
Steven menatap curiga pada ibunya yang terlihat sedari dari terdiam setelah kepergian Fiona. "Ma, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Steven memecah keheningan.
Ibu Steven menghela napas halusnya. "Apa kau yakin ingin menikahi Fiona?"
"Tentu saja, aku sangat yakin," jawab Steven mantap.
"Apa kau tidak mau memikirkannya lagi?"
Steve terlihat menunduk ke bawah sejenak sambil lalu berlalih menatap ibunya. "Bahkan jika mama bertanya padaku sampai seribu kali pun, jawabanku akan tetap sama. Aku sangat yakin dengan pilihanku."
"Steven, apa kau sungguh sudah mengenal Fiona dengan baik? Apa kau sudah mengetahui masa lalunya?"
Steven mengerutkan keningnya. Steven kembali dibuat heran oleh pertanyaan ibunya. "Ma, bukankah kau sudah pernah menanyakan hal ini padaku? Kenapa kau bertanya lagi?"
"Mama hanya tidak ingin kau menyesal. Mama tidak mau kau tersakiti setelah mengetahui siapa Fiona."
"Sebelum aku membawa Fiona ke hadapan Mama, aku sudah terlebih dahulu menyelidikinya. Tidak ada yang aneh dengannya. Tidak bisakah Mama percaya dengan pilihanku?"
"Mama sebenarnya tidak membenci Fiona. Mama hanya berusaha melindungimu dan dia." Ibu Steven menatap serius pada anaknya. "Sekarang mama tanya di antara Fiona dan Gwen? Siapa yang paling kau cintai?"
Wajah Steven berubah menjadi dingin. "Ma, bukankah sudah aku bilang, aku tidak mau lagi membahas mengenai Gwen."
"Steve, apa kau masih membencinya?"
Steven memalingkan wajahnya ke samping. "Dia sudah menghianatiku, Ma."
"Bagaimana kalau sebenarnya Gwen tidak pernah menghianatimu?"
Steven langsung mengalihkan pandangan pada ibunya. "Apa maksud Mama? Jadi, dia sungguh tidak menghianatiku? Apa Mama tahu di mana keberadaannya?" cecar Steven dengan wajah tidak sabar.
Ibu Steven menghela napas berat. "Melihat reaksimu, mama yakin kau masih mencintai Gwen."
"Ma, jangan mengalihkan pembicaraan. Katakan padaku, di mana keberadaan Gwen?"
"Mama tidak tahu," jawab Ibu Steven cepat, "kalau kau bisa melupakan perasaanmu pada Gwen dan merelakannya, maka mama akan merestui hubunganmu dengan Fiona tanpa syarat apapun."
Ibu Steven bersandar di kursi. "Jika kau ingin tetap menikahi Fiona, lupakan Gwen dan jangan pernah mencari tahu apapun mengenai dia. Tapi, jika kau bisa menjauhi Fiona dan membatalkan rencana pernikahan kalian, maka, mama akan membantumu mencari tahu mengenai Gwen."
Steven terdiam untuk beberapa saat, memikirkan plilihan apa yang sebaiknya dia ambil. "Aku akan tetap menikahi Fiona. Aku mencintainya, Ma. Gwen, hanyalah masa laluku."
"Baiklah kalau begitu, karena kau sudah memutuskan untuk memilih Fiona, maka mama tidak punya pilihan lain selain merestui kalian." Ibu Steven langsung berdiri.
"Tapi, hanya satu pesan mama, jangan pernah menyesal dengan keputusanmu saat ini. Aku harap kedepannya kau dan Fiona tidak akan terluka dengan keputusan yang kalian ambil saat ini."
********
Steven terlihat sedang menatap lurus pada Fiona yang sedang membereskan pakaian yang akan mereka bawa untuk menghadiri pesta pernikahan teman Steven. Entah apa yang ada dibenak Steven saat ini, yang pasti dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Fiona yang menyadari Steven tampak melamun seketika langsung bertanya, "Steve, kau kenapa?"
"Steve," panggil Fiona lagi ketika melihat Steven masih diam.
Lamunan Steven seketika buyar ketika mendengar suara Fiona. "Iyaa, ada apa?"
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Fiona dengan dahi berkerut.
Steven mengukir senyum tipis di wajahnya. "Tidak ada sayang." Steven berjalan menghampiri Fiona. "Apa kau sudah siap?" tanya Steven sambil berdiri di dekat Fiona.
"Iyaaa," jawab Fiona sambil mengangguk.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang."
Steven membungkuk lalu meraih koper kecil milik Fiona. Steven memang sengaja menyuruh Fiona untuk membawa baju sedikit. Steven mengatakan akan membelikannya baju setelah mereka tiba di negeri seberang.
Ketika mereka sampai di depan, Erick sudah berdiri di samping mobil dengan pintu mobil yang sudah terbuka. Mobil melaju menuju pelabuhan tempat kapal akan berlabuh.
Semua tamu undangan memang diminta untuk lansung menuju pelabuhan pada sore hari. Kapal pesiar itu sengaja disewa oleh William. Jadi, semua tamu bebas menikmati semua fasilitas kapal pesiar mewah itu. Mereka bahkan mendapatkan kamar gratis untuk semua tamu undangan.
Setibanya di sana, Steven langsung disambut oleh William, calon mempelai pria. Dia secara khusus menunggu kedatangan Steven. "Hai Steve, bagaimana kabarmu?" William menghampiri Steven lalu bersalaman sambil menepuk bahunya.
"Baik," jawab Steven sambil tersenyum.
Tatapan William langsung tertuju pada Fiona. "Siapa wanita cantik yang ada di sampingmu ini? Apa kau tidak berniat mengenalkan padaku?"
"Wwooo.. Akhirnya, ada juga yang bisa meluluhkan hatimu," ucap William dengan wajah senang. "Kenalkan, namaku William, teman baik Steven." William memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Fiona dengan wajah canggung menyambut uluran tangan William. "Fiona."
"Nama yang cantik, secantik orangnya," puji William dengan senyum mengembang.
"Ingat... Kau sudah mau menikah besok. Masih saja sempat memuji calon istriku."
"Kau ini, aku hanya mengagumi kecantikan calon istrimu. Kau jangan cemburu begitu."
"Sudahlah, cepat antarkan aku ke kamarku," ucap Steven tidak sabar.
"Baiklah, ikut aku."
William menuntun Steven, Fiona, dan Erick menuju kamar paling atas, di mana kamar yang diperuntukkan untuk tamu khusus VIP. Terdapat 5 kamar mewah dengan harga paling mahal dan faslitas yang lengkap. Satu akan diberikan pada Steven dan yang lainnya untuk pihak keluarga inti calon pengantin.
William membuka satu kamar dengan desain interior yang sangat mewah. "Masuklah, ini kamarmu dan Fiona."
Steven langsung menoleh pada Fiona. "Fio, kau masuklah dulu, aku ingin berbicara dengan William sebentar."
Fiona mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
Setelah pintu tertutup, Steven langsung menoleh pada William. "Berikan aku satu kamar lagi."
William membalik badannya menghadap Steven dengan gerakan cepat. "Aku sudah menyediakan kamar untuk Erick di bawah," jelas William.
"Bukan untuk Erick, tapi untukku."
William mengeryit. "Bukankah lebih baik kalau kalian berada di dalam satu kamar? Anggap saja bulan madu sebelum menikah," ucap William sambil menggerakkan alisnya naik turun dengan senyum jailnya.
"Jangan samakan aku dengan dirimu. Belum juga resmi sudah kau buka segelnya," balas Steven dengan tatapan malas.
William tertawa keras. "Tentu saja aku harus membuka segelnya dulu. Aku tidak mau dibohongi oleh wanita. Lagi pula, aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain calon istriku. Aku hanya ingin memastikan kalau dia memang masih bersih."
"Tetap saja kau salah, seharusnya kau tidak melakukan itu sebelum menikah."
"Aku hanya melakukannya dengan calon istriku."
"Aku rasa sudah ada anakm dalam perutnya," cibir Steven.
"Mungkin saja, jadi aku tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan keturunan." William tampak menaggapi cibiran Steven dengan santai.
"Aku tidak berminat dengan ceritamu. Siapkan saja kamar untukku, aku tidak bisa tidur dengannya dalam satu kamar."
"Kau masih kaku saja. Bukankah hal itu merupakan hal biasa? Saat kita kuliah luar negeri saja, banyak yang tinggal satu atap tanpa menikah. Lagi pula, kau akan menikah dengannya sebentar lagi. Tidak masalah kalau kau mencuri start duluan. Kau harus mengikatnya agar dia tidak berani meninggalkanmu"
Steven mendengus. "Kau ini memang berengsek."
William terkekeh. Sebenarnya dia hanya menggoda Steven. Dia sudah tahu kalau Steven tidak pernah mau tidur bersama dengan wanita di kamar yang sama.
"Baiklah, ikut aku. Akan aku tunjukkan kamarmu." William berjalan beberapa langkah lalu berhenti di depan sebuah kamar, tepat berada di sebelah kamar Fiona.
"Ini kamarmu." William membuka lalu masuk ke dalam kamar.
"Aku kira kau akan datang dengan Sera," ucap William ketika sudah duduk di sofa singgle.
"Tidak, aku sudah menolak ajakannya."
"Kau tega sekali dengannya. Dia itu sudah menunggumu selama bertahun-tahun, tapi kau malah ingin menikah dengan wanita lain."
Steven melepaskan satu kancing bagian atas lalu menggulung lengan kemejanya . "Cinta tidak bisa dipaksakan Will. Aku akan terlihat jahat, jika aku memberikan harapan kosong padanya."
William menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Aku berani bertaruh denganmu kalau dia tidak mungkin menyerah begitu saja. Seharusnya kau tahu, sudah berapa banyak wanita yang dia singkirkan agar tidak ada yang berani mendekatimu."
Sera memang sudah sering kali menghadapi dan menyingkirkan wanita-wanita licik yang berniat untuk mendekati dan menjebak Steven.
"Aku berniat mengatakan padanya mengenai pernikahanku dengan Fiona, jika aku bertemu dengannya nanti."
"Aku bisa melihat kalau Fiona tidak akan bisa mengatasi Sera. Dia akan kalah dengannya."
__ADS_1
Bersambung....