Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Fiona." Reynald menghampiri Fiona yang sedang berjalan menuju pintu keluar.


Fiona menoleh. "Rey," ucap Fiona dengan wajah terkejut.


Saat Reynald baru saja keluar dari lift, dia melihat seorang wanita yang sepertinya dia kenal. Reynald akhirnya mendekati wanita itu, dan ternyata dugaannya benar, wanita yang dia lihat tadi adalah Fiona.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Reynald.


"Aku tinggal di sini Rey," jawab Fiona.


"Benarkah? Tapi, kenapa aku tidak pernah melihatmu?" Reynald terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fiona.


"Aku baru saja pindah ke sini."


"Pantas saja aku tidak pernah melihatmu." Reynald terlihat senang bisa bertemu dengan Fiona.


"Jadi, kau tinggal di sini juga?"


"Iyaaa, aku tinggal di lantai paling atas," jawab Reynald sambil menunjuk ke atas dengan jari telunjuknya.


"Aku juga tinggal di lantai paling atas," ucap Fiona dengan wajah senang.


"Benarkah? Kebetulan sekali, apa itu artinya kita berjodoh?" seloroh Reynald.


Fiona langsung teringat Steven. Apakah Steven tahu kalau Reynald tinggal di apartemen dan di lantai sama dengannya.


"Apa kau sudah lama tinggal di sini?" tanya Fiona.


"Tidak juga, aku baru pindah sekitar 3 tahun lalu," jawab Reynald, "kenapa?" tanya Reynald dengan wajah penasaran.


Fiona menggeleng. "Tidak apa-apa." Fiona kemudian melihat jam di tangannya. "Rey, maaf aku harus berangkat kerja."


"Baiklah, bisakah kita berbincang-bincang nanti malam?"


Fiona berpikir sejenak. "Sepertinya tidak bisa. Aku ada urusan."


"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti."


Fiona mengangguk. "Aku pergi dulu."


"Bagaimana kalau aku mengantarmu?" tawar Reynald sebelum Fiona pergi.


"Tidak perlu Rey, aku sudah dijemput. Aku pergi dulu." Sebelum Reynald sempat bertanya lagi, Fiona sudah melangkahkan kakinya dengan cepat.


Reynald menatap kepergian Fiona sejenak lalu berjalan ke arah luar juga. Dia bisa melihat dari kejauhan Fiona memasuki mobil sedan berwarna hitam.


*******


Fiona sedang berdiri di depan sebuah restoran, dia terlihat sedang menunggu seseorang. Sebuah mobil berdiri tepat di depannya, tidak lama kemudian dia masuk ke dalam mobil tersebut.


Setibanya di tempat tujuan Fiona turun dan memandangi gedung tinggi yang berada di depannya. Sebelum melangkah, Fiona terlihat mengirimkan pesan kepada seseorang.


"Mari Nona." Pria yang bersama Fiona menuntun Fiona untuk masuk ke dalam gedung. Pria tersebut adalah Doni.


Fiona mengangguk lalu mengikuti langkah kaki pria itu. "Apakah Steven ada di kantornya?" tanya Fiona pada Doni.

__ADS_1


"Ada Nona. Tadi saya sudah bertanya pada Erick," jawab Doni sambil mengarahkan Fiona menuju lift khusus untuk para petinggi perusahaan tersebut.


Doni memang memiliki kartu akses yang bisa dia gunakan untuk menaiki lift tersebut. Sementara lift yang sering digunakan oleh Steven adalah lift yang berbeda, lift itu hanya bisa digunakan oleh Steven, Erick dan sekertarisnya.


"Silahkan masuk Nona." Doni mengarahkan tangannya ke arah lift yang terbuka. "Terima kasih Don," ucap Fiona sambil melangkah masuk.


Fiona menuju lantai tertinggi di gedung tersebut, lantai di mana ruangan Steven berada. Ketika baru saja keluar dari lift, Fiona sudah melihat Steven sedang berjalan bersama dengan Erick menuju ruangannya. Steven terlihat sedang berbicara serius dengan Erick.


Hanya dengan melihat punggungnya saja sudah membuatku berdebar. Dia bahkan terlihat tampan meskipun dilihat dari belakang.


Fiona terkekeh sendiri dengan monolognya.


"Ssstttt." Fiona meletakkan jari telunjuknya di bibir saat melihat Doni akan memanggil Steven.


Doni langsung mengerti maksud dari Fiona. "Aku ingin memberikan kejutan padanya."


Doni menganggguk lalu berjalan di belakang Fiona. Fiona berjalan dengan langkah pelan agar Steven tidak tahu keberadaannya, setelah berada di jarak yang dekat. Dengan gerakan tiba-tiba, Fiona mengapit tangan Steven, tapi langsung di tepis oleh Steven. Steven yang terkejut karena ada yang memegang lengannya seketika menoleh ke samping.


"Fio, kenapa kau bisa di sini?" tanya Steven ketika melihat kekasihnya sudah berdiri di sampingnya.


Fiona tersenyum lebar. "Aku ingin bertemu dengan kekasihku," jawab Fiona.


Fiona terlihat tidak canggung lagi menggoda Steven di depan Doni dan Erick.


Erick juga terlihat sedikit terkejut melihat Fiona, dia langsung menoleh ke belakang dan melihat ada Doni di sana. Seketika dia mengerti, kenapa Doni menanyakan keberadaan Steven padanya tadi.


Steven mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Memangnya siapa kekasihmu?"


"Kekasihku adalah pemilik perusahaan ini, namanya Steven," jawab Fiona jemawa.


"Benarkah, aku adalah Steven, pemilik perusahaan ini, tapi aku tidak mengenalmu."


Steven langsung memegang lengan Fiona untuk menghentikan langkah Fiona. "Kau mau ke mana?" tanya Steven sambil mendekati Fiona.


Fiona menatap Steven dengan acuh. "Katanya kau tidak mengenalku."


Steven tersenyum. "Aku hanya bercanda sayaaang. Jangan marah." Steven kemudian menggenggam tangan Fiona. "Ayooo, ikut aku." Steven menarik tangan Fiona menuju ruangannya.


Sementara Erick dan Doni memilih untuk tidak mengikuti bos mereka. Sekertaris Steven nampak terkejut ketika melihat Steven membawa wanita ke dalam ruangannya. Apalagi Steven terlihat memperlakukan wanita tersebut sedikit berbeda. Selain Sera, Steven tidak pernah membawa wanita lain masuk kecuali rekan bisnisnya.


"Katakan padaku, kenapa kau bisa di sini?" tanya Steven ketika mereka sudah berada di dalam ruangannya. Steven mengajak Fiona untuk duduk di sofa panjang dan duduk di sebelahnya.


"Aku habis meeting di dekat sini, jadi aku memutuskan untuk menghampirimu. Aku penasaran apa yang kau lakukan sehingga belum membalas pesanku sampai sekarang," terang Fiona.


Dari siang Fiona sudah mengirimkan padanya, tapi belum juga di balas oleh Steven. Karena dia berada di dekat kantor Steven, akhirnya dia memutuskan untuk menemuinya.


Steven tersenyum ketika melihat tatapan curiga dari Fiona. "Maafkan aku. Tadi aku sedang meeting. Aku baru saja keluar, jadi belum sempat untuk membuka ponselku," jelas Steven.


Fiona memicingkan matanya. "Benarkah? Tapi, tidak biasanya kau begini. Jangan-jangan kau...." Fiona sengaja menggantungkan ucapanya karena ingin melihat reaksi Steven.


"Ada apa dengan tatapanmu itu sayang? Kau mencurigaiku?" Steven merasa wajah Fiona sangat lucu saat sedang menatap curiga padanya.


"Mungkin saja kau sedang berduaan dengan wanita lain dari tadi," ucap Fiona dengan acuh.


Steven terkekeh. "Kalau kau tidak percaya. Kau bisa tanyakan pada sekertarisku, di mana aku berada dari pagi dan apa saja yang aku lakukan."

__ADS_1


"Dia adalah sekertarismu, jadi dia pasti akan memihak padamu," ucap Fiona tidak mau kalah.


Steven merubah posisi duduknya agar berhadapan dengan Fiona. "Dengar Fio, aku tidak suka bermain wanita. Aku sudah memilikimu, untuk apa aku mencari wanita lain. Di hatiku cuma ada kau, dan tidak ada tempat lagi yang tersisa untuk wanita lain."


Steven meraih dagu Fiona lalu mengecup singkat bibirnya. "Percayalah padaku," ucap Steven dengan wajah serius.


Wajah Fiona langsung memerah. "Iyaaa." Sebenarnya dia juga tidak menuduh Steven, dia hanya ingin menggodanya, nyatanya Steven menganggap serius ucapannya.


Steven melihat jam di tangannya. "Apa kau akan kembali ke kantor lagi?" tanya Steven ketika melihat jam menunjukkan pukul 3 sore.


"Tidak, aku sengaja ke sini agar kita bisa pulang bersama," jawab Fiona cepat.


"Baiklah, tapi aku masih ada meeting. Kau tunggu aku di sini. Aku tidak akan lama."


Fiona langsung mengangguk. "Rebahkan saja tubuhmu di sofa kalau kau lelah. Aku akan meminta Angel untuk membawakanmu minum dan makanan ke sini," ucap Steven sebelum meninggalkan ruangannya.


"Baiklah."


"Aku tinggal dulu." Fiona mengangguk.


Setelah kepergian Steven, Fiona memutuskan untuk duduk bersandar di sofa sambil memainkan ponselnya.


Tidak lama kemudian, seseorang masuk. "Permisi Nona Fiona, saya Angel. Tuan Steven meminta saya membawakan ini untukmu."


Sekertaris Steven membawa minum dan makanan ringan untuk Fiona.


Fiona langsung duduk tegak. "Terima kasih." Setelah meletakkan semuanya, Angel pamit undur diri.


Tidak lama berselang, seseorang kembali masuk. "Kau di sini juga?"


Fiona langsung mengalihkan pandangannya ke asal suara. "Kenapa kau ada di sini?" tanya Fiona ketika melihat Sera yang masuk ke ruangan Steven.


"Aku ingin bertemu dengan Steven," jawab Sera sambil tersenyum.


"Steven sedang meeting," terang Fiona.


Sera mengangguk. "Aku tahu, Angel sudah memberitahku tadi."


"Kalau kau sudah tahu Steven sedang meeting lalu kenapa kau masih masuk ke ruangannya?"


Fiona terlihat tidak suka melihat Sera masuk ke ruangan kekasihnya saat, Steven sedang tidak ada. Mungkinkah Sera sudah sering seperti itu?


"Fiona, ini bukan pertama kalinya aku ke sini saat Steven sedang tidak ada. Aku sudah terbiasa menunggunya di sini. Kantor Steven sudah seperti rumah ke dua bagiku.


Fioan mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


"Aku tidak butuh ijin dari siapa pun untuk menunggu Steven di sini karena Steven juga tidak pernah keberatan dengan hal itu."


Fiona berusaha untuk menahan diri. Dia tahu, kalau Sera sengaja mengatakan hal itu untuk memancing kemarahannya. "Sera, bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu untuk menjaha jarak dengan Steven."


"Lalu?" Sera terlihat masih tenang.


"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Steven, jadi tolong hargai aku."


Sera tersenyum sinis. "Fiona, menurutmu siapa dirimu? Apa aku harus menuruti setiap apa yang kau katakan? Kau menyuruhku pergi, maka aku harus pergi. Jika, kau menyuruhku mati, maka aku harus mati juga? Fiona, sepertinya kau terlalu meremehkan aku." Sera memadang Fiona dengan tatapan remeh.

__ADS_1


"Fiona, kau baru mengenalnya, sementara aku sudah lama berada di sisinya. Apa kau mau bertaruh denganku? Siapa yang akan Steven pilih saat melihat kita berdua berada dalam bahaya dan hanya satu yang bisa di selamatkan? Menurutmu, siapa yang akan dia pilih, kau atau aku?"


Bersambung...


__ADS_2