
Fiona meraih ponsel yang terus berdering di atas nakas karena mengganggu tidurnya. "Apa kau sudah tidur?" Terdengar suara Steven di sebrang telpon sana.
"Hhhmmm," gumam Fiona. Terlihat dia masih setengah sadar.
"Fio, kau masih tidur ya?" Steven kembali bertanya karena hanya mendengar suara gumaman tidak jelas dari Fiona.
"Hhhhmmm."
Terdengar suara helaan napas kasar dari sebrang telpon. "Fiona, aku di depan apartemenmu." Seketika Fiona menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layar dengan mata yang setengah terbuka ketika mendengar suara berat di telpon.
Fiona tersentak dan langsung melebarkan pupil matanya ketika tahu bahwa yang menelponnya adalah Steven, kekasihnya.
Buru-buru, dia bangun dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar menuju pintu. "Steve maaf, aku tidak tahu kalau kau yang menelpon." Fiona merasa tidak enak hati karena sudah membuat Steven menunggu di depan apartemennya.
Steven berdiri sambil menatap Fiona dengan tatapan tidak terbaca. Beberapa detik kemudian dia membuka jaket lalu memakaikan pada Fiona. "Masuklah." Steven mendahuluinya setelah tubuh Fiona terbungkus oleh jaketnya.
Fiona menunduk dan langsung tersadar kalau dia belum sempat memakai pakaian luar dan hanya memakai tanktop dan celana super pendek. Dia tidak sempat lagi melihat penampilannya karena terkejut dengan kedatangan Steven yang tiba-tiba.
Fiona tampak merutuki kebodohannya sambil berjalan menyusul Steven yang sudah duduk di ruangan tengah.
Fiona berdiri tidak jauh dari Steven. "Maaf Steve, aku terburu-buru tadi," ucap Fiona sambil membenahi jaket yang ada di tubuhnya ketika melihat tatapan datar dari Steven.
"Tidurlah kembali kalau masih mengantuk." Steven menatap sekilas pada Fiona ketika melihat tatapan gamang darinya.
Fiona memang sempat melihat jam di ponselnya yang menujukkan pukul 3 pagi. Fiona sebenarnya bertanya-bertanya dalam hati, kenapa Steven datang ke apartemennya sepagi itu.
"Tapi, kau bagaimana?"
"Aku akan tidur di sofa." Steven mulai merapihkan bantal segi empat yang ada di sebelahnya. "Aku tidak bisa tidur di hotel semalaman, jadi aku ke sini." Steven menjelaskan sebelum Fiona bertanya.
Sebenarnya Steven terbiasa hanya tidur beberapa jam saja karena insomnia, tapi semenjak tinggal dengan Fiona. Dia bisa tidur dengan nyaman dan tidak lagi kesulitan untuk tidur.
"Tunggu di sini." Fiona berjalan menuju kamarnya dan kembali lagi setelah beberapa saat dengan membawa bantal dan selimut tebal untuk Steven.
"Pakai ini." Steven mengangguk lalu menerima bantal dan selimut yang disodorkan oleh Fiona.
__ADS_1
"Tidurlah, ini masih pagi." Steven meletakkan ponselnya di atas meja lalu menata bantalnya.
"Steve, kenapa kau tidak langsung masuk saja, bukankah kau bisa membuka pintu ini dengan sidik jarimu?"
Steven menoleh pada Fiona setelah selesai menata bantal dan selimutnya. "Sekarang ini adalah apartemenmu, aku tidak bisa lagi masuk sembarang ke sini apalagi saat jam segini. Aku takut kau akan terkejut saat melihatku tiba-tiba ada di sini," jelas Steven, "Dan, aku juga takut melihat yang semestinya tidak kulihat," ucap Steven sambil melirik sekilas pada Fiona.
Fiona langsung duduk di sofa single saat tahu maksud dari perkataan Steven. "Maaf Steve, aku panik karena kau sudah ada di depan sehingga aku langsung berlari ke depan tanpa melihat pakaianku."
Yang ada di pikiran Fiona saat tahu Steven ada di depan apartemennya adalah adalah mungkin terjadi sesuatu dengannya.
"Lain kali kau bisa langsung masuk Steve. Untung saja ponselku berbunyi. Biasanya, aku mematikan nadanya jika ingin tidur," lanjut Fiona lagi.
Kebiasaan Fiona sebelum tidur adalah membuat ponselnya dalam mode senyap karena tidak ingin tidurnya terganggu dengan bunyi ponsel yang nyaring. Semalam dia lupa mengaturnya karena dia sedang menunggu pesan dari Steven sampai akhirnya dia terlelap.
"Apa kau tidak takut denganku jika aku masuk diam-diam?"
Fiona tersenyum manis. "Aku percaya denganmu, Steve."
Steven menatap mata Fiona secara bergantian beberapa detik lalu menghela napas. "Tidurlah, Fio. Ini masih gelap."
*******
"Steve, kau tidak perlu mengantarku ke kantor. Kau akan terlambat kalau kau mengantarku terlebih dahulu," ucap Fiona sambil mengimbangi langkah Steven menuju pintu keluar yang ada di loby.
Steven terus berjalan tanpa menghiraukan penolakan dari Fiona. "Aku hanya ingin melihat bagaimana calon istriku saat bekerja."
"Kau ingin masuk ke kantorku?" tanya Fiona dengan mata membulat.
Steven menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu loby. "Hari ini adalah rapat pemegang saham. Kali ini, aku tidak akan mengirim perwakilan lagi karena aku sendiri yang akan mengikuti rapat tersebut."
"Tapi, kenapa tiba-tiba kau ingin mengikuti rapat itu?"
"Kenapa? Apa kau merasa terganggu dengan kedatanganku? Atau ada alasan lain sehingga kau tidak ingin aku datang ke kantormu?" tanya Steven dengan tatapan menyelidik.
Fiona langsung mengapit lengan Steven sambil tersenyum. "Tidak, aku hanya heran saja, jangan berpikiran yang tidak-tidak" ucap Fiona sambil mengarahkan Steven untuk berjalan keluar.
__ADS_1
Steven baru saja tahu kalau Reynald juga memiliki saham di perusahaan tempat Fiona bekerja. Mengetahui hal itu, membuat Steven gusar, dia tidak mau kalau Fiona sering bertemu dengan Reynald.
Sebenarnya, perusahaan milik Fiona sudah resmi diambil alih oleh Steven beberapa hari lalu. Dan, tentu saja Fiona, Cindy dan Reynald juga sudah tahu itu.
Alasan Steven mengambil alih perusahaan Fiona adalah karena ingin menyelamatkan perusahaan tersebut karena semakin hari, perusahaan tersebut terus merugi dan terancam bangkrut.
"Saat di sana, kau tidak boleh menatap wanita lain, cukup lihat aku."
Sudut mulut Steven melengkung membentuk senyuman. "Apa perlu aku umumkan kepada semuanya agar mereka tahu kalau kau adalah calon istriku."
"Jangan Steve, aku tidak mau orang lain tahu sebelum ibumu merestui kita."
"Baiklah, terserah kau saja." Saat Steven dan Fiona akan masuk ke dalam mobil, Steven tidak sengaja menangkap sosok yang familiar sedang menuju parkiran.
"Steve, kenapa kau tidak masuk?" tanya Fiona yang sudah berada di dalam mobil ketika melihat Steven tampak termenung.
Steven mengalihkan pandangannya pada Fiona sambil menggeleng lalu memasuki mobilnya.
Butuh waktu 1 jam untuk tiba di kantor Fiona. "Steve, aku akan ke ruanganku dulu, nanti kita bertemu di ruang rapat," pamit Fiona ketika mereka sudah berada di dalam lift.
"Iyaaa." Di dalam lift hanya ada Fiona, Steven dan Erick.
Pintu lift terbuka lalu Fiona melangkah keluar setelah Fiona berpamitan pada Steven. "Rick, aku melihat Reynald ada di apartemen Fiona tadi, selidiki apa yang dia lakukan di sana."
"Baik, Tuan."
"Minta Doni untuk mengantar Fiona ke rumahnya sore ini dan jangan biarkan Doni meninggalkan Fiona di sana sendiri. Dia harus tetap mengawasi Fiona dari jauh. Aku yakin, ibunya pasti merencanakan sesuatu pada Fiona. Aku tidak mau kecolongan kali ini."
"Apa perlu kita minta Jorsh saja yang menjaga Nona Fiona?" usul Erick.
"Tidak perlu, akan sangat mencolok kalau Jorsh yang menemani Fiona. Biarkan Doni saja, suruh dia membawa 2 pengawal untuk mengikuti mereka diam-diam dari belakang."
"Baik, Tuan."
Bersambung.....
__ADS_1