Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Berkunjung ke rumah ibu Steven.


__ADS_3

Steven memandang James yang sudah tidak berdaya. Darah mengucur di seluruh tubuh yang sudah dipenuhi luka. Bagian bawah mata sebelah kiri lebam, mulutnya robek mengeluarkan darah, bagian wajahnya terdapat beberapa luka sobek dan lebam merah-kebiruan.


Tidak lupa juga pada jari-jari tangan, bagian kaki kiri, tangan kanan, serta punggungnya juga terluka. Jika orang melihat sekilas, mungkin mereka sudah tidak bisa mengenali wajah James.


Steven menepati ucapannya untuk membuat hidup orang yang sudah menculik dan menyakiti Fiona mendapatkan balas berkali-kali lipat atas perbuatannya.


"Apa kau masih ingin memancing kemarahanku?" Steven memang tahu kalau James sengaja memprovokasinya untuk melihatnya hilang kendali.


James yang kini sudah di dudukkan di salah satu kursi seraya dipegani oleh orang pengawal Steven, mencoba mengangkat kepalanya untuk menatap Steven.


"Lepaskan aku," ucap James dengan lirih dan nyaris tidak terdengar.


"Melepaskanmu? Setelah apa yang kau perbuat pada Fiona kau masih berharap aku melepaskanmu?" cibir Steven,


"karena kau, Fiona menderita trauma dan ketakutan. Seharusnya kau bersyukur karena aku tidak memotong jari-jari tanganmu karena sudah berani menyentuh calon istriku. Aku masih berbaik hati karena hanya membuat jari-jarimu patah dan remuk."


"Bunuh saja... Aku sekalian."


Steven memandang datar pada James dan berbicara dengan nada tenang. "Seharusnya kau berpikir seribu kali sebelum melakukannya. Kau seharusnya tahu dengan latar belakang keluargaku, aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Tidak akan ada yang berani menghentikannku."


James terlihat membuka mulutnya. "Aku.. tidak... menyentuh...nya." James bersusah payah untuk bicara.


"Meskipun begitu kau sudah membuatnya menderita. Dia hampir saja mati karena ulahmu. Kau seharusnya berterima kasih pada Fiona karena dia masih hidup, jika terjadi apa-apa dengannya, kau harus menebusnya seumur hidupmu dan jangan harap kau bisa keluar dari sini selamanya."


James hanya memandang Steven tanpa membalas ucapannya. Luka di sekujur tubuhnya membuatnya merasakan sakit luar bisa, bernapas saja sudah menyakitkan baginya.


"Sekarang katakan padaku, siapa lagi yang terlibat dalam penculikan Fiona?"


"Aku... tidaak tahu. Dia memakai... penutup... wajah...ketika bertemu... denganku," jawab James dengan napas berat.


"Jangan coba menipuku James, aku bukanlah orang mudah kau bodohi."


"Aku.. tidak berbohong."


Steven menatap lurus pada James dengan ekspresi tidak terbaca. "Pria atau wanita?"


"Wanita," jawab James dengan lemah.


Steven menoleh pada Erick yang berdiri di sampingnya. "Putuskan semua kontrak dengan perusahaan AJB. Dan, buat perusahaan itu bangkrut. Katakan pada perusahaan lain jangan ada yang berani membantunya jika tidak ingin berhadapan denganku," perintah Steven.


Perusahaan AJB adalah perusahaan milik keluarga James yang sudah diambil alih oleh James beberapa tahun tahu.


"Baik Tuan," jawab Erick cepat sambil memgangguk.


********


Seminggu sudah berlalu semenjak kasus penculikan Fiona. Setiap hari Fiona rutin melakukan terapi dengan dokter Reni. Setiap hari juga Steven menemani Fiona ke rumah sakit. Kondisi Fiona sudah membaik, penanganan yang cepat dan tepat membuat pemulihan Fiona tidak membutuhkan waktu yang lama.


Selama seminggu itu, Fiona tidak bekerja. Steven tidak ingin Fiona terbebani dengan urusan pekerjaan sehingga menyuruh Cindy untuk memberikan Fiona cuti. Semenjak perusahaan diambil alih oleh Steven, Cindy tidak berani membantah perintah dari Steven.


Hari ini, selesai Fiona melakukan therapy, Steven tidak langsung membawa Fiona ke mansionnya, melainkan membawa Fiona ke suatu tempat.

__ADS_1


"Kenapa kita ke sini?" tanya Fiona ketika mobil berhenti di sebuah butik terkenal yang berada di tengah kota.


"Memilih gaun untukmu." Steven menggenggam tangan Fiona lalu menuntunnya turun dari mobil.


Fiona nampak masih belum mengerti kenapa Steven tiba-tiba ingin membelikannya gaun. Fiona memilih untuk menahan rasa penasarannya ketika Steven sudah menariknya masuk ke dalam butik.


"Carikan gaun terbaik yang pas dengan ukuran tubuhnya," pinta Steven sambil mengarahkan pandangannya pada Fiona.


"Baik, Tuan," jawab seorang pegawai butik. "Silahkan tunggu sebentar."


Steven dan Fiona mengangguk. Setelah kepergian pegawai itu, Fiona mengikuti Steven untuk duduk sofa panjang yang ada di dalam ruangan VIP butik tersebut.


"Steve, untuk apa kau membelikanku gaun?" tanya Fiona ketika dia sudah duduk di samping Steven.


Steven tersenyum tipis. "Temani aku menghadiri pernikahan William."


"Bukankah kau akan datang bersama dengan Sera, kenapa malah mengajakku?"


Fiona mengalihkan pandangannya ke samping seolah sedang menyembunyikan raut wajah masamnya. Waktu itu, dia memang sempat kesal karena Sera terang-terang mengajak Steven untuk menemaninya datang ke pesta pernikahan sahabat mereka.


Saat itu, Steven terlihat tidak langsung menolak ajakan Sera bahkan tidak menanyakan pendapatnya terlebih dahulu sehingga membuat Fiona berpikir kalau Steven akan datang bersama dengan Sera tanpa meminta ijin darinya terlebih dahulu.


Steven tersenyum tipis mendengar nada bicara Fiona. Dia tahu kalau Steven sedang cemburu pada Sera. "Untuk apa aku mengajak wanita lain kalau aku sudah memiliki kekasih yang sangat cantik seperti dirimu."


"Kalau kau mengajak aku lalu bagaimana dengan Sera?"


"Aku sudah menolak ajakannya sayang. Aku tidak mungkin datang ke pesta William tanpa mengajakmu," ungkap Steven sambil mengusap lembut pipi Fiona dengan ibu jarinya.


Senyum tipis langsung terbit di wajah cantik Fiona. "Apakah Sera tahu kalau kau akan datang bersamaku?"


"Iyaa, aku sudah memberitahunya," jawab Steven seraya mengangguk.


"Apa kau pikir aku akan datang bersama Sera?" pancing Steven. Sebenarnya dia sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat reaksi Fiona ketika dia membahas Sera.


"Iyaaa, aku pikir kau akan pergi dengannya tanpa mengajakku." Fiona merasa malu karena sudah salah menduga selama ini.


"Aku pasti akan mengajakmu, apalagi ini diadakan di sebuah kapal pesiar mewah. Anggap saja sekalian kita liburan, kau pasti bosan di rumah terus. Kau mau kan menemani aku menghadiri pesta William"


Fiona langsung sumringah. "Iyaaa, aku mau."


"Saat kapal berlabuh di negeri sebrang, aku akan mengajakmu untuk jalan-jalan, bagaimana?"


"Tapi, bukankah pekerjaanmu sedang banyak?"


"Aku bisa meminta orang lain untuk menghandle urusan kantor. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu di negeri orang."


"Baiklah, terima kasih Steve."


"Permisi Tuan, Nona." Steven dan Fiona seketika menoleh pada pegawai yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Saya sudah memilih beberapa gaun terbaik, apakah Nona ingin mencobanya terlebih dahulu?" tanya pegawai itu sopan.

__ADS_1


Fiona menoleh pada Steven. "Tidak perlu, bungkuskan saja semuanya," ucap Steven cepat.


"Baik Tuan, silahkan untuk menyelesaikan pembayarannya terlebih dahulu," ucap pegawai itu sopan.


Steven mengangguk lalu berjalan menuju kasir. Setelah selesai membayar dan menerima barangnya, mereka langsung meninggalkan butik tersebut.


"Fio, kita mampir ke rumah mama dulu ya?"


Fiona langsung menoleh pada Steven. "Untuk apa kita ke sana?" tanya Fiona dengan wajah cemas.


Dia belum berani untuk bertemu dengan ibu Steven lagi.


Steven menggenggam tangan Fiona. "Bertemu dengan mama sekalian makan malam di sana. Apa kau lupa kalau seharusnya kita menemui mama seminggu yang lalu?" ucap Steven dengan lembut.


Fiona baru teringat hal itu, kalau bukan karena dia diculik, mereka pasti sudah pergi menemui ibu Steven untuk membicarakan mengenai rencana pernikahan mereka.


Fiona termenung sesaat. "Seharusnya kau bilang padaku dari pagi, jadi aku bisa menyiapkan sesuatu untuk ibumu." Fiona merasa tidak enak jika tidak datang ke rumah ibu Steven tanpa membawa apa-apa.


"Kau tidak perlu membawa apapun Fio. Aku sudah menyuruh Erick untuk membeli sesuatu untuk mama, benar, kan Rick?" Steven mengarahkan pandangannya pada Erick melalui kaca spion.


Erick membalas tatapan Steven melalui kaca spion juga. "Benar Nona, sudah saya siapkan di bagasi belakang."


Sesampainya di mansion orang tuanya, Steven langsung mengajak Fiona menuju ruang makan.


"Selamat malam, Ma," sapa Steven ketika baru saja memasuki ruang makan.


Ibu Steven menoleh pada Fiona sejenak lalu beralih pada Steven. "Duduklah."


Steven maju sambil meletakkan barang bawaan yang dibeli oleh Erick di dekat ibunya lalu berkata, "Ma, ini Fiona yang sengaja membawakan untukmu."


Steven sengaja membelikan beberapa kue kesukaan ibunya.


Ibu Steven melirik sekilas lalu menatap Fiona. "Terima kasih Fiona. Lain kali, kau tidak perlu membawa apapun ke sini."


Fiona tersenyum canggung saat melihat ekspresi datar ibu Steven. "Iyaa," jawab Fiona dengan sopan.


Steven menuntun Fiona untuk duduk di sabelahnya. "Aku dengar dari Steven, kau sempat diculik, apakah itu benar?"


"Benar, Tante. Steven yang menyelamatkan saya," ungkap Fiona.


Ibunya melirik sekilas pada Steven lalu kembali menatap Fiona. "Ma, ada yang ingin aku bicarakan, tapi lebih baik kita makan terlebih dahulu," saran Steven.


"Tunggu, mama sedang menunggu seseorang."


"Siapa?" Steven merasa penasaran, siapa yang sedang ditunggu oleh ibunya.


"Tunggu saja, sebentar lagi dia datang."


"Selamat malam semua." Sera tersenyum manis ketika baru memasuki ke ruang makan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2