
"Apa kau yakin dia tidak apa-apa?" tanya Steven sambil menatap Fiona yang baru saja tertidur setelah disuntikan obat penenang.
Pria yang baru saja selesai memasang perban pada lengan kiri Fiona menoleh sejenak pada Steven.
"Untuk saat ini tidak apa-apa. Aku sudah memberikan obat padanya, tetapi kalau nanti dia masih histeris dan tidak bisa dikendalikan, kau harus membawanya ke rumah sakit. Dia perlu penanganan yang tepat agar tidak berlanjut ke tahap serius."
Setelah tadi tertidur sebentar, Fiona sempat terbangun dan tiba-tiba berteriak histeris. Ingatan ketika James ingin menjamahnya tiba-tiba terlintad di benaknya.
Untung saja Steven ada di dalam kamar tersebut sehingga dengan cepat bisa menenangkan Fiona. Dan, setelah disuntik obat penenang oleh dokter Wilson, Fiona kembali tertidur.
Steven menghela napas. "Apa tidak bisa kau saja yang menanganinya? Aku tidak suka pergi ke rumah sakit."
Pria berdarah timur tengah yang memakai kemeja berwarna navy itu lalu berdiri di samping Steven. "Tidak bisa, itu bukanlah spesialisasiku. Kau harus ke rumah sakit bertemu langsung dengan psikiater. Aku akan merekomendasikan dokter terbaik di rumah sakitku."
Dokter Wilson adalah Dokter Spesialis Penyakit Dalam, sekaligus teman baik Steven. Dokter Wilson juga biasa menangani ibu Steven.
"Baiklah, buatkan janji temu untuk besok. Aku akan mengabarimu lagi, tapi aku tidak mau ada keramaian."
"Baiklah, aku mengerti." Tentu saja Wilson tahu maksud dari perkataan Steven.
"Kau tenang saja, dia akan baik-baik saja. Itu adalah reaksi yang wajar. Kau tidak perlu khawatir," ucap Wilson sambil menepuk pundak Steven yang terlihat menatap sendu pada Fiona. Wilson bisa mengerti kekhawatiran Steven saat melihat Fiona tiba-tiba histeris.
Steven mengangguk. "Erland bilang, dia adalah calon kakak ipar, apakah benar?" tanya Wilson.
"Iyaa," jawab Steven sambil menunduk. "Tapi, ibuku tidak meretui hubungan kami."
Wilson menghela napas. Sudah lama sekali dia tidak melihat Steven berhubungan dengan seorang wanita, tapi disaat dia sudah menemukan wanita bisa membuatnya jatuh cinta, harus terhalang oleh restu ibunya.
"Teruslah berjuang, aku yakin ibumu akan luluh jika kau terus berusaha," ucap Wilson memberi semangat.
Steven mengangguk. "Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Wilson.
"Aku akan mengantarmu sampai depan."
"Tidak perlu, jaga saja kakak ipar di sini," tolak Wilson cepat.
"Baiklah. Terima kasih."
Wilson mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar Steven.
Setelah kepergian Wilson, Steven duduk di tepi tempat tidur Fiona sambil membelai rambutnya. "Maafkan aku Fio. Seharusya aku tidak membiarkanmu pergi ke rumah Sarah sehingga memberikan celah pada orang lain untuk menyakitimu."
Setelah menatap Fiona cukup lama, Steven melangkah keluar dari kamarnya. Dia menuju ruang tengah, di mana Erick berada. "Selidiki lagi siapa saja yang berkaitan dengan penculikan Fiona. Aku tidak akan melepaskan siapapun yang terlibat masalah ini," ucap Steven dengan suara berat.
Meskipun terlihat tenang, tapi sorot matanya menggambarkan api kemarahan. "Baik Tuan," jawab Erick dengan cepat. "Lalu bagaimana dengan James?" tanya Erick.
"Kurung saja dia dulu. Aku harus memberikan dia pelajaran dan membuatnya menderita sebelum menyerahkannya ke polisi. Setidaknya dia harus tahu akibatnya karena sudah berani bermain-main denganku."
__ADS_1
"Baik Tuan."
"Pulanglah. Besok antarkan aku ke rumah sakit sekalian menjenguk Doni."
"Baik Tuan."
*********
Pagi harinya, ketika Fiona membuka matanya, dia lansung berhadapan dengan wajah Steven yang terlihat sedang menatapnya. "Selamat pagi sayang. Apa tidurmu nyenyak?" tanya Steven sambil merapikan rambut kekasihnya.
"Iyaaa," jawab Fiona dengan suara pelan.
Steven tersenyum. "Hari ini, temani aku ke rumah sakit, kau tidak usah bekerja," pinta Steven dengan suara lembut sambil membelai wajah Fiona.
"Tapi...."
"Jangan membantahku, Fio. Mulai sekarang, kau tidak boleh pergi ke mana pun tanpa seiijinku."
"Iyaaa, maafkan aku," ucap Fiona dengan suara pelan.
Dia menyadari kalau kejadian kemarin termasuk kesalahannya. Seharusnya dia mendengarkan perkataan Steven saat dia meminta ikut ke rumah Sarah dan ketika Steven melarangnya untuk menginap.
Melihat wajah Fiona yang muram, Steven lalu berkata, "Fio, aku tidak marah padamu. Aku hanya tidak mau...."
Fiona langsung memotong ucapan Steven. "Iyaa, aku mengerti." Fiona tersenyum lalu bangun dari tidurnya. "Terima kasih karena selama ini kau selalu melindungiku." Fiona mencium pipi Steven lalu bergerak hendak turun dari tempat tidur.
"Aku ingin mandi," jawab Fiona sambil menoleh pada Steven.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah kau menciumku." Steven langsung menarik tangan Fiona hingga terjatuh di atas dadanya.
"Steve, lepaskan. Aku mau mandi," ucap Fiona ketika Steven menahan tubuhnya.
"Aku akan melepaskanmu tapi setelah ini." Steven menarik tengkuk Fiona lalu melu*mat bibirnya dengan lembut. Fiona yang nampak tidak siap hanya terdiam dengan bola mata yang membesar.
Ketika bibir mereka bertemu, Steven bisa merasakan kalau bibir Fiona sedikit bergetar. Steven terus melu*mat dan menyesap bibir ranum Fiona sampai Fiona merasa nyaman.
"Apa aku menakutimu?" tanya Steven ketika dia sudah melepaskan pagutannya.
Fiona menggeleng dengan wajah memerah. "Tidak."
Mendengar itu, Steven langsung merasa lega. Tadinya, dia pikir kalau Fiona akan kembali teringat saat James akan menyentuhnya.
Sebenarnya Steven melakukan itu untuk menghilangkan memori buruk mengenai James, tapi setelah dia berpikir lagi, mungkin saja itu juga bisa menambah ingatan buruk mengenai kejadian kemarin.
Steven menatap dalam netra Fiona. "Fiona, aku minta buang jauh-jauh ingatan buruk tentang kejadian kemarin, meskipun aku tahu hal itu pasti sulit bagimu, tapi aku ingin yang kau ingat hanya kenangan indah saat bersamaku."
"Iyaaa, aku akan mencobanya."
__ADS_1
"Kalau begitu kau harus sering-sering menciumku," goda Steven sambil tersenyum nakal.
"Tidak mau. Itu pasti hanya akal-akalanmu saja."
Steven terkekeh. "Mandilah, setelah ini kita ke rumah sakit."
Fiona bangun lalu beranjak turun dari tempat tidur. "Tanganmu yang diperban jangan sampai terkena air," ucap Steven ketika Fiona sudah berjalan ke kamar mandi.
"Iyaaa."
*******
"Kau sudah datang?" tanya Wilson ketika melihat Steven dan Fiona baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Apa kau sudah membuat janji untuk Fiona?"
Dalam perjalan, Steven sudah menjelaskan pada Fiona maksud kedatangan mereka ke rumah sakit agar Fiona tidak terkejut ketika mereka tiba di rumah sakit.
"Sudah, duduklah dulu. Aku akan menghubunginya dulu."
Steven menarik Fiona untuk duduk di depan meja kerja Wilson saat Wilson menghubungi seseorang. Selesai berbicara di telpon Wilson beralih menatap Fioan. "Kakak Ipar apa kau sudah siap untuk bertemu dengan Dokter Irfan?"
Fiona mengerut kening mendengar panggilan Wilson padanya. "Jangan membuatnya takut. Cepat antarkan kami." Steven melirik tajam pada Wilson yang terlihat sedang tersenyum lebar pada Fiona.
Wajah Wilson berubah menjadi masam. "Kau itu, setidaknya perkenalkan aku dulu pada Kakak Ipar agar kami bisa akrab."
"Bukankah kau sudah bertemu dengannya semalam? Untuk apa lagi kau berkenalan dengannya? Lagi pula, aku tidak suka kalau kau terlalu akrab dengan Fiona."
"Kau ini pecemburu sekali. Semalam itu situasinya berbeda. Aku bahkan belum menyapanya dengan benar," ucap Wilson dengan wajah kesal.
Fiona yang merasa tidak enak langsung mengulurkan tangannya pada Wilson. "Nama saya Fiona Dok. Maaf karena baru bisa memperkenalkan diri." Semalam bahkan dia belum sempat mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya.
"Panggil saja Wilson," ucap Wilson seraya menyambut uluran tangan Fiona. "Aku dan Steven sudah seperti saudara, jadi jaangan sungkan padaku."
"Jangan lama-lama sayang, takutnya dia jatuh cinta padamu nanti." Steven langsung menarik tangan Fiona tanpa memperdulikan wajah masam Wilson.
"Stevee, jangan seperti itu." Fiona merasa tidak enak pada Wilson karena ucapan Steven barusan.
"Tidak apa-apa Kakak Ipar. Aku sudah terbiasa dengan kata-katanya yang tajam."
"Panggil saja Fiona."
"Cepatlah antarkan kami pada dokter Irfan. Aku ke sini bukan untuk mengobrol denganmu. Aku masih banyak urusan."
"Kau selalu saja tidak sabaran."
Bersambung....
__ADS_1