak jelas asal usulnya.
"Ma, suatu saat Mama pasti akan menyesal karena sudah merendahkan Steven. Dia bukan orang yang bisa Mama rendahkan begitu saja karena kita berbeda dengannya, Ma."
Sarah tersenyum mengejek. "Tentu saja kita berbeda dengannya. Aku bisa melihat dia tidak sepadan dengan keluarga kita jadi jangan bermimpi untuk menikah dengannya. Sampai kapanpun mama tidak akan menyetujui kau menikah dengannya. Lebih baik kau bersama dengan James yang sudah jelas berasal dari keluarga terpandang."
Fiona geleng-geleng kepala. "Aku tidak mau menikah dengan James, Ma. Aku akan menikah dengan pria pilihanku. Berikan aku waktu satu tahun. Saat tiba waktunya aku akan menikah tanpa Mama suruh."
"Baiklah. Kau boleh menikah dengan pria pilihanmu asalkan dia bisa melebihi James, jangan pernah bermimpi untuk menikah dengan Steven karena mama tidak akan pernah merestuimu," ucap Sarah dengan angkuh.
Sara lalu berdiri. "Tapi, jika kau tidak bisa menemukan pria yang melebihi James dalam satu tahun, kau harus menikah dengannya. Suka tidak suka kau harus menikah dengannya." Sarah meninggalkan Fiona sendiri ketika dia sudah selesai bicara.
Fiona hanya bisa menghela napas. Fiona menunduk. "Apa mama akan tetap tidak merestuiku jika mama tahu indentitas Steven yang sebenarnya?" gumam Fiona dalam hati.
Meskipun Fiona tidak tahu dengan jelas mengenai indentitas Steven yang sesungguhnya, tetapi dia bisa menilai kalau Steven bukan orang sembarangan setelah melihat mansion yang di tempatinya.
Tidak banyak orang dia negaranya yang memiliki mansion semewah milik Steven apalagi melihat luas dan letakknya yang berada di lokasi dengan harga tanah yang selangit.
****
Keesokannya, setelah jam makan siang, Fiona langsung bergegas menuju loby untuk menyambut kedatangan Reynald. Hari ini, mereka berencana untuk membicarakan mengenai kontrak kerja sama mereka.
Sebenarnya Fiona sudah menawarkan diri untuk membicarakannya di kantor Reynald, tapi ditolak oleh Reynald karena dia ingin melihat kantor Fiona secara langsung.
"Tuan Reynlad." Fiona menghampiri Reynald dan sekertarisnya yang baru saja keluar dari mobil dan akan masuk ke gedung kantornya.
Reynald mengerutkan kening mendengar panggilan Fiona. "Fio, bukankah sudah aku bilang jangan memanggilku seperti itu? Ini bukan di lingkungan kantorku. Kau bisa memanggil namaku seperti biasanya." Nadia, sekertaris Reynald melirik Fiona dan bosnya bergantian, merasa aneh melihat interaksi antara mereka berdua.
"Tapi kita di sini untuk membicarakan kontrak kerjasama, sepeti kurang pantas kalau aku mema..."
Reynald memasukkan tangan ke saku celananya sambil menatap Fiona. "Tidak ada orang lain selain kita jadi tidak masalah," potong Reynald dengan cepat sebelum Fiona menyelesaikan ucapannya.
Apa mereka pikir aku bukan orang? Apa aku semacam tumbuh-tumbuhan yang bisa berjalan? Untung saja kau bosku..
"Baiklah, lebih baik kita ke atas." Reynald mengangguk dan mengikuti langkah Fiona menuju lift.
Mereka menuju ruangan khusus untuk meeting. Sebenarnya Cindy berencana untuk ikut denganya untuk bertemu dengan Reynlad, tetapi Fiona melarangnya karena Reynald memang sudah bilang tidak ingin terlibat dengan orang lain selain Fiona.
Setibanya di ruangan meeting, mereka langsung membicarakan masalah kontrak kerja sama. "Terima kasih Rey," ucap Fiona ketika Reynald sudah selesai menadatangani kontrak kerja sama mereka.
__ADS_1
Reynald mengangguk. "Fio, aku tidak bisa berlama-lama karena aku meeting setelah ini."
"Iyaa, terima kasih karena sudah meluangkan waktumu untuk datang ke sini," ucap Fiona sambil berdiri dan diikuti oleh Reynald dan sekertarisnya.
"Tidak masalah, aku akan menghubungimu lagi nanti."
"Iyaaa." Mereka bertiga berjalan menuju lift menuju lantai bawah. Ketika baru saja keluar dari lift, mereka bertiga tidak sengaja berpapasan dengan Cindy.
"Fio, kau mau ke mana?" tanya Cindy.
Fiona menghentikan langkah kakinya tepat di depan kakaknya. "Kak, kenalkan ini tuan Reynald Baldwin."
Cindy tertegun sesaat menatap Reynald. "Kenalkan saya Cindy, Direktur Utama di sini." Cindy mengulurkan tangan pada Reynald.
"Reynald," ucap Reynald sambil menyambut uluran Cindy.
"Senang bisa mengenal anda Tuan Reynlad," ucap Cindy sambil tersenyum setelah mereka selesai berjabat tanganya.
"Ya," ucap Reynald sambil mengangguk, "maaf Fiona, tapi kami harus kembali ke kantor."
"Iyaa, biar kami antar sampai depan," ucap Cindy.
Reynald mengangguk. Fiona dan Cindy berjalan menuju loby untuk mengantar Reynald. Cindy terus memandangi mobil Reynald hingga menghilang. "Ternyata tuan Baldwin masih muda dan tampan," ucap Cindy dengan suara pelan.
******
6 bulan kemudian..
Leon sedang menunggu Fiona yang sedang berdandan. Malam ini, dia meminta Fiona untuk menemaninya ke pesta salah satu rekan bisnisnya. Leon sebenarnya tidak terlalu suka datang ke acara seperti itu, hanya saja kali ini, Leon terpaksa datang karena dia kenal baik dengan orang tersebut.
"Kak, maaf sudah menunggu lama." Fiona menghampiri Leon yang terlihat sedang duduk di ruang tamu.
Fiona berdiri di samping Leon. "Kalau begitu lebih baik kita berangkat sekarang."
Leon mengangguk seraya berdiri. "Di mana ibumu?" tanya Leon sebelum melangkah.
"Ada di dalam," tunjuk Fiona pada ruangan keluarga.
"Aku pamit dulu." Fiona mengangguk dan berjalan menuju ruangan keluarga menemani Leon.
Sebenarnya Leon sudah sering kali ke rumah Fiona. Ibu Fiona juga terlihat tidak melarang kedekatakan anaknya dengan Leon karena ibu Fiona tahu latar belakang keluarga Leon. Keluarga Leon dan keluarga Fiona memang dekat sedari dulu.
"Ma, kami mau pergi dulu," ucap Fiona ketika mereka sudah tiba di ruangan keluarga. Sarah menoleh pada Fiona dan Leon lalu mengangguk. "Leon, kapan kau akan menikahi Fiona?"
Leon yang tampak tidak siap dengan pertanyaan ibu Fiona, seketika menoleh pada Fiona lalu beralih pada Sarah. "Ma, bukankah aku bilang kalau kami akan menikah 6 bulan lagi, Kak Leon masih sibuk, Ma." Sebelum Leon menjawab pertanyaan ibunya, Fiona sudah terlebih dahulu menjawabnya.
"Mama hanya ingin memastikan saja kalau Leon tidak akan berubah pikiran nantinya," ucap Sarah dengan wajah acuh tak acuh.
"Saya tidak akan berubah pikiran kecuali Fiona yang tidak menginginkan pernikahan ini," jawab Leon dengan wajah serius.
"Baiklah, Fiona tidak mungkin berubah pikiran kecuali dia ingin menikah dengan James."
"Ma, kami akan terlambat, kami pergi dulu." Fiona langsung menarik tangan Leon setelah selesai berpamitan.
"Sepertinya, ibumu tidak sabar melihat kita menikah," ucap Leon ketika mereka baru saja memasuki mobil.
"Itu karena dia tidak ingin kehilangan semua aset papa," ucap Fiona dengan wajah kesal.
__ADS_1
Leon tersenyum lalu memencet hidung Fiona. "Jangan cemberut, kau terlihat jelek jika seperti itu."
"Kalau begitu pergi sendiri sana, jangan ajak aku."
"Aku hanya bercanda," ucap Leon sambil tersenyum.
Leon langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat acara. Setibanya di tempat tujuan, mereka langsung masuk. "Kak, kenapa ramai sekali?"
Fiona dibuat terkejut ketika melihat begitu banyak tamu yang datang dan bisa dipastikan kalau mereka semua adalah orang dari kalangan atas.
Leon tersenyum. "Tentu saja, ayah dari temanku salah satu pesohor negeri ini."
Fiona menganguk-angguk. "Pantas saja."
"Temani aku mencari temanku." Fiona mengangguk, mengaitkan tangannya di lengan Dion lalu berjalan berdampingan.
"Leon, bagaimana kabarmu?" Seseorang pria tinggi menghampiri Fiona dan Leon.
Leon tersenyum lalu menyambut uluran tangan temannya. "Baik, bagaimana kabarmu, Erland?" tanya Leon.
Erland tersenyum. "Seperti yang kau lihat aku baik."
Erland seketika menatap Fiona. "Siapa gadis cantik ini, sepertinya aku pernah melihatnya?"
Leon menoleh pada Fiona sejenak lalu beralih pada temannya. "Fiona, dia kekasihku."
"Benarkah?"Meskipun terkejut, Erland tetap memperkenalkan diri, "Kenalkan, aku Erland." Erland mengulurkan tangannya pada Fiona dan langsung disambut oleh Fiona.
"Fiona," jawab Fiona sambil tersenyum ramah.
"Erland." Terdengar seseorang memanggil Erland dari arah belakang Fiona.
Erlanda langsung menoleh. "Aku kira kau tidak datang."
Pria itu mendekati Erland. "Kau terus menggangguku, bagaimana aku bisa tidak datang," ucap pria itu.
Fiona yang merasa tidak asing dengan suara tersebut langsung menoleh, seketika dia terkejut. Tubuhnya menegang dan alirah darahnya seolah berhenti melihat seseorang yang baru saja tiba di samping Erland. Pria itu juga terlihat terkejut ketika melihat keberadaan Fiona.
"Kau jangan marah." Erland lalu beralih menatap Leon. "Kenalkan dulu ini temanku, Leon." Erland lalu beralih pada pria itu. "Leon, Ini adalah Steven. Dia salah satu teman terbaikku juga."
Leon dan Steven saling berjabat tanganya, setelah itu Erland beralih menatap Fiona. "Dan ini, kekasih Leon, namanya Fiona."
Fiona masih mematung, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Steven di pesta itu.
Steven tidak langsung menjabat tangan Fiona melainkan menatap Fiona sejenak lalu beralih menatap Leon. "Jadi, ini adalah kekasih Tuan Leon?"
Tentu saja Steven masih ingat dengan Leon. Pria yang pernah mengantarkan Fiona ke mansionnya dan sempat menjadi perdebatan antara Fiona dan dirinya dulu.
"Iyaaa," jawab Leon sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Fiona.
Tatapan Steven berubah menjadi dingin untuk sesaat. Dia menatap Fiona sekilas lalu beralih menatap Erland. "Aku harus pergi, aku masih ada urusan."
Fiona yang tadi sempat menunduk karena Steven menatapnya, seketika langsung mengangkat kepalanya menatap Steven.
"Kenapa buru-buru sekali? Kau baru saja datang." Erland merasa aneh dengan sikap Steven.
"Erick menungguku diluar."
__ADS_1
Bersambung...