
Siang harinya, Steven sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Sera di salah satu restoran di lantai bawah. Saat melihat Steven sudah duduk di salah satu kursi restoran tersebut, Sera langsung tersenyum sembari menghampiri Steven.
"Steve, apa kau sudah lama menunggu?" tanya Sera lembut.
Steven mengangkat kepalanya lalu tersenyum ketika melihat Sera baru saja datang. "Tidak, duduklah." Steven meletakkan ponselnya di meja lalu beralih menatap Sera sembari duduk bersandar.
"Kau ingin minum apa?" tanya Steven sambil meletakkan buku menu di hadapan Sera.
Sera membuka buku menu lalu melihat daftar menunya. "Cappucino," jawab Sera.
Steven memanggil pelayan restoran lalu memesan minuman untuk mereka bedua. "Steve, aku senang sekali kau mengajakku bertemu di sini berdua saja. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini."
Semenjak Steven memiliki hubungan dengan Fiona, Steven memang sudah jarang bertemu dengan Sera. Dulu, mereka sering kali bertemu hanya untuk sekedar berbincang. Steven juga sering menemani Sera ke berbagai tempat jika Sera memintanya.
"Sera, sudah berapa lama kita saling mengenal?" Steven tidak menanggapi ucapan Sera melainkan dia justru mengalihkan pembicaraan.
Bola mata Sera menatap ke arah kanan atas sambil mengingat sesuatu. "Sepertinya, sudah 17 tahun," jawab Sera, "kenapa?"
Steven menyungging senyum tipis di bibirnya. "Ternyata sudah lama juga." Steven menatap ke bawah sambil memainkan jemari tangannya.
"Sera, selama kita saling mengenal, apa aku pernah berbuat jahat padamu atau secara tidak sadar aku melukaimu?"
"Tidak, memangnya kenapa?" Sera merasa ada hal aneh dengan pertanyaan Steven.
"Kau tahu bukan, apa arti Fiona bagiku?" Lagi-lagi Steven tidak menjawab pertanyaan Sera melainkan membiarkannya untuk berpikir sendiri.
Sera bungkam sesaat sambil menelisik dalam pada bola mata Steven. "Iyaa, aku tahu."
Steven mengalihkan pandangannya ke samping sebentar sambil menghela napas. "Lalu kenapa kau masih mengusik Fiona?" tanya Steven dengan suara berat.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," ujar Sera.
"Aku sudah tahu semuanya Sera." Steven sengaja tidak melanjutkan ucapannya untuk melihat reaksi dari Sera. "Kau yang menyuruh orang untuk memasukkan obat ke minumanku dan kau juga yang sudah menyuruh orang untuk membuat Fiona pingsan dan membawanya kembali ke kamarnya, supaya aku tidak curiga dan mengira Fiona sedang tidur."
Mata Sera membesar, seketika dia langsung menelan salivanya. Dia tidak menyangka kalau Steven dengan mudahnya mengetahui tentang perbuatannya.
"Aku tidak masalah kalau kau mau menjebakku, tapi bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak pernah mengusik Fiona lagi?'
Sera tiba-tiba gugup. Dia takut kalau Steven akan membencinya karena perbuatannya. "Steve, aku... aku tidak bermaksud menyakiti, Fiona. Aku hanya tidak mau dia mengganggu kita. Maafkan aku Steve. Aku tahu aku salah. Aku hanya terlalu mencintaimu sehingga tidak bisa berpikir jernih saat itu," papar Sera dengan wajah bersalah.
"Sera, kau seharusnya tahu, orang seperti apa aku. Jangan melakukan sesuatu yang tidak aku sukai."
Sera memegang lengan Steven. "Iyaa, aku tahu. Maafkan aku kali ini saja, Steve. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," mohon Sera dengan wajah mengiba. "Aku memang salah, tolong maafkan aku Steve."
Melihat Sera yang sudah menyesal, Steven mulai melunak. "Baiklah, aku akan memaafkanmu kali ini, tapi tidak untuk lain kali. Jangan pernah ulangi lagi."
Sera mengangguk. "Iyaa, terima kasih Steve."
"Masalah ini, biarkan saja kita berdua yang tahu. Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Aku anggap masalah ini sudah selesai. Jangan pernah ungkit hal ini dan jangan beritahu kepada siapapun, termasuk Fiona."
"Baik, Steve."
__ADS_1
Jika Steven tidak mengingat jasa Sera padanya dan ibunya, mungkin Steven sudah membuat perhitungan dengan Sera. Bagaimana pun selama ini, Sera sudah sangat baik padanya dan ibunya. Terlebih lagi, Sera selalu di sampingnya ketika dia sedang terpuruk setelah Gwen menghilang.
Tanpa Steven dan Sera sadari, ternyata Fiona sedang berdiri di balik tembok mendengarkan semua pembicaraan mereka dari awal hinggak akhir.
Ternyata kau sangat peduli pada Sera, Steve. Kau bahkan masih berusaha melindunginya, meskipun kau sudah tahu kau dia yang sudah menyebabkan aku pingsan dan yang sudah menjebakmu. Sepertinya, Sera memang sangat penting bagimu di bandingkan aku.
Percuma saja aku memberitahumu kalau Sera adalah dalang dari penculikanku. Kau pasti akan tetap melindunginya, meskipun dia sudah berusaha untuk mencelakaiku. Steve, ternyata di hatimu tetap Sera yang paling utama. Harusnya aku sadar dari awal kalau aku tidak akan pernah bisa mengalahkan Sera.
Fiona menatap sedih ke arah Steven dan Sera sejenak, setelah itu dia pergi meninggalkan restoran tersebut.
Setelah kepergian Fiona, Steven kembali berbicara. "Sera, aku minta jangan pernah usik Fiona lagi, apalagi sampai mencelakainya. Aku memaafkan kesalahanmu karena melihat hubungan baik kita selama ini, tapi kalau kedepannya kau masih tidak mengindahkan peringatanku, maka, jangan salahkan aku kalau aku membuat perhitungan denganmu," ujar Steven dengan tegas.
"Iyaa, aku janji tidak akan pernah mengusik Fiona lagi Steve," ucap Sera dengan suara pelan.
"Fiona adalah segalanya bagiku. Di dunia ini tidak ada yang lebih penting dari dia, selain ibuku, jadi jangan coba uji batas kesabaranku dengan cara mengusiknya."
*******
Semenjak kejadian di kolam renang, Steven belum bertemu lagi dengan Fiona hingga malam hari. Setelah bertemu dengan Sera siang hari, Steven kembali ke kamarnya untuk tidur. Sore harinya dia menemui temannya dan berbincang di lounge yang berada di deck 7 yang menghadap langsung ke arah kolam renang luar ruangan.
Malam hari, mereka berpindah ke deck 16 di mana club malam berada. Di sana sedang di gelar white hot party. Suara hentakan musik yang dimainkan oleh Dj terdengar memekakkan telinga, suasana ramai dan temaram. Hanya sorot lampu aneka warna yang menembak ke sana kemari. Sebuah lampu disko tampak berputar di tengah ruang.
Hilir mudik orang dengan pakaian yang bermacam-macam gaya, mulai dari yang biasa, pakaian minim hingga punggung terbuka, semua melintas di depan mata. Aroma parfum, alkohol dan rokok menyengat memenuhi ruang nafas.
Steven dan ketiga temannya sedang duduk di salah satu meja, meminum alkohol sambil menatap pria dan wanita yang memenuhi dance floor yang sedang menggerakkan dan menggoyangkan tubuhnya seirama dengan musik yang dimainkan.
"Steve, lihat wanita yang berada di meja paling ujung, sedari tadi dia melihat ke arahmu, sepertinya dia tertarik padamu," ujar William dengan suara tinggi sambil mengarahkan pandangannya ke beberapa wanita cantik dengan pakaian minim.
"Bukan hanya wanita itu saja yang tertarik dengan Steven, lihat ke sekeliling kita, mereka semua menatap ke arahnya," sela Wilson.
Sebenarnya, di manapun Steven berada, dia selalu menjadi pusat perhatian. Daya tariknya selalu berhasil memikat hati para wanita cantik yang pernah melihatnya.
"Kalau aku jadi kau, sudah aku gunakan pesonaku untuk menjerat gadis-gadis cantik yang ada di sini," ujar William lagi.
"Bukankah dia putri bungsu dari pemilik Sensa Group?" ujar Erland sambil menatap ke arah wanita yang sedari tadi mencuri pandang pada Steven.
Tamu yang datang ke acara William adalah sebagian besar adalah orang penting sekaligus orang dari kalangan atas dan berpengaruh. Itulah sebabnya, orang yang berada di club itu juga bukan sembarangan orang.
"Benar, dia adalah anak kesayangan tuan Frank." William menyenggol lengan Steven yang terlihat masih acuh. "Apa kau tidak mau memberikan kesempatan pada anak tuan Frank untuk berkenalan denganmu?" goda William.
"Jangan bicara omong kosong. Aku tidak suka berkenalan secara acak dengan sembarangan wanita."
"Dia itu bukan wanita sembarangan. Dia adalah nona muda dari Sensa group. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu seolah dia orang biasa," pekik William.
Steven terlihat masih acuh, dia meraih gelas lalu meminumnya. "Lalu apa hubungannya denganku?"
William menghela napas dengan wajah frustasi. "Dia itu menyukaimu, setidaknya kau bisa mengenalnya lebih dulu. Apa perlu aku memanggil anak tuan Frank ke sini agar kau bisa mengobrol dengannya?"
Steven melirik William dengan wajah datar. "Jangan macam-macam! Aku sudah memiliki kekasih."
"Aku juga tahu, tapi tidak ada salahnya untuk sekedar mengobrol, toh Fiona juga mengobrol dengan pria lain tadi pagi," ucap William.
__ADS_1
Wilson langsung menyenggol lengan Willian ketika melihat tatapan Steven yang berubah menjadi dingin. "Lebih baik kau saja yang berkenalan dengan mereka jika kau ingin segera menjadi duda," cibir Steven tanpa menoleh pada William.
"Siaaaal, hampir saja aku lupa kalau aku sudah menikah. Maafkan aku Angel. Aku tidak akan macam-macam."
Wilson dan Erland terkekeh melihat tingkah William. Dia memang sudah meminta ijin pada Angel untuk bertemu dengan ketiga temannya. Seharusnya dia menghabiskan waktu dengan istrinya sebagai pengantin baru, tapi dia meminta istrinya untuk memberikan dia waktu untuk berkumpul dengan ketiga temannya karena jarang sekali mereka bisa berkumpul dengan formasi lengkap.
Mereka semua adalah orang sibuk sehingga membuat mereka jarang sekali bertemu. Untung saja Angel mengerti dan mengijinkan William untuk menemani ketiga temannya. Ketika waktu menujukkan pukul sebelas malam, Steven kembali terlebih dahulu ke kamarnya meninggalkan ketiga temannya yang masih betah berada di sana.
"Steve, kau dari mana saja? Aku munghubungi ponselmu beberapa kali tapi tidak kau angkat."
Fiona sedang berdiri di depan kamar Steven ketika Steven baru saja sampai di depan kamarnya.
"Ponselku tertinggal di dalam." Steven membuka pintu kamanya lalu masuk diikuti oleh Fiona di belakangnya.
"Kau dari mana? Kenapa tubuhmu bau asap rokok dan alkohol?" Fiona bertanya lagi ketika belum juga mendapatkan jawaban dari Steven.
"William mengajakku ke club yang ada di deck atas," jawab Steven sambil berjalan menuju lemari, membuka bajunya lalu mengganti pakaiannya. Dia tidak lagi merasa canggung membuka bajunya di depan Fiona.
"Steve, apa kau masih marah denganku karena masalah tadi pagi?" tanya Fiona hati-hati.
Selesai memakai baju, Steven menghampiri Fiona yang sedang berdiri di dekat tempat tidur. "Tidak, aku tidak marah," jawab Steven lembut.
"Tapi, kenapa kau seperti menghindariku hari ini?"
Steven memang tidak menemui Fiona seharian, tetapi dia menyuruh Erick untuk mengawasi Fiona dan mengantarkan makanan tepat waktu untuknya.
"Aku tidak menghindarimu. Aku pikir, kau mungkin butuh waktu sendiri dan tidak mau diganggu olehku."
Steven berjalan ke arah tempat tidur lalu duduk di tepi ranjang. "Kembalilah ke kamarmu, ini sudah malam."
Besok siang, kapal akan bersandar di negara C. Itulah sebabnya Steven menyuruh Fiona untuk Istirahatlah yang cukup agar dia memiliki tenaga untuk jalan-jalan di negara C nantinya.
"Bolehkah aku tidur di sini malam ini?" tanya Fiona.
"Fio, lebih baik kau tidur di kamarmu. Malam ini aku sedang mabuk. Aku tidak bisa menjamin untuk tidak menyentuhmu jika kau tidur di sini malam ini."
Fiona menunduk dengan wajah kecewa. Sebenarnya dia bukan kecewa karena Steven tidak mengijinkan dia tidur di kamarnya, melainkan dia kecewa karena sikap dingin Steven padanya. "Baiklah, aku akan kembali ke kamarku." Fiona memutar tubuhnya lalu berjalan menuju pintu dengan langkah pelan.
Sebenarnya, alasan dia ingin tidur di kamar Steven adalah untuk membicarakan mengenai kesalapahaman di antara mereka berdua. Dia merasa kalau Steven menghindarinya semenjak kejadian tadi pagi, maka dari itu, dia ingin segera menyelesaikannya. Dia tidak mau hubungannya merenggang hanya karena membiarkan masalah berlarut-larut.
Sebelum mencapai pintu, Fiona berbalik dan berkata, "Steve, diantara aku dan Sera, siapa yang akan kau pilih saat kami berdua sama-sama sedang membutuhkanmu?"
Steven mengerutkan kening karena bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Fiona. "Apa maksudmu?"
Kau bahkan tidak bisa langsung menjawab pertanyaan mudah dariku, sepertinya, aku sudah tidak menjadi perioritasmu lagi.
Fiona tersenyum getir. "Tidak apa-apa. Aku akan kembali ke kamarku." Fiona melangkah keluar lalu menutup pintu kamar Steven.
Melihat ada sesuatu yang aneh pada Fiona, Steven lalu menyusulnya ke kamarnya. "Ada apa?" tanya Fiona ketika baru saja membuka pintu kamarnya dan melihat Steven sudah berdiri di depan pintu.
"Aku ingin tidur denganmu malam ini."
__ADS_1
Bersambung....