
"Selamat malam semua." Sera tersenyum manis ketika baru memasuki ke ruang makan.
Semua orang yang ada di ruang makan menoleh. "Sera, kemari, duduklah di samping Steven." Ibu Steven langsung menyambut kedatangan Sera dengan wajah senang.
Sera mengangguk. Fiona mengikuti langkah Sera yang sedang berjalan ke arah sisi kiri Steven, sementara Steven menatap ibunya dengan tatapan menyelidik.
Steven langsung menggenggam tangan Fiona ketika Sera duduk di sampingnya. Dia bisa melihat perubahan pada wajah Fiona. Steven merasa kalau ibunya sengaja mengundang Sera untuk membuat Fiona minder.
"Steve, bagaimana kabarmu?" tanya Sera dengan lembut sambil menoleh ke kanan.
"Baik, kenapa kau bisa ada di sini?"
"Steven, kenapa kau bertanya seperti itu pada Sera? Kau membuat malu dirinya," tegur ibu Steven.
Steven menoleh pada ibunya sambil menyandarkan punggungnya di kursi. "Aku hanya heran, Ma, kenapa Sera ada di sini?"
"Mama yang mengundangnya ke sini," ungkap Ibu Steven.
Setelah mengetahui Steven akan pulang, ibunya langsung menghubungi Sera dan menyuruhnya untuk datang. Setelah insiden penculikan Fiona, Steven memang seolah sulit ditemui. Beberapa kali Sera datang ke perusahaannya, tapi Steven tidak ada. Sera juga sering mendatangi rumah Ibu Steven, berharap bisa bertemu dengan Steven di sana.
"Apa kau tidak suka aku datang ke sini?" tanya Sera.
"Tidak, bukan itu maksudku. Lebih baik kita makan."
"Baiklah, kita lanjutkan perbincangan kita setelah makan," timpal Ibu Steven.
Mereka semua mengangguk dan mulai mengambil makanan di atas meja. Steven tidak langsung mengambil lauk di piringnya, melainkan mengedarkan pandangannya ke hidangan yang ada di meja.
"Apa mau aku ambilkan?" tawar Fiona sambil menoleh pada Steven ketika dia melihatnya belum mengambil makanan.
Sebenarnya Steven sedang tidak napsu makan malam itu, ditambah lagi melihat kedatangan Sera, tapi dia tidak bisa menunjukka secara terang-terangan.
Steven tersenyum sambil mengangguk. "Iyaa." Fiona mulai mengambilkan lauk, sementara Sera dan ibu Steven diam-diam melirik ke arah Fiona.
"Ini Steve." Fiona meletakkan piring di depan Steven.
"Terima kasih, sayang." Fiona mengangguk dengan wajah malu. Dia tidak menyangka kalau Steven akan memanggilnya seperti di depan ibunya dan Sera.
"Fiona, apa kau tidak tahu kalau Steven alergi udang?" Sera langsung menatap tidak suka pada Fiona ketika melihat Fiona memasukkan udang ke piring Steven, "kau adalah kekasih Steven, bagaimana bisa kau tidak tahu hal itu?"
Fiona seketika menoleh pada Steven. "Maaf Steve, aku tidak tahu," ucap Fiona dengan wajah bersalah, "aku akan ambilkan yang baru, biar aku yang memakan itu." Fiona berniat mengambil piring itu, tapi dicegah oleh Steven.
"Tidak perlu, sayang," tolak Steven dengan lembut sambil memegang tangan kiri Fiona. "Tidak apa-apa, aku akan menyingkirkan udangnya."
"Fiona, bahkan sayuran yang kau masukkan ke dalam piring Steven adalah sayur yang tidak disukai olehnya. Bagaimana bisa kau tidak tahu makanan yang disukai dan tidak sukai olehnya?"
__ADS_1
Steven menggerakkan kepalanya, menoleh pada Sera. "Sera, makanlah, jangan pedulikan aku. Aku akan memakan apapun yang Fiona berikan padaku, jangan menyudutkannya lagi."
Sera nampak kesal karena Steven justru membela Fiona, padahal dia berniat untuk mempermalukan Fiona di depan Steven dan Ibunya.
"Sudah-sudah, lebih baik kita makan dengan tenang," sela ibu Steven.
Selesai makan, Steven langsung menatap ibunya. "Ma, ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada Mama."
"Hal penting apa?" tanya Ibu Steven.
"Lebih baik kita bicara di ruang baca," usul Steven.
"Baiklah."
"Kalau begitu aku pulang saja, ini sudah malam." Sera berdiri setelah meraih tasnya.
"Kenapa buru-buru sekali Sera?"
"Sudah malam, Tante. Lain kali, aku akan ke sini lagi."
Steven menoleh pada Sera. "Aku akan menyuruh orang untuk mengantarmu," ucap Steven.
"Baiklah, terima kasih Steve."
Setelah kepergian Sera, Steven dan Fiona menyusul langkah ibunya menuju ruang baca.
"Ma, aku ingin menikahi Fiona dalam waktu dekat." Langsung pada intinya. Steven tidak mau terlalu banyak bicara. "Tolong berikan restu pada kami untuk menikah."
"Steven, kau tidak bisa menikah hanya karena kau ingin menikah. Kau adalah penerus HK Group. Kau tidak bisa seenaknya memilih wanita untuk menjadi pendamping hidupmu."
Fiona meremas kuat tangannya ketika mendengar ucapan ibu Steven. "Wanita yang menjadi istrimu harus bermental baja dan memiliki wawasan luas serta memiliki keterampilan baik dalam dunia bisnis. Tidak hanya itu, dia harus memenuhi beberapa kriteria lainnya juga," terang Ibu Steven.
"Ma, tolong berikan kesempatan pada Fiona untuk membuktikan kemampuannya pada Mama."
"Kau tahu bukan kalau banyak wanita yang ingin menjadi istrimu yang memiliki kualifikasi bagus yang sudah menawarkan diri untuk menjadi calon istrimu?"
"Iyaaa aku tahu Ma, tapi aku tidak suka dengan mereka. Aku hanya mencintai Fiona. Aku tidak akan pernah menikahi wanita lain jika mama tetap tidak mau memberikan kami restu."
"Kau mengancam mama?" tanya Ibu Steven dengan wajah tegasnya.
"Tidak Ma, aku hanya ingin Mama tahu kalau aku sangat mencintai Fiona. Aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai."
Ibu Steven terlihat diam sambil berpikir. "Baiklah, mama akan merestui hubungan kalian dengan 2 syarat."
Fiona yang sedari tadi menunduk, langsung mengangkat kepalanya. "Apa?" tanya Steven cepat.
__ADS_1
"Pertama, Fiona harus hamil anak laki-laki. Jika Fiona tidak bisa memberikan keturunan laki-laki untuk keluarga kita dalam waktu satu tahun, maka, kalian harus bercerai."
"Maaa, persyaratan macam apa itu?" Steven mulai meninggikan suaranya. Dia merasa persyaratan ibunya sengaja untuk menyulitkan Fiona, "bukankah anak perempuan dan laki-laki sama saja?"
"Mama hanya perlu anak laki-laki untuk menjadi penerusmu kelak, jika kau tidak setuju, maka lupakan saja pembicaraan ini."
"Saya setuju, saya akan berusaha untuk memberikan Steven anak laki-laki," ucap Fiona cepat.
"Tapi kalau kau tidak berhasil, maka kau harus bercerai dengan anakku."
"Iyaaa, saya mengerti."
"Bagus," ucap Ibu Steven dengan wajah puas.
"Fio, kenapa kau menyetujui permintaan Mama? Apa kau sadar dengan ucapanmu itu?"
Fiona menoleh pada Steven sambil memegang tangan kanannya. "Steve, kita tidak punya pilihan lain, percaya padaku. Aku akan melakukan segala cara untuk memberikanmu anak laki-laki."
"Bagaimana kalau kau tidak berhasil? Apa kau akan meninggalkanku begitu saja?" Steven terlihat sedang menahan amarahnya.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," jawab Fiona dengan yakin.
Steven lebih yakin lagi kalau itu hanya cara ibunya untuk membuat Fiona pergi dari hidupnya nanti. Dia tidak akan membiarkan Fiona hamil anak laki-laki.
Ibu Steven menatap kedua orang yang ada di depannya secara bergantian. "Bagaimana, apa kalian setuju dengan persyaratan pertama?"
"Kami setuju," jawab Fiona tanpa menunggu jawaban dari Steven.
"Baiklah. Syarat kedua, kau harus membuktikan kemampuanmu dalam mengelola salah satu anak perusahaan kami yang sedang mengami krisis."
"Baik, saya setuju."
Fiona tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia akan membuktikan kalau dirinya memang wanita yang layak mendampingi Steven.
Steven nampak tidak bisa berkata-kata lagi. "Baiklah, setelah kau bisa mengatasi permaslahan di anak perusahaan kami, maka, kalian bisa menentukan kapan kalian akan menikah."
"Kalau saya bisa mengatasi dalam waktu setengah bulan, apakah kami bisa langsung menikah?" tanya Fiona.
"Tentu saja."
"Baiklah."
"Fiona, bisakah kau tinggalkan kami berdua? Ada yang harus aku bicarakan dengan Steven."
Fiona mengangguk. "Tunggu aku sebentar di ruang tengah, aku tidak akan lama," ucap Steven sebelum Fiona keluar.
__ADS_1
Bersambung...