
Sera menghampiri Steven yang terlihat sedang berbincang serius dengan tuan Frengky dan beberapa koleganya di salah satu meja yang khusus untuk tamu VIP.
"Ke mana Fiona?" tanya Steven ketika melihat Sera hanya datang seorang diri.
"Aku tidak tahu. Aku sudah menunggunya sedari tadi, tapi dia belum kembali juga," jelas Sera sambil duduk di salah satu sofa yang kosong.
Semua orang terlihat menatap ke arah Steven. "Siapa Fiona? Apakah kekasihmu?" tanya Tuan Frengky. Umurnya jauh diatas Steven sehingga dia berbicara dengan santai pada Steven.
"Benar, aku datang kemari bersamanya," jawab Steven.
Semua orang yang di meja tersebut mengangguk tanpa mengerti. "Silahkan di lanjutkan, aku ingin menelpon seseorang sebentar," pamit Steven pada semua orang.
Sera menoleh pada Steven yang terlihat sedang menempelkan benda pipih berwarna hitam di telinganya. Selesai menelpon, Steven kembali duduk.
Sebenarnya dia ingin mencari sendiri keberadaan Fiona, tapi tidak bisa karena mereka sedang membicarkaan hal penting, apalagi tuan Frengky sangat sulit ditemui karena dia berada di negara tetangga.
"Steve, apa kau tadi menghubungi Fiona?" tanya Sera ketika Steven baru saja memasukkan ponsel ke saku jasnya.
"Bukan," jawab Steven.
Beberapa saat kemudian, Erick datang menghampiri Steven. "Tuan, Nona Fiona sedang tidur di kamarnya," bisik Erick pada Steven.
"Baiklah, biarkan saja dia. Mungkin dia kelelahan. Kau boleh pergi," ucap Steven.
"Baik Tuan."
Senyum tipis tersungging di sudut bibir Sera. Steven memutuskan untuk membiarkan Fiona beristirahat sendirian di kamar. Dia berencana menyusul Fiona setelah pembicaraannya dengan koleganya selesai.
Sesudah mereka mengakhiri pembicaraan tentang kerja sama, mereka semua bersulang untuk kerja sama yang sudah mereka sepakati dengan minuman alkohol yang sudah di pesan oleh salah satu kolega Steven. Mereka terlihat bersulang beberapa kali hingga beberapa botol habis.
Selesai bersulang, mereka mengobrol kembali tapi dengan obrolan santai. Steven terlihat seperti tidak duduk dengan tenang. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Seperti tubuhnya perlahan memanas, dan kepalanya terasa sakit.
"Kau kenapa Steve?" tanya Sera ketika melihat Steven mulai gelisah.
Perhatian kolega Steven mulai beralihal padanya ketika mendengar pertanyaan Sera. "Apa Tuan Steven baik-baik saja?" tanya salah satu kolega bisnis Steven sambil menoleh padanya.
"Aku baik-baik saja," jawab Steven. Dia berusaha menguasai dirinya agar terlihat tetap tenang. "Sepertinya, aku harus pergi, kalian bisa lanjutkan obrolan kalian," ucap Steven sambil berdiri.
Sera ikut berdiri. "Biar aku antar Steve, kau terlihat tidak sehat," usul Sera ketika melihat Steven tampak berdiri tidak stabil.
__ADS_1
"Tidak usah Sera, aku bisa sendiri. Kau kembalilah ke kamarmu. Ini sudah larut malam." Steven berjalan sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu mengirimkan pesan pada seseorang dengan langkah yang tidak seimbang.
Sera menyusul langkah Steven dengan cepat. "Steve, aku akan kembali ke kamarku setelah mengantarmu. Kau sepertinya mabuk." Sera memang tidak ikut minum karena dia tidak ingin mabuk.
Karena tidak ingin berdebat Steven memutuskan untuk membiarkan Sera mengikuti langkahnya sambil memegang lengannya. "Steve, apa kau baik-baik saja, kenapa keringatmu banyak sekali?" tanya Sera dengan wajah khawatir.
"Aku hanya sedikit pusing, mungkin karena aku terlalu banyak minum tadi," bohong Steven. Dia merasa kalau seseorang sudah memasukkan sesuatu pada minumannya.
"Biarkan aku memapahmu." Sera baru akan melingkarkan tangan Steven di bahunya, tetapi Steven sudah terlebih dahulu menolaknya.
"Tidak usah Sera. Aku tidak mau orang lain akan salah paham nantinya. Terlebih lagi kalau Fiona melihatnya."
Sera mengepalkan tangan kirinya secara tidak sadar. "Baiklah, tapi ijinkan aku membantumu berjalan. Kau akan jatuh nanti." Sera langsung memegang lengan Steven tanpa menunggu persetujuannya.
Napas Steven mulai tidak beraturan, badanya semakin panas dan keringatnya terus mengucur. Mereka berdua berjalan menuju lift yang terletak di ujung.
Steve memencet lantai di mana kamarnya berada. "Steve, apa kau yakin baik-baik saja?" Sera kembali bertanya ketika melihat wajah Steven sudah memerah dan napasnya terdengar kasar.
"Yaa," jawab Steven singkat.
Tiiingg
"Kamar 737 jawab Steven pelan.
Sudut bibir Sera berkedut. "Apa kau tinggal di kamar yang sama dengan Fiona?" tanya Sera seketika.
"Tidak, kenapa?" Steven terlihat masih berjalan dengan tidak seimbang.
"Tidak apa-apa," jawab Sera sambil tersenyum.
Setibanya di depan kamarnya, Steven langsung membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk dibantu oleh Sera menuju tempat tidur.
"Sera, kembalilah ke kamarmu. Ini sudah malam," ucap Sera setelah mendudukkan Steven di tempat tidur.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini," jawab Sera dengan wajah khawatir, "sebenarnya ada apa denganmu Steve, tolong jawab dengan jujur agar aku bisa membantumu?" tanya Sera dengan lembut.
"Kau tidak akan bisa membantuku, lagi pula aku bisa mengatasinya sendiri."
Sera terlihat masih enggan meninggalkan Steven. "Kau mau ke mana?" tanya Sera ketika melihat Steven hendak beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
"Aku haus," jawab Steven sekenanya.
"Biar aku ambilkan." Sera langsung berdiri dan berjalan mengambil botol air mineral yang ada di atas meja.
Steven kembali duduk dan mulai membuka beberapa kancing bajunya karena merasa hawa tubuhnya sangat panas.
"Minumlah." Sera menyodorkan minuman yang sudah dituang ke dalam gelas bening.
Steven langsung meneguk habis air minum itu dan kembali meminta air lagi pada Sera. Satu botol sudah habis, tapi rasa haus di tenggorokannya masih belum hilang. Sera kembali mengambil botol kedua dan langsung habis diteguk oleh Steven.
"Keringatmu banyak sekali Steve." Sera memegang wajah Steven lalu meraih tisu setelah itu menuduk menghapus keringat yang ada di wajah Steven.
Steven memejamkan matanya sejenak ketika merasakan sentuhan tangan Sera di pipi. Sedikit saja sentuhan membuatnya hasratnya naik.
"Biar aku saja." Steven menangkap tangan Sera agar berhenti mengusap wajahnya, "Sera, aku mohon pergilah. Keberadaanmu di sini justru membuatku tidak tenang. Aku tidak bisa berlama-lama dengamu saat ini."
Sera nampak sedikit kecewa. "Memangnya kenapa? Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku?" tanya Sera dengan wajah heran.
"Aku akan menjelaskannya nanti."
Sera bersikukuh tidak ingin meninggalkan Steven sendiri. "Aku tidak akan pergi sebelum kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi denganmu?"
Steven mengatur napasnya yang mulai memburu dan jantungnya yang berdetak kencang. "Sepetinya seseorang sudah memasukkan obat pada minumanku demgan dosis tinggi. Aku bisa merasakan efek obat ini sangat kuat."
Tentu saja Sera tahu maksud dari Steven karena dia sudah sering melihat gejala tersebut pada orang lain. "Tapi, bagaimana bisa?" Sera terlihat sangat terkejut mendengar pengakuan Steven.
"Aku juga tidak tahu, oleh karena itu kau tidak boleh berada di sini lama-lama. Lebih baik kau keluar." Steven terlihat sekuat tenaga menahan hasrat yang sedari tadi bergejolak dalam dirinya.
"Steve, biarkan aku membantumu. Kau bisa melakukannya denganku jika kau mau," tawar Sera.
Steven tidak menyangka kalau Sera dengan mudahnya menawarkan diri padanya. "Tidak perlu Sera, aku masih bisa menahannya. Kalau pun aku tidak kuat lagi, bukan kau yang harus melakukannya. Ada Fiona yang bisa membantuku." Steven terlihat mulai berdiri tetapi ditahan oleh Sera.
Sera tidak pantang menyerah. "Steve, ijinkan aku membantumu kali ini saja. Aku tulus membantumu. Bukankah kau tahu kalau aku sangat mencintaimu?"
Sera berdiri lalu memeluk tubuh Steven dari belakang dengan erat. "Biarkan aku membantumu, lagi pula hanya ada aku di sini. Fiona tidak akan bisa membantumu," ucap Sera dengan nada memohon. Tangan Sera mulai menelususri dada bidang Steven yang masih terbungkus kemeja.
"Aku tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab meskipun kau menyentuhku. Kalau kau tidak bisa mencintaiku, maka setidaknya berikan aku benihmu." Sera mulai membuka kancing kemeja Steven.
Bersambung..
__ADS_1