
"Kau dari mana?Aku menelpon berkali-kali, tetapi tidak kau angkat. Kenapa kau pergi keluar tidak ijin padaku?"
Ketika sampai mansion Steven, dia dikejutkan dengan tatapan menyelidik dari Steven yang sedang duduk di ruang keluarga dengan pakaian rumah menampilkan wajah datarnya.
Fiona tersenyum lalu mendekati Steven. "Maaf Steve, aku tidak mendengar panggilan masuk karena ponselku dalam keadaan silent," terang Fiona sambil duduk di samping Steven.
"Aku hanya pergi ke supermarket untuk membeli ini," jawab Fiona sambil mengangkat 2 tas belanja yang berisikan buah, sayuran, dagiang beberapa belanjaan lainnya.
Fiona sengaja membeli itu sebagai alasan agar Steven tidak curiga padanya kalau sampai Steven pulang lebih dulu dari pada dia. "Kenapa tidak meminta Doni untuk mengantarmu?"
Steven belum sepenuhnya menerima alasan Fiona keluar tanpa memberitahunya, apalgi tidak ada yang mengawasinya. "Aku tidak ingin merepotkan Doni, lagi pula aku hanya ke supermarket dekat sini." Fiona melihat Steven terlihat masih curiga padanya.
"Jangan marah, maafkan aku, lain kali aku akan ijin padamu dulu. Aku hanya ingin memasak untukmu. Terakhir kali, acara makan malam kita batal, maka dari itu, aku ingin menggantinya dengan memasak sesuatu untukmu," sambung Fiona lagi.
Mendengar penjelasan Fiona, setika wajah Steven melunak. "Kita bisa makan diluar sebagai gantinya. Kau sudah lelah bekerja, bagaimana bisa aku membiarkanmu untuk memasak untukku."
Untung saja Steven tidak curiga padanya. Sebenarnya Fiona juga merasa bersalah pada Steven karena waktu itu tidak jadi makan malam karena Steven marah padanya. Itu juga alasannya kenapa Fiona bersikeras untuk memasak untuk Fiona malam ini.
Fiona tersenyum manis. "Aku ingin memasak untukmu sebagai permintaan maafku waktu itu," jelas Fiona.
"Baiklah, aku akan membantumu."
Fiona spontan menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, kau cukup temani aku saja sambil melihatku memasak, bagaimana?"
Steven menimang sejenak. "Baiklah."
Mana mungkin Fiona membiarkan Steven terjun langsung membantunya di dapur. Jika ibunya tahu, pasti ibunya akan semakin membencinya karena berani membuat anak kesayangannya memasuki area dapur yang sama sekali tidak cocok dengan status Steven.
Selain itu, mana berani Fiona membiarkan Steven mengotori tangan yang bisa menghasilkan miliyaran uang hanya dengan menggoreskan tinta saja pada dokumen penting.
"Kalau begitu, aku ingin meletakkan ini dulu lalu mengganti bajuku."
"Hhhmmm."
Setelah meletakkan belanjaanya di dapur, Fiona mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah. Dia sengaja tidak mandi terlebih dahulu karena takut akan berkeringat setelah memasak.
Steven duduk di depan meja panjang yang berada di dapur sambil menatap Fiona yang terlihat sedang sibuk mencuci daging di wastafel. Steven terlihat tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Fiona.
"Steve, tolong ceritakan padaku mengenai ibumu. Apa saja yang disukai dan tidak disukai olehnya?" tanya Fiona sambil mencuci sayuran lainnya setelah selesai mencuci daging.
__ADS_1
Steven mengerutkan keningnya. "Ibuku? Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu mengenai ibuku?"
Fiona menoleh sejenak pada Steven lalu tersenyum. "Dia adalah ibumu, setidaknya aku tahu mengenai dirinya. Aku ingin mengakrabkan diri dengan ibumu."
Seketika Steven merasa bersalah. Dia teringat betapa keras ibunya menolak kehadiran Fiona dalam hidupnya, jika saja Fiona tahu kalau ibunya tidak menyukai dia, mungkin saja dia akan sedih atau bahkan mungkin Fiona akan menyerah padanya. Membayangkan Fiona suatu saat akan meninggalkannya membuat Steven cemas.
Steven sendiri bahkan kesulitan untuk merubah keputusan yang sudah dibuat ibunya. Dalam hal-hal tertentu, ibunya bisa melunak, tapi ada hal yang bagi ibunya tidak bisa dia terima jika itu bertentangan dengan prinsipnya.
Steven tersenyum. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan kerisauannya mengenai hubungannya yang tidak direstui oleh ibunnya.
"Ibuku sebenarnya baik, hanya terkadang keras kepala dan susah untuk merubah pandangannya tentang hal yang tidak disukainya....." Dengan Steven terus menceritakan mengenai ibunya pada Fiona.
Fiona manggut-manggut mendengar perkataan Steven. Setidaknya dia tahu bagaimana karakter ibu dari kekasinya. "Aku mengerti, terima kasih Steve," ucap Fiona setelah Steven selesai mencertikan perihal ibunya.
Steven bangkit mendekati Fiona, membalik tubuhnya lalu memeluk Fiona dengan erat. "Berjanjilah, kalau kau tidak akan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi nanti."
Fiona yang dipeluk tiba-tiba oleh Steven seketika terkejut. "Steve, lepaskan. Tubuhku bau. Aku belum mandi."
"Berjanjilah dulu."
Fiona memgangguk. "Iyaa, aku berjanji."
Menurut Fiona, tidak disukai oleh ibu Steven adalah hal yang wajar. Bagaimana pun ibunya pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, terlebih lagi karena Steven adalah anak satu-satunya.
Steven melepaskan pelukannya. "Kau seharusnya jangan memelukku dulu. Tubuhku berkeringat karena memasak dan aku belum mandi setelah seharian bekerja," protes Fiona.
Steven tersenyum. "Aku tidak peduli. Aku menyukai semua yang ada padamu." Steven menangkup wakah Fiona lalu memberikan kecupan kecil di wajah Fiona.
Fiona menepuk punggung Steven dengan cepat berkali-kali. "Steve, berhenti, masakanku bisa gosong nanti."
Steven melepaskan tangannya dari wajah Fiona sambil terkekeh. "Maaf sayang. Aku hanya gemas padamu."
Setelah mengetahui perasaan Fiona yang sesungguhnya, Steven sudah mulai mengekspresikan rasa cintanya pada Fiona, berbeda sebelum dia tahu. Steven seolah tidak memiliki kepercayaan diri di depan Fiona.
"Kau ini, selalu berbuat seenakmu." Fiona mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Jangan menampilkan wajah seperti itu, atau aku akan menciummu lagi," goda Steven.
"Cukup Steve, lebih baik kau duduk lagi, sebentar lagi aku selesai memasak."
__ADS_1
Steven langsung menuruti perkataan Fiona. Selesai memasak, Fiona kembali ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya setelah itu turun dan mengajak Steven untuk makan malam bersama.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan masakanmu. Masakanmu enak sekali." Mereka berdua baru saja selesai makan malam.
Fiona merasa senang karena Steven menyukai masakannya. "Kalau kau suka, aku akan memasak untukmu setiap hari."
"Jangan, kau adalah kekasihku, bukan juru masakku," tolak Steven. Steven memang menyukai masakannya tapi dia tidak ingin membuat Fiona repot.
"Kalau begitu, saat libur saja aku memasak untukmu. Kita juga bisa menghabiskan waktu berdua seperti tadi."
Steven menimang sesaat. "Baiklah, tapi lain kali, biarkan aku membantumu."
"Baiklah."
Selesai memasak. Steven mengajak Fiona untuk duduk di ruang keluar sambil menonton film. Besok adalah hari libur, jadi Steven ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Fiona.
"Besok, kita akan melihat apartemen untukmu." Steven menoleh pada Fiona yang sedang duduk di sampingnya.
Fiona yang tadi sedang fokus menonton film seketika menoleh pada Steven. "Baiklah, kita akan berangkat jam berapa?"
"Siang hari saja. Kau tidak perlu bangun pagi-pagi."
"Baiklah." Fiona kembali fokus menonton film, sementara Steven duduk berdandar sambil memejamkan matanya. Dia merasa hari ini sangat lelah dan butuh istirahat.
Fiona yang merasa tidak ada pergerakan dari Steven sedari tadi, seketika menoleh. Dia melihat Steven sedang tertidur.
Tidak biasanya Steven tidur cepat. Ada apa dengannya?
Melihat Steven tampak nyenyak, Fiona tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya, dia memilih untuk membiarkan Steven. Dia berniat untuk membangunkannya saat dirinya sudah selesai menonton televisi.
Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah pukul 11 malam. Steven mulai membuka matanya lalu menoleh ke kanan. Dilihatnya Fiona sudah tertidur di bahunya. Steven lalu mencoba untuk mengangkat tubuh Fiona menuju kamarnya menggunakan lift.
Sesampainya di kamar Fiona, Steven langsung meletakkan Fiona di tempat tidur lalu menyelimutinya.
Dia bahkan tidak terbangun sedikit pun saat aku mengangkatnya, sama seperti saat dia tertidur di mobil Leon. Apakah dia selalu seperti ini?
Steven memandang wajah Fiona sejenak lalu keluar dari kamar Fiona menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Steven meraih ponselnya yang ada di atas nakas lalu menghuhungi asistennya.
"Rick, cari tahu ke mana Fiona tadi sore pergi," perintah Steven sambil menatap keluar jendela.
__ADS_1
Bersambung...