Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Resmi Menjadi Milik Steven


__ADS_3

Steven tersenyum penuh arti lalu berkata, "Aku rasa mama ingin kita segera memberikannya cucu." Steven berdiri lalu menghampiri Fiona yang masih tertunduk dengan wajah malu.


Steven memutar langkahnya hingga berdiri di belakang Fiona. "Kau cantik sekali malam ini, Sayang," bisik Steven sambil memeluknya dari belakang.


"Steve, apa kau tidak lapar?" Fiona berusaha untuk mengalihkan topik lain untuk menutupi kegugupannya.


"Tidak." Steven mulai memberikan kecupan singkat bahu Fiona yang terekspos.


"Stevee." Tubuh Fiona mulai meremang saat merasakan kecupan-kecupan ringan di leher.


"Ada apaa, Sayang?" tanya Steven tanpa menghentikan kegiatannya. Tanganya mulai bergerak liar di bagian tubuh depan istirnya, sementara kini bibirnya mulai beralih memberikan kecupan di bahu mulusnya.


"Apa kau tidak lelah?" tanya Fiona lagi.


Dia merasakan kelenyar aneh saat Steven menelusuri tengkuk dan memberikan kecupan singkat di daerah tengkuk menelusuri belakang telinganya


"Tidaaak," jawab Steven.


Fiona bisa merasakan hembusan napas panas menerpa area punggung. Dia memejamkan matanya ketika merasakan setuhan lembut tangan dan bibir Steven di tubuhnya.


"Apa kau merasa lelah?" tanya Steven.


"Tidak," jawab Fiona parau. Dia terlihat sudah mulai menikmati setiap sentuhan Steven.


Steven menghentikan kegiatannya lalu membalik tubuh Fiona agar berhadapan dengannya. Steven menatap dalam mata Fiona, lalu berkata, "Bagus. Malam ini, jangan pernah memintaku untuk berhenti karena aku tidak akan melakukannya."


Fiona tidak menjawab. Detik berikutnya bibir mereka sudah menyatu. Mereka saling memagut tanpa ada rasa canggung lagi diantara mereka berdua. Pagutan yang awalnya lembut kini semakian liar dan menuntut. Napas keduanya pun mulai memburu dan memanas.


Tangan Steven bergerak menurunkan tali lingerie Fiona yang ada di bahunya, kemudian melepaskan tautannya lalu beralih ke leher Fiona. Di sana dia memberikan tanda kepermilikan di leher bagian depan lalu berlanjut ke bagian leher lainnya.


Fiona yang sudah terbuai dengan permainan Steven, tidak menyadari saat Steven sudah menjatuhkan lingerienya ke lantai. Kini, hanya tinggal daerah sensitifnya yang masih tertutup. Dengan gerakan cepat, Steven menggedong Fiona lalu membaringkannya dengan di tempat tidur.


Steven kembali melu-mat bibir Fiona dengan lembut untuk membuatnya nyaman. Semakin lama tautan mereka semakin liar dan entah semenjak kapan tubuh mereka sama-sama sudah polos.


Steven melepaskan tautannya lalu menumpukan kedua tangannya di tempat tidur sambil menatap Fiona. "Fio, bolehkah aku meminta hakku sekarang?" tanya Steven dengan suara serak dan parau.


Fiona mengangguk sambil tersenyum. "Iyaaa."


"Terima kasih, Sayang. Steven tersenyum lalu mengecup kening dan bibir Fiona. "Ini mungkin akan sakit di awal jadi kau harus menahannya."


Fiona mengangguk. Beberapa kali, dia terlihat meringis menahan sakit saat Steven mulai mendesak masuk. Steven mencoba melakukannya dengan hati-hati agar tidak membuat Fiona merasakan sakit yang luar biasa.


Setelah beberapa saat mencoba mendesak masuk, Steven akhirnya berhasil menembus penghalang terakhir Fiona dan saat itu juga Fiona meremas kuat seprai dan mengerang ketika Steven berhasil melakukan penyatuan. Begitu pun Steven, dia melenguh pelan ketika berhasil memasuki tubuh Fiona.

__ADS_1


Berkali-kali Steven mengecup pipi dan bibir Istrinya sebelum memacu tubuhnya. Malam itu, menjadi saksi penyatuan cinta antara mereka berdua. Malam yang akan menjadi kenangan berharga untuk mereka berdua.


*********


Pagi harinya, Fiona terbangun lebih dulu. Ketika pertama kali membuka matanya, dia merasakan tangan kokoh yang melingkar di perutnya. Fiona menoleh sejenak ke belakang dan melihat suaminya masih tertidur pulas.


Fiona bisa merasakan dekapan hangat suaminya ketika baru bangun tidur. Tiba-tiba, bayangan pergulatan panas mereka semalam kembali muncul di benaknya. Wajah Fiona seketika memerah saat membayangkan bagaimana mereka melewati malam panjang mereka.


Fiona baru menyadari satu hal setelah melewati malam pengantin mereka yaitu ternyata selama ini, Steven sekuat tenaga menahan hasratnya. Terbukti semalam, setelah mereka sah menjadi suami istri, Steven tidak menahan diri lagi saat menyentuh dirinya.


Fiona teringat bagaimana Steven meluluhlantakkan tubuhnya hingga membuat tubuhnya remuk redam. Semalam Steven berhasil membuat Fiona merasakan surga dunia yang sesungguhnya. Dia bahkan membuat Fiona merintih dan melenguh nikmat saat berada di bawah tubuhnya hingga Fiona lupa dengan rasa sakitnya.


Mereka melakukannya beberapa kali lalu tertidur dan kembali melakukannya hingga pukul 4 pagi. Steven baru mengakhiri percintaan mereka setelah melihat Fiona yang nampak sudah kelelahan.


Meskipun Fiona saat ini merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tapi dia tetap senang karena pada akhirnya lelaki yang sangat dia cintai sudah menjadi miliknya. Lelaki yang memiliki pesona kuat hingga mampu membuat banyak wanita tergila-gila padanya.


Saat kembali teringat kejadian semalam, Fiona kembali merasa malu. Dia menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bayangan malam pertama mereka terus melintas di benaknya dan itu membuat wajah Fiona memerah.


Saat merasakan ada gerakan di tempat tidur, Steven kemudian membuka matanya. "Apa kau sudah bangun?" Steven mengeratkan pelukannya sambil mengecup tengkuk Fiona.


Fiona menjauhkan telapak tangan dari wajahnya lalu mengangguk. "Iyaa."


"Apa masih sakit?"


"Sedikit," jawab Fiona dengan suara rendah.


"Belum terlalu lapar."


"Kalau begitu bangunlah, kita mandi dulu setelah itu baru sarapan."


"Nanti saja Steve. Aku masih mau berbaring." Fiona memang merasa malas untuk bangun karena merasa sangat lelah.


"Baiklah. Kalau begitu aku mandi duluan," ucap Steven ketika melihat Fiona kembali memejamkan matanya.


"Iyaaaa."


Steven mengecup pipi istrinya lalu berjalan ke arah kamar mandi. Selesai mandi Steven berjalan kembali ke tempat tidur untuk mengecek istrinya. Ternyata Fiona kembali terlelap. Steven akhirnya membiarkan Fiona untuk tidur beberapa saat lagi sebelum membangunkannya.


"Sayang, bangun." Fiona hanya meresponnya dengan gumaman tidak jelas.


"Bangunlah." Steven kembali berbaring di belakang Fiona ketika melihatnya masih tidak bergerak.


"Sebentar lagi," jawab Fiona pelan.

__ADS_1


Steven tersenyum lalu melingkarkan tangannya di perut Fiona. "Ini sudah jam 9 Sayang, bangunlah."


"Aku masih mengantuk, Steve," jawab Fiona.


Steven tersenyum penuh arti. "Baiklah, aku akan membuatmu tidak mengantuk lagi."


Selesai berbicara tangan Steven mulai bergerak liar. Bibirnya menelusuri leher, tengkuknya serta pundaknya.


Fiona langsung membuka matanya ketika merasakan sentuhan bibir Steven di tubuhnya. "Steve, berhenti!"


"Nanti, Sayaang."


Steven mengecup punggung Fiona bertubi-tubi. Ketika merasakan gairahnya kembali menyala, Steven kemudian membalik tubuh Fiona dan mengungkungnya di bawah tubuhnya. "Sayaang, aku mengingingkanmu lagi."


Steven kembali melakukan penyatuan untuk sekian kalinya tanpa bisa ditolak oleh Fiona.


Steven bahkan tidak merasa lelah sedikit pun meskipun semalam mereka sudah melakukannya berkali-kali. Selesai dengan olahraga paginya, Steven dan Fiona mandi bersama.


Karena tidak memiliki pakaian ganti, selesai mandi, Fiona hanya mengenakan jubah mandi sambil duduk di atas tempat tidur untuk mengeringkan rambutnya, sementara Steven menghubungi staff hotel untuk mengantarkan makanan ke kamar mereka.


"Steve, bagaimana dengan baju gantiku?" tanya Fiona setelah Steven selesai menelpon.


"Untuk sementara pakai saja bajuku yang semalam. Aku sudah meminta Erick untuk membawakan baju ganti untuk kita berdua nanti siang," jawab Steven.


"Lalu bagaimana denganmu?"


Steven mengambil alih handuk di tangan Fiona lalu membungkuk untuk membantu Fiona mengeringkan rambutnya. "Aku cukup memakai celana saja."


"Nanti kau masuk angin," ucap Fiona sambil mendongakkan kepalanya menatap Steven.


"Tidak, aku sudah terbiasa tidur tidak memakai baju. Lagi pula, hanya sebentar, nanti siang Erick sudah ke sini." Hanya ketika tidur dengan Fiona saja Steven mengenakan baju. Biasanya dia memang hanya menenakan celana saja.


Selesai makan, mereka kembali duduk di tempat tidur sambil menonton televisi. Steven duduk bersandar di sandaran kepala tempat tidur, sementara Fiona menyandarkan kepalanya di dada Steven sambil memegang wadah yang berisi buah potong. Beberapa kali dia terlihat menyuapi Steven dan juga memasukkan dalam mulutnya.


"Fio, kau ingin berbulan madu ke mana?" tanya Steven sambil melingkarkan tangan kiri di perut istrinya.


"Ke mana saja, asalkan bersamamu." Fiona nampak masih fokus menatap film yang sedang di putar di televisi di depannya. Sudah lama sekali dia tidak bersantai seperti ini.


"Bagaimana kalau kita ke negara S? Di sana terkenal dengan pantainya, kita juga bisa menjelajahi beberapa negara lainnya yang cocok untuk berbulan madu," usul Steven.


"Iyaaa, aku mau."


"Tapi, kita masih harus menginap di sini selama 3 hari lagi. Aku ingin kita benar-benar menghabiskan waktu di sini sebagai pengantin baru."

__ADS_1


Steven berencana untuk mengajak istrinya untuk jalan-jalan ke mana pun dia mau ketika mereka berbulan madu. Banyak hal yang akan dia lakukan untuk memanjakan dan menyenangkan istrinya nanti.


Bersambung....


__ADS_2