
"Steve, kau sudah datang." Ibu Steven tersenyum lebar ketika melihat anaknya yang baru saja masuk. Ibu Steven sengaja memesan ruangan VIP dia restoran itu agar lebih nyaman dan terjaga
Steven melirik pada Sera lalu mengangguk. "Steve, apa kau baru saja pulang bekerja?" tanya Sera lembut. Setelah mengantar Fiona ke mansionnya, Steven menuju restoran Imperial.
Steven mengangguk. "Iyaa," jawab Steven singkat. "Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Steven pada Sera.
"Hari ini aku tidak memiliki jadwal apapun sehingga bisa menemani tante Yesinta di sini," terang Sera sambil tersenyum manis pada Steven.
"Terima kasih karena sudah menemani ibuku."
"Tidak masalah."
"Sera memang menantu idaman." Ibu Steven menatap anaknya. "Jadi, kapan kalian akan menikah? Apa kau akan membiarkan Sera terus menunggu?"
Steven menghela napas. "Ma, bukankah aku sudah bilang waktu itu, tidak akan ada pernikahan antara aku dan Sera."
Ibu Steven menatap tajam pada anaknya. "Kau masih belum mengakhiri hubunganmu dengannya?" Yang dimaksud ibu Steven tentu saja Fiona.
Sera menanti jawaban yang akan di keluarkan dari mulut Steven dengan perasaan was-was. "Ma, aku justru akan menikahinya."
Mata Sera membulat dan setika wajahnya menjadi suram.
"Kauuuu....." Ibu Steven memegang dadanya yang itiba-tiba sakit.
Steven langsung bangun. "Ma, kendalikan emosimu."
Ibu Steven menoleh lalu menatap tajam pada anaknya. "Kau yang membuat mama begini. Apa kau ingin membuat mama mati dengan cepat?"
"Maaa... Jangn seperti itu." Steven terlihat berusaha untuk sabar menghadapi ibunya.
"Tante, minumlah." Sera berdiri sambil menyodorkan cangkir teh pada ibu Steven.
"Terima kasih Sera. Kau memang gadis yang baik," puji Ibu Steven yang membuat Sera seketika tersipu malu. "Entah apa yang ada dipikiran Steven sehingga dia lebih memilih gadis biasa seperti dia."
Steven mengggaruk pelipisnya yang tidak gatal dengan jari telunjuknya sambil menunduk lalu kembali duduk di kurisnya. "Ma, kau belum mengenal Fiona. Dia gadis yang baik."
Ibu Steven mencibir. "Itu menurutmu, mama lebih menyukai Sera," ucap Ibu Steven dengan wajah acuh. "Lupakan dirinya dan menikahlah dengan Sera."
Steven terdiam sambil menatap ibunya. Dia tidak tahu lagi bagaimana membujuk ibunya agar bisa menerima Fiona.
"Aku pernah mencoba untuk melupakannya, tapi tidak bisa, Ma. Setelah 2 tahun berlalu dan tidak bertemu denganya, perasaanku bahkan tidak berubah sedikit pun padanya," ungkap Steven.
Sera yang mendengar hal itu langsung merasa sedih dan kecewa. "Kau sudah dibutakan olehnya sehingga kau tidak melihat kebaikan dan ketulusan Sera selama ini padamu."
Steven memejamkan matanya sejenak lalu menghela napas halus. "Ma, lebih baik kita makan. Kita bahas lagi nanti di rumah. Tidak enak, ada Sera di sini."
"Mama justru sengaja mengajakmu bertemu di sini untuk membicarakan mengenai kelanjutan hubungan kalian berdua."
"Ma, aku dan Sera hanya berteman, perasaanku padanya tidak lebih dari itu. Apa begitu sulit bagi mama untuk mengerti perasaanku. Aku mencintai Fiona, Ma."
__ADS_1
"Kalau begitu, mama beri waktu untukmu berpikir. Kau harus tentukan pilihanmu, kau pilih mama atau Fiona?"
Steven menatap ibunya beberapa saat. "Lebih baik aku pergi, sepertinya percuma saka bicara dengan mama." Steven berdiri dan lalu beralih menatap Sera. "Sera, besok datanglah ke kantorku."
Sera mengangguk. "Baiklah, pergilah. Aku akan menemani ibumu di sini."
"Terima kasih."
"Steve, kau mau ke mana? Mama belum selesai bicara denganmu."
Steven tidak menghiraukan panggilan ibunya. "Steve...!!"
Sera memegang tangan ibu Steven untuk menenangkannya. "Tante, biarkan saja Steven pergi. Percuma tante menekannya."
Ibu Steven menoleh pada Sera. "Kenapa kau selalu membelanya? Padahal dia sudah menyakitimu."
"Aku hanya tidak ingin Steven membenciku."
*******
Steven memijat pelipisnya saat baru saja duduk di ruang kerjanya. Steven terlihat sedang berpikir keras sambil bersandar di kursi dan memejamkan matanya.
Setelah bertemu dengan ibunya, Steven melajukan meminta Erick untuk pulang ke mansionya. Tadinya dia akan pulang ke rumah orang tuanya tapi diurungkan untuk menghindari perdebatan dengan ibunya
Malam semakin larut, Steven akhirnya keluar dari ruang kerja menuju kamar Fiona. Dia ingin melihat apakah Fiona sudah tidur atau belum.
Steven melangkah sangat pelan agar tidak membangunkan tidur Fiona. Sesampainya di tempat tidur, Steven duduk di tepi ranjang sambil menatap Fiona. Tangannya terulur untuk membelai rambutnya tetapi tidak jadi karena takut membangunkan Fiona.
Akhirnya dia hanya duduk sambil memandang wajah Fiona. Setelah cukup lama memandang wajah Fiona, Steven membungkuk, mencium kening Fiona lalu berjalan keluar.
Tidak lama setelah pintu tetutup, Fiona membuka matanya. Dia mengendarkan pandangannya ke sekitar kamarnya lalu menatap ke arah pintu seolah merasakan kehadiran Steven tadi.
Fiona menghela napas ketika teringat kalau Steven tidak akan pulang malam ini. Fiona akhirnya kembali merebahkan tubuhnya lalu meraih ponsel yang ada di atas nakas untuk memeriksa apakah Steven menghubunginya.
Namun dari sekian banyak pesan yang masuk ke ponselnya, tidak ada satupun pesan yang berasal dari Steven sehingga membuat Fiona langsung merasa kecewa.
Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali? Apa dia sangat sibuk sehingga dia tidak memiliki waktu untuk sekedar memberikan kabar padaku? Apa aku saja yang menghubunginya?
Tidaak...! Aku akan terlihat seperti kekasih yang posesif nanti. Mungkin saja Steven akan merasa risih kalau aku menyakannya. Lebih baik aku tidur, aku juga akan bertemu dengannya besok.
Pagi harinya, Fiona kembali mengecek isi ponselnya. Belum juga ada kabar dari Steven. Fiona akhirnya bersiap untuk pergi kantor setelah selesai memakai pakain kerja.
Ketika Fiona baru saja keluar dari kamar, dia langsung terkejut ketika melihat Steven juga baru saja keluar dari kamarnya. "Steve, kenapa kau bisa ada di sini?"
Steven berjalan mendekati Fiona dan langsung memeluknya. Fiona berusaha untuk melepaskan pelukan Steven karena merasa sesak tapi Steven nampak tidak mau mengendurkan pelukanya. Fiona akhirnya menyerah dan membiarkan Steven untuk memeluknya hingga dia melepaskan sendiri.
"Steve, ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" Fiona merasa ada yang aneh dengan sikap Steven yang tiba-tiba langsung memeluknya tanpa berkata apapun.
"Tidak ada." Steven kemudian melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Fiona tampak berpikir, mungkinkah ibunya mengetahui hubungan mereka berdua dan tidak merestui hubungan mereka.
"Benarkah?" tanya dengan Fiona dengan tatapan menyelidik.
Steven mengangguk. "Iyaa."
Fiona masih menaruh curiga pada Steven, tapi akhirnya Fiona memilih mengalihkan pembicaraan lain. "Lalu, kenapa kau ada di sini? Bukankah kau bilang akan menginap di rumah orang tuamu?"
"Tidak jadi, semalam aku pulang ke sini," jelas Steven
"Ayo, kita ke bawah." Steven menggenggam tangan Fiona menuju tangga.
"Kenapa tidak jadi?" Fiona menoleh pada Steven sambil menuruni tangga mengikuti langkah Steven.
"Aku merindukanmu."
"Aku serius Steve." Fiona menampilkan wajah cemberutnya.
"Aku juga serius sayang."
Ketika sampai di bawah Steven merangkul pinggang Fiona sambil berjalan menuju pintu utama.
"Sudahlah, kau selalu saja menjawab sesukamu."
Steven hanya tersenyum. "Hari ini, aku akan mengantarmu ke kantor."
Fiona berhenti tepat di depan pintu lalu menatap heran pada Steven. "Kenapa tiba-tiba ingin mengantarku? Apa kau tidak bekerja?"
Steven langsung menarik tangan Fiona untuk masuk ke dalam mobilnya. "Bekerja, aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu sebelum bekerja," jawab Steven ketika dia baru saja duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Fiona.
"Rick, antarkan Fiona dulu ke kantornya."
"Baik Tuan."
Butuh waktu 45 menit untuk sampai di kantor Fiona. "Fio, kita akan melihat apartemen baru untukmu," ucap Steven setelah mobilnya berhenti tepat di depan kantor Fiona.
"Baiklah," ucap Fiona.
"Nanti sore, Doni yang akan menjemputmu. Ada yang harus aku urus jadi mungkin akan pulang terlambat," info Steven.
"Baiklah, kalau begitu aku turun dulu."
Steven mengangguk. Fiona tidak langsung masuk, melainkan masih berdiri menatap mobil Steven menghilang dari padangannya.
"Fiona, bisa kita bicara sebentar?" Seseorang menepuk bahu Fiona dari belakang. Mata Fiona membulat. "Kau Sera, bukan..? Kenapa kau bisa di sini?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.
"Iyaaa, benar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Bersambung...
__ADS_1