
Pagi harinya, Steven dan Fiona menuju restoran yang berada di deck paling atas di salah satu restoran western untuk sarapan bersama dengan William dan Angel. William kembali mengajaknya untuk sarapan bersama sebelum kapal bersandar siangnya.
Ketika mereka baru saja memasuki restoran, tatapan Fiona dan Steven langsung tertuju pada wanita bertubuh langsing dan berambut panjang yang sedang duduk bersama dengan William dan Angel. Wanita itu tidak lain ada Sera.
"Pagi Steve," sapa Sera lembut ketika melihat kedatangan Steven dan Fiona.
"Pagi, kau di sini juga?" Steven menarik kursi untuk Fiona lalu duduk di sebelahnya.
"Iyaaa." Sera tersenyum manis ke arah Steven tanpa memperdulikan Fiona yang duduk di samping Steven.
"Kenapa kau hanya menyapa Steven, tidakkah kau melihat keberadaan Fiona di sini?" sindir William.
Sera tersenyum kaku. "Tentu saja aku melihatnya. Aku baru akan menyapanya, tapi kau sudah terlebih dahulu berbicara."
Fiona hanya menyunggingkan sudut bibirnya yang sebelah kiri mendengar penuturan Sera. "Steve, semalam kau ke mana? Aku mencarimu ke kamar tapi kau tidak ada? Tadi pagi aku juga ke kamarmu," ungkap Sera.
"Aku tidur di kamar Fiona," aku Steven.
"Kalian tidur bersama lagi? Sebenarnya yang pengantin baru itu, kami atau kalian? Pantas saja, aku melihat tanda di lehermu bertambah." William sengaja mengatakan hal itu untuk memanasi Sera yang terlihat sedang menahan kemarahannya.
Wajah Fiona terlihat memerah karena malu, sementara Steven terlihat datar, seolah yang sedang dibahas bukan dirinya. "Pelankan suaramu."
William menutup mulutnya sebentar, tersenyum lebar lalu menoleh pada Angel. "Honey, sepertinya pewaris HK Group akan lebih dulu hadir dibandingkan baby kita," gurau William sambil menoleh pada istrinya.
Angel menepuk lengan suaminya. "Will, berhenti menggoda mereka." Angel menampilkan wajah tidak enak pada Fiona yang sedari tadi hanya diam.
Steven memandang malas pada William sambil mengaduk tehnya. "Jangan suka bergosip. Kau itu pria," ujar Steven santai.
Tangan Sera yang berada di bawah meja secara spontan mengepal. "Steve, meskipun kalian sepasang kekasih, tapi bukankah tidak baik kalau kalian tidur di kamar yang sama? Reputasimu bisa rusak jika ada yang tahu mengenai hal ini."
Steven meletakkan cangkir di meja setelah menyesap tehnya. "Sera, kau tidak perlu mengkhawatirkan reputasiku. Aku tahu mana yang baik dan tidak untukku." Steven menoleh pada Fiona. "Sayang, suapi aku," pinta Steven sambil menunjuk pada roti bakar yang baru saja digigit oleh Fiona.
"Tapi ini...." bekasku.
Itulah yang ingin Fiona katakan tapi tertahan saat Steven lebih dulu mendekatkan tangan Fiona kemulutnya lalu menggigit roti yang ada di tangannya kananya.
"Aku suka roti bekasmu," ujar Steven sambil mengunyah roti di mulutnya. "Terlebih lagi...." Steven berbisik sesuatu pada Fiona hingga membuat Fiona mengalihkan pandangannya ke samping untuk menyembunyikan wajah merahnya.
William mendengus melihat pemandangan di depannya. "Steve, jangan menampilkan keromantisanmu di depan kami, terutama ada Sera yang tidak memiliki pasangan di sini. Kau sengaja membuat kamu iri ya?" ujar William dengan wajah kesal. Sementara Sera berusaha menahan emosinya yang sudah terpancing sejak tadi.
Steven menoleh pada Angel. "Angel, apa semalam kau mencampakkannya? Kenapa pagi ini, suamimu cerewet sekali?"
Angel tersenyum pada Steven. "Aku menyuruhnya tidur di sofa karena dia baru kembali ke kamar pukul 3 pagi."
Angel merasa kesal dengan suaminya karena dia melebihi jam malam yang sudah ditentukan olehnya. Padahal Angel sudah berpesan padanya untuk kembali ke kamar sebelum pukul 12 malam.
Steven menoleh pada William dengan senyum mengejek. "Pantas saja wajahnya lesu."
__ADS_1
William terlihat memasang wajah masam. "Diamlah, jangan menatapku seperti itu!" ujar William sambil mentap Steven.
"Steve, setelah kita tiba di kota C apakah kau akan langsung pulang?" sela Sera.
"Aku berencana untuk tinggal 2 hari. Aku ingin menemani Fiona untuk berjalan-jalan dulu sebelum pulang," jawab Steven tanpa menoleh pada Sera.
"Apa kau akan langsung pulang?" Steven melirik pada Sera sekilas.
"Tidak, aku berencana untuk tinggal beberapa hari juga."
Fiona melirik ke arah Sera yang terlihat tersenyum manis pada Steven. "Steve, karena kau tidak langsung pulang, bagaimana kalau kita berbulan madu bersama?" usul William.
"Uhuk... Uhuuk... Uhuukk."
Fiona langsung tersedak roti ketika mendengar tawaran dari William. Dengan sigap, Steven memberikan air putih pada Fiona sambil menepuk punggung Fiona. "Pelan-pelan, Sayang."
"Will, kau membuat Fiona terkejut," omel Angel ketika melihat wajah Fiona yang memerah karena tersedak.
Fiona menghabiskan minuman yang diberikan oleh Steven lalu mengelap mulutnya dengan tisu. "Apa sudah lebih baik?" tanya Steven lembut.
Fiona mengangguk. "Aku baik-baik saja."
William ini, apa dia tidak memiliki rasa malu sedikitpun? Bagaimana bisa dia dengan santai mengatakan hal itu pada kami yang belum menikah?
Sera menatap tajam pada William. "Will, jangan kau racuni Steven dengan pikiran kotormu!"
"Kenapa kau yang marah? Aku hanya bercanda."
******
Fiona, Steven, William dan Angel menginap di hotel yang sama ketika kapal sudah tiba di negara C. Mereka langsung menuju hotel setelah kapal bersandar. William akan menginap sehari di sana sebelum dia berbulan madu ke negara bagain selatan.
Saat mereka tiba di loby hotel, ternyata Sera juga baru saja tiba. Dia memang sengaja menginap di hotel yang sama dengan Steven untuk mengawasinya. Steven dan William langsung menuju receptionist untuk mengambil kunci kamar. Steven memang sudah menyuruh Erick untuk memesankan kamar untuknya dan Fiona di hotel yang sama dengan William.
"Kau di lantai berapa, Steve?" tanya Sera setelah dia mendapatkan kunci kamarnya.
"Lantai 60," jawab Steven.
Mereka semua memasuki lift menuju kamar mereka masing-masing. William di lantai 60 sama dengan Steven sementara Sera di lantai 58.
Steven membuka pintu kamarnya lalu menyuruh Erick untuk memasukkan barang miliknya dan Fiona. "Kau bisa istirahat di kamarmu. Aku akan menghubungimu jika aku memerlukan sesuatu," ujar Steven pada Erick setelah selesai meletakkan semua barangnya di dalam kamar.
"Baik Tuan." Erick keluar dari kamar lalu menutup pintunya.
Fiona menghampiri Steven yang sedang membuka tirai kamar. "Steve, di mana kamarmu?" Fiona merasa heran karena barang Steven dimasukkan juga di kamarnya, oleh karena itu dia bertanya pada Steven.
Steven berbalik menhhampiri Fiona. "Di sini, Aku akan tidur di kamar ini."
__ADS_1
Mata Fiona membulat. "Masudmu kita akan tidur bersama di kamar ini?" tanya Fiona memastikan.
Steven membelai wajah Fiona. "Iyaa, Sayang. Lebih baik kita tidur di kamar yang sama." Steven menatap lekat mata Fiona. "Kenapa? Apa kau tidak mau tidur sekamar denganku?"
Alasan Steven ingin tidur di kamar yang sama dengan Fiona adalah agar Sera tidak lagi mengganggunya, semenjak dia tahu Sera memberikan obat padanya, Steven mulai waspada dengannya. Dia takut kejadian itu akan terulang lagi.
Steven juga tidak ingin kalau Sera mengunjungi kamarnya setiap saat jika dia tidur di kamar yang berbeda dengan Fiona. Saat di kapal, Sera memang sering kali mendatangi kamar Steven, beruntung Steven tidak ada di kamar karena di sedang bersama di kamar Fiona.
"Tapi, bagaimana kalau ada yang tahu kalau kita tinggal di kamar yang sama? Aku takut mereka...."
"Jangan pedulikan mereka. Selama kita tidak merugikan mereka, kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting."
"Baiklah."
Malam harinya, Steven mengajak Fiona untuk berkeliling di ibu kota negara C. Selain berkeliling, Steven juga mengajak Fiona untuk berbelanja, Setelah itu, Steven mengajak Fiona makan malam di salah satu restoran terkenal di kota itu yang berada di rooftop di gedung tertinggi di negara itu.
"Fio, kemarikan tanganmu." Steven menengadahkan tangannya di depan Fiona.
Fiona mengerutkan keningnya sebelum mengulurkan tangannya. "Untuk?"
"Aku ingin melihat dengan seksama bagaimana bentuk jari tangan wanita yang akan menjadi ibu dari anakku nanti," gurau Steven sambil tersenyum.
"Aku serius, Steve."
"Aku juga serius, Sayang. Cepat kemarikan tanganmu."
Meskipun ragu, Fiona melakukan yang diminta oleh Steven.
Mata Fiona terbelalak. "Steveee, ini....."
Steven tersenyum. "Fio, cincin ini melambangkan keseriusanku padamu. Aku mengikatmu sebagai calon istriku dengan cincin ini. Kita akan melangsungkan pertunangan kita sebulan lagi," ucap Steven setelah memasukkan cincin berlian ke jari manis Fiona.
Belum sempat Fiona berbicara terdengar suara ledakan di langit.
"Duuaaarrrrr. Duuuaaarrrrr."
Cahaya warna-warni berpendar memenuhi langit yang gelap. Fiona terkesiap menatap cahaya kembang api yang terus bermunculan di langit. Semua orang yang sedang makan di sana juga ikut terkejut sekaligus senang.
"Apa kau suka?" Steven menatap Fiona yang nampak tidak berkedip sedikitpun semenjak kembang api menyala.
Fiona langsung menoleh. "Kembang itu kau yang menyiapkannya?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.
"Hhhmmm," jawab Steven sambil mengangguk, "aku siapkan khusus untukmu."
Mata Fiona berkaca-kaca. Dia tidak menyangka kalau Steven akan memberikan kejutan 2 sekaligus untuknya.
"Aku suka sekali, Steve. Terima kasih."
__ADS_1
Tadinya, Steven ingin mempersiapkan pesta kembang api saat di atas kapal pesiar, hanya saja tidak jadi.
Bersambung...