
Esok harinya, Steven pergi ke mansion orang tuanya untuk menemui ibunya setelah dia pulang bekerja. Ibunya bilamg ada hal penting yang ingin ibunya bicarakan dengannya.
"Pergilah beberapa hari ke negara S untuk membantu Bryan," perintah Ibu Steven sambil berjalan menuju ruang kerja anaknya dengan diikuti oleh Steven dari belakang.
"Aku sedang banyak pekerjaan Ma, lagi pula, aku tidak punya waktu untuk membantunya, aku harus mencari Fiona."
Ibu Steven melangkah masuk ke ruang kerja, setelah pintu terbuka. "Mama akan membantumu mencarinya, yang terpenting saat ini, pergilah ke sana bersama dengan Sonia." Ibu Steven duduk di sofa sementara Steven di meja kerjanya.
"Ma, kenapa aku harus mengajak Sonia? Dia itu juga sibuk Ma, aku tidak mau mengganggunya," tolak Steven dengan wajah malas.
"Sonia memang berencana ke sana karena ada urusan bisnis, jadi kalian bisa pergi bersama. Lagi pula, kalian harus lebih sering bersama supaya lebih mengenal pribadi masing-masing agar kalian tidak canggung lagi saat menikah nanti." Terlihat sekali kalau ibu Steven sangat mengharapkan Sonia bisa menjadi menantunya.
"Ma, jangan terlalu berharap dengan Sonia karena sampai saat ini, aku masih mencintai Fiona. Mama juga harus ingat kalau aku masih mau memperjuangkan Fiona," terang Steven.
Meskipun dia tidak yakin kalau Fiona akan kembali padanya, tapi dia tetap mau berusaha terlebih dahulu.
"Iyaaa mama tahu, tapi tidak ada salahnya kalian mulai saling mengenal."
"Kami sudah mengenal dari kecil Ma."
"Maksud mama, saling terbuka. Kau juga harus memikirkan kemungkinan terburuk jika Fiona menolakmu. Sonia adalah gadis yang baik dan santun. Mama berharap kalian bisa berjodoh jika kau tidak bisa kembali lagi dengan Fiona."
Steven terdiam sesaat setelah itu mengalihkan pembicaraan. "Kalau aku pergi, bagaimana perusahaan di sini?"
"Ada Ricardo yang bisa menghandle sementara semua pekerjaanmu," jawab ibu Steven lembut.
"Baiklah, aku akan pergi, tapi Mama harus berjanji akan membantuku untuk menemukan Fiona," ucap Steven seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah, mama janji."
*******
Sesuai kesepakatan dengan ibunya, kemarin malam Steven dan Sonia terbang ke negara S bersama dengan Erick, setibanya di bandar internasional negara S, dia langsung di jemput oleh Bryan. Mereka tiba di negara S keesokan harinya sekitar pukul satu siang.
"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Bryan ketika dia menghampiri Steven yang baru saja keluar dari pintu kedatangan bandara bersama dengan Sonia dan Erick.
"Lancar Bryan," jawab Sonia sambil tersenyum manis.
"Cepat tunjukkan di mana mobilmu!" ujar Steven tidak sabar.
"Ikut aku." Steven mengenakan kaca mata hitam seraya berjalan mengikuti langkah Bryan menuju mobilnya.
__ADS_1
Steven masuk ke dalam mobil setelah Erick membukakan pintu belakang. "Antarkan saja aku ke hotel dekat apartemenmu."
Bryan menoleh ke belakang dengan cepat. "Kenapa tidak tinggal saja di apartemenku?"
"Mama menyuruhku untuk menjaga Sonia jadi aku harus menginap di hotel yang sama dengannya," terang Steven seraya menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam.
Mendengar namanya disebut, Sonia seketika menoleh pada Steven yang duduk di sampingnya. "Steve, kau tidak perlu menjagaku, aku sudah terbiasa hidup di luar negeri. Ini bukanlah hal yang baru bagiku, kau tidak perlu khawatir."
"Aku sudah berjanji pada ibuku untuk menjagamu."
Erick dan Bryan saling melirik tanpa berkata apapun. Sementara Sonia hanya bisa pasrah mengikuti perkataan Steven.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu jam, mereka akhirnya tiba di hotel dekat apartemen Bryan. "Besok jemput aku pagi-pagi. Aku akan ke kantor untuk mengecek kondisi perusahaan."
Bryan mengangguk setelah itu dia berpamitan pada mereka bertiga. Bryan sengala langsung pergi karena harus kembali lagi ke kantornya. Setelah Bryan pergi, Steven, Erick dan Sonia menuju kamar masing-masing.
Malam harinya, mereka makam malam bersama di restoran hotel tempat mereka menginap. "Sonia, besok aku harus pergi ke kantor, jadi tidak bisa menemanimu untuk bertemu dengan rekan bisnismu," ucap Steven setelah mereka baru saja selesai makan malam.
Sonia menyeka sudut bibirnya dengan tisu sebelum membalas ucapan Steven. "Tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri. Kau sibuklah dengan urusanmu."
Steven mengangguk. "Sebelum ke kantor, aku akan mengantarmu. Jika kau sudah selesai, kabari aku agar aku bisa menyuruh orang untuk menjemputmu."
Mereka terus berbincang selama satu jam lamanya. Saat mereka akan keluar restoran, Steven tidak sengaja menangkap bayangan sosok wanita yang sangat familiar baginya sedang berjalan bersama dengan seorang pria menuju lift.
Steven mematung sesaat sebelum akhirnya melangkah menuju lift, tetapi langkahnya kurang cepat karena lift sudah tertutup duluan. Steven memandang sejenak angka yang tertera di atas lift. Lift menunjukkan ke arah lantai bawah. Steven akhirnya memutuskan untuk memasuki lift sebelahnya menuju loby.
Saat tiba di loby dia tidak berjalan ke sana- kemari mencari sosok wanita itu, tapi tidak menemukannya. Steven akhirnya kembali ke kamarnya dengan wajah lesu dan kecewa.
******
Pagi harinya, setelah mengantar Sonia, Steven langsung menuju kantornya bersama dengan Erick dan Bryan. "Nanti aku akan ada meeting dengan perusahaan GSK Group untuk membicarakan kontrak kerja sama. Apa kau mau ikut dalam meeting ini?"
Stevem duduk dengan santai di sofa dalam ruang kerja Bryan sambil menyesap tehnya. "Apakah GSK Group termasuk perusahaan besar?" tanya Steven seraya melirik pada Bryan yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Perusahaan itu termasuk besar, dia menduduki posisi tepat di bawah perusahaan kita. Aku dengar perwakilan yang akan datang adalah seorang wanita cantik yang menjabat sebagai Wakil Direktur." Bryan berjalan menuju sofa dan duduk tepat di depan Steven.
"Ikutlah dalam meeting ini, kau bisa ikut memberikan pendapatmu mengenai rencana kerja sama ini," usul Bryan sambil menggerakkan kedua alisnya.
"Baiklah."
Meeting dilaksanakan siang hari setelah jam makan siang. Bryan lebih dahulu masuk le ruang meeting bersama dengan sekertarisnya sementara Steven sedang menelpon Ricardo untuk menanyakan beberapa hal mengenai email yang dia kirim padanya.
__ADS_1
Selesai menelpon, Steven menuju ruang meeting karena meeting akan segera di mulai. Saat Steven baru saja melangkah masuk, Bryan langsung mengenalkan Steven kepada orang yang berada di dalam ruang meeting tersebut. Total ada 5 orang di dalam ruangan itu termasuk Steven.
"Kenalkan, ini adalah pemilik sah dari perusahaan ini." Seketika semuanya menoleh pada Steven.
Mata Steven melebar ketika melihat wanita yang sedang duduk di sebelah kanan yang ikut terkejut ketika melihatnya.
Sementara Bryan menghampiri kakaknya yang terlihat berdiri mematung. "Kenapa kau diam saja?" bisik Bryan.
Bisikan Bryan menyadarkan Steven dari keterjutannya. "Perkenalkan saya Steven Anthonio Pradigta," ucap Steven memperkenalkan diri. Tatapannya tidak pernah lepas dari wanita yang mengenakan pakaian kerja berwarna putih gading.
"Mari kita mulai meeting ini," ucap Bryan sambil mengarahkan Steven untuk duduk di kursi yang diperuntukkan untuk pimpinan perusahaan. Steven terus menatap wanita itu tanpa berkata apapun.
"Silahkan perkenalkan diri anda dulu Nona," ucap Bryan sebelum meeting di mulai. Wajah wanita itu memucat, tangannya sedikit bergetar. Bryan bisa merasakan perubahan pada wanita yang duduk di sebrangnya itu ketika melihat Steven.
Sebelum memperkenalkan diri, wanita itu menarik napas panjang terlebih dahulu lalu menghembuskannya dengan pelan. "Perkenalkan nama saya adalah Violita Pramesti Baldwin, saya adalah perwakilan dari perusahaan GSK Group yang menjabat sebagai Wakil Direktur." Wanita itu memperkenalkan diri dengan suara yang bergetar.
"Baik Nona Violita, sekarang silahkan Anda mulai presentasinya," ucap Bryan.
Violita mengangguk. Sebelum melakukan presentasi, Vilolita menatap sekilas ke arah Steven yang sedari tadi masih terus menatapnya. Mata Violita memanas ketika pandangannya tidak sengaja bertemu dengan Steven.
Violita berusaha menguasai dirinya lalu memulai presentasinya. Dia sama sekali tidak bisa fokus dan beberapa kali salah bicara karena merasa terganggu oleh tatapan Steven.
"Sekian presentasi dari saya." Violita meletakkan tangannya di bawah meja yang sedari tadi terus gemetar sambil menatap ke arah Bryan.
"Tuan Steven, bagaimana menurut Anda?" tanya Bryan sambil menoleh pada kakaknya.
Bryan menyenggol tangan Steven ketika melihat kakaknya masih terdiam sambil terus menatap ke arah Violita. "Kau tinggal di mana sekarang?"
Bryan, sekertarisnya, Violita, beserta asistennya menatap heran pada Steven setelah mendengar pertanyaannya.
"Sepertinya Tuan Steven tidak mendengarkan apa saja yang aku ucapkan sedari tadi," ucap Violita dengan wajah datarnya.
"Tinggalkan ruangan ini, aku ingin berbicara berdua saja dengannya," ucap Steven sambil mengarahkan pandanganya pada Violita.
Mereka saling lirik karena bingung dengan tingkah Steven, sementara Violita seketika menjadi panik. "Apa kalian tidak mendengar apa yang aku ucapkan barusan!" Steven terlihat mulai tidak sabar karena belum ada satu pun yang keluar dari ruangan itu.
Bryan kemudian berdiri lebih dulu. "Lebih baik kita keluar, biarkan Tuan Steven dan Nona Violita berbicara berdua saja." Bryan melangkah keluar bersama dengan yang lainnya.
Setelah pintu tertutup, Steven menghampiri Violita dan langsung memeluknya dengan erat. "Akhirnya aku menemukanmu, ternyata kau di sini, aku sudah mencarimu ke mana-mana. Aku sangat merindukanmu, Fio."
Bersambung....
__ADS_1