
"Apakah ini alasannya kau memintaku berpura-pura untuk menjadi kekasihmu di depan ibumu karena kau menunggunya kembali dan berniat untuk menikah dengannya?"
Sebenarnya, waktu itu Fiona hanya bercanda dengan Leon ketika mengatakan untuk menjadi pacar pura-puranya. Saat itu, Leon tidak sengaja mendengar obrolan antara Jesy dan Fiona ketika Leon berkunjung ke apartemen Jesy.
Dia mendengar kalau Fiona diminta oleh ibunya untuk mengenalkan pria pilihannya. Jika ibunya setuju, maka dia boleh menikah dengan pria pilihannya sampai batas waktu yang sudah ditentukan, jika tidak, dia harus menikah dengan James.
Saat itu, Leon langsung ikut bergabung bersama dengan Fiona dan Jesy, kemudian mereka bertiga membahas mengenai hal itu. Fiona yang awalnya hanya bergurau dengan mengatakan pada Leon untuk menjadi pacarnya agar ibunya tidak lagi mendesaknya, tanpa diduga langsung disetujui oleh Leon.
Fiona terdiam. "Aku hanya tidak ingin ibuku terus mendesakku untuk menikah dengan James," jawab Fiona sambil menunduk.
Setelah kepergian Steven selama 2 tahun, Fiona memang berencana untuk memperbaiki hubungannya dengan Steven dan berniat untuk menjawab pertanyaan yang pernah ditanyakan oleh Steven padanya, tapi kini sudah tidak lagi. Semenjak 6 bulan lalu dia sudah mulai menerima dan mencoba melepaskan Steven. Dia ingin membuka lembaran baru.
Kini, ketika mereka bertemu kembali, dia hanya tidak ingin dirinya dan Steven seperti orang asing, apalagi dulu Steven banyak membantunya. Meskipun nantinya mereka tidak bisa bersama, Fiona bisa menerimanya. Bagaimana pun juga itu adalah kesalahannya tidak memperjelas dari awal.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya? Hanya tinggal enam bulan lagi waktu yang diberikan ibumu untukmu menikah. Apa kau berencana untuk bersandiwara denganku sampai tahap pernikahan?" tanya Leon dengan wajah serius.
Fiona terdiam lalu melirik pada Steven. "Aku juga belum tau pasti apa yang akan aku lakukan ke depannya. Kalau aku tidak menikah sampai batas waktu yang ditentukan, aku yakin mama pasti mengusirku dari rumah dan tidak akan menganggapku anaknya lagi."
Leon menyunggingkan sudut bibirnya sambil bersandar menatap Fiona. "Kau pikir selama ini dia menganggapmu seperti anaknya?" Bukan rahasia lagi, kalau ibu Fiona tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Selain Jesy, Leon juga tahu hal itu.
Fiona menghela napas. "Kalau kau tidak ingin menikah, jangan menikah. Kalau ibumu mengusirmu, tinggalah bersamaku atau Jesy. Aku akan bertanggung jawab pada hidupmu, tapi kalau kau tidak ingin bergantung padaku, maka aku akan membantumu untuk bertahan hidup," ucap Leon dengan sungguh-sungguh.
Fiona tampak berpikir seraya menatap ke arah Steven. "Aku akan...."
"Permisi, Tuan, Nona.. Ini pesanannya." Seorang pegawai restoran menyela ucapan Fiona.
Fiona mengangguk, setelah semua pesanan mereka diletakkan, pegawai tersebut pergi.
"Makanlah, nanti kita bicarakan lagi," ucap Leon ketika melihat Fiona hanya diam.
"Iyaaa." Fiona mengambil sendok lalu mulai menyantap makanan yang ada dihadapannya. Tanpa dia sadari, Steven sedang menatapnya dan hal itu disadari oleh Leon.
Selesai makan, Fiona menatap ke arah meja Steven tapi meja itu sudah kosong. Fiona tidak menyadari kepergian Steven.
Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tapi tidak juga menemukannya. Fiona menghela napas panjang. "Kau sudah selesai?" tanya Leon ketika melihat Fiona terdiam.
Fiona mengangguk. "Aku antar kau pulang."
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku membawa mobil, antarkan saja aku ke kantor," tolak Fiona cepat.
"Baiklah."
******
Steven dan Erick baru saja tiba di mansion Steven. Ini adalah kedua kalinya, dia ke sini semenjak kembali dari luar negeri. Kemarin, dia ke sini setelah bertemu dengan Fiona di pesta.
"Tuan, bukankah tadi itu Nona Fiona? Kenapa anda tidak menyapanya?" tanya Erick dengan suara pelan. Mereka baru saja turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu.
Steven membuka pintu mansionnya lalu berjalan masuk, disusul oleh Erick di belakangnya. "Aku tidak ingin mengganggunya," jawab Steven acuh tak acuh.
"Jadi, anda sungguh ingin menjauhinya?" tanya Erick dengan dahi berkerut.
Steven terdiam sesaat sambil melangkah ke lantai 2 dan masih diikuti oleh Erick di belakangnnya. "Biarkan dia bahagia dengan pilihannya."
"Bagaimana kalau Nona Fiona justru tidak bahagia?" Erick memiliki firasat kalau sebenarnya Fiona memiliki perasaan terhadap bosnya.
Steven berhenti tepat di tangga terkahir lalu menoleh pada Erick. "Menurutmu, apa yang membuatnya tidak bahagia saat dia sudah memiliki kekasih yang tampan dan kaya?"
Erick terlihat berpikir sejenak. "Tapi menurut saya, anda lebih tampan dan bahkan tidak ada yang bisa mengalahkan kekayaan anda di negeri ini."
Steven mendesis. "Tapi, nyatanya dia menolakku, Rick." Steven kembali melangkah menuju ke ruangan kerjanya dan membuka tirai yang menutupi dinding kaca ruang kerjanya.
"Jadi, anda sudah memutuskan untuk bersama dengan Nona Sera?"
Steven yang sedang memandang keluar seketika menoleh pada asistennya. "Rick, jangan beritahu ibuku kalau aku ada di sini. Aku tidak akan pulang malam ini. Bilang saja aku ada di apartemenku."
Erick mengangguk. "Baik, Tuan."
Steven kembali memandang keluar. "Ambilkan aku minuman."
"Tapi Tuan, dokter sudah melarang anda untuk minum," ucap Erick mengingatkan. "Apa anda ingin berakhir di rumah sakit lagi?"
Steven menoleh pada Erick. "Aku hanya akan minum sedikit, cepat ambilkan."
Erick menghela napas. "Baik."
__ADS_1
*****
Fiona melajukan mobilnya ketika Leon sudah mengantarnya ke kantor. Bukannya pulang, Fiona melajukan mobilnya ke arah mansion Steven. Dia bertekad untuk menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka berdua malam itu juga.
Sesampainya di mansion Steven dia meminta penjaga mansion Steven untuk membukanya. Biasanya penjaga mansion Steven langsung membuka gerbangnya ketika melihat Fiona. Kali ini, penjaga tersebut menghentikan Fiona di gerbang dan tidak memperbolehkannya masuk.
"Tolong sampaikan pada Steven kalau aku ingin bertemu dengannya," ucap Fiona pada penjaga yang bernama pak Rusdi.
Pak Rudi kemudian kembali ke pos penjagaan dan terlihat menghubungi seseorang. Di saat yang sama Steven yang sedang terbaring di sofa panjang setelah Menghabiskan 2 botol minuman beralkohol.
"Tuan, bangun Tuan, Nona Fiona ada di luar."
Erick yang masih berada di mansion Steven berusaha untuk membangunkan bosnya. Melihat bosnya tidak bergerak, Erick kembali membangunkannya beberapa kali. Steven terlihat masih memejamkan matanya setelah beberapa kali Erick memanggilnya.
Erick menggelengkan kepala lalu berjalan meninggalkan Steven. Dia membuka pintu perlahan. "Selamat malam Nona Fiona," ucap Erik dengan sopan.
Fiona tersenyum canggung pada Erick. "Malam Erick, aku ke sini untuk bertemu dengan Steven," ucap Fiona sedikit malu.
"Maaf Nona, tuan Steven tidak bisa menemui anda malam ini. Lebih baik Nona Fiona pulang dan kembali lagi besok."
Erick sebenarnya tidak tega mengusir Fiona, hanya saja belum ada ijin sama sekali dari Steven membuatnya tidak berani membiarkan Fiona masuk.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar, Rick." Fiona terlihat kecewa karena Steven sudah tidak mau bertemu dengannya lagi.
"Anda bisa kembali lagi besok."
Fiona menggeleng cepat. "Tidak, aku harus bertemu dengannya sekarang. Aku yakin Steven pasti akan pergi dan menghilang lagi jika aku tidak menemuinya malam ini."
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah, lebih baik Anda pulang."
Fiona memegang gagang pintu ketika Erick akan menutup pintunya. "Apa Steven sangat membenciku sehingga dia tidak mau menemuiku lagi?"
"Tidak Nona, tuan Steven tidak pernah membenci Anda, hanya saja tuan Steven tidak bisa menemui anda malam ini karena dia sedang...."
Fiona langsung memotong ucapan Erick. "Apa dia sedang bersama dengan wanita lain di dalam?"
Bersambung....
__ADS_1