
Steven menatap tajam pada Doni dan beberapa pengawal lainnya yang sedang berdiri menunduk di depannya. Mereka semua tidak berani menatap Steven yang terlihat sedang menahan amarahnya.
"Jadi, kalian semua tidak tahu di mana keberadaan Fiona?"
"Maafkan kami Tuan." Doni menjawab Steven dengan kepala yang masih tertunduk.
Sebenarnya Doni, sedang tidak ada di tempat saat Fiona menemui Leon. Ibu Steven memintanya untuk datang ke mansionnya sehingga dia tidak tahu mengenai kepergian Fiona.
Setelah urusannya selesai dengan ibu Steven, Doni kembali ke mansion, tapi terlambat karena saat dia tiba, Fiona sudah tidak ada. Hanya beberapa pengawal yang terlihat berjaga di depan pintu dan 2 orang di dekat gerbang.
Pengawal yang berjaga di depan pintu sebenarnya sudah menghentikan Fiona, tapi Fiona bilang hanya ingin menemui temannya sebentar di depan gerbang. Mereka tidak sempat mencegah ketika Fiona masuk ke dalam mobil Leon dan pergi meninggalkan mansion Steven.
"Aku membayar mahal kalian untuk menjaga Fiona bukan untuk membiarkannya pergi begitu saja apalagi dengan seorang pria."
"Kami siap dihukum Tuan," jawab mereka serempak.
"Menghukum kalian? Aku tidak pernah memberikan kesempatan kedua kepada orang yang pernah melakukan kesalahan."
Semua terdiam dengan wajah cemas dan takut. Mana mungkin mereka berani mengeluarkan suara di saat Steven terlihat sedang marah. Mereka semua justru sedang memikirkan kemungkinan terburuk yang akan mereka terima.
Steven duduk bersandar, menyilangkan kedua tangannya di dada lalu menatap Doni. "Doni, kau adalah orang yang sudah lama ikut denganku. Seharusnya kau tahu, bahwa aku tidak suka ada kesalahan sekecil apapun. Aku sudah pernah bilang tugasmu adalah mengawasi Fiona di sini. Kau adalah orangku, jadi perintah yang harus kau turuti adalah perintahku, bukan ibuku."
"Maafkan saya Tuan, saya siap menerima konsekuensinya," ucap Doni cepat.
Erick hanya bisa diam tanpa bisa memberikan pembelaan bagi teman-temannya karena kenyataanya mereka memang melakukan kesalahan.
Steven memandangi satu persatu pengawal yang berdiri di depannya. "Rick, pecat mereka semua."
Sektika mereka mengangkat kepala dengan wajah terkejut. "Bagaimana dengan Doni?" tanya Erick sambil menoleh pada Steven.
"Pecat S-E-M-U-A-N-Y-A. Kecuali kau ingin menggantikan Doni."
Erick langsung menelan ludahnya. Kali ini, Steven terlihat sangat marah. "Baik Tuan." Erick membungkuk sejenak lalu kembali berdiri tegap.
"Suruh mereka semua keluar."
"Baik Tuan." Dengan gerakan tangan, Erick menyuruh semua pengawal yang berjumlah 8 orang untuk keluar temasuk Doni.
Steven menunduk mengambil ponselnya lalu mengubungi seseorang beberapa kali tapi tidak diangkat. "Rick, minta Jorsh untuk kirim pengawal yang baru ke sini, terutama orang yang menggantikan tugas Doni," perintah Steven setelah dia memasukkan ponselnya ke sakunya.
"Baik Tuan."
******
Setibanya di mansion Steven Fiona bermaksud untuk langsung berpamitan dengan Leon, tapi terhenti ketika melihat pintu gerbang terbuka. Fiona dan Leon langsung menoleh ketika mereka sedang berdiri berhadapan di depan mobilnya.
"Ternyata Tuan Leon yang membawa kekasihku pergi." Steven menghampiri Fiona dan berdiri tepat di depan Leon.
"Kami hanya berbincang, lalu apa masalahnya?" Leon membalas tatapan sengit dari Steven.
"Steve, aku bisa jelaskan, semua tidak seperti yang kau pikirkan." Fiona tidak ingin kalau sampai Steven dan Leon berdebat karenanya.
Steven menoleh pada Fiona. "Diamlah Fio, jangan membelanya di depanku jika kau tidak ingin aku salah paham." Fiona terdiam.
Steven lalu beralih menatap Leon. "Seharusnya kau ijin terlebih dahulu jika ingin membawanya pergi. Dia kekasihku, kau tidak bisa seenaknya seperti dulu."
"Fiona dan aku berteman, aku rasa terlalu berlebihan jika aku harus meminta ijin darimu hanya untuk bertemu dengannya, kau bukanlah suaminya."
Steven tersenyum miring lalu merangkul pinggang Fiona. "Asal kau tahu, kami akan menikah 2 bulan lagi dan aku sedang mempersiapkan pernikahan kami. Jadi, mulai sekarang kau seharusnya bisa menjaga jarak dengannya."
Leon mencibir. "Kau memintaku untuk menjaga jarak dengannya, tapi bagaimana dengan dirimu? Apa kau bisa menjaga jarak dengan wanita lain?"
"Apa maksudmu?"
"Saat ini, Fiona memang kekasihmu, tapi bukan berarti kau akan menjadi suaminya nanti. Meskipun kau bilang akan segera menikahinya, semua tampak masih abu-abu. Siapa yang tahu bagaimana kedepannya nanti."
"Jadi, Tuan Leon menyukai kekasihku?" Itulah yang terlintas di kepala Steven setelah mendengar ucapan Leon.
"Steve cukup! Kami hanya bertemu dan tidak melakukan apapun, jangan melebar ke mana-mana." Fiona terlihat mulai marah.
__ADS_1
Steven langsung menoleh pada Fiona. "Kau membelanya?"
"Steve, ini bukan salah Kak Leon. Kita bicara nanti di dalam."
"Kak, pulanglah," ucap Fiona pada Leon. Semakin lama Leon berada di sana, suasana akan semakin memanas.
"Baiklah." Leon juga tidak ingin berdebat terlebih lagi sudah malam.
Steven langsung masuk ke dalam setelah kepergian Leon, Fiona menyusul dari belakang. Dahinya berkerut ketika melihat suasana mansion tampak sepi. Biasanya dia bisa melihat jejeran pengawal Steven saat memasuki mansionnya.
"Steve, ke mana perginya semua pengawal yang ada di sini?" tanya Fiona sambil berjalan masuk bersama dengan Steven.
Steven terlihat mengacuhkan Fiona. Dia terus berjalan menuju kamarnya. Fiona lalu menyusul Erick yang sedang berjalan menuju pintu utama. "Erick tunggu."
Erick menghentikan langkah lalu membalikkan tubuhnya menghadap Fiona. "Ada apa Nona?" tanya Erick sopan.
"Ke mana Doni dan pengawal yang biasa berjaga di sini?" Fiona merasa ada yang tidak beres setelah kepergiannya.
"Tuan Steven memecat mereka semua."
Mata Fiona membelalak. "Kenapa?"
"Mereka lalai dalam melakukan tugas mereka," jawab Erick.
"Maksudmu?"
"Mereka bertugas untuk menjaga Nona di sini...." Erick lalu memberitahu semuanya pada Fiona.
Setelah tahu, Fiona seketika merasa bersalah. Secara tidak langsung dia sudah membuat mereka semua kehilangan pekerjaan. Terutama Doni, apalagi selama ini, Doni sudah sering membantunya banyak hal.
"Aku akan bicara pada Steven untuk mempekerjakan mereka lagi."
"Jangan Nona, lebih baik anda tidak ikut campur. Saya takut tuan Steven akan semakin marah," cegah Erick. "Tuan Steven tidak akan pernah mau mempekerjakan orang yang sudah pernah melakukan kesalahan."
"Tapi aku tidak bisa diam saja, ini adalah salahku. Kau tenang saja, aku tidak akan melibatkanmu."
"Lebih baik Nona lebih berhati-hati lagi ke depannya. Tolong pikirkan sebelum Nona melakukan sesuatu. Tindakan Nona akan sangat berpengaruh pada kami."
"Suasana hati tuan Steven sedang buruk, lebih baik Nona menenangkannya."
Disaat seperti ini, Erick bahkan tidak berani mendekat pada Steven karena takut terkena imbasnya.
"Baiklah, tolong sampaikan permintaan maafku pada mereka semua."
Erick mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu Nona."
Setelah kepergian Erick, Fiona menuju kamar Steven. Sebelum masuk, Fiona mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Steve." Fiona mendekati Steven yang sedang duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya di sofa dengan mata terpejam.
Tidak mendapatkan jawaban, Fiona mengguncang lengan Steven. "Steve, kenapa kau diam saja?"
Steven membuka matanya. "Kembalilah ke kamarmu." Mengingat Fiona lebih membela Leon dari dirinya membuat Steven marah. Dia ingin meredakan amarahnya dulu sebelum berbicara dengan Fiona.
"Kau marah padaku karena aku pergi dengan kak Leon?"
"Fiona, setidaknya kau harus bilang padaku kalau kau akan pergi. Aku menelponmu berkali-kali tapi tidak kau angkat. Sebenarnya apa yang kau lakukan sehingga mengangkat telponku saja tidak bisa?"
"Maaf Steve, ponselku tertinggal jadi aku tidak tahu kalau menghubungiku."
"Kau sengaja meninggalkannya karena takut aku mengganggu kalian?" tuduh Steven.
"Aku tidak sengaja meninggalkannya Steve, tadi Kak Leon datang tanpa memberitahuku...." Fiona memberitahu yang sebenarnya pada Steven agar dia tidak salah paham.
Fiona mengapit lengan Steven lalu menyandarkan kepala di bahunya. "Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi."
Steven mulai melunak. "Ingat Fio, ini terakhir kalinya kau pergi tanpa bilang padaku. Jika kau melakukannya lagi, aku akan meminta orang untuk mengikutimu ke mana pun kau pergi. Kau pasti tidak mau seperti itu, bukan?"
"Iyaaa, baik, aku mengerti. Jangan marah lagi," bujuk Fiona.
__ADS_1
"Jangan terlalu dekat dengannya, aku tidak suka."
"Iyaaaa." Fiona mengangkat kepalanya lalu menatap serius pada Steven. "Steve, tadi kau pergi ke mana?"
"Bertemu dengan teman, kenapa?" tanya Steven sambil menoleh pada Fiona.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu. Pria atau wanita?" Fiona sebenarnya hanya ingin memancing Steven apakah dia akan memberitahu dengan siapa dia bertemu.
"Aku bertemu dengan Sera," aku Steven. "Ada sesuatu hal yang perlu aku bicarkan padanya."
Ternyata dia jujur.
"Owh, seperti itu, lain kali ajak aku. Aku juga ingin mengenalnya. Setidaknya aku harus akrab dengan teman dekatmu."
"Baiklah."
"Steve," panggil Fiona.
"Apa?"
Fiona terlihat ragu sesaat. "Bisakah kau mempekerjakan Doni dan pengawal yang kau pecat tadi?"
Steven mendengus. "Sepertinya aku harus memecat Erick juga agar dia tidak bisa bicara macam-macam lagi padamu."
Fiona langsung meraih tangan Steven. "Steve, aku yang memaksa Erick untuk bicara, jangan menyalahkannya."
"Fio, aku tidak bisa mempekerjakan mereka lagi." Steven berdiri lalu menuju walk in closet dan diikuti oleh Fiona.
"Tapi ini salahku, Steve. Mereka sudah mencegahku, tapi aku memaksa mereka untuk keluar. Aku juga tidak menyangka kalau akan pergi bersama dengan kak Leon."
Steven terlihat membuka lemari pakaian dan sedang memilih baju yang akan dia pakai. "Itu salah mereka sendiri, kenapa bisa meloloskanmu begitu saja."
"Steve, tolong maafkan mereka kali ini saja, aku mohon." Fiona menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya.
"Tidak," jawab Steven dengan tegas.
"Steveeee, aku tidak akan keluar dari sini sebelum kau mau mempekerjakan mereka lagi," ancam Fiona. Bagaimana bisa dia membiarkan orang lain kehilangan pekerjaan karena kesalahannya.
Steven meraih baju lalu menutup lemari kemudian menatap Fiona. "Kalau begitu tidurlah di sini bersamaku karena aku tidak akan merubah keputusanku."
Steven lalu berjalan melewati Fiona. "Steve." Fiona menyusul Steven lalu menghadangnya. "Apa yang harus aku lalukan agar kau bisa memaafkan mereka?"
Steven menatap Fiona sejenak lalu berkata, "Yang harus kau lakukan adalah...." Steven mulai membuka kancing bajunya satu persatu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Fiona dengan gugup sambil berjalan mundur ketika melihat Steven terus berjalan mendekatinya hingga tubuh Fiona membentur pintu kamar mandi.
Steven melepaskan kemejanya hingga tubuhnya atasnya terekspos. "Yang kuinginkan adalah...." Steven mendekatkan wajahnya pada Fiona hingga menyisakan sedikit jarak.
Fiona langsung memejamkan matanya. "Mandi," lanjut Steven lagi lalu menjauhkan tubuhnya dari Fiona.
Mendengar hal itu, Fiona langsung membuka matanya. "Mandi?" Fiona mengulang perkataan Steven dengan wajah bingung.
"Apa kau mengharapkan yang lain?" tanya Steven dengan alis terangkat.
"Tidaak," jawab Fiona dengan tegas. "Mana mungkin aku berpikir yang lain," elak Fiona.
Steven menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Kalau begitu menyingkirlah dari hadapanku, atau kau ingin ikut aku mandi?" tanya Steven dengan senyum nakalnya.
"Jawab dulu, apakah kau akan memperkerjakan mereka kembali?" Fiona terlihat belum juga mau menyerah.
Steven menatap serius pada Fiona. "Aku tidak bisa mempekerjakan mereka kembali karena mereka tidak melakukan tugasnya dengan baik."
"Kalau begitu Doni saja, dia sudah banyak membantuku selama ini, aku mohon Steve."
Steven menghela napas. "Baiklah, tapi kalau dia melakukan kesalahan lagi. Meskipun kau memohon dan memaksaku, aku tidak akan pernah memberikan dia kesempatan lagi."
"Baiklah, terima kasih Steve."
Steven menatap serius pada Fiona. "Kau harus tahu Fio, segala tindak tandukmu, sekecil apapun itu sangat mempengaruhiku dan dengan cepat mengubah suasana hatiku, jadi sebelum bertindak kau harus berpikir berulang kali."
__ADS_1
"Iyaaa, aku mengerti."
Bersambung....