Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Peringatan Dari Steven


__ADS_3

Siang harinya, setelah puas berkeliling, Fiona dan Steven berniat untuk berpamitan dengan pak Nurdin beserta istrinya.


"Apa kau sudah selesai?" Steven menghampiri Fiona untuk memeriksa apakah Fiona sudah mempersiapkan barangnya yang akan dia bawa pulang.


Fiona menoleh sambil tersenyum kepada Steven yang baru saja masuk. "Sudah."


Ternyata, istri pak Nurdin sempat mengambil barang berharga milik ibu Fiona. Dulu, istri pak Nurdin pernah bekerja di rumah orang tua Fiona sebelum rumah tersebut dijual.


Setelah pergantian kepemilikan, istri pak Nurdin kembali ke kampung halamannya. Baru setelah Steven membeli rumah tersebut, dia juga mencari orang yang sempat bekerja di rumah orang tua Fiona dan ketika berhasil menemukannya, Steven meminta pak Nurdin beserta istrinya untuk bekerja dengannya untuk menjaga rumah tersebut.


"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang."


Steven berjalan melewati Fiona lalu mengangkat 2 tas dengan ukuran besar miliki Fiona yang berisi barang peninggalan ibunya.


"Steve, berikan satu padaku." Fiona mengulurkan tangan pada Steven untuk meminta satu tas yang ada di tangan Steven.


Steven berhenti tepat di samping Fiona. "Biarkan aku saja yang membawanya," tolak Steven.


"Tapi, Steve itu berat, biar aku membantumu membawa satu. Aku sudah terbiasa membawa barang yang berat."


Fiona merasa tidak enak hati membiarkan Steven membawa barang pribadi miliknya. Sebagai pewaris dari HK Group, Steven bahkan tidak pernah membawa barang miliknya sendiri.


Dia sudah terbiasa dilayani orang lain, bagaimana bisa Fiona memperlakukan Steven seenaknya sementara orang tuanya memperlakukannya bagai mutiara yang sangat berharga.


"Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu membawa barang berat lagi dan melakukan pekerja kasar lainnya. Tanganmu hanya boleh kau gunakan untuk merawat anak-anak kita nanti."


Fiona terlihat tersentuh dan menatap Steven penuh cinta. "Jangan menatapku seperti sayaang. Kau bisa meruntuhkan pertahananku." Steven tersenyum menggoda pada Fiona.


Fiona kemudian memanyunkan bibirnya ke depan, sebagai respon godaan dari Steven. "Ayo kita pulang." Fiona mengapit tangan Steven sambil tersenyum lalu berjalan keluar bersama.


Setelah berpamitan, mereka bertiga kembali ke kota mereka. "Fio, tidurlah. Perjalanan masih jauh. Aku akan membangunkanmu kalau kita sudah sampai," ucap Steven sambil menoleh pada Fiona.


Fiona memang merasa lelah karena dari pagi dia berkeliling keseluruh area rumah dan dilanjutkan ke berkeliling ke daerah sekitar rumah peninggalan orang tuanya. Dia merasa kakinya pegal dan sakit.


"Baiklah." Fiona menyandarkan kepalanya di bahu Steven lalu memejamkan mata.


Perjalanan di tempuh selama 2 jam lebih, mereka tiba di mansion Steven pukul 4 sore. "Fio, bangun." Steven mengusap lembut pipi Fiona.


Merasakan sentuhan dipipinya, Fiona langsung membuka matanya. "Kita sudah sampai," sambung Steven ketika melihat Fiona mengucek matanya.


"Maaf, Steve. Aku ketiduran." Fiona menjauhkan kepalanya dari bahu Steven.


Steven mulai bergerak. "Aawww." Steven meringis sambil memegang lengan kirinya.


Fiona langsung panik. "Kenapa? Apa tanganmu sakit?" tanya Fiona dengan wajah khawatir.


Steven menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Tanganku hanya kebas," jawab Steven cepat. Selama dia jam lebih perjalan Steven tidak bisa menggerakkan tangan kirinya karena takut Fiona akan terbangun.


Fiona langsung menampilan wajah bersalah. "Maaf Steve, ini semua salahku karena aku tidur bersandar terlalu lama padamu."


Steven tersenyum lalu mengusap lembut kepala Fiona dengan tangan kanannya. "Jangan menyalahkan dirimu. Aku tidak apa-apa. Sebentar lagi juga hilang."


Steven berusaha untuk menjelaskan pada Fiona agar dia tidak merasa bersalah lagi. "Ayo, kita turun."

__ADS_1


Fiona mengangguk lalu turun bersamaan dengan Steven di sisi mobil yang berbeda. Setelah itu, mereka masuk ke dalam dikuti Erick sambil membawa barang milik Fiona.


"Fio, kau istirahatlah dulu. Aku ada urusan dan harus pergi," ucap Steven ketika dia sudah berada di dalam kamar Fiona.


Fiona mengerutkan kening. "Kau pergi sendiri?" Fiona ingin bertanya pada Steven kemana dia akan pergi, tapi kata-kata keluar justru yang lain.


"Tidak, aku pergi dengan Erick. Jangan menungguku. Mungkin aku akan pulang malam," kata Steven. "Kalau kau lapar kau pesan di restoran saja, jangan memasak."


Steven mengeluarkan kartu dan menyodorkan pada Fiona. "Pakai ini, pesan apapun yang kau mau."


Fiona mendorong tangan Steven yang memegang kartu tersebut. "Tidak perlu Steve. Aku masih memiliki uang," tolak Fiona sopan.


"Fiona, apa kau lupa dengan apa yang aku katakan? Apa perlu aku ulangi lagi?" Steven terlihat mulai marah pada Fiona karena menolak pemberiannya.


Melihat Steven tidak ingin dibantah membuat Fiona terpaksa menuruti perkataan Steven. "Baiklah, aku akan menggunakannya." Fiona lalu mengambil kartu yang ada di tangan Steven.


Fiona menatap sejenak kartu yang ada di tangannya. "Pinnya adalah tanggal jadi kita." Fiona langsung mendongakkan kepalanya menatap Steven dengan wajah terkejut.


"Kenapa? Apa kau lupa hari jadi kita?"


Fiona langsung menggeleng sebelum Steven salah paham. "Tidak, aku ingat," jelas Fiona.


"Baiklah, aku pergi dulu." Steven maju mendekati Fiona lalu mengecup kening Fiona. "Jaga dirimu."


Fiona mengangguk. "Hati-hati."


******


Steven terlihat mendatangi salah satu restoran terkenal yang berada tidak jauh dari mansion orang tuanya. Sesampainya di sana, dia masuk bersama dengan Erick. Dia lalu duduk dekat jendela kaca yang langsung menghadap ke pemandangan kota. Sementara Erick duduk di meja lain yang tidak jauh dari Steven.


"Aku baru saja datang. Apa aku menggangguku jadwal pemotretanmu?"


Sera tersenyum manis. "Tidak, hanya tadi ada sedikit kendala sehingga pekerjaanku lebih lama dari biasanya," terang Sera.


"Kau ingin pesan apa?" Steven membuka buku menu lalu memberikan pada Sera.


"Hhhmmm." Sera nampak berpikir sambil menatap dan membolak-balikkan buku menu. "Kau sendiri ingin pesan apa?" Sera terlihat bingung sehingga dia bertanya pada Steven.


"Samakan saja denganmu."


Selera Steven dan Sera tidak jauh berbeda sehingga Sera tidak memiliki kesulitan untuk memesan makan untuk Steven. Mereka memang memiliki banyak kesamaan dalam berbagai hal.


Sera mengangguk lalu memanggil pegawai restoran dan langsung memesan makanan. Setelah makanan tersedia, mereka berdua makan tanpa berbicara.


"Steve, akhir minggu ini apa kau memiliki waktu luang?" tanya Sera setelah mereka selesai makan.


Steven berpikir sejenak. "Aku belum tahu jadwalku. Kenapa?"


"Bisakah kau temani aku ke salah satu acara temanku."


Sera sangat berharap Steven bisa menemaninya. Selama ini, memang Steven sering menemaninya ke suatu acara ataupun ke pesta kenalannya, begitupun sebaliknya.


"Aku harus ijin dengan Fiona dulu."

__ADS_1


Sera langsung tersenyum masam. "Steve, apa kau sekarang berusaha menjaga jarak denganku? Bukankah selama ini kau juga sering menemaniku? Ini hanyalah acara biasa. Apa kau harus memperlakukanku seperti orang lain?"


"Sera, aku hanya tidak ingin Fiona salah paham padaku."


"Steve, kau bilang tidak ada yang berubah dari kita, mesikipun kau sudah memiliki kekasih, tapi apa sekarang?"


Sera terlihat marah sekaligus kecewa pada Steven. Selama ini, Steven tidak pernah menolak ajakannya, terkecuali dia memiliki urusan yang sangat penting.


"Iyaaa, aku memang pernah mengatakan itu, tapi, diantara pasangan harus saling terbuka. Aku harus tetap memberitahu Fiona dan kalau dia tidak mengijinkanku, aku tidak bisa pergi denganmu."


"Baiklah, biar aku saja yang meminta ijin pada Fiona agar dia tidak salah paham padamu." Menurut Sera, lebih mudah membujuk Fiona dari pada Steven.


"Seraa, aku ingin bertanya sesuatu padamu mengenai Fiona." Steven terlihat menatap serius pada Sera.


"Fiona? Ada apa?" Sera terlihat sedang berpikir dan mencoba menebak pertanyaan apa yang akan ditanyakan oleh Steven. Mungkinkah....


"Apa kau pernah bertemu dengan Fiona sebelumnya?"


Meskipun terkejut, tetapi Sera berusaha untuk menetralkan keterkejutannya dan menampilkan wajah biasa seolah pertanyaan itu tidak berpengaruh sedikitpun padanya. "Tidak, bukankah kau yang tidak ingin mengenalkanku padanya?"


Steven menatap kedua bola mata Sera secara bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa kau yakin tidak pernah bertemu dengannya?"


Sera tersenyum dan mengangguk dengan yakin. "Tentu saja. Memangnya ada apa? Apakah Fiona bilang kau kami pernah bertemu?"


Sera memang penasaran kenapa Steven bertanya hal itu padanya. Apakah Fiona sudah mengadu pada Steven dan menceritakan semuanya, pikir Sera.


"Tidak, aku hanya ingin tahu tahu saja. Kau terlihat tidak canggung untuk meminta ijin langsung padanya."


Steven sengaja tidak memberiahukan pada Sera kalau dia sudah tahu kebenarannya. Dia hanya ingin tahu, apakah Sera akan jujur jika dia bertanya langsung padanya.


Dalam hati Sera langsung menghela napas. "Steve, kau berubah. Semenjak kau menjalin hubungan dengan Fiona, aku seperti tidak mengenalmu. Kau sudah 2 kali mencurigaiku tanpa bukti. Aku sedikit kecewa padamu." Sera berpura-pura menampilkan wajah kecewa dan sedih.


"Sera, jangan coba-coba membohongiku. Kau tahu bukan, kalau aku mau, aku bisa mencari tahu kebenarannya dengan mudah."


Sera menggenggam kedua tangannya di bawah meja dengan kuat. Dia berusaha untuk menutupi rasa takutnya. "Iyaaa, aku tahu, tapi aku tidak pernah melakukan apapun Steve."


Steven menatap serius pada Sera. "Jangan pernah lakukan hal yang tidak aku sukai, Sera. Kau harus tahu kalau Fiona adalah ambang batasku, jadi jangan pernah coba-coba menguji kesabaranku. Jangan buat aku membencimu." Steven sengaja menggertak Sera agar dia tidak berani macam-macam dengan Fiona.


Tangan Sera langsung gemetar, tapi dia masih berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Steve, aku mengerti kalau kau mencintai Fiona, tapi kau tidak bisa mengancamku seperti ini."


Sera tidak menyangka Steven mengancamnya hanya karena Fiona. Selama ini, Steven selalu bersikap lembut padanya. Belum pernah sekalipun dia berkata kasar ataupun marah padanya. Sebenarnya Steven juga tidak mau mengancam Sera, tapi, jika dia tidak melakukan itu, entah kedepannya apa yang akan dilakukan Sera pada Fiona.


"Aku hanya ingin memperingatkanmu ahgar kau lebih berhati-hati kedepannya. Aku harap kau tidak melupakan kata-kataku tadi." Steven kemudian berdiri lalu memegang pundak Sera. "Aku pulang dulu, maaf karena tidak bisa mengantarmu." Steven lalu berjalan meninggalkan Sera sendirian.


Memperingatkanku? Kau mengancamku Steve? Kau membuatku semakin membenci Fiona. Dia sudah mengambilmu dariku, seharusnya aku yang marah.


Awalnya, aku berniat untuk berbicara dengannya baik-baik, tapi melihatmu sangat melindunginya bahkan kau mengancamku, aku tidak akan berbaik hati lagi dengannya.


Hanya ada satu orang yang bisa ada di sisimu. Kita lihat saja, sampai kapan kau bisa melindunginya.


Aku tidak berniat untuk mundur Steve. Kau harus jadi milikku. Jangan pernah salahkan aku dengan apa yang akan aku perbuat nanti karena kau yang sudah membuatku begini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2