
Sepulang bekerja, Fiona langsung diantarkan pulang ke apartemennya oleh pengawal yang baru yang diatur oleh Erick. Doni masih dalam pemulihan, jadi dia belum bisa ditugaskan untuk menjaga Fiona.
Sebenarnya, Doni sudah dinyatakan sembuh dan sehat oleh dokter, hanya saja Steven memintanya untuk beristirahat lagi selama seminggu ke depannya.
Setelah mengucapkn terima kasih pada pengawal barunya, Fiona berjalan memasuki loby apartemennya. Di sana sudah ada seseorang yang menunggunya.
"Fiona." Seorag pria menghampirinya ketika melihatnya baru saja memasuki loby.
"Rey," sapa Fiona sopan.
Reynald tersenyum. "Apa kita bisa berbincang sebentar?"
Fiona seketika teringat larangan Steven untuk tidak dekat dengan pria lain, tapi Fiona merasa tidak enak dengan Reynald mengingat dia sudah sering membantunya setelah kepergian Steven ke luar negeri.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa lama-lama."
"Tidak masalah, kita bicara di sana." Reynald menunjuk sofa yang ada di loby.
Fiona mengangguk lalu mengikuti langkah Reynald. "Fiona, sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan padamu, tapi sepertinya kau sedang sibuk. Kali ini, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu. Lainnya, aku akan tanyakan padamu setelah kau memiliki waktu."
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Apa benar kau menjalin hubungan dengan Steven seperti yang pernah dia katakan padaku?"
"Iyaa benar, Steven memang kekasihku dan kami berencana untuk menikah," jelas Fiona. Dia harus menjelaskan pada Reynald ke depannya agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka berdua.
"Fiona, apa kau sudah memikirkannya dengan matang? Apa kau sudah mengenal Steven dengan baik?"
Fiona menatap heran pada Reynald, meskipun mereka dekat, tapi Fiona merasa kurang nyaman kalau Reynald ikut campur dengan urusan pribadinya. "Rey, aku sangat yakin dengan keuputusanku. Kau tidak perlu khawatir denganku. Steven adalah pria yang baik."
Reynald menatap sangsi pada Fiona. "Apa kau yakin Steven bisa menjagamu dengan baik?"
"Tentu saja," jawab Fiona dengan yakin.
"Fiona, sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan Steven. Masalah kau diculik, itu sudah terbukti kalau dilalai dalam menjagamu."
"Kau tahu dari mana mengenai penculikanku?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.
Dia tidak pernah mengatakan pada siapapun mengenai penculikannya, hanya Cindy dan ibunya yang tahu. Setelah dia di bebaskan, Cindy sempat memang sempat menemuinya untuk melihat keadaannya saat dia berada di rumah sakit tapi Cindy sudah berjanji untuk tidak mengatakan pada orang lain.
"Tidak penting aku tahu dari mana. Aku tidak bermaksud ikut campur masalahmu. Kau tahu dari dulu aku peduli padamu. Aku akan menghormati keputusanmu untuk bersama dengan Steveb. Tapi, seandainya kau memiliki masalah atau kau butuh bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku tidak mengharapakan apapun darimu. Anggaplah aku sebagai saudaramu. Jangan jauhi aku, hanya itu permintaanku."
Reynald bisa merasakan kalau Fiona berusaha untuk menjauhinya semenjak dia menjalin hubungan dengan Steven. Hubungan mereka tidak sedekat dulu. Pikiran Reynald langsung tertuju pada Steven, pasti dia yang meminta Fiona untuk menjauhinya.
Fiona berpikir sambil menunduk, setelah itu dia beralih menatap Reynald. "Baiklah, tapi aku tidak bisa seperti dulu lagi. Aku harus menjaga perasaan Steven juga."
"Aku tahu, aku tidak berniat untuk merusak hubunganmu dengan Steven. Aku hanya tidak mau hubungan kita seperti orang yang tidak saling kenal. Setidaknya jangan menghindariku jika kita bertemu di luar."
"Iyaaa Rey, maafkan aku. Aku hanya tidak mau Steven salah paham padamu."
"Fiona, sebenarnya ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan padamu, tapi tidak bisa aku bicarakan padam di sini."
"Hal penting apa?"
"Hubungi aku saat kau memiliki waktu luang, tetapi aku minta jangan terlalu lama karena ini sangat penting. Kalau bisa dalam minggu ini temui aku karena aku harus ke luar negeri minggu depan."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menghubungi nanti."
Reynald mengangguk. "Baiklah, aku pergi dulu."
Fiona belum juga beranjak dari duduknya setelah kepergian Reynald. Dia masih terus menatap Reynald yang sedang berjalan ke arah lift.
"Apa kau begitu berat berpisah dengannya?" terdengar suara berat dari belakang Fiona. Ketika dia menoleh, dia langsung bertatapan dengan mata dingin Steven.
Fiona menghampiri Steven. "Steve, kenapa kau ada sini?" Tentu saja Fiona terkejut dengan kedatangan Steven yang tiba-tiba, biasaya dia akan mengabarinya terlebih dahulu jika ingin menemuinya.
Steven menatap datar Fiona. "Kenapa? Kau merasa terganggu dengan kedatanganku?"
Fiona tersenyum kaku sambil menghampiri Steven. "Bukan Steve, aku hanya terkejut saja."
Steven berjalan menuju lift tanpa berkata apapun. Sebelum menyusul Steven, Fiona menghela napas terlebih dahulu. "Steve, tunggu aku!" Fiona berlari kecil ketika melihat pintu lift akan tertutup. Karena di dalam lift ada orang lain, Fiona memutuskan untuk diam saja.
Ketika lift terbuka, Steven berjalan lebih dahulu. "Steve, dengarkan aku dulu." Steven hanya diam, membuka pintu lalu masuk ke dalam.
"Steve." Fiona menghampiri Steven yang sudah duduk di ruang tamu. "Aku hanya mengobrol dengannya." Steven duduk bersandar sambil memainkan ponselnya tanpa menghiraukan Fiona.
"Jauhi dia, aku tidak suka terlalu akrab dengannya," ucap Steven tanpa menoleh pada Fiona.
"Baiklah, jangan marah lagi," bujuk Fiona.
Steven meletakkan ponselnya di meja lalu menatap Fiona. "Fio, sekali lagi aku melihatmu bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku, aku akan menghukummu."
Fiona menelan ludahnya dengan wajah tegang ketika melihat tatapan taj dari Steven. "Iyaaa."
"Kemari," Steven menarik tangan Fiona agar lebih dekat dengannya, setelah itu dia memeluknya dari samping. "Fiona, mama ingin bertemu denganmu," ucap Steven sambil meletakkan dagunya di bahu Fiona.
Steven mengangkat dagunya, menjauhkan dari bahu Fiona lalu memainkan rambutnya. "Mama ingin membicarakan mengenai pernikahan kita."
"Apa ibumu berubah pikiran dan ingin membatalkan pernikahan kita?" Pikiran buruk langsung terlintas di benak Fiona.
"Tidak, mama justru ingin mempercepat pernikahan kita."
Pupil mata Fiona melebar. "Benarkah? Kau tidak berhohong, kan?" cecar Fiona.
"Tidak, untuk apa aku berbohong padamu."
Steven mulai menceritakan pada Fiona mengenai pertemuan dengan ibunya dan apa saja yang mereka bicarakan hingga ibunya menyuruh untuk mempercepat pernikahan mereka.
"Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Kau tidak perlu memberitahu pada ibuku mengenai yang sebenarnya. Cukup diam saja," ujar Steven setelah selesai menceritakan pada Fiona.
"Tapi, Steve...." Fiona hanya tidak mau membohongi ibu Steven
Steven menggenggam tangan Fiona untuk meyakinkannya. "Fiona, kita tidak hanya mempercepat pernikahan kita. Tanpa ada kejadian itu, kita juga akan tetap menikah. Hanya waktunya saja yang yang dipercepat."
Fiona terdiam untuk sesaat. "Baiklah, kapan kita menemui ibumu?"
"Malam ini, bersiaplah. Aku akan menunggu di sini."
"Baiklah, aku mandi dulu." Ketika Fiona akan bangun, tangannya ditahan oleh Steven.
"Tunggu dulu, kau belum meminta maaf dengan benar padaku." Steven menarik tangan Fiona lalu mengecup singkat bibirnya.
__ADS_1
"Stevee..." pekik Fiona dengan wajah memerah.
"Mandilah." Steven tersenyum sambil melepaskan tangan Fiona. "Lain kali, jika aku melihatmu bertemu dengan Reynald lagi, maka, hukumannya akan berbeda," ancam Steven.
Fiona berjalan menuju ke kamarnya setelah mengangguk. Ketika Fiona sudah siap, mereka langsung menuju mansion ibu Steven.
"Steve, apa kau yakin kalau ibumu ke sini untuk membicarakan pernikahan kita, bukan untuk membatalkannya?" tanya Fiona ketika mereka baru saja turun dari mobil.
"Iyaa sayang. Apa kau tidak percaya padaku?"
"Aku hanya takut kecewa Steve." Bagaimana pun Fiona masih belum percaya sepenuhnya.
Steven menuju ruang makan, di mana ibunya sudah menunggu. "Kalian sudah datang, duduklah." Ibu Steven terlihat lebih ramah dari pertemuan mereka sebelumnya. Steven dan Fiona mengangguk bersama lalu duduk bersebelahan.
"Kita makan dulu, setelah itu kita baru bicara."
Selesai makan, Ibu Steven langsung membuka mulutnya. "Fiona, Steven pasti sudah memberitahumu tentang maskud aku memanggilmu ke sini."
"Iyaaa," jawab Fiona sopan.
Ibu Steven menoleh pada anaknya. "Mama sudah menentukan tanggal pernikahan kalian. Kalian akan menikah 3 minggu lagi, sementara lamaran akan diadakan minggu depan. Bagaimana, apa kalian setuju?"
Steven dan Fiona langsung menjawab tanpa ragu. "Baiklah. karena kalian sudah setuju, mama akan mempesiapkan semuanya." Ibu Steven beralih menatap pada Fiona. "Fiona, beritahu keluargamu, kalau kami akan datang minggu depan untuk melamarmu."
"Baik Tante."
"Kapan kau memiliki waktu senggang? Kau harus ke butik langganan mama untuk memilih model gaun yang ingin kau gunakan di hari pernikahanmu."
Fiona berpikir sejenak. "Akhir pekan ini Fiona bisa Tante."
"Baiklah, mama akan buatkan janji dengan pemilik butiknya. Mama akan menghubungimu lagi nanti."
Setelah membicarakan mengenai rencana pernikahan mereka, Steven pamit ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Sementara ibunya mengajak Fiona untuk mengobrol di ruang keluarga.
Ibu Steven menatap Fiona yang sedang duduk di hadapannya. "Fiona, kau pasti bertanya-tanya, kenapa aku tiba-tiba merestui hubungan kalian dan mempercepat pernikahan kalian? Tentu saja alasan utamanya karena Steven sudah merugikanmu. Alasan lainnya adalah karena mungkin kalian memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Meskipun dulu aku sudah pernah menjauhkannya darimu, tapi tetap saja takdir mempertemukan kalian lagi setelah berpisah beberapa tahun."
Fiona mengerutkan kening tanda tidak mengerti dengan perkataan ibu Steven. Pikirannya melayang ketika Steven oergi keluar negeri tanpa kabar. Mungkinkah itu yang dimaksud oleh ibu Steven.
"Sejujurnya aku tidak pernah membencimu. Aku juga sudah pernah mengatakan padamu waktu itu. Aku menjauhkanmu dari Steven karena ingin melindungimu juga Steven agar kalian tidak terluka, bukan karena membencimu. Kejadian yang dulu, mungkin kau tidak mengingatnya. Aku harap kejadain itu, tidak akan berdampak pada kalian berdua nantinya."
"Maksud Tante apa? Fiona tidak mengerti."
"Fiona, ini adalah amanat dari mendiang suamiku, aku tidak bisa mengatakan padamu. kau tidak perlu mencari tahu apapun lagi. Tugasmu sekarang, tolong bahagiakan Steven. Aku merestuimu dengan Steven tulus dari hatiku. Aku tahu kau adalah wanita yang baik. Maafkan aku kalau selama ini sudah bersikap keras padamu."
Selama ini, Ibu Steven memang sengaja bersikap seolah tidak suka dengan Fiona. Dia mencari berbagai alasan agar Steven mau menjauhi Fiona.
Dia sengaja mengatakan pada Steven kalau Fiona tidak memenuhi kriteria untuk menjadi pendamping Steven, padahal ada alasan lain dibalik itu.
Alasan itulah yang membuat Ibu Steven lebih memilih menjodohkan Steven dengan Sera dari pada Fiona, tapi ternyata pilihannya salah.
Sera tidak sebaik yang dia pikir, seketika dia berpikir ulang, mungkin keputusannya juga salah karena sudah menjauhkan mereka berdua dengan alasan yang sebenarnya sudah lama berlalu.
Alasan itulah yang pada akhirnya akan membuat Steven dan Fiona berpisah nantinya.
Bersambung....
__ADS_1