
Sebuah pesan masuk ketika Leon sedang membolak-balikkan berkas yang ada di depannya. Leon meraih ponselnya lalu membaca pesan yang baru saja masuk. Pesan dari Sonia yang mengirimkan nama restoran tempat mereka akan bertemu nanti malam.
Leon menatap sejenak pesan yang dikirim oleh Sonia, setelah itu meletakkan kembali ponselnya di atas meja di sebelah berkas yang tadi sedang dia baca.
Sore harinya, Leon langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian sebelum pergi ke tempat yang sudah Sonia tentukan. Ini pertama kalinya Leon bertemu dengan seorang wanita yang dia tidak kenal selain urusan kantor.
Leon memang sedikit tertutup untuk kehidupan pribadinya. Dia terbiasa menyendiri dan tidak terlalu suka dengan keramaian. Waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja, kalau pun dia sedang penat, biasanya dia akan mengajak Fiona dan Jesy untuk jalan-jalan.
Selesai bersiap Leon langsung melajukan mobilnya menuju restoran terkenal yang ada di pusat kota tidak jauh dari perusahaan Sonia.
Setibanya di sana, Sonia sudah datang terlebih dahulu. Leon menyapa Sonia sebelum duduk di depannya. "Maaf sudah membuatmu menunggu."
Sonia terseyum manis. "Tidak apa-apa. Aku juga baru saja datang. Lagi pula, kau tidak datang terlambat." Sonia memanggil memanggil pegawai restoran lalu memesan makanan.
"Sonia, mobilmu sudah selesai diperbaiki, sekarang ada di rumahku. Aku akan meminta orang untuk mengantarnya ke rumahmu."
"Jangan, biar aku saja yang mengambil ke rumahmu," tolak Sonia, "kau sudah menolongku kemarin malam. Kalau kau tidak keberatan, nanti aku ikut pulang ke rumahmu untuk mengambil mobilku," terang Sonia.
"Baiklah, tidak masalah."
"Leon, aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi atas bantuanmu kemarin. Sejujurnya, kemarin aku sangat takut saat ban mobilku tiba-tiba kempes di jalanan sepi. Untung saja kau datang membantuku. Aku sangat berterima kasih padamu," ucap Sonia tulus.
"Aku hanya kebetalan lewat. Sebenarnya, kau tidak perlu mengajakku makan malam hanya karena bantuan kecil seperti itu. Itu sudah sepantas dilakukan pria jika melihat ada wanita yang membutuhkan pertolongan," ujar Leon.
"Tidak semua pria tulus membantu wanita tanpa ada motif sepertimu."
Leon menyungging sudut bibir kirinya. "Sonia, kau sungguh polos. Kau mengingatkanku pada seseorang." Leon menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menautkan kedua tangannya di pangkuannya, "seseorang tidak bisa dikatakan tulus hanya karena pernah menolong satu kali. Aku rasa kau terlalu cepat untuk menilai diriku," lanjut Leon lagi.
"Entahlah, aku hanya merasa kau pria yang baik dan tulus."
Leon tersenyum tipis. "Sonia, jangan terlalu mudah percaya dengan pria yang baru kau kenal, termasuk aku. Mungkin saja pria mendekatimu hanya ingin memanfaatkanmu karena tahu identitas keluargamu."
Dahi Sonia mengerut sesaat, setelah itu dia berkata, "Memangnya kau tahu siapa aku?"
"Tentu saja tahu," jawab Leon santai, "Siapa yang tidak kenal dengan penerus dari Liang Group."
Leon sebenarnya memang sudah lama tahu mengetahui Sonia. Wajah Sonia beberapa kali muncul di beberapa media elektronik dan majalah bisnis berkat kecakapannya dalam mengelola perusahaan besar keluarganya. Dia juga terkenal karena sifat dermawannya.
Sonia tertegun sesaat. "Aku tidak menyangka kalau kau mengetahui tentang diriku. Aku merasa tersanjung."
Mereka melanjutkan obrolan sampai makanan mereka datang. Selama mengobrol, Leon tidak terlalu banyak bicara, dia lebih banyak mendengarkan Sonia menceritakan mengenai kehidupannya. Leon memang bukan tipe orang yang suka banyak bicara terlebih dengan orang baru dikenalnya.
Selesai makan, mereka menuju rumah Leon. Saat di tengah perjalanan, seseorang menelpon Leon. "Maaf Sonia, sepertinya kita tidak bisa ke rumahku. Aku harus pergi ke suatu tempat"
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sonia dengan wajah terkejut.
"Iyaaa, aku harus menjemput seseorang. Bisakah kau ikut denganku sebentar? Aku akan mengantarmu pulang setelah itu," ucap Leon ketika sudah selesai menerima telpon dari seseorang.
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah."
Leon langsung berputar arah ke tempat yang menjadi tujuannya. Leon berhenti di dekat halte saat melihat wanita di kenalnya sedang duduk sambil menunduk. "Kau tunggu di sini," ucap Leon pada Sonia dan langsung diangguki oleh Sonia.
Leon kemudian menghampiri gadis tersebut setelah membuka pintu mobil, sementara Sonia hanya menatap ketika Leon menghampiri seorang wanita yang sedang duduk di halte.
Leon terlihat membantu wanita itu untuk berdiri setelah itu merangkul pundaknya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Wanita itu terlihat sedang menangis. Leon menyuruh wanita itu untuk duduk di belakang karena di depan ada Sonia.
Ketika sudah duduk di belakang, wanita itu langsung menatap ke arah Sonia. "Kau siapa? Kenapa bisa berada di dalam mobil Kak Leon?" tanya Wanita itu sambil menatap ke arah Sonia.
Sonia menoleh ke belakang sambil tersenyum canggung saat ditanya oleh wanita itu.
"Dia adalah temanku," jawab Leon sambil mengenakan seatbelt sebelum Sonia menjawab pertanyaan wanita itu.
Wanita itu nampak memicingkan matanya ke arah Sonia. "Benarkah?"
Leon menoleh pada wanita itu. "Dia memang hanya temanku," jelas Leon lagi, "aku akan mengantar Sonia dulu, setelah itu baru mengantarmu."
"Iyaaa."
Selama dalam perjalanan, tidak ada suara sama sekali. Hanya terdengar sayup-sayup suara isakan dari gadis yang duduk di belakang. Sonia sesekali melirik ke belakang karena penasaran dengan wanita yang duduk di kursi belakang.
Saat tadi dia melihat perlakuan tidak biasa dari Leon pada wanita itu membuat Sonia berpikir mungkin Leon memiliki hubungan khusus dengannya. Setibanya di depan rumah Sonia, Leon ikut turun bersama dengan Sonia.
"Terima kasih karena sudah mengantarku," ucap Sonia ketika mereka sedang berdiri di dekat mobil Leon.
Sonia menatap ke arah mobil Leon sejenak lalu menatap Leon. "Wanita ituuuu...."
"Dia adik sepupuku."
Sonia tersenyum malu. "Maaf, aku kira itu dia kekasihmu."
"Bukan, aku memang dekat dengannya," terang Leon, "kalau begitu aku pulang dulu."
Sonia baru masuk ke rumah setelah mobil Leon pergi meninggalkan rumahnya.
*******
Sepulang bekerja, Leon dan Sonia memutuskan untuk bertemu kembali untuk mengantarkan mobil Sonia. Kali ini, mereka bertemu di restoran dekat kantor Leon.
"Ini kunci mobilmu." Leon meletakkan kunci mobil Sonia di atas meja.
"Terima kasih Leon."
"Hhmmmm."
"Maaf karena sudah merepotkanmu."
__ADS_1
"Tidak masalah, ini hanya masalah kecil," jawab Leon santai.
Saat mereka sedang menikmati makan malam mereka. Terlihat dua orang menghampiri mereka berdua.
"Sonia, apa yang kau lakukan di sini?" Sonia dan Leon menoleh bersamaaan. Saat melihat siapa orang yang ada di sampingnya, seketika Sonia langsung berdiri.
"Mama, Papa," ucap Sonia dengan terkejut. Leon yang mendengar ucapan Sonia, ikut terkejut juga. "Kami sedang makan malam, Ma, Pa," lanjut Sonia lagi.
"Siapa dia?" tanya Ayah Sonia sambil menatap sekilas ke arah Leon.
Leon berdiri lalu memberi salam pada ayah dan ibu Sonia sebelum Sonia menjawab. "Kenalakan, ini adalah Leon. Dia adalah kekasihku," jawab Sonia spontan dan langsung membuat Leon dan kedua orang tuannya terkejut.
"Benarkah??" Nampak sekali kalau ayah Sonia tidak percaya dengan ucapan anaknya.
Sonia langsung mengapit lengan Leon lalu menoleh padanya sambil tersenyum manis padanya. "Benar, kan, Sayang?"
Leon tidak langsung menjawab. Dia terlihat tertegun sesaat sebelum membalas ucapan Sonia. Leon masih tidak mengerti kenapa Sonia berbohong tentangnya mengenai hubungan mereka berdua.
"Iyaaa, benar. Nama saya Leon," ucap Leon sopan, "Maaf karena baru bisa memperkenalkan diri secara langsung."
Ibu Sonia tersenyum senang. "Tidak apa-apa. Kami juga baru tahu kalau Sonia sudah memiliki kekasih."
"Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau sudah memiliki kekasih?" sela Ayah Sonia.
"Aku takut kalian akan marah kalau tahu aku sudah memiliki kekasih," jawab Sonia dengan suara pelan.
"Kalau begitu ajak besok kekasihmu untuk makan malam di rumah. Ada yang ingin papa bicarakan dengannya."
"Kenapa tidak berbicara di sini saja, Pa?" Sonia nampak cemas. Seketika dia merasakan perasaan tidak enak. Apakah ayahnya akan mengintrogasi Leon.
"Di sini terlalu terbuka." Ayah Sonia menoleh pada Leon. "Datanglah besok malam ke rumah kami."
"Baik," jawab Leon sopan sambil mengangguk.
Setelah selesai berbicara, orang tua Sonia langsung pergi.
"Leon, maafkan aku karena sudah melibatkanmu. Aku terpaksa melakukannya," ucap Sonia dengan wajah bersalah.
"Kenapa kau berbohong kepada orang tuamu?"
"Sebenarnya, orang tuaku malam ini mengajakku bertemu dengan pria yang akan dijodohkan denganku, tapi aku menolaknya. Aku tidak menyukai pria tersebut sebab itulah aku bilang ada urusan penting jadi tidak bisa ikut dengan mereka. Aku tidak menyangka kalau orang tuaku ada di sini."
Leon menghela napas. "Sonia, apa yang kau lakukan ini tidak benar. Orang tuamu pasti akan marah jika tahu kau berbohong pada mereka."
"Aku tahu, aku spontan tadi menjawab seperti itu. Maafkan aku Leon. Aku akan menjelaskan pada orang tuaku nanti."
"Sudahlah, aku akan menemui orang tuamu besok. Bagaimana pun aku juga sudah memperkenalkan diri sebagai kekasihmu dan menyanggupi untuk datang ke sana."
__ADS_1
Bersambung....