
"Erland, apa kau yakin kalau Leon tidak terlibat?" Steven terlihat sedang berbicara di telpon dengan seseorang.
"Yaa, aku mengerti. Tolong bantu aku cari dia dan rahasiakan ini dari Leon. Aku tidak mau dia ikut campur masalahku," lanjut Steven lagi.
"Baik, terima kasih Erland." Steven menutup telponnya lalu memandang ke luar jendela kamarnya.
"Tuan, baru saja Jorsh memberikan laporan, kalau malam itu, Doni tertangkap kamera ada di dalam mobil yang membawa Nona Fiona pergi."
Steven langsung membalikkan badan menatap Erick yang sedang berdiri di belakangnnya. "Selain Doni, ada berapa orang lagi yang ada di dalam mobil itu?"
"Jika dilihat dari beberapa sudut, sepertinya 4 orang."
"Jadi, Doni sungguh menghianatiku?" Steven meremas kuat ponsel yang ada di tangannya.
"Saya juga tidak tahu tahu. Hanya saja ada yang aneh."
Steven mengeryit. "Apa?"
"Selain wajah Doni, wajah 3 orang lainnya tidak terlihat jelas karena mereka seperti sengaja menghindari kamera CCTV. Mereka juga menggunakan mobil Doni untuk membawa pergi Nona Fiona tanpa mengganti nomor polisinya. Mereka seperti sengaja meninggalkan jejak agar kita mencurigai Doni."
Steven berpikir sejenak. "Maksudmu, Doni di jebak dan dijadikan kambing hitam?"
"Itu hanya dugaan saya Tuan."
Menurut Erick, jika memang Doni salah satu dari mereka, dia tidak mungkin meninggalkan jejak yang bisa membahayakannya. Apalagi Doni tahu, bagaimana kemapuan orang-orang Steven dalam menemukan informasi.
"Aku harap Doni tidak menghinatiku." Steven berbalik menghadap jendela.
"Apalagi yang kalian dapatkan selain informasi itu?"
"Tadi saya juga mendapatkan laporan dari Jorsh kalau mobil Doni sudah ditemukan di salah satu gudang tua yang ada di selatan kota, tapi mobil itu keadaan kosong. Sebagian anak Jorsh sudah ke sana untuk memeriksa gedung dan daerah sekitarnya."
"Antarkan aku ke sana." Steven langsung berjalan keluar dengan langkah cepat.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu saja Tuan, saya takut ini hanya jebakan." Erick mengikuti langkah Steven.
"Aku tidak peduli ini jebakan atau bukan. Aku tidak bisa berdiam diri saja, sementara mungkin Fiona sedang ketakutan di suatu tempat."
Erick hanya bisa menghela napas. Dia memang sudah tahu kalau Steven tidak akan mendengarkan perkataannya. Dengan hilangnya Fiona membuat Steven tidak lagi memperdulikan dirinya sendiri. Dia hanya makan seadanya, tidak tidur, tidak mandi, bahkan tidak berganti pakaian juga. Dia terlihat sangat berantakan.
Baru kali ini, Erick melihat Steven dalam keadaan seperti itu. Yang Steven lakukan hanya sibuk menelpon sana-sini, merokok dan menatap ke layar ponsel, berharap ada kabar dari Fiona.
********
Siang harinya, pintu ruangan terbuka. Fiona terlihat sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajah sembab. 2 orang bertubuh tegap menghampiri Fiona.
Mereka melihat makanan Fiona masih utuh dan tidak tersentuh sama sekali. "Apa kau berniat mati sebelum bos kami datang?" tanya Boby sambil menatap marah pada Fiona.
__ADS_1
Fiona tidak menjawab. "Makanlah, sebelum kesabaran kami habis," ancam Boby.
"Aku tidak lapar," jawab Fiona dengan suara bergetar.
"Kaauu...." Boby kembali mengangkat tangannya hendak menampar Fiona, tapi ditahan oleh temannya.
"Jangan mencari masalah. Dario bisa marah kalau sampai dia tahu kalau kau menyakitinya lagi."
Boby langsung menarik tangannya. "Sebaiknya kita bawa ke depan," usul pria itu. "Biarkan bos yang menanganinya."
"Baiklah," ucap Boby.
"Ikut kami." Kedua orang tersebut memegang kedua lengan Fiona.
"Lepaskan...! Kalian mau bawa ke mana aku?" Fiona berusaha memberontak.
"Lepaskaaan." Kedua orang tersebut tidak menghiraukan teriakan Fiona.
"Berhenti berteriak Nona, atau aku kubuat kau tidak bisa berbicara lagi," ancam pria yang bertubuh kurus itu.
Fiona langsung terdiam. Kedua orang itu membawa Fiona ke sebuah ruangan besar yang nampak seperti ruangan tengah. Di ruangan itu nampak beberapa pria berseragam hitam sedang berkumpul.
"Dia tidak mau makan bos," adu Boby pada pria berkulit gelap itu.
"Ikat dia di kursi," perintah pria bergulip gelap.
"Lepaskan aku." Fiona kembali berteriak saat tangan dan kakinya diikat.
Fiona menatap geram pria gelap yang sedang duduk di kursi yang tidak jauh dari hadapannya. "Bawa orang itu ke sini." Pria berkulit gelap itu kembali memberi perintah.
Tidak lama kemudian 2 orang pria membawa seseorang pria dengan kepala tertutup dan tangan terikat di depan.
"Buka penutup kepalanya!" perintah pria berkulit gelap itu. Dia adalah pemimpin dari orang-orang yang berpakaian hitam itu. Namanya Dario.
Mata Fiona langsung membelalak ketika penutup kepala pria itu dibuka. "Doni...!" pekik Fiona.
Doni mengejapkan matanya sejenak lalu menatap lurus ke depan. "Nona Fiona, apa anda baik-baik saja?" Nampak sekali kalau Doni mengkhawatirkan keadaan Fiona.
Mata Fiona nampak berkaca-kaca. Dia merasa lega karena ternyata dia tidak sendiri. "Aku tidak apa-apa."
"Sudah cukup basa-basinya," ucap Dario.
"Apa yang kau lakukan pada Nonaku, brengseeek!!!" Doni terlihat geram ketika melihat sudut bibir Fiona membekas biru keunguan dan ada bercak darah di bibirnya.
Dario menoleh pada Doni yang berada di sampingnya.
"Boby hanya memberikan tamparan kecil padanya karena Nonamu ini tidak mau menurut."
__ADS_1
"Brengseeeek!! Aku akan membunuhmu kalau kau berani menyentuh Nonaku lagi."
Doni memberontak hingga pegangan kedua orang itu terlepas dan dengan gerakan cepat Doni menendang Dario dengan kuat hingga terjatuh.
Ketika Doni akan menginjaknya, kedua pengawal itu sudah memegang Doni kembali. "Lepaskan aku brengsek!!" Doni kembali memberontak.
Dario berdiri, tertawa jahat lalu menghampiri Doni yang nampak masih dipegangi oleh kedua anak buahnya. "Buuuuggh." Dario memberikan pukul tepat di perut Doni.
"Berani sekali kau mengancamku disaat kau tidak berdaya."
"Buugggh... Buuggh." Dario kembali memukul bagian wajah dan perutnya berkali-kali.
"Cukuuup! Hentikaaan! Jangan memukulnya lagi," teriak Fiona dengan air matanya yangs sudah mengalir deras. Dia tidak tega melihat wajah Doni yang sudah berlumuran darah.
Dario menghentikan pukulnya lalu beralih menatap Fiona. "Kalau begitu menurutlah selagi aku bicara baik-baik."
"Brengseeek, kalau berani lepaskan aku." Doni terlihat kembali memberontak. "Tuanku tidak akan memaafkanmu dan pasti akan membunuhmu kalau sampai kau menyakiti Nonaku lagi."
"Sepertinya kau tidak takut mati." Dario kembali beralih pada Doni.
"Cukuup, aku mohon jangan memukulnya lagi," ucap Fiona ketika melihat Dario berniat memukul Doni lagi.
"Kalau begitu makanlah. Aku tidak mau kau jatuh pingsan sebelum bos kami datang. Aku bukanlah orang yang sabar jadi menurutlah."
"Baiklah, aku akan makan tapi kalian tidak boleh menyakiti Doni lagi."
Dario tertawa jahat lalu menghampiri Fiona. "Seharusnya dari tadi kau menuruti kami, jadi aku tidak perlu melakukan kekerasan." Dario mencengkram rahang Fiona. "Kalau kau berani kabur, aku akan membunuh pria itu terlebih dahulu," ancam Dario sambil menoleh ke arah Doni.
"Aku yang akan membunuh kalian semua duluan. Lepaskan Nonaku brengsek." Doni terlihat belum juga menyerah. Dia masih berusaha memberontak.
"Doni, aku tidak apa-apa," ucap Fiona dengan suara bergetar. Dia tega melihat keadaan Doni yang sudah babak belur.
"Buka ikatan tangan wanita itu. Biarkan dia makan sendiri," perintah Dario.
Serang pria maju lalu membuka ikatan tangan Fiona. "Cepatlah makan." Pria lain memberikan nampan makan pada Fiona. "Malam nanti, kau harus bersiap-siap karena bos kami akan segera tiba."
Dengan gerakan pelan, Fiona berusaha untuk menyendokkan makanan ke dalam mulutnya dengan air mata yang berusaha dia tahan.
Doni menatap iba pada Fiona. Bersabarlah sebentar Nona, aku akan segera mengeluarkanmu dari sini. Aku mohon bertahanlah sebentar lagi.
********
Malam harinya, pintu ruangan Fiona kembali terbuka, seorang pria dan wanita masuk ke dalam di saat Fiona sedang terlelap di tempat tidur. Mereka berdua berjalan pelan agar tidak membangun Fiona.
"Aku serahkan dia padamu, tapi ingat jangan sekali-kali kau menyeretku jika kau tertangkap. Aku hanya membantumu sampai di sini. Urusan kita sudah selesai. Aku tidak ada sangkut pautnya lagi denganmu," ucap wanita itu dengan angkuh.
"Tenang saja, setelah ini, aku akan membawanya pergi ke tempat yang jauh agar dia tidak bisa menemukan kami."
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi," ucap wanita itu sebelum pergi.
Bersambung....