
James terlihat berang ketika mendapatkan laporan bahwa Fiona menolak untuk dirias dan memakai baju pengantin, padahal James sudah mempersiapkan semuanya.
"Braaaak." Fiona langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah terkejut. Nyali Fiona langsung menciut ketika melihat api kemarahan dalam sorot mata James.
"Fiona, sudah kubilang padamu, jangan sekali-kali mempermainkan aku." James menghampiri Fiona yang sedang duduk di tepi tempat tidur lalu menariknya untuk keluar.
"James, sakiitttt." Fiona berusaha melepaskan cengkram tangan James.
James menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu. "Kenapa kau menolak untuk dirias dan memakai baju pengantin?"
"James, aku tidak mau menikah denganmu. Tolong jangan paksa aku," mohon Fiona.
"Fiona, bukankah kau sudah setuju untuk menikah denganku? Jangan mempermainkan perasaanku Fio. Aku bisa hilang akal nanti."
Mata Fiona berkaca-kaca. "James, aku tidak mencintaimu. Bagaimana pun caranya kau memaksaku, aku tetap tidak bisa menikah denganmu. Harus berapa kali aku katakan padamu kalau aku mencintai Steven, James," jelas Fiona dengan wajah frustasi.
Wajah James mengeras mendemgar nama Steven. Dia kemudian melepaskan tangan Fiona lalu mengunci pintunya dari dalam setelah itu berbalik menghadap Fiona.
"Fiona, tidak ada pria yang lebih mencintaimu selain aku. Seharusnya kau bersyukur karena aku sangat mencintaimu. Kalau sudah menolakku, maka aku akan membuat Steven menolakmu juga." James menyeringai.
"Ap-apa yang akan kau lalukan?" tanya Fiona dengan gugup ketika melihat James berjalan ke arahnya sambil membuka kancing bajunya.
"Tentu saja menjadikanmu milikku. Steven tidak akan mau dengan wanita yang sudah disentuh orang lain. Aku akan membuatmu merasakan penolakan dari orang yang sangat kau cintai. Sama seperti yang aku rasakan saat kau menolakku." James tersenyum jahat.
Fiona terus mundur ke belakang berusaha untuk menjaga jarak dengan James. Wajah Fiona langsung pucat pasi mendengar perkataannya.
"James, dengarkan aku. Jangan seperti ini. Steven tidak akan mengampunimu kalau kau berani menyentuhku."
James berdiri tepat di depan Fiona ketika tubuh belakang Fiona sudah membentur dinding. "Sebelum Steven menemukan aku, aku akan membawamu pergi dari sini, tentu saja setelah aku menjadikanmu milikku."
James langsung mengangkat tubuh Fiona menuju tempat tidur. "James lepaskan aku. Fiona berusaha memberontak.
"Diamlah Fiona."
"Tolooooong... Toloooong. Steveeee, tolong aku. Steveeee..."
James menyeringai. "Percuma kau memanggilnya, dia tidak akan datang."
James menurunkan Fiona ke atas ranjang lalu menindihnya. "Pergi...!! Jangan sentuh aku!!" teriak Fiona dengan suara tinggi dan sekuat tenaga memberontak mencoba meloloskan diri dari James.
James dengan susah payah menahan Fiona agar dia tidak bisa bergerak. "Toloongg.. Toloong aku."
__ADS_1
"Fiona, jangan membuatku marah, menurutlah. Aku akan melakukannya dengan pelan sayang. Jangan takut."
"James, jangan... Aku mohon," ucap Fiona ketika James sudah menahan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri.
Air mata Fiona sudah mengalir deras. Bayangan James akan menjamah tubuhnya seketika membuatnya jijik. "Fiona, jangan menangis. Aku tidak akan menyakitimu."
James melepaskan kemejanya dan membuang ke segala arah lalu kembali menekan tubuh Fiona.
Fiona terus memberontak ketika James mulai mendekatkan wajah ke arahnya. "Jangan sentuh aku!!! Pergi!!"
James tidak menghiraukan teriakan histeris Fiona. James justru seperti seperti kesetanan, dia merobek baju bagian atas Fiona hingga menampilkan bahu putih Fiona. Untung saja, Fiona memakai tanktop sehingga tubuh bagian atasnya tidak terekspos semuanya
"Brengseek, jangan sentuh aku!!" Fiona terus memberontak ketika James mencoba untuk menciumi bahu dan lehernya. Fiona tidak akan membiarkan James menyentuhnya sedikitpun.
Fiona terus memberontak dan berteriak memaki James sampai Fiona mulai merasa lelah. "James, aku sangat membencimu dan aku juga sangat menyesal telah mengenalmu," ucap Fiona pelan dan tatapan kosong dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Fiona nampak sudah lemas dan pasrah. Bagian atasnya hanya tersisa tanktop lalu roknya sudah robek dibagian samping hingga batas pahanya akibat dia memberontak tadi.
James langsung berhenti ketika akan menyentuh bibir Fiona. "Fio, aku melakukan ini karena sangat mencintaimu," ucap James dengan tatapan bersalah. "Jangan membenciku Fiona."
Ketika melihat James mulai lengah, dengan sekuat tenaga Fiona mendorong James hingga terjatuh dan pegangannya terlepas. Dengan sisa tenaga yang ada, Fiona berlari ke arah pintu dan berusaha membukanya tapi tidak bisa.
Dengan wajah panik, Fiona berusaha untuk mencara lain untuk meloloskan diri. Sementara wajah James terlihat merah padam. "Kau tidak akan bisa lari dariku Fiona." James bangun lalu mendekati Fiona kembali.
"James, jangan mendekat, tetap disitu, jika tidak, aku akan mengores tanganku hingga nadiku terputus," ancam Fiona sambil mengarahkan pecahan kaca ke arah nadinya.
James langsung menghentikan langkahnya. "Fiona, jangan gila, buang pecahan itu," ucap James dengan suara yang melembut.
"Jangan mendekat aku bilang," ucap Fiona dengan nada tinggi ketika melihat James hendak melangkah. "Aku tidak main-main dengan ucapanku James. Lebih baik aku mati dari pada harus menyerahkan kehormatanku padamu." Fiona terlihat masih mengeluarkan air matanya.
"Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu, tapi kau harus membuang pecahan itu dulu," bujuk James ketika melihat lengan Fiona sudah mengeluarkan darah akibat Fiona menekannya saat dia akan mendekat.
"Fiona, aku bilang buang pecahan kaca itu. Jangan bertindak bodoh."
"Aku tidak mau. Jangan mendekat...!!!"
Steve, maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya. Aku harap kau memaafkan aku. Selama tinggal Steve.
Fiona memejamkan matanyanya lalu menggores tangannya dengan pecahan kaca. Dengan gerakan cepat James berlari ke arah Fiona menggagalkan rencana Fiona.
James dengan cepat menangkap tubuh Fiona yang mulai terjatuh. "Fiona," panggil James dengan wajah panik.
__ADS_1
Darah menetes dari lengan kirinya, meskipun sempat digagalkan oleh James, tapi pecahan kaca itu masih sempat menggoreng pergelangan kiri Fiona.
Fiona masih sadar hanya saja dia tidak memiliki tenaga lagi untuk menopang tubuhnya, tenaganya terkuras habis karena sedari tadi terus memberontak.
"Braaaaaaak." Pintu terbuka dengan keras.
Fiona dan James langsung menoleh. "Steve," panggil Fiona dengan suara pelan.
Steven yang melihat keadaan Fiona yang tidak berdaya seketika membuat darahnya mendidih. Auara membunuh terlihat jelas di wajah Steven. wajahnya menggelap, rahangnya mengeras, dan matanya menyala.
"Bajingan...." Steven yang sudah dikuasai amarah seketika langsung menarik James dan menghajarnya secara membabi buta.
Sementara, Erick menghampiri Fiona dan membantunya untuk berdiri lalu memapah Fiona untuk duduk di tempat tidur. Erick merobek kemejanya lalu membalut luka di tangan Fiona.
"Dasar bajingan, berani sekali kau menyentuh calon istriku." Steven terus menghajar James tanpa ampun hingga James tidak berdaya.
"Steve, berhenti. Jangan memukulnya lagi. Kau bisa membunuhnya," ucap Fiona dengan suara pelan.
Steven seolah tidak mendengar ucapan Fiona. "Steve, aku mohon berhenti. Dia akan mati kalau kau terus memukulnya."
Seketika Steven berhenti. "Dia memang tidak pantas untuk hidup." Steven beranjak bangun lalu menghampiri Fiona. "Apa kau tidak apa-apa?" tanya Steven dengan wajah yang sangat cemas.
Fiona mengangguk lalu memeluk Steven. "Bawa aku pergi dari sini Steve," pinta Fiona dengan suara lemah.
"Iyaaa." Steven menarik selimut lalu membungkus tubuh Fiona kemudian mengendong Fiona ala bridal style.
Sebelum melangkah, Steven menoleh kepada kepala pengawalnya. "Jorsh, urus sampah ini," perintah Steven. "Dan, suruh anak buahmu untuk langsung bawa Doni ke rumah sakit."
"Baik Tuan."
Steven lalu melangkah dan diikuti oleh Erick di belakanganya menuju helikolter yang sudah menunggu mereka tidak jauh dari vila itu.
Selama dalam perjalanan, Fiona terlihat tidak mau sedikitpun melepaskan pelukannya pada Steven. Tubuhnya masih bergetar dan dia terlihat masih syok.
Sesampainya di mansion Steven. Dia langsung membawa Fiona ke kamarnya, setelah menyuruh Erick untuk memamggil dokter. Steven membaringkan Fiona di ranjang dengan hati-hati. "Tidurlah sayang. Aku akan ke bawah sebentar."
"Steve, jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau sendiri," ucap Fiona sambil menahan tangan Steven.
Steven berbalik, menaiki tempat tidur lalu berbaring di samping Fiona. "Baiklah, aku akan menemanimu di sini, tidurlah."
Fiona langsung memeluk tubuh Steven dengan erat. "Jangan ke mana-mana, aku takut."
__ADS_1
"Iyaaaa, aku akan tetap di sini." Steven mencium pucuk kepalanya sambil membelai rambutnya dengan pelan. "Penjamkan matamu."
Bersambung....