
"Fio, sedang apa kau di sini?"
Fiona yang merasa familiar dengan suara tersebut langsung mengangkat kepalanya. "Rey," ucap Fiona dengan wajah terkejut ketika melihat Reynald sedang berjalan menghampirinya. "Kenapa kau bisa di sini?"
Reynald tersenyum sambil berdiri di depan Fiona. "Ini adalah kantorku."
"Kau berkerja di sini?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.
"Iyaaa," jawab Reynald sambil mengangguk pelan. "Kau sendiri sedang apa di sini?"
Meskipun mereka sudah dekat, tetapi keduanya memang tidak pernah bertanya nama perusahaan tempat mereka bekerja. Setiap bertemu mereka hanya membahas obrolan ringan dan santai saja, sebab itulah mereka sama terkejut.
Fiona tersenyum canggung. "Aku ingin bertemu dengan seseorang," jawab Fiona dengan senyum kaku.
Dahi Reynald mengerut. "Siapa?" tanya Reynald dengan wajah penasaran.
"Tuan Baldwin," jawab Fiona cepat. "Kau pasti mengenalnya, bukan?" tanya Fiona dengan suara rendah.
Fiona berpikir kalau karena Reynald bekerja di Retzh Group, dia pasti mengenal tuan Baldwin.
Reynald mengangguk. "Kenapa kau ingin bertemu dengannya?"
Fiona lalu menjelaskan maksud kedatangannya kepada Reynald. "Kalau begitu ikut aku, aku akan mengantarkanmu padanya." Reynald langsung menarik tangan Fiona.
Meskipun Fiona terkejut tapi dia tetap mengikuti langkah Reynald dari belakang. "Tapi sekertarisnya bilang tuan Baldwin sedang berada di luar dan belum kembali ke perusahaan."
Reynald tidak menggubris ucapan Fiona dan justru menariknya masuk ke dalam lift.
Beberapa orang terlihat menatap heran ke arah mereka berdua. "Pak," sapa seorang wanita cantik yang sedang berdiri di belakang meja ketika melihat Reynald melewati mejanya.
Reynald hanya mengangguk tanpa memperdulikan tatapan penasaran dari wanita cantik itu dan tatapan bingung dari Fiona.
"Duduklah," ucap Reynald setelah membuka pintu ruangan dan berhenti tepat di depan sofa.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" Fiona terlihat masih enggan untuk duduk.
"Bukankah kau bilang ingin membicarakan masalah kerja sama dengan tuan Baldwin?" Reynald terlihat duduk bersandar dengan kaki yang disilangkan sambil menatap santai pada Fiona.
"Iyaa benar, tapi...."
"Kalau begitu biar aku lihat penawaran kerja samanya." Reynald mengulurkan tangannya ke arah Fiona.
Fiona tampak masih ragu. "Tapi Rey...."
Reynald menurunkan tangannya ketika melihat Fiona terlihat enggan memberikan map yang sedari tadi dia bawa.
Reynald terlihat menghela napas. "Fio, kau seharusnya menanyakan namaku dari awal agar kau tahu siapa aku sebenarnya. Namaku Reynald Baldwin, jadi orang yang ingin kau temui selama ini adalah aku," terang Reynald.
Mata Fiona langsung membelalak. "Jadi, kau adalah pemilik perusahaan ini?"
"Heeemm," gumam Reynald sambil mengangguk. "Berikan padak, aku akan memeriksanya." Kali ini, Fiona langsung menyodorkan map yang ada di pangkuannya kepada Reynald.
Setelah menerima map tersebut, Reynald terlihat menatap serius pada kertas yang ada di tangannya. "Apa kau yang membuat sendiri penawaran kerja sama ini?" tanya Reynald sambil menatap Fiona.
"Iyaa," jawab Fiona pelan.
Reynald menyunggingkan senyumnya. "Baiklah, besok kau kemari lagi untuk membahas mengenai kerja sama kita."
"Haaaaaah?" Fiona tercengang. "Semudah itu?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.
Reynald tersenyum, meletakkan map di meja lalu menatap Fiona dengan alis terangkat. "Kenapa? Bukankah kau kemari agar perusahaanmu bisa menjalin kerjasama dengan perusahaanku? Apa kau tidak senang karena aku menerima tawaran kerja samamu?"
__ADS_1
"Bukan seperti itu, hanya saja ini terlalu mudah. Aku pikir...."
Fiona hanya merasa heran Reynald terlihat tidak ragu sedikit pun terhadap perusahaanya. Fiona tidak menyangka kalau Reynald dengan mudahnya menerima tawaran kerja samanya, mengingat ucapan Cindy yang mengatakan kalau sangat sulit untuk meyakinkan Reynald yang tidak lain tuan Baldwin.
"Aku akan menerima kerja sama ini dengan syarat, kau sebagai penanggung jawabnya. Aku ingin kerja sama ini, kau yang mengaturnya. Aku tidak mau berurusan dengan orang lain selain kau," ucap Reynlad dengan wajah serius.
Fiona terdiam sesaat untuk mencerna ucapan Reynald. "Baiklah, terima kasih, Rey."
Reynald tersenyum dan mengangguk. "Karena kau sudah di sini, bagaimana kalau temani aku makan siang," pinta Reynald sambil berdiri.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa lama-lama karena aku harus kembali ke kantor," ucap Fiona sambil mengikuti langkah Reynald yang berjalan ke arah pintu.
Sebelum membuka pintu, Reynald menoleh pada Fiona. "Apa aku harus meminta ijin pada atasanmu agar kau bisa pulang sedikit terlambat?"
"Tidak perlu Rey, kita bisa santai, tidak perlu terburu-buru."
Bagaimana pun kerja sama dengan perusahaan Rey adalah hal penting, Fiona tidak ingin menyinggung Rey hanya karena dia tidak memberikan waktu yang leluasa untuk sekedar menemainya makan, lagi pula mereka sudah sering makan bersama.
Reynald tersenyum tipis lalu melangkah keluar bersama Fiona. Reynald sengaja memilih restoran di salah satu hotel berbintang yang letaknya tidak jauh dari kantornya agar tidak memakan waktu yang lama.
"Fio, maafkan aku karena selama ini aku tidak tahu kalau kau mengajukan penawaran kerja sama dengan perusahaanku," ucap Rey ketika mereka sudah berada di dalam restoran dan sudah memesan makanan.
Tentu saja Rey tidak tahu karena saat Fiona menghubungi sekertaris Reynald. Fia mengatasnamakan perwakilan dari perusahaan, bukan menyebutkan nama pribadinya. Kalau saja Rey tahu dari awal, tidak mungkin dia tidak meluangkan waktu meskipun sesibuk apapun dirinya.
"Itu bukan salahmu, aku tahu kalau pasti sibuk. Lagi pula, aku dengar banyak perusahaan yang ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaanmu, jadi aku sebenarnya tidak terlalu percaya diri bisa menjalin kerja sama dengan perusahaanmu."
Fiona hanya tidak menyangka kalau Rey adalah pemimpin perusahaan tersebut. Dia juga tidak mengecek profile pemimpin perusahaan tersebut sehingga dia tidak mengetahui dengan jelas mengenai pemimpin perusahaan Retzh Group.
"Kenapa kau yang datang ke perusahaanku? Bukankah seharusnya atasan perusahaanmu yang datang menemuiku?"
Rey hanya merasa aneh, sebagai sekertaris, bukankah tugas Fiona terlalu berat apalagi untu membicarakan kerja sama bisnis yang penting. Tidak seharusnya tidak datang sendiri karena itu bukankah lah tugas utamanya. Terlalu beresiko jika hanya mengirimkan Fiona sendiri untuk melakukan penawaran kerja sama.
Fiona tersenyum kaku lalu menyelipkan rambut di telinga kanannya. "Sebenarnya itu adalah tugas kakakku, aku hanya membantunya."
Rey manggut-manggut. "Bisa aku artikan kalau kau lebih cerdas darinya kalau seperti itu."
Fiona tampa merasa tidak enak hati mendengar ucapan Reynald. "Tidak seperti itu, aku hanya tahu sedikit tentang dunia bisnis," ucap Fiona merendah.
"Fio," panggil Rey spontan.
"Yaa, kenapa?"
"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Reynald dengan wajah serius.
Fiona terdiam sesaat. Ingatannya langsung tertuju pada sosok Steven. Meskipun sudah lama tidak bertemu, Fiona masih belum bisa melupakannya. "Belum," jawab Fiona pelan.
"Benarkah?"
"Iyaaa benar," jawab Fiona dengan wajah malu.
"Tidak mungkin wanita secantik dirimu belum memiliki kekasih. Apa kau termasuk wanita yang pemilih dan berkriteria tinggi?" tanya Reynald dengan wajah penasaran.
Fiona mengalihkan pandanganya sejenak ketika melihat Rey sedang menatap dirinya dengan intens. "Tidak juga, hanya belum menemukan seseorang yang pas."
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" Pertanyaan Rey suskes membuat Fiona kembali beralih menatapnya.
"Tidak juga, aku hanya masih ingin sendiri," jawab Fiona cepat.
"Begitu rupanya."
Melihat Fiona yang tampak tidak nyaman dengan obrolan tersebut, Rey mengalihkan pembicaraan lain. Setelah makan, mereka berencana untuk langsung pulang, saat Fiona baru saja keluar dari lift. Tiba-tiba dia melihat sosok yang dia kenali sedang berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
Fiona terpaku sesaat melihat punggung pria yang sedang berjalan keluar ke arah pintu bersama dengan seorang wanita dan seorang pria yang dia kenali adalah Erick.
"Steven," ucap Fiona dengan suara rendah. Jantungnya berdetak kencang meskipun hanya melihatnya dari belakang.
Dengan langkah cepat, Fiona menyusul pria itu yang terlihat sudah keluar dari pintu. Reynald yang melihat Fiona berlari dengan wajah panik, segera menyusul langkah Fiona.
Fiona menoleh kanan-kiri mencari sosok pria yang mirip dengan Steven tapi tidak menemukan sosok tersebut. "Steve, apa kau sudah kembali?" gumam Fiona dalam hati.
"Fiona, kau kenapa?" tanya Reynald ketika dia berhasil menyusul Fiona dan berhasil berdiri di sampingnya.
Fiona tersadar lalu menoleh pada Reynald. "Tidak apa-apa. Sepertinya aku melihat seseorang yang aku kenal, mungkin aku salah lihat."
Reynald bisa melihat wajah Fiona yang tampak kecewa.
********
"Bagaimana cara kau bisa meyakinkan tuan Baldwin sehingga dia mau bekerja sama dengan perusahaan kita?"
Cindy sangat terkejut ketika mendapatkan kabar dari Fiona kalau dirinya berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan sebesar Retzh Group. Fiona bersandar di sofa ruangan kakaknya karena merasa lelah. Sebenrnya bukan lelah, tetapi dia kurang tidur dan pikirannya sedang kacau.
Setelah kejadian kemarin saat melihat seseorang yang mirip dengan Steven, pikirannya tidak bisa fokus sama sekali. Sore harinya sepulang kerja, Fiona langsung pergi ke mansion Steven. Mansion tersebut ternyata masih milik Steven, entah alasan apa Steven membatalkan niatnya untuk menjual mansion tersebut.
Fiona ke sana tetapi tidak menemukan bi Asih. Hanya penjaga mansion saja. Fiona berusaha mengorek informasi tentang Steven, tetapi gagal. Dia tidak mendapatkan informasi apapun mengenai keberadaan Steve.
Mansion tersebut juga seperti sudah lama tidak dihuni, meskipun tetap terawat hanya hawa kehidupan tidak terlihat di sana.
"Setelah melihat penawaran kerja sama yang aku bawa, tuan Baldwin langsung menyetujuinya dan meminta aku mengantarkan berkas perjanjian kerja samanya hari ini." Fiona lalu menyampaikan persyaratan yang diajukan oleh Rey.
"Kenapa harus kau?" tanya Cindy dengan wajah penasaran. Awalnya dia berniat menangani semuanya setelah Fiona berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan Retzh.
Fiona mengedikkan bahu. "Aku juga tidak tahu, mungkin karena aku yang menemuinya."
Fiona terlihat malas untuk memberitahukan pada kakaknya kalau sebenarnya dirinya kenal dengan Rey. Dia tidak mau nantinya, Cindy memanfaatkan kedekatannya dengan Rey untuk urusan bisnis.
Cindi mmicingkan mata. "Kenapa kau lesu sekali hari ini? Ada masalah?" tanya Cindy dengan tatapan menyelidik.
"Tidak kak, aku hanya lelah."
Sepulangnya dari kantor, Fiona tidak langsung pulang. Dia pergi ke apartemen sahabatnya, Jesy.
"Kau kenapa?" Jesy yang sudah hapal dengan sifat Fiona bisa langsung menebak hanya dari melihat ekpresi wajah sahabatnya ketika dia membuka pintu.
Fiona berjalan masuk dengan langkah gontai lalu merebahkan dirinya ke sofa. "Fio, kau habis patah hati?"
"Jes, kenapa aku belum juga bisa melupakannya?" Terlihat Fiona mulai meneteskan air matanya. "Padahal dia sudah pergi bergitu lama. Kami bahkan tidak memiliki hubungan apapun."
Jesy yang terkejut langsung duduk di samping Fiona. "Fio, semua tergantung padamu. Kau bukannya tidak bisa melupakannya, tapi kau sendiri yang tidak mau melupakannya," ucap Jesy dengan wajah prihatin. Tentu saja dia tahu yang Fiona maksud adalah Steven.
Fiona menghapus air matanya. "Aku sudah mencoba untuk melekannya Jes, tapi tetap tidak bisa."
Sebagai sahabat satu-satunya Fiona, tentu saja dia tahu mengenai Steven dan hal sekecil apapun mengenal Fiona karena memang dari dulu, Jesy lah yang menjadi tempat Fiona untuk berbagi cerita. Jesy bahkan satu-satunya orang yang tahu mengenai perasaan Fiona pada Steven yang bahkan Steven pun tidak tahu akan hal itu.
"Cobalah buka hatimu, Fio. Kau tidak bisa lagi menunggunya," saran Jesy.
Fiona terdiam sejenak. "Kau sendiri yang akan terluka jika kau tetap bertahan dengan pilihanmu," sambung Jesy lagi. "Kita tidak tahu, mungkin saja dia sudah menikah dan bahagia dengan wanita pilihannya."
Sudah sering kali Jesy menasehati Fiona agar memulai hidup yang baru tapi Fiona masih tetap ingin menunggu Steven pulang.
Fiona teringat dengan pemandangan saat dia melihat Steven bersama dengan Erick dan wanita cantik. Mungkinkah itu kekasih Steven atau mungkin istrinya? Apa mungkin, itu alasan Steven tidak pernah mau bertemu dengannya lagi? Seteketika dadanya berdenyut perih membayangkan penantiannya sia-sia.
"Baiklah. Aku akan melupakannya dan membuka hatiku untuk orang lain."
__ADS_1
Bersambung...