
Sarah masuk dengan wajah yang masih penuh dengan amarah. "Kau mau ke mana?" tanya Ibunya ketika melihat Fiona sudah berganti pakaian kerja dan ingin berjalan keluar rumah.
Fiona menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan ibunya yang hendak naik tangga. "Kerja Ma," jawab Fiona dengan suara pelan.
"Kau tidak boleh ke mana-mana. Mama tidak mengijinkanmu keluar hari ini," ucap Sarah dengan tegas.
"Tapi Ma, aku harus bekerja," protes Fiona dengan wajah tidak berdaya. Sebenarnya dia tahu, percuma membantah ucapan ibunya karena dia tidak akan bisa melawan keinginan ibunya.
Ibu Fiona mendekati Fiona. "Bekerja? Apa kau pikir mama tidak tahu, kau pasti akan bertemu dengan pria itu kan?" tuduh Sarah. "Bukankah mama sudah pernah memperingatkanmu untuk memutuskan hubungan dengannya? Bagaimana perasaan Leon ketika tahu, kau berselingkuh dibelakangnnya dengan pria rendah seperti itu?"
"Aku tidak berselingkuh, Ma. Aku tidak keberatan mama memarahiku ataupun menghinaku, tapi tolong jangan rendahkan Steven. Dia pria yang baik, Ma," jelas Fiona.
"Pria seperti itu kau bilang baik. Dia hanya memanfaatkanmu, Fio. Kau itu hanya dijadikan mainan olehnya. Kau pikir dia mencintaimu dengan tulus? Apa kau tidak mengerti juga kalau kau sudah dibodohi olehnya? Kau seharusnya mencari pria yang sepadan denganmu."
Fiona berusaha menahan emosinya. "Sebenarnya apa kesalahan Steven sehingga Mama begitu membencinya?
"Kau tanya apa kesalahannya? Salahnya adalah dia terlalu ikut campur urusan keluarga kita, terlebih lagi dia tidak memiliki etika dan sopan santun sama sekali. Dia bahkan berani mengancam mama hanya untuk membelamu."
"Ma, Steven tidak bermaksud unt..."
"Cukup. Mama tidak mau mendengar kau membela pria itu lagi," ucap ibu Fiona sambil mengangkat telapak tanganya untuk menghentikan ucapan Fiona. "Jangan pernah temui dia lagi dan putuskan segera hubunganmu dengannya. Kalau mama tahu kau masih berhubungan dengannya mama akan segera menikahkanmu dengan James secepatnya."
"Ma, jangan begitu. Aku tidak mau menikah dengan James. Aku tidak mencintainya," mohon Fiona sambil memegang tangan ibunya.
"Lalu kau mencintai pria itu? Kau bahkan berani menduakan Leon di saat kalian sebentar lagi menikah. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan pria itu sehingga kau seperti orang bodoh Fiona?"
"Tidak bolehkah aku mencintainya, Ma?" tanya Fiona dengan wajah tidak berdaya.
"Tidak. Lebih baik lupakan dia dan buang perasaanmu itu. Dan segera putuskan hubunganmu dengannya."
Fiona berani pada ibunya. "Bagaimana kalau aku tidak mau?"
Sarah menatap marah pada anaknya. "Jadi, kau berencana menentang mama dan berniat menikah dengan pria tidak jelas itu?"
"Aku hanya ingin menikah dengan pria pilihanku. Tidak bisakah aku menikah dengan pria yang aku cintai, Ma?"
"Tentu saja bisa, tapi tidak dengan pria itu."
"Perasaan tidak bisa dipaksakan, Ma."
"Mama tidak peduli siapa yang kau cintai. Tapi mama tidak akan setuju kau menikah dengan pria itu. Mama akan mempercepat pernikahanmu. Kau tinggal pilih menikah dengan James atau Leon. Itu pun kalau Leon masih mau dengan wanita yang sudah menghianatinya."
"Ma, aku tidak mau menikah cepat."
"Mama tidak peduli. Sekarang masuk ke kamarmu dan jangan berani untuk keluar menemui pria itu." Ibu Fiona menarik tangan Fiona dengan kasar menuju kamarnya. "Ma, tolong lepaskan, Ma. Aku harus bekerja," mohon Fiona.
"Masuk. Jangan harap kau bisa keluar dari sini sebelum kau memutuskan hubunganmu dengan pria itu." Ibu Fiona lalu mengunci kamar Fiona dari luar.
"Ma. buka Ma. Tolong biarkan aku pergi." Fiona menggedor pintu berkali-kali. "Buka, Ma." Fiona masih berusaha memukul-mukul pintu agar ibunya membuka pintu.
"Maaa ... buka, Ma," teriak Fiona dengan suara keras. "Aku harus bekerja." Fiona terus memanggil ibunya agar membuka pintu.
__ADS_1
Fiona langsung terduduk di belakang pintu setelah lelah mencoba berkali-kali berteriak dan menggedor pintu. "Biarkan aku keluar, Ma," ucap Fiona dengan suara lemah. Air matanya langsung menetes.
*******
Cindy yang baru saja pulang, langsung dipanggil oleh ibunya. "Mama mengurung Fiona di kamar, jangan pernah membuka pintunya kalau dia meminta tolong padamu."
Cindy meletakkan tas di sampingnya setelah dia duduk di sofa. "Kenapa Mama mengurungnya?" tanya Cindy dengan wajah heran.
Ibu Cindy menyesap tehnya lalu meletakkan cangkir di atas meja. "Dia bersikeras tidak mau memutuskan hubungannya dengan pria tidak jelas itu."
Dahi Cindy berkerut. "Maksud Mama, Steven?"
Ibunya menatap acuh pada Cindy. "Tentu saja. Siapa lagi."
"Bukankah Fiona sudah menjalin hubungan dengan Leon? Apa Mama yakin mereka kembali menjalin hubungan?" Setahu Cindy, Fiona sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan Steven semenjak Steven tiba-tiba menghilang.
"Apa kau tidak mendengar pria itu mengatakan kalau Fiona adalah calon istrinya. Kalau mereka tidak menjalin hubungan, bagaimana bisa dia seyakin itu saat mengatakan pada Mama. Mama juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Fiona. Leon adalah pria yang sempurna, bagaimana bisa dia menghianatinya demi pria tidak jelas itu."
"Ma, menurutku Steven pria yang baik. Setelah aku perhatikan, dia sepertinya pria bertanggung jawab dan gentle."
Sarah langsung memicingkan mata ke arah Cindy. "Jangan bilang kau menyukai pria itu juga?"
Cindy terlihat salah tingkah. "Jangan bodoh Cindy. Dia itu tidak pantas untukmu. Kau harus bergaul dengan sesama kalangan kita."
Cindy merapikan rambutnya setelah ibunya menatap tajam dirinya. "Ma, apa kau tidak merasa kalau penampilan Steven tidak terlihat seperti orang kebanyakan? Sepertinya dia berasal dari kalangan atas saat aku melihat penampilan, apa yang dipakai dan mobil yang dia gunakan tadi," tebak Cindy.
Ibu Cindy mendengus. "Kau jangan sampai tertipu dengan penampilannya. Saat ini, banyak orang yang bergaya melebihi kemampuannya."
"Mungkin saja jam tangannya palsu dan mengenai mobil, bisa saja dia menyewanya untuk menipu dan menjerat gadis polos seperti kau dan Fiona," jawab Ibu Cindy enteng.
Cindy terlihat berpikir. "Meskipun begitu, tidak seharusnya mama memperlakukan Steven seperti tadi. Jangan terlalu merendahkannya, Ma."
"Cindy, kenapa kau jadi ikut membela pria itu? Kau benar-benar menyukainya?"
"Ti-tidak Ma. Aku hanya bersimpati padanya saja."
"Jangan coba-coba untuk membohongi Mama. Cukup Fiona saja yang dibodohi olehnya, kau jangan sampe terpengaruh juga hanya karena wajah tampan dan penampilannya."
"Aku mengerti, Ma."
********.
Malam harinya, Steven menuju mansion orang tuanya bersama dengan Erick. Meskipun Steven malas, tapi dia terpaksa harus ke sana karena tidak ingin berdebat dengan ibunya.
"Ma," sapa Steven ketika melihat ibunya sudah duduk di meja makan.
"Duduklah," ucap Ibu Steven. "Erick, kau juga bisa duduk," lanjut ibu Steven ketika melihat Erick hanya berdiri.
"Terima kasih, Nyonya." Erick duduk di samping Steven.
"Apa yang ingin Mama bicarakan padaku?" Steven langsung melontarkan pertanyaan inti pada ibunya. Steven bisa menebak kalau ibunya pasti ingin menyampaikan hal penting sehingga mengajaknya makan malam bersama.
__ADS_1
"Kita makan dulu, setelah itu baru kita bicara."
"Baiklah."
"Tunggu dulu, kita harus menunggu Sera. Sebentar lagi, dia akan datang." Ibu Steven menghentikan anaknya ketika ingin mengambil makanan.
Steven mengangkat alisnya. "Selain Sera, siapa lagi yang mama undang malam ini?" Steven merasa sikap ibunya terlihat tidak biasa.
"Tidak ada lagi. Memangnya kenapa?" tanya Ibu Steven.
"Tidak apa-apa."
"Selamat malam semuanya." Sera memasuki ruang makan sambil tersenyum.
Steven dan ibunya seketika menoleh. "Sera, duduklah." Ibu Steven mengarahkan tangannya ke tempat duduk di sampingnya.
"Terima kasih, Tante," ucap Sera sambil duduk.
Steven menatap Sera. "Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau mau ke sini?" tanya Steven sambil menatap Sera.
"Aku kira kau sudah tahu. Apa kau marah padaku karena tidak memberitahumu?"
Steven tersenyum. "Tidak, aku hanya bertanya."
"Steve, kau membuat Sera malu dengan bertanya seperti itu."
"Tidak apa-apa, Tante," ucap Sera sambil tersenyum manis.
"Lebih baik kita makan sekarang," sela Steven. "Sera juga pasti sudah lapar."
Sera tersenyum senang mendemgar perhatian Steven terhadapnya.
"Baiklah." Mereka mulai makan malam bersamanya. Setelah selesai mereka mulai berbincang.
"Steven, kau dan Sera sudah lama saling mengenal. Kalian juga sudah dekat dari dulu."
Steven dan Sera memang dekat dari dulu, terutama dengan ibunya. Sera bahkan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan ibunya, dibandingkan dirinya. Mereka bedua seperti anak dan ibu.
Sera adalah wanita yang paling dekat dan memahami sifat Steven. Disaat orang lain tidak bisa mendekati Steven, hanya Sera yang mampu berdiri di sisinya. Steven juga selalu memperlakukan Sera dengan baik.
Kedekatan mereka disalah artikan oleh Ibu Steven. Meskipun sebenarnya, Sera memang menaruh hati pada Steven. Banyak sekali yang iri pada Sera karena bisa dekat dengan Steven, bahkan sebagian dari mereka mengira kalau Sera adalah calon istri Steven.
"Lalu?" sela Steven.
Ibu Steven menatap ke arah anaknya yang terlihat tidak sabar. "Mama berencana menjadikan Sera bagian dari keluarga kita."
Steven melirik Sera yang terlihat tersenyum manis. "Mama ingin mengangkatnya menjadi anak?" tanya Steven sambil tersenyum pada ibunya.
"Kau jangan bicara omong kosong, Steve. Tentu saja mama ingin menjadikannya menantu Mama."
Senyuman di wajah Steven langsung menghilang setelah mendengar perkataan ibunya.
__ADS_1
Bersambung....