Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Dugaan Cindy


__ADS_3

Steven tersenyum tipis ketika melihat ekspresi wajah Fiona yang bersungut ketika dia baru saja kembali dengan mengenakan celana panjang dan sudah menggati warna lipstiknya menjadi warna soft pink. "Begitu lebih baik," komentar Steven dengan senyum lebarnya.


"Sebelum ke kantor kita sarapan di restoran hotel dekat sini. Kau ikut mobilku dulu, nanti Doni mengikuti dari belakang. Setelah sarapan kita baru berpisah," terang Steven.


"Aku sarapan di kantor saja. Aku harus tiba di kantor lebih cepat dari biasanya karena pekerjaan sedang banyak," tolak Fiona.


"Kalau begitu aku akan sarapan di kantormu juga," ucap Steven tak mau kalah.


"Baiklah kita sarapan bersama saja. Aku akan ikut denganmu." Fiona terpaksa mengikuti kemauan Steven. Kalau mereka sarapan di kantornya akan membuat kehebohan nantinya.


Steven berdiri lalu berjalan keluar bersama dengan Fiona. Setibanya di hotel yang dimaskud Steven, mereka langsung menuju restoran yang berada di lantai 2 diikuti oleh Doni dan Erick.


Steven duduk satu meja dengan Fiona sementara Erick dan Doni memilih meja yang lain. Mereka langsung memulai sarapan mereka setelah makanan tersaji di atas meja.


"Fiona, akhir minggu ini luangkan waktumu untuk ikut denganku." Steven yang baru saja selesai makan langsung mengeluarkan suaranya.


"Ke mana?" tanya Fiona penasaran.


"Melihat apartemenmu."


"Kau sudah mendapatkanya?" tanya Fiona dengan antusias.


Steven mengangguk. "Erick, sudah memeriksa beberapa apartemen yang bagus. Kau tinggal lihat dan memilih yang mana yang cocok dengan seleramu."


Fiona mengangguk senang. "Baiklah. Aku bisa kapan saja," ucap Fiona bersemangat. "Lebih cepat lebih baik. Kita bisa pergi melihatnya tanpa harus menunggu akhir pekan."


Fiona tidak menyangka kalau Steven akan secepat itu mendapatkan apartemen untuknya. Baru saja tadi malam dia membahas dengan Steven, tetapi pagi ini, Steven sudah mendapatkannya.


Steven menatap datar pada Fiona. "Sepertinya kau sangat bahagia dan tidak sabar untuk segera keluar dari rumahku. Apa kau tidak suka tinggal di mansionku?"


"Bukan seperti itu, Steve. Aku hanya merasa tidak enak karena terus menumpang di tempatmu."


Steven mengalihkan pandangannya ke samping. "Sore nanti aku akan menyuruh untuk Doni kembali menjemputmu. Kau bisa mempersiapkan diri sebelum kita makan malam." Steven langsung mengalihkan pembicaraan mereka.


"Baiklah."


Setelah selesai sarapan mereka pergi ke kantor masing-masing. Setibanya di kantor, Fiona langsung menuju mejanya. Baru saja dia akan duduk, Cindy sudah memintanya untuk pergi ke ruangannya.


Fiona lalu berjalan masuk ke ruangan Cindy setelah mengetuk pintu. "Ada apa Kak?" Fiona berjalan menghampiri meja kerja Cindy.

__ADS_1


Cindy mengarahkan pandangannya pada sofa. "Lebih baik kita duduk di sana."


Fiona mengangguk dan berjalan bersama dengan Cindy menuju sofa panjang di ruangannya. "Fiona, kau tinggal bersama dengan Steven sekarang?" tanya Cindy ketika mereka sudah duduk saling berhadapan.


Fiona mengangguk. "Iyaa Kak."


"Pulanglah. Mama mencarimu."


"Apa mama belum menceritakan pada Kakak yang sebenarnya?" tanya Fiona. Melihat sikap Cindy tidak berubah kepadanya, membuat Fiona menduga kalau ibunya belum menceritakan semuanya pada Cindy.


Cindy menunduk sejenak lalu menatap Fiona dengan wajah prihatin. "Sudah," jawab Cindy singkat. "Tidak ada yang berubah diantara kita. Kau tetap adikku."


"Kakak tidak membenciku setelah tahu yang sebenarnya?"


Cindy meraih tangan Fiona dan menggenggamnya. "Tentu saja tidak. Asal kau tahu, aku tidak pernah membencimu,Fio. Seharusnya aku minta maaf padamu atas sikapku yang dulu," ucap Cindy.


"Aku memang sempat iri padamu karena papa lebih menyayangimu dari pada aku. Seharusnya aku sadar itu papa lakukan karena mama tidak pernah memperlakukanmu dengan baik. Andaikan waktu bisa diputar kembali. Aku akan menjadi kakak yang baik untukmu. Maafkan aku,Fio." Cindy menunduk dengan perasaan bersalah.


Fiona mengusap tangan Cindy dengan lembut. "Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Aku juga tidak pernah marah padamu. Bagaimana pun juga kau beberapa kali membelaku jika mama memarahiku.


Cindy memeluk Fiona dengan perasaan haru. "Terima kasih, Fio."


Cindy mengangguk sambil mengusap lembut punggung Fiona. "Itu bukan salahmu. Seharusnya aku menjadi contoh yang baik untukmu."


Cindy lalu melepaskan pelukannya. "Aku juga minta maaf atas perlakuan mama selama ini padamu. Seharusnya dari awal aku melindungimu bukan malah berdiam diri saja melihatmu mendapat perlakukan tidak adil dari mama."


"Tidak apa-apa Kak. Aku bisa mengerti mengapa mama bersikap seperti itu karena mama tidak tahu mengenai kebenarannya. Aku justru berterima kasih pada mama karena sudah merawat dan membesarkanku hingga dewasa. Setidaknya aku memiliki keluarga utuh hingga dewasa."


Mungkin saja, dia akan berakhir di panti asuhan jika saja tuan Halim dan Sarah tidak mengangkatnya menjadi anak mereka.


Keluarga dari ibunya bahkan dengan tega mengusir ibunya. Dia bersyukur, setidaknya Sarah masih berbaik hati mau membiarkannya tinggal di rumahnya. Itulah yang ada di pikirann Fiona.


"Pulanglah, Fio. Aku berjanji tidak akan membiarkan mama menindasmu lagi. Aku akan melindungimu mulai sekarang. Bagaimana pun juga, berkat ibumu kami bisa hidup dengan layak."


"Maaf Kak, aku tidak bisa." Fiona terlihat tidak tega menolak tawaran Cindy.


"Kenapa? Apa kau masih belum bisa memaafkan mama?" tanya Cindy dengan wajah penasaran


Fiona menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Bukan Kak. Aku ingin hanya ingin hidup mandiri."

__ADS_1


Cindy menghela napas. "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu, tapi kau bisa pulang kapan saja kau mau. Pintu rumah selalu terbuka lebar untukmu."


Fiona tersenyum senang saat mengetahui Cindy masih menganggap dia bagian dari keluarganya. "Terima kasih Kak."


Cindy mengangguk. "Jadi, kau sudah memutuskan untuk tinggal bersama Steven?"


Fiona menggeleng cepat. "Tidak Kak. Aku hanya tinggal sementara di mansionnya. Steven sudah mencarikan tempat tinggal baru untukku," info Fiona.


"Di mana?"


"Aku juga belum tahu Kak. Steven bilang aku harus melihat dan memilih sendiri yang apartemennya agar aku bisa memilih sesuai seleraku karena dia memiliki beberapa pilihan untukku."


Cindy mangut-mangut. "Sepertinya Steven sangat mencintaimu. Kau sangat beruntung memiliki pria seperti dirinya."


Iri, tentu saja Cindy iri. Siapa yang tidak iri dengan Fiona. Dicintai oleh pria tampan, sempurna dan berasal dari keluarga berpengaruh yang memiliki segalanya.


Ketika semua wanita harus berjuang keras untuk mendapatkan hati Steven, tapi dirinya justru tidak perlu melakukan apapun agar dicintai oleh pewaris dari HK Group tersebut.


Fiona tersenyum masam. Seandainya kakak tahu kalau kenyataan yang sebenarnya tidak seperti yang dia pikirkan, akankah kakaknya masih berpikir dirinya beruntung. "Kenapa Kakak bisa berpikir seperti itu?" tanya Fiona penasaran.


"Aku dengar dari mama, Steven yang mencari tahu mengenai asal-usul keluargamu. Dia juga melakukan semua yang dia bisa untuk melindungi dan menjagamu agar tidak ada yang berani menyakitimu. Setelah berpisah sekian tahun, perasaannya terhadapmu bahkan tidak luntur sedikit pun. Dia justru ingin mejadikanmu istrinya. Jangan sia-siakan dia, Fio. Kau tidak akan menemukan pria yang nyaris sempurna seperti dirinya."


Fiona menunduk sejenak lalu menghela napas. "Kak, sebenarnya aku tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan Steven."


Mata Cindy membesar. "Maksudmu?" tanya Cindy dengan alis menyatu dan dahi berkerut.


"Sebenarnya Steven hanya berpura-pura menjadi kekasihku hanya untuk melindungiku Kak," ungkap Fiona.


"Jadi, kalian tidak pernah menjalin hubungan apapun selam ini?" tanya Cindy dengan wajah tercengang.


Fiona mengangguk lemah. "Iyaa Kak. Dia hanya kasihan padaku dan tidak pernah mencintaiku," jelas Fiona dengan suara pelan dan wajah lesu.


"Tapi, aku tidak berpikir seperti itu. Aku rasa dia mencintaimu Fio. Aku bisa melihat dari bagaimana dia memperlakukanmu dan caranya melindungimu. Kalau hanya kasihan padamu, dia tidak mungkin repot-repot untuk turun tangan lansung. Dia bisa saja menyuruh orang lain untuk membantumu. Kau pikir dia memiliki banyak waktu hanya untuk mengurusi masalah orang lain yang tidak berkaitan dengannya?"


Fiona menunduk lesu sambil memainkan jari tangannya. "Entahlah Kak. Aku tidak yakin kalau dia menyukaiku.Dia tidak pernah mengatakan kalau dia mencitaiku. Dia hanya pernah bilang ingin menikah denganku agar aku bisa mendapatkan harta warisan ibuku."


Yang ada dipikiran Fiona adalah Steven ingin menikahinya hanya untuk membantunya, bukan karena menyukainya.


Sepertinya Steven sudah membuat adikku jatuh hati padanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2