Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Aku Kekasihmu, Bukan Orang Lain


__ADS_3

Selesai sarapan dan membersihkan tubuhnya, Steven pergi ke ruang kerjanya di mana Erick sudah menunggunya sedari tadi.


"Apa kau sudah tahu ke mana Fiona pergi kemarin?" Steven sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Bayangan Fiona bertemu dengan Reynald ataupun Leon diam-diam sempat terlintas di benaknya.


"Sudah Tuan," jawab Erick, "Nona Fiona pergi bertemu dengan Nona Sera," ungkap Erick.


Steven langsung mengerutkan keningnya. "Sera?" Steven terlihat ragu dengan perkataan Erick. "Bagaimana bisa Fiona bertemu dengan Sera? Mereka bahkan tidak saling mengenal."


"Setelah saya telusuri, ternyata Nona Sera datang ke kantor Nona Fiona untuk menemuinya," jelas Erick.


"Jadi, Sera yang mengajak Fiona bertemu?"


Erick mengangguk yakin. "Iyaa Tuan."


"Dari mana dia tahu wajah Fiona dan tempatnya bekerja? Sementara aku tidak pernah menceritakan apapun padanya."


"Sepertinya Nona Sera menyuruh orang lain untuk menyelidiki Nona Fiona."


Sorot mata Steven berubah menjadi dingin. "Apa Sera melakukan sesuatu pada Fiona?"


"Tidak Tuan."


"Baiklah." Steven berdiri menuju jendela, meraih ponselnya lalu menelpon seseorang. "Sera, kau di mana?" tanya Steven. "Apa kau punya waktu malam ini?" tanya Steven lagi.


Steven menunduk. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu." Steven menanti jawaban dari Sera.


"Baiklah, kita bertemu besok." Steven mengakhiri panggilan telponnya.


Steven kembali duduk lalu meletakkan ponselnya di meja. "Apa Sera masih sering bertemu dengan ibuku?" tanya Steven.


"Iyaaa Tuan."


Steven terlihat sedang berpikir. "Baiklah, biar aku yang mengurus Sera nanti."


Steven berdiri. "Kau tunggu di mobil, aku akan menemui Fiona dulu."


"Baik Tuan." Erick membungkuk sesat lalu pergi.


Setelah kepergian Erick, Steven menghampiri Fiona ke kamarnya. "Fio, apa kau sudah siap?" Steven mengetuk pintu lalu memanggil Fiona.


Pintu terbuka dan Fiona keluar dengan menggunakan dress selutut berwarna putih dengan rambut yang dicepol tinggi. "Aku sudah siap Steve." Fiona tersenyum pada Steven.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang."


Fiona mengangguk. "Iyaa."


Setibanya di apartemen yang dimaksud, Steven langsung mengajak Fiona naik ke atas, sementara Erick menunggu di loby. "Masuklah," ucap Steven sambil membuka pintu.


Fiona melangkah dengan pelan lalu mengedarkan padangannya ke seluruh ruangan apartemen. "Ayo, aku tunjukkan semua ruangannya." Steven menarik Fiona untuk berkeliling.


Apartemen itu, memiliki 1 kamar besar dilengkapi kamar mandi dalam, ruang tamu, dapur menyatu dengan ruang makan, kamar mandi luar, ruangan santai, laundry room dan tempat menjemur pakaian.


Steven membuka tirai kamar tidur lalu berdiri di samping Fiona. "Bagaimana, apa kau suka?" tanya Steven setelah selesai memperlihatkan semua ruangan yang ada di apartemen tersebut.


Fiona mengangguk. "Iyaa, aku suka," jawab Fiona dengan senang.


"Apa kau tidak mau melihat apartemen yang lainnya?" tanya Steven lagi.


"Tidak, aku suka yang ini."


Selama dalam perjalanan, Steven sudah menunjukkan beberapa foto apartemen yang akan mereka kunjungi. Pilihan Fiona jatuh pada apartemen yang mereka kunjungi saat ini.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk membersihkkan dan mengisi barang2 yang lengkap untuk apartemen ini."


Sebenarnya apartemen tersebut sudah siap pakai, hanya saja tidak ada perlengkapan untuk memasak dan perlengkapan kecil lainnya. Selain itu dari pada itu, semua sudah tersedia.


"Steve, berapa harga apartemen ini?"


Steven menoleh pada Fiona yang sedang berdiri di sampingnya. Mereka sedang melihat pemandangan luar dari kamar tidur apartemen tersebut.



"Aku tidak tahu pasti, Sepertinya sekitar 25 Miliar."


Mata Fiona membulat. Fiona sedikit terkejut mendengar harga apartemen itu. Meskipun hanya memiliki 1 kamar tidur, tetapi apartemen tersebut sangat mewah dan memiliki pemandangan seluruh kota karena berada di lantai paling tinggi sehingga membuat harganya sangat mahal, apalagi lokasinya berada di pusat kota.


Fiona menatap ragu pada Steven. "Steve, apakah kau bisa bilang kepada pemilik apartemen ini, agar aku bisa menyewanya untuk satu tahun?"


Steven mendekati Fiona. "Kenapa harus menyewa? Kau tidak suka dengan apartemen ini?" tanya Steven dengan alis menyatu.


"Bukan, aku menyukainya, tapi....."


Fiona menunduk sambil memainkan jari tangannya. "Begini Steve, sebenarnya, aku tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membeli apartemen ini. Kau tahu sendiri, untuk mendapatkan warisanku, aku harus menikah dulu. Itupun nilainya tidak mencapai harga apartemen ini."


"Pemiliknya tidak menyewakan apartemen ini, Fio."


Fiona langsung mengangkat kepalanya menatap Steven. "Kalau begitu, kita cari apartemen lain saja yang lebih murah." Fiona membalik badannya berniat untuk keluar dari kamar tersebut.


"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara." Steven menahan tangan Fiona.


"Ada apa?" Fiona membalik badannya mengahadap Steven.


"Kau bisa menempati apartemen ini sesukamu, pemiliknya sudah tidak pernah menempati apartemen ini lagi."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau memiliki hutang budi pada orang lain."


Steven mendekati Fiona. "Aku bukan orang lain, Fio. Aku adalah kekasihmu."


Fiona mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"


"Apartemen ini milikku," jawab Steven.


"Haaaaah?" Fiona kembali terkejut.


"Kau lihat gedung itu," tunjuk Steven pada gedung yang tidak jauh dari apartemen itu. "Kau tahu bukan gedung apa itu?"


Fiona mengangguk. "Iyaa, aku tahu. Itu adalah gedung kantormu."


"Benar, aku sengaja membeli apartemen ini karena dulu aku sering lembur di kantor sehingga aku tidur di sini. Aku jarang pulang ke mansion orang tuaku karena letaknya jauh dari kantor."


Fiona memang pernah mendengar kalau Steven memiliki apartemen di dekat kantornya. Dia tidak menyangka kalau apartemen yang dia datangi saat ini adalah milik Steven.


"Jadi, kau bisa tinggal di sini semaumu. Aku yang membawamu pergi keluar dari rumahmu, jadi aku akan bertanggung jawab padamu. Aku tidak mungkin membiarkan kekasihku tinggal di apartemen biasa apalagi menyewa apartemen untuk tempat tinggalnya," ucap Steven sambil memegang kedua bahu Fiona dan menatap dalam mata Fiona.


"Tapi, Steve... Aku...."


"Jangan membantahku, jika kau tidak mau tinggal di sini, maka kembalilah ke mansionku."


Fiona menimang sesaat. "Baiklah, aku akan tinggal di sini, tapi ijinkan aku untuk membayar biaya selama aku tinggal di sini setelah aku memiliki uang."


Steven melepaskan tangannya dari bahu Fiona. "Fiona, Bagaimana mungkin kau membicarakan masalah uang denganku? Kau tidak menganggapku sebagai kekasihmu?" Steven terlihat marah pada Fiona.

__ADS_1


"Bukan sepertu itu Steve. Aku hanya merasa tidak enak padamu. Aku sudah banyak berhutang budi padamu."


"Fiona, jangan membuatku marah."


"Maaf Steve. Aku hanya tidak bisa tinggal secara gratis di sini, apalagi kau selama ini sudah...."


Ucapan Fiona terhenti dan matanya membesar saat Steven membungkam mulut Fiona dengan bibirnya. Steven melu*mat bibir Fiona dengan sedikit kasar. Dia marah karena Fiona memperlalukannya seperti orang lain.


Fiona menepuk-nepuk punggung Steven agar dia berhenti tapi tidak dihiraukan oleh Steven. Fiona akhirnya menyerah dan membiarkan Steven menguasai bibirnya.


Beberapa saar kemudian, Steven menyudahi pagutannya lalu mengusap bibir Fiona dengan ibu jarinya sambil menunduk menatap Fiona.


"Jangan pernah membahas masalah hutang budi apalagi masalah uang denganku. Kalau tidak, aku akan menjadikanmu milikku agar tidak ada alasan lagi bagimu untuk menolak pemberianku." Steven langsung keluar meninggalkan Fiona.


Fiona menghela napas lalu mengejar Steven. "Steve, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf karena sudah menyinggungmu," ucap Fiona dengan wajah bersalah.


Steven hanya diam. Fiona maju lalu memegang lengan Steven. "Steve, maafkan aku," ucap Fiona dengan suara pelan.


Steven menghela napas, melihat ekspresi Fiona yang nampak memelas. Steven seketika luluh. Dia tidak tega melihat wajah Fiona.


"Fiona, aku ingin kau memperlakukanku layaknya kekasihmu, bukan orang lain. Kau selalu saja menolak bantuan dan pemberianku."


"Maaf Steve, aku tidak akan melakukannya lagi."


"Aku berubah pikiran. Kau tidak bisa tinggal di sini selama yang kau mau."


"Maksudmu?" Fiona berpikir kalau Steven sangat marah padanya.


"Kau akan tinggal selama 2 bulan di sini sampai aku selesai mempersiapkan pernikahan kita. Setelah menikah kita akan tinggal di mansionku."


"Dua bulan? Menikah?" Fiona sangat terkejut mendengar ucapan Steven.


"Kenapa? Apa kau tidak mau menikah denganku?"


"Ak-aku....." Fiona menunduk tidak berani menatap Steven.


"Jawab aku, Fio." Steven memegang kedua lengan Fiona. "Apa kau tidak mau menikah denganku?" ulang Steven


"Ak-aku... Mau... Aku mau menikah denganmu," jawab Fiona dengan suara pelan.


Seketika senyum mengembang di wajah Steven. Dia kemudian meraih dagu Fiona lalu mengangkatnya.


"Aku akan berbicara dengan ibuku secepatnya mengenai pernikahan kita."


Fiona menatap ragu pada Steven. "Apa ibumu akan setuju? Bagaimana kalau ibumu tidak merestui kita?" Ucapan Sera waktu itu kembali teringat oleh Fiona.


"Tidak perlu kau pikirkan, biar aku yang mengurusnya. Aku akan berusaha membujuk ibuku."


"Baiklah." Meskipun ragu kalau ibu Steven akan merestui mereka, tapi Fiona berusaha percaya dengan ucapan Steven.


"Kau bisa pindah ke sini 2 hari lagi, setelah aku menyuruh orang untuk membersihkan dan melengkapi apartemen ini."


"Iyaaa, terima kasih, Steve."


"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?" usul Steven. Steven ingin memanfaatkan hari liburnya menghabiskan waktu berdua dengan Fiona.


"Ke mana?" tanya Fiona.


"Ke suatu tempat."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2