Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Penolakan Dari Steven


__ADS_3

"Kau jangan bicara omong kosong, Steve. Tentu saja mama ingin menjadikannya menantu Mama."


Senyuman di wajah Steven langsung menghilang setelah mendengar perkataan ibunya.


Steven melirik pada Sera yang terlihat tersipu malu lalu beralih menatap ibunya. "Ma, jangan rusak pertemanan kami dengan perjodohan ini," ujar Steven pelan.


Ibu Steven sudah hapal dengan watak anaknya, semakin dia memaksa, semakin kuat juga dia akan menentangnya. Itulah yang selama ini membuat hubungan mereka merenggang karena mereka sering berdebat jadi dia lebih memilih berbicara dengan kepala dingin.


Ibu Steven menatap heran pada anaknya. "Memangnya apa kurangnya Sera? Dia cantik, pintar, karirnya bagus, latar belakang keluarganya jelas, attitudenya baik, penyayang, pengertian dan yang terpenting adalah dia selalu menemanimu disaat masa-masa sulitmu dulu."


Steven menunduk ke bawah, menghembuskan napas lalu menatap kembali ibunya. "Aku tahu, Ma. Aku yakin Sera bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari pada aku. Kami memang dekat, tapi bukan berarti hubungan kami bisa berlanjut ke tahap selanjutnya. Mama juga tidak bisa memaksa Sera untuk menikah denganku."


Wajah Sera langsung berubah, tidak ada lagi senyum manis yang sedari tadi menghiasi wajahnya yang ada kini hanya wajah kecewa.


"Kau jangan pura-pura tidak tahu, Steve. Sera sudah lama menyukaimu. Kau seharusnya tahu kalau dia sudah menunggumu selama bertahun-tahun." Wajah Ibu Steven terlihat mulai mengeras.


"Ma, perasaan tidak bisa dipaksakan. Dari dulu, aku hanya menganggap Sera sebagai temanku, tidak lebih. Dia tidak akan bahagia jika menikah denganku." Steven masih berusaha untuk bersikap tenang.


"Apa sudah ada wanita yang kau sukai sehingga kau menolak Sera?" tanya Ibu Steven dengan tatapan menyelidik.


"Iyaaa, aku sudah menyukai wanita lain," jawab Steven mantap.


Sera langsung menatap kecewa pada Steven. Sementara ibunya terlihat mulai marah. "Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau sudah menyukai wanita lain? Kau seharusnya memikirkan bagaimana perasaan Sera. Selama ini dia sudah sangat sabar menunggumu."


"Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk bercerita pada Mama."


"Lalu, kau akan lebih memilih wanita itu dari pada Sera?" tanya Ibu Steven dengan nada tinggi.


"Aku mencintainya, Ma."


"Steven, kau jangan lupa, pengorbanan apa yang sudah Sera lakukan untukmu? Hutang budimu padanya, dengan apalagi kau membalasnya selain menikahinya," ujar Ibu Steven dengan marah.


Sera yang sedari tadi diam, akhirnya dia mengeluarkan suaranya. "Tante, sudahlah. Aku tidak apa-apa. Jangan memaksa Steven lagi. Biarkan dia berpikir dengan tenang," ucap Sera lembut sambil memegang tangan ibu Steven. Dia mencoba menenangkan hati ibu Steven.


"Kau jangan mau mengalah terus, Sera. Sampai kapan kau akan diam saja? Apa kau rela kalau Steven menikah dengan wanita lain?" Ibu Steven memegang dadanya yang mulai sakit.


Steven berdiri lalu mengusap-usap punggung ibunya. "Ma, tenanglah. Penyakit jantungmu bisa kambuh jika kau terus marah," ucap Steven dengan suara pelan.

__ADS_1


Ibu Steven mengangkat kepalnya, menatap anaknya dengan wajah kesal. "Ini semua karena ulahmu."


"Baiklah. Maafkan aku. Jangan marah lagi. Lebih baik Mama beristirahat. Jangan terlalu stress. Aku pergi dulu." Steven pergi meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban dari ibunya.


"Saya permisi, Nyonya." Erick membungkuk lalu menyusul bosnya. Sedari tadi, Erick hanya diam dan mendengarkan selama Steven dan ibunya berdebat.


Belakangan ini, kesehatan ibunya sering terganggu, itulah sebabnya Steven memilih untuk pergi dan tidak mau berdebat dengan ibunya.


"Steven, kau mau ke mana?" teriak ibunya dengan suara tinggi. Steven tidak menghiraukan panggilan ibunya dan memilih untuk terus berjalan diikuti oleh Erick di belakangnya.


"Anak itu, semakin keras kepala saja."


"Tante, tenanglah. Biarkan saja dulu, Jangan terlalu keras padanya. Dia justru akan menjauhiku jika Tante terlalu memaksanya."


"Kau ini, terlalu baik padanya."


"Tante tunggu di sini dulu. Aku akan berbicara dengan Steven sebentar," ucap Sera sambil berdiri.


"Baiklah."


Steven yang baru saja akan masuk ke dalam mobil seketika menghentikan langkahnya ketika mendengar Sera memanggilnya. "Ada apa?" Steven berdiri menghadap Sera sambil memasukkan tangan ke saku celananya.


"Steve, kau jangan marah pada ibumu. Dia tidak bermaksud untuk memaksamu. Mengertilah, ibumu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Aku akan berbicara padanya nanti agar tidak terus mendesakmu," ucap Sera dengan lembut.


"Iyaa, aku mengerti. Setelah selasai berbincang dengan mama, segeralah pulang. Sudah malam. Aku akan menyuruh Nick untuk mengantarmu pulang nanti."


Sera adalah satu-satunya wanita yang Steven perlakukan dengan lembut dan baik. Selain dengannya, Steven akan bersikap dingin dan acuh pada setiap wanita yang mendekatinya.


Itulah sebabnya, banyak yang salah paham terhadap hubungan mereka berdua. Sikap Steven terlihat berbeda ketika dengan Sarah dibandingkan kepada semua wanita yang mengejar dan mendekati Steven.


Bukan rahasia lagi kalau selama ini, banyak yang berusaha untuk memikat dan mengejar Steven supaya bisa menjadi pendampingnya tapi tidak ada yang berhasil. Selama ini semua orang tahu kalau Steven sangat sulit didekati. Dia bahkan tidak suka disentuh oleh wanita lain.


Jangankan menyentuh, mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya karena Steven sangat membatasi diri dengan wanita. Banyak yang iri pada Sera kau mendapat perlakuan berbeda dari Steven. Tanpa mereka tahu, bahwa Steven sebenarnya tidak memiliki perasaan khusus pada Sera.


Selama ini, Sera sudah sangat baik padanya dan ibunya. Dia bahkan sering menjenguk dan merawat ibunya ketika dia tidak bisa menemanimu ibunya ketika sakit saat ada pekerjaan di luar kota ataupun luar negeri. Sikap baik Sera terhadap ibunya itulah yang menjadi salah satu alasan Steven, memperlakukan Sera dengan baik.


"Iyaaa, terima kasih, Steve."

__ADS_1


Steven mengangguk. "Aku pergi dulu."


"Iyaaa, hati-hati."


Setelah Steven masuk ke dalam mobil, Sera terus memandangi mobilnya hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.


Steve, setelah sekian lama kita mengenal, kenapa kau masih menganggapku teman? Kenapa kau malah mencintai wanita lain? Apa sudah tidak ada tempat lagi dihatimu untukku? Tidak bisakah kau membuka hatimu dan mencoba mencintaiku?


*******


"Tuan, kita akan kembali ke apartemen atau mansion Anda?" tanya Erick ketika baru saja keluar dari kawasan mansion orang tua Steven.


"Kembali ke mansionku." Steven memejamkan mata sambil menyandarkan punggung dan kepalanya.


Erick melirik bosnya dari kaca spion. Ini pertama kalinya Steven berdebat dengan ibunya mengenai seorang wanita.


Setibanya di mansion, Steven langsung menuju ke ruang kerjanya bersama Erick. "Tuan, apa tidak sebaiknya, anda jujur dengan nona Fiona tentang perasaan Anda. Dengan begitu Tuan bisa memperkenalkan nona Fiona pada nyonya," usul Erick.


Erick adalah satu-satunya orang yang sangat tahu dan mengenal sifat Steven sekaligus mengetahui tentang kehidupan pribadi bosnya. Hanya Erick yang menjadi teman bicaranya ketika dia butuh teman untuk mengobrol.


Selain Erick, sebenarnya masih ada Erland. Sahabatnya dari kecil, hanya saja karena kesibukan mereka masing-masing membuat Steven dan Erland tidak sedekat dulu.


Steven yang sedang berdiri sambil menatap ke arah luar seketika menoleh pada Erick yang berada di belakangnya. "Aku harus memastikan dulu bagaimana perasaannya padaku. Aku tidak yakin kalau dia memiliki perasaan yang sama denganku. Dia sudah pernah menolakku, Rick. Dan aku takut itu akan terjadi lagi."


"Saya rasa tidak akan ada wanita yang menolak Anda, Tuan."


Steven kembali menatap keluar. "Kau terlalu yakin, Rick. Aku tidak seperti pria lain yang memiliki kepercayaan tinggi. Kau tahu sendiri, aku bukan tipe pria yang dengan mudah mengatakan cinta pada seorang wanita, meskipun aku mencintainya. Aku lebih suka menunjukkannya dengan sikapku dari pada mengatakannya."


"Tapi, tidak semua wanita peka, Tuan. Contonya nona Fiona," terang Erick. "Saya rasa dia bahkan tidak menyadari perasannya sendiri," tebak Erick.


Steven berbalik lalu duduk di kursi kerjanya. "Rick, persiapkan konferensi pers beberapa hari lagi. Aku akan mengungkapkan identitasku yang sebenarnya."


Bersambung...


Visual Sera


__ADS_1


__ADS_2