Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Datangnya Hujan


__ADS_3

Suansana sepi dan hening nampak terasa di salah satu kamar yang dipenuhi oleh taburan bunga mawar dengan dekorasi khas pengantin baru. Derasnya hujan membuat membuat sepasang suami istri itu saling menyalurkan kehangatan di tubuh mereka berdua.


Steven dan Fiona menyembunyikan tubuh mereka di bawah selimut. Saat ini, Fiona sedang berada dalam dekapan suami tampannya. Dia meletakkan kepalanya di dada suaminya sambil memainkan otot perut Steven yang sangat menarik perhatiannya sedari dulu.


Ini adalah hari kedua Fiona menyandang status sebagai istri Steven. Selama dua hari itu juga, mereka hanya berada di dalam kamar. Untuk urusan makan, mereka terkadang meminta Erick untuk membawakannya atau memesan layanan antar di restoran hotel tempat mereka menginap.


"Sayang, katakan padaku, bagaimana kau bisa tahu kalau Reynald adalah keluarga ibumu?" tanya Steven seketika.


Fiona mendongak kepalanya sedikit ke atas untuk menatap suaminya. "Saat aku akan pergi dengan kak Leon dari negara ini, aku tidak sengaja bertemu dengan kak Rey di bandara. Dia menanyakan asalan lamaranku dibatalkan. Awalnya, aku tidak mau memberitahunya, tapi dia memaksaku. Aku pun menceritakan semua padanya. Saat itu, dia marah dan berniat untuk menemuimu. Kemudian aku bilang padanya kalau aku sudah tidak mau berhubungan lagi denganmu," ungkap Fiona sambil membayangkan kejadian saat itu.


Saat mendengar lamaran Fiona dibatalkan, Reynald langsung pulang ke negara S untuk mencari tahu penyebabnya, tapi tak di sangka, saat di bandara, mereka tidak sengaja bertemu dan akhirnya dia tahu kalau Steven sudah mencampakkan Fiona.


"Dia kemudian mengajakku untuk ke negara S, tapi ditolak oleh kak Leon. Dia tidak mempercayai kak Rey sampai akhinya kak Rey menceritakan mengenai keluarga ibuku. Ternyata selama ini, dia sudah lama mencari ibuku dan tidak tahu kalau ibuku sudah meninggal," lanjut Fiona lagi.


"Dia kemudian menceritakan bagaimana usahanya selama ini untuk menemukan ibuku. Saat itu, kak Leon tidak begitu saja percaya dengan ucapan kak Rey sehingga kak Rey mengajakku ikut dengannya ke negara S untuk melakukan tes DNA supaya kami percaya dengannya," tambah Fiona.


"Akhirnya, kak Leon setuju dan setelah hasilnya DNA keluar, terbukti kalau aku memang anak ibuku."


Setelah kakek Fiona meninggal, keluarga Reynald langsung mencari keberadaan ibu Fiona. Selama 2 tahun mencari, mereka tidak juga menemukan jejak apapun.


Sebenarnya ayah Reynald tidak setuju ketika ibu Fiona diusir saat itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena diancam akan dibuang juga seperti ibu Fiona jika dia masih berhubungan dengan ibu Fiona.


Saat itu, kondisi tidak memungkinkan dirinya untuk melawan perintah ayahnya. Bagaimana pun dia memiliki keluarga yang harus dia hidupi sehingga tidak punya pilihan lain ketika melihat adiknya diusir. Semenjak itu hubungan komunikasi mereka terputus.


Steven manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Fiona. "Apa kau tahu, aku hampir gila saat mengetahui kalau Leon membawamu pergi. Aku bahkan berniat untuk menghancurkan semua keluarganya hingga tak tersisa dan membuatnya jatuh miskin," ungkap Steven sambil mengelus pundak istrinya.


"Benarkah?" Seingat Fiona tidak terjadi apa-apa dengan bisnis Leon semenjak kepergian mereka.


"Iyaaa. Beruntung, saat itu Erick mencegahku sebelum aku melakukannya. Dia bahkan mendapatkan pukulan dariku karena berusaha menghentikan aku saat aku menargetkan Leon dan keluarganya."


"Aku akan marah padamu kalau sampai kau melakukan itu Steve."


Tepat seperti dugaan Erick, Fiona akan membencinya kalau sampai Steven mengancurkan keluarga Leon. Maka dari itu Erick berusaha menghentikan Steven, meskipun dia harus hajar oleh Steven karena berusaha mencegahnya.


Mendengar hal itu, Steven langsung merasa tidak senang. "Apa kau masih mencintainya?"


"Tidak Steve. Aku tidak pernah mencintai kak Leon. Aku akan merasa bersalah kalau sampai kau menghancurkan keluarga dan bisnisnya karena diriku."


"Apa kau tahu Fio? Setelah kepergianmu, aku baru menyadari kalau ternyata perasaan cintaku begitu besar padamu. Aku memang sempat marah dan kecewa padamu saat aku mengetahui mengenai kecelakaan Gwen, tetapi setelah tidak bertemu denganmu selama beberapa hari membuat hidupku kacau. Lubuk hatiku mengatakan kalau aku merindukanmu, tapi otakku berpikir kalau aku membencimu. Aku sengaja menjauh darimu sementara waktu untuk menegaskan siapa sebenarnya wanita yang aku cintai hingga aku menyadari perasaanku yang sesungguhnya kalau sebenarnya aku sangat mencintaimu."


Fiona memiringkan tubuhnya lalu memeluk suaminya. "Aku kira kau sangat membenciku Steve. Itulah sebabnya aku memilih untuk pergi. Satu-satunya hal paling sulit aku lakukan adalah melanjutkan hidupku tanpamu."


"Maka dari itu, jangan pernah pergi lagi dariku, Fio. Aku sangat-sangat mencintaimu." Steven memberikan kecupan bertubi-tubi di kening Fiona.

__ADS_1


"Iyaa, aku hanya minta padamu untuk tetap mencintaiku apapun yang terjadi nanti dan jangan pernah goyah dengan godaan wanita di luar sana."


"Tentu, Sayang. Aku akan membuktikan padamu kalau aku tidak akan mencintai wanita lain."


"Mulai sekarang aku tidak mau melihatmu terlalu dekat dengan wanita lain, apalagi yang menyimpan perasaan padamu. Aku tidak suka jika ada wanita yang berusaha menarik perhatianmu saat aku tidak ada."


Steven tersenyum. "Hhhhmmm," gumam Steven sambil memgangguk.


Tidak puas dengan jawaban Steven, Fiona kemudian melepaskan dekapan suaminya lalu mendongak ke atas. "Aku serius, Steve," ucap Fiona dengan wajah cemberut.


"Iyaaa, Sayaaang. Apa kau tidak percaya pada suamimu ini?"


"Tidak."


Steven terkekeh, dia kemudian memecencet hidung Fiona dengan gemas. "Hanya kau yang berhak menjadi pendampingku sekaligus ibu dari anak-anakku kelak. Maka dari itu, lahirkan anak untukku untuk memperkuat posisimu jika kau tidak percaya padaku."


"Memangnya kau ingin anak berapa?" tanya Fiona ingin tahu.


Steven menatap ke atas sejenak lalu menjawab, "Aku ingin lima anak."


Mata Fiona membulat mendengar jawaban Steven. "Banyak sekali."


"Agar kita tidak kesepian, Sayang."


Steven berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Fiona. "Baiklah. Kalau begitu kita cicil dari sekarang."


Steven bangkit secepat kilat dan seketika dia sudah berada di atas tubuh istrinya setelah menghempas selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.


"Ayo kita buat sekarang Sayang supaya kau cepat hamil."


Tanpa menunggu lama, Steven melu-mat bibir istrinya dan menautkan kedua tangan mereka di kedua sisi kepala istrinya. Dan pada akhirnya, tubuh mereka kembali menyatu untuk kedua kalinya malam itu.


*********


Hujan belum juga reda saat Leon akan pulang dari apartemen Jesy. Setelah dari kantor, Jesy memintanya untuk mampir ke apartemennya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Leon akhirnya memutuskan untuk tetap pulang meskipun hujan semakin deras.


Dia melajukan mobilnya dengan pelan karena jarak pandangnya terbatas akibat derasnya hujan yang turun. Ketika dia melewati jalanan sepi menuju rumahnya. Dia melihat seorang wanita sedang berdiri menggunakan payung di samping mobilnya sambil menatap ke arah bawah.


Leon kemudian menepikan mobilnya di belakang mobil wanita itu dan menghampirinya setelah mengambil payung. "Nona, apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?" tanya Leon ketika dia sudah berada di dekat wanita itu.


Wanita itu menoleh. "Ban mobilku kempes," jawab wanita itu sambil menunjuk ban mobil depan sebelah kiri.


"Apa kau memiliki ban serep?"

__ADS_1


"Tidak," jawab itu sambil menggeleng.


Leon berpikir sejenak lalu berkata, "Baiklah, tinggalkan saja mobilmu di sini. Aku akan menyuruh orang untuk mengurusnya. Kau bisa ikut aku. Aku akan mengantarmu pulang," usul Leon.


"Tidak perlu, terima kasih atas tawarannya. Aku bisa naik taksi," tolak wanita itu sambil tersenyum canggung.


"Tenang saja, aku bukan orang jahat." Leon meraih dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu, "ini kartu namaku." Leon menaruh kartu namanya di tangan wanita itu.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu saja," terang wanita itu.


"Tidak akan ada taksi yang lewat dalam kondisi hujan deras begini apalagi pada pada pukul segini. Lebih baik aku yang mengantarmu pulang. Lagi pula, terlalu berbahaya bagi wanita untuk naik taksi malam-malam begini."


Wanita itu berpikir sesaat sebelum menjawab. "Baiklah, maaf sudah merepotkanmu."


"Bisa tolong pegang payungku sebentar," pinta Leon sebelum berjalan menuju mobilnya.


Dengan wajah canggung, wanita itu mengangguk setelah itu memegang payung Leon. Wanita itu melihat Leon melepaskan jasnya. "Pakai ini, kau bisa masuk angin jika terlalu lama terkena angin." Leon menyodorkan jasnya pada wanita itu.


Melihat sebagaian pakaian wanita itu nampak basah. Leon berinisiatif memberikan jasnya. Hujan malam itu memang sangat deras disertai dengan angin yang kencang sehingga membuat baju wanit sedikit basah.


Wanita itu tertegun sesaat. "Terima kasih." Wanita itu meraih jas Leon lalu memakainya.


Setelah berada di dalam mobil, Leon terlebih dahulu menghubungi orangnya untuk mengurus mobil wanita itu. "Di mana rumahmu?" tanya Leon setelah mengakhiri sambungan telponnnya.


Wanita itu kemudian menyebutkan sebuah kawasan perumahan paling elite di kota itu. Sebenarnya, Leon sudah menduga kalau wanita itu bukanlah wanita biasa. Dia bisa melihat dari mobil yang dia pakai dan dari apa yang dia kenakan.


Selama dalam perjalanan, mereka tidak mengobrol sama sekali. Hanya wanita itu yang sesekali melirik ke arah Leon yang sedang fokus menyetir.


Mobil Leon berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sangat luas dan besar. Itu adalah salah satu rumah terbesar di antara rumah yang ada di kawasan perumahan tersebut.


"Tuan Leon, terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap wanita sebelum turun dari mobil.


Wanita itu sempat membaca nama yang ada di kartu nama Leon sebelum menyimpannya di dalam tasnya, itulah sebabnya dia tahu nama Leon.


Leon mengangguk. "Bisakah kita bertemu lagi besok?"


Leon mengerutkan kening. "Aah begini." Wnaita itu nampak salah tingkah melihat tatapan Leon padanya, "aku hanya ingin mengajakmu makan malam sebagai ucapan terima kasiku karena sudah menolongku," jelas wanita, "tolong jangan tolak ajakanku," lanjut wanita itu lagi.


"Baiklah Nona. Kau tentukan saja di mana tempatnya."


"Namaku Sonia Sanjaya, panggil saja Sonia. Sepertinya kita seumuran," ucap Sonia sambil tersenyum manis ke pada Leon.


Leon menatap sesaat wanita itu lalu berkata, "Kalau begitu sampai bertemu besok, Sonia."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2